tentang tulisan saya?

Kamis, 19 Januari 2012

"Mencari Keademan"



"Saujana"

Madiun, Kamis 27 Desember 2011...

Landscap ini sengaja saya kasih judul “Saujana”, meminjam sebuah judul lagu dari Kla Project. Karena memang pas perjalanan menuju ke tempat ini saya menikmati tembang koleksi Kla project. Melalui HP sederhana saya. Nokia 5130 saya. Saujana, ya sejauh mata memandang inilah yang saya nikmati. Barisan hutan yang ada di gunung Wilis. Ini adalah desa Kandangan. Penduduk sini sangat dianugrahi tanah yang begitu subur.

Durian, rambutan, manggis, pisang, dan kopi adalah hasil bumi di desa ini. Hampir setiap rumah yang terlihat oleh saya. Pekarangan di bagian belakang selalu ada pohon durian. Sayang sekali saya tak suka dengan buah ini. Jangankan memakan. Begitu tercium aroma baunya saja saya terbirit-birit lari. Terasa mual di perut. Kata orang Jawa, “uneg-uneg’en”. Ternak juga berkembang di desa ini. Ayam potong, sapi perah, tempat pembudidayaannya juga banyak terdapat di desa ini. Seberang bukit itu terdapat kandang sapi berukuran besar.

Ada juga kebun kopi di desa Kandangan ini. Cuma sayangnya tadi oleh bapak Satpam saya tidak diperbolehkan masuk ke area itu. “Kemarin ada salah seorang anggota LSM dari kota Madiun, masuk ke kebun kopi. Dengan berakting sebagai pekerja kebun. Plus pakaian ala petani desa lengkap. Konon kebun kopi itu akan dijadikan tempat wisata sih, cuma karena masih dalam tahap pembangunan jadi masih ditutup untuk umum”. Begitulah bapak keamanan setempat menjelaskan pada saya. Sambil dengan nikmatnya menghisap rokok. Dalam hati saya cuma bergumam, “apakah itu hanya alasan mereka untuk mengusir kami, secara halus”, saya tak tahu. “Atau sebagian dari tempat ini merupakan hak milik dari beberapa oknum pejabat. Agar tidak tercium dari mana mereka mendapatkan dana untuk membeli lahan di sini?” Terus saja saya bergumam, sambil menerka beberapa kemungkinan. Mungkin saja terka saya benar adanya. Oh negeri ini masih saja penuh coreng moreng dengan segala kecurangan dan keculasan.

Bersebelahan agak beberapa meter tak jauh dari pos satpam, ada area perkemahan. Cuma saya tak begitu tertarik untuk ke situ.
Ya, dengan terpaksa akhirnya kami meninggalkan tempat itu. Sayang kali ini saya kurang beruntung. Maksud hati ingin melihat vila-vila peninggalan jaman kolonialisme Belanda. Kini semua itu cuma jadi barang khayalan.

"Mencari Kehidupan"

Jika kita masih saja merasa bahwa, hidup kita kurang beruntung. Berarti kita salah besar. Berarti kita kurang atau bahkan tidak mensyukuri hidup ini sama sekali. Inilah potret kehidupan yang sebenarnya. Tak ada kesedihan, kesengsaraan yang abadi. Sementara kita asik berselancara di dunia maya. Akses internet nyaris seketika, realtime. Mas ini. Lihatlah, perhatikan. Untuk makan saja dia harus rela berjalan jauh menuju tempat wisata air terjun, Kedung Malem. Itupun dengan jarak yang lumayan jauh. Itu juga masih dengan kaki sebelah kiri ia seret.

Dia masih tetap bertahan, survive dengan keadaan nya. Memperjuangkan hidupnya. Walau dengan kondisi fisik yang tak sempurna. Dia akhirnya berjumpa kami lagi saat kami naik hendak menuju area parkiran.
Tempat ini sepi, kawasan wisata ini sebenarnya tak banyak menjanjikan buat dia. Namun itulah hidup akan terasa nikmat dengan selalu menerima atas apa yang telah kita usahakan.

Apakah nantinya tempat ini akan jadi tempat wisata golongan unggulan. Ramai dikunjungi orang. Jadi andalan bagi warga sekitar?” Entahlah. Butuh peran berbagai pihak agar semuanya bisa terwujud…….
 .

"Exotic Place, 'Kedung Malem' Waterfall"

 “Hikayat tentang cerita air terjun ini, sudah turun-temurun sejak 100 tahun yang lalu. Syahdan. Seorang yang bernama Mbah “Malem” teraniaya dan dibuang di wilayah tersebut. Warga tidak menyangka bahwa di wilayah tersebut terdapat air terjun yang eksotis. Dari nama itulah maka lokasi tersebut dinamakan air terjun “Kedung Malem”, letaknya tertutupi keanggunan belantara hutan gunung Wilis. Justru itulah yang menambah eksotis nya lokasi ini”


Tempat ini lumayan tersembunyi di tengah-tengah belantara hutan pinus. Gunung Wilis. Masih alami. Belum banyak terkontaminasi oleh tangan-tangan manusia. Objek wisata yang kurang terawat. Hingga jadi tempat yang terlupakan. Kemarin hari rabu, 28 Desember 2012. Di siang hari Bupati Madiun mengunjungi tempat ini. Namun apakah itu akan segera mampu mewujudkan kawasan wisata ini jadi tempat wisata unggulan?” Jika mengingat kata-kata ibu pemilik warung dekat gerbang masuknya. “Gapura ini, dibangun atas biaya kami sendiri. Dengan mengumpulkan hasil uang parkir kendaraan”. Begitu kata ibu pemilik warung dekat gerbang masuk pada saya.


Senin, 05 Desember 2011

Dear.... My Insomnia

Sebenarnya malam ini saya ingin sesegera mungkin tidur. Namun entah mengapa hampir tengah malam, belum juga mata ini berasa ngantuk. Entah sudah berapa minggu saya sudah tak bisa menikmati  tidur sore? Semenjak tidak lagi kerja, inilah kebiasaan saya. Melek hingga dinihari. Tak jarang juga selepas subuh baru bisa tidur. Sesuatu membuat saya galau.

Ketika pagi hingga menjelang siang. Mereka sedang giatnya beraktivitas, bekerja, "ah saya tak lebih dari seorang pemalas, menghabiskan waktu dalam impian". Mending kalau mimpi itu datang di saat malam yang indah. Ini mimpi "siang bolong" yang panas. Tapi memang itulah mimpi. Saya tak bisa menjadwalkan kapan mimpi itu harus datang dan pergi.  Dan saya tentunya juga tak bisa meminta apa mimpi saya di tidur saat ini, nanti, besok, lusa, atau minggu depan, bulan ini, bulan depan, dan tahun berikutnya. Semua di luar hak dan wewenang saya. Sebagai mahkluk kecil di jagad raya yang maha luas ini.

Mimpi dan rasa kehilangan........

Manusia memang ditakdirkan dalam hidup ini untuk melihat, mendengar, dan merasakan dua sisi yang saling bertolak belakang. Bila ada kiri sudah barang tentu ada kanan. Begitupun rasa pahit yang saya kecap. Pada akhirnya akan membuat saya tahu dan mengerti serta bisa membedakan. Ketika merasakan manis. "Ah kehilangan. Di dunia ini hampir semua mahkluk yang bernyawa pastinya pernah merasakan kehilangan. Ya. Termasuk saya. Kehilangan apapun. Barang, kepercayaan, orang yang kita cintai dan sayangi. Tapi itulah hidup yang normal. Jadi tak perlu lah terlalu hanyut menyesali semua itu. Jika pada akhirnya malah membuat diri kita hanya jalan di tempat". Tanpa ada kemajuan dalam hidup.

Toh pada dasarnya apa yang hilang sangat kecil kemungkinan untuk kembali. Atau bahkan malah tidak ada peluang sama sekali. Awal dan akhir. Hilang dan muncul.

Kehilangan dalah cikal bakal dari lahirnya sebuah harapan baru. Seharusnya saya mengerti itu.

Waktu adalah langkah. Terus melaju dan berjalan. Pasti akan menuntun saya pada harapan-harapan yang lebih indah. Jalan masih panjang dan membentang. Setiap hembusan nafas bukan tanpa tujuan. Semua pasti ada maksudnya. Hidup adalah takdir saya. Takdir hidup saya adalah untuk berusaha. Berpikir agar menjadi lebih baik. Lebih indah dari yang kemarin, hari ini, dan seterusnya.

Bila kemarin saya merasakan pahitnya kehilangan. Maka hari ini saya perlu ber introspeksi diri, bercermin atas kekurangan saya. Lalu membuka segenap pikiran. Dan menyadari bahwa, "saya pantas kehilangan". Esok hari kita mulai berpikir tentang harapan baru. Adanya kemungkinan yang lebih menjanjikan dari yang kemarin.

Berawal dari mimpi.....

Ditemani kompilasi hits-hits dari albumnya Coldplay. Melalui ponsel Nokia 5130 XpressMusic. Saya mencoba menulis cerita singkat ini.

Rasanya seperti baru kemarin saja berkenalan dengannya. Lalu bercinta dan mereguk romansa. Seperti baru kemarin juga kunikmati indahnya kebersamaan dengannya. Berbicara tentang hari depan. Indah memang ketika rajutan asmara masih terjalin. Ketika rindu menggebu terasa dunia layaknya inspirasi yang tiada habisnya. Apapun wujudnya bisa menjadi karya. Namun ketika tiba-tiba, "boom" emosi meledak. Terjadi kesalahpahaman. Perpisahan jadi kata pamungkas, untuk memecahkan masalah.

Tiada terasa perpisahan saya dengannya berujung pada mimpi. Satu mimpi yang akhirnya membuat saya menyadarinya. Bahwa sesegera mungkin kisah antara aku dan dia beberapa waktu lalu. Tak selayaknya terus menjadi beban.

Rasa syukur dan terimakasih  sebesar-besarnya pada Tuhan. Sujud syukurku pada-NYA telah memberi petunjuk lewat mimpi.

Sumpah tak mungkin saya munafik. Dia masih tetap menarik. Dengan jaket sweater merah hati. Pipinya yang ranum delima masih tetap tidak berubah. Dia menghampiri saya, mendekat. Seperti hendak mengatakan sesuatu. Namun tanpa berucap sepatah kata. Ketika kita saling berhadapan. Dia tetap membisu tanpa kata. Lalu menyerahkan sebuah buku gambar baru. Lengkap dengan crayon warnanya yang berjajar dalam kotaknya. Lalu dia bergegas pergi meninggalkan saya. Yang terpaku tanpa mengerti maksud dan tujuan pemberian itu. Saya terus berpikir. Apa ini maksudnya? Sementara saya belum tahu maksudnya. Dia malah pergi tinggalkan saya. Tak lama berselang saya menikmati kebingungan ini. "Yu tangi, yah mene isik turu wae. Kae lho ditunggu bocah arep ngeprint tugas sekolah". (Yu bangun, jam segini masih tidur aja. Itu lho ditunggu ada anak mau ngeprint tugas sekolah). Teriakan pak Manto dari luar kamar membangunkan saya. membuyarkan sesuatu yang belum ketemu maksud dan tujuannya. Tentang mimpi itu. Buku gambar dan alat warnanya.

Pikiran digelayuti tanya. Apa maksud mimpi itu?

Setelah memulihkan kesadaran mengumpulkan segenap nyawa. Aliran darah kembali normal. Saya bergegas ke kamar mandi.

Padahal kalau di awal bangun tidur biasanya gue gak langsung mandi. Tapi langsung aja ngeloyor ke mana ya?" (off the record). Gak enak kalau tanpa sensor. Entar lu semua pada gak doyan makan. Gue termasuk manusia yang masih punya etika dan kesopanan kok.Tenang aja sob.

Segarnya air benar-benar layaknya nikmat surgawi. Di siang yang panas guyuran air adalah sensasi kesegaran yang tiada tandingannya. Meluruhkan seluruh pundi-pundi kepenatan yang bersarang di raga ini. Lalu saya menutup kesegaran yang sempurna ini dengan berwudhu. Sit suit suit suit suit.........

Sholat Dzuhur, gugur satu kewajiban di siang hari. Saya masih belum bangkit dari duduk di atas sajadah. Namun tidak berdo'a maupun dzikir. Inilah kebiasaan saya. Malah melamun. You may say I'm a dreamer?" Seperti kata John Lenon. Mungkin.

Dalam melamun pikiran itu datang lagi. Membebani saya lagi. Paksa saya akhirnya harus berpikir mencari jawabannya.

Terus saya mencari jawaban, mengerahkan segenap hati dan pikiran. Sambil melafalkan mantra-mantra. "Jiwalangkajikokokbelokdemdemdem........... Jiwalangkajikokokbelokdemdemdem.............
 Jiwalangkajikokokbelokdemdemdem".  Entah sudah berapa ratus kali mantra itu keluar dari mulut gue. Apaan coba artinya, ada yang tau gak? Berharap semoga mantra itu bisa bantu gue mecahin teka-teki mimpi itu.


Tek,tek,tek,tek, detak jarum jam terus saja melaju. Sedetik, semenit, hampir sepuluh menit, masih juga buntu. Cuma satu yang tertangkap oleh saya. Cuma kesannya terlalu konyol. Bahkan teramat konyol man.

Gue, baca saya biar terkesan formal, gitu dech!" Semua orang di kampung manapun juga tahu kalau gue gak bisa melukis. Jadi gak mungkin kalau mimpi itu memberi isyarat gue berprofesi jadi pelukis. Kesimpulannya bukan itu. Terlalu konyol. Bukan duit dan pujian yang gue dapat. Malah gue kena semprot, maki, dan omelan. Istilah Jowone  "dipisuhi" dan "diclathoni". Wah..... harga diri dan kehormatan gue yang selama ini terjaga. Bisa-bisa hancur. Sejarah akan mengingatnya, kalau gue nekad jadi pelukis.

Sementara gue masih berpikir. Gak peduli mau ada orang ngeprint, mau ngetik tugas-tugas sekolah, kantor, atau apalah. Pokoknya gue harus menemukan arti dan maksud mimpi itu.



Ahayy!" Pada akhirnya saya menemukan. Membuka rahasia di balik mimpi itu. Tentang maksud buku gambar dan alat warnanya. Begini saudara-saudara yang merasa hatinya sedang dirundung galau. Sama kaya gue.

Mungkin saya bukan golongan manusia yang ahli menafsirkan mimpi. Tidak pula manusia yang mempunyai indera ke enam. Mampu menerawang apa yang ada di alam bawah sadar kita. Juga bukan Indra Lesmana ataupun Indra L Brugman. Sori dampak dari hati yang galau. Sering keceplosan.

Seperti lirik terakhir di lagu Katon Bagaskara, yang judulnya, Selembut Awan. "Kini kumengerti anganku hanya lamunan....... Kisah kita berakhir menjadi kenangan". Ya menjadi kenangan, kisah antara gue dan mantan pacar gue. Gak boleh jadi beban dalam hidup gue yang sekarang. Buku gambar dan alat warna berupa crayon itu. Adalah petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Bahwa sesegera mungkin gue harus menghapus kisah itu. Menggantikan dengan lembaran-lembaran baru. Hidup gue masih teramat berarti. Masa depan gue terlalu indah kalau hanya untuk terus menengok masa lalu. Dan apapun keadaannya gue harus tetap survive menjalani hidup ini. Sebagai awal dari hidup gue yang baru. Dan untuk mengakhiri tulisan ini.  

"Thank's GOD"........

Sabtu, 26 November 2011

"Cerita Yang Masih Tersisa"


Cokroaminoto Madiun. Gedung sekolah terletak di jalan Jenderal Soedirman. "Kenapa sekolah itu?" Lagi-lagi serentetan pertanyaan menjadi hal yang menarik untuk saya. Menemukan jawabannya. Bak bisul yang berkembang, tumbuh subur dalam benak saya. "Anak STM nya yang duduk santai menikmati segelas es teh di warung depan sekolahan. Terkena lemparan batu dari dua orang pelajar sekolah lain. Berboncengan lalu yang belakang melemparkan batu". "Dua hari lalu terjadi tawuran dengan anak SMA 5 Madiun". "Sebulan yang lalu anak-anak Taman Bakti melancarkan serangan. Pembalasan dendam atas pencegatan di Cokroaminoto, sehari, sebelum menuntaskan misi ini". "Belum lagi kejadian yang mengakibatkan rusaknya bagian depan dan kopsis sekolah ini. Oleh siswa-siswa STM Gamaliel Madiun". Ah..hampir semua kata selalu berkonotasi negatif. Bila berkenaan dengan sekolah ini. Apakah yang menyebabkan itu semua?"

Harga dirikah?" Kehormatan atas nama golongankah?" Atau hanya sekedar pencarian jatidiri pada setiap individu ditengah-tengah eksistensi mereka untuk menemukan kebanggan?" Lalu kebanggan apa yang mereka cari?"

Semua pertanyaan itu menguap begitu saja. Menghablur bersama waktu dan angin. Dengungan slogan, "peace, love, unity, and respect" tak cukup memberi secercah terang di balik itu semua.

Masing-masing pihak memproklamirkan diri sebagai kubu yang benar. Buntut dari pertikaian, alih-alih akan merubah keadaan menjadi baik. Akan tetapi hanya menjadi kesumat dendam yang berkepanjangan. Di masing-masing kubu. Padahal sebagai manusia terdidik, hendaknya menyadari. Bahwa manusia tercipta di dunia ini punya "ide" untuk menyelesaikan masalah. "Secara damai"
"Ahh,,, sebegitu rumitkah merumuskan ide?" Demi tercipta kata "damai" dan penuh cinta. Hingga habis waktu saya, membaurkan diri di sekolah itu. Akhirnya ungkapan "damai" itu. Bak labirin yang tak pernah ketemu ujung pangkalnya.

Penggalan-penggalan kisah dari gulungan waktu yang terpaksa saya tarik kembali. Mengawali tulisan ini.

Pada akhirnya saya harus menyusuri mesin waktu. Sepasang sobat karib. Duduk bersandar dinding. Menghadap utara. Satu meter ke timur adalah lorong untuk ke toilet. Mereka berbincang. Mengisi jeda istirahat di sekolah. Walau mungkin cuma berdusari 15 menit. Tapi. Okelah. Tak ada salahnya bukan menikmati?" Kepulan asap rokok menyebar, diantara partikel udara. Mengiringi cerita, obrolan, canda, dan tawa. Sudah bukan rahasia lagi mungkin. Dimanapun tempatnya, di Indonesia ini. Pelajar menghabiskan waktu istirahat di sekolah dengan merokok. Kecuali gue, kali ye? (bo'ong).

Pranata dan Edi, teman dekat. Sobat karib. Hari ini begitu antusias berbincang. Tentang kemenangan waktu balapan liar semalam. Tentang motor Pranata yang bikin musuhnya harus rela menyerahkan uang taruhan atas balapan tersebut. Edi pun juga ikut berbahagia. Entah berapa persen dia ikut andil pula dalam taruhan itu. Tentu juga berkembanglah jumlah uangnya saat ini. Dalam obrolan yang semaikin seru mendadak mulut mereka berdua terbungkam. Apa pasal?"

Bagaimana obrolan mereka tidak terhenti?" Dari barat, arah kopsis. Semampai langkahnya, rambutnya tergerai, sesekali kibasan angin menggoyangkan helai-helai rambutnya. Bila agak dekat memandang, terpaan sinar matahari sedikit merubah warna rambut itu. Bertransformasi dari hitam menjadi kecoklatan agak kemerah-merahan. (Hayo apaan namanya?" gue juga gak tau).

..........................

Gedung ini memang bertambah meriah dengan dipindahkannya SMEA dari jalan Timor ke sini. Jika beberapa waktu lalu cuma STM dan SMA kini bertambah lagi penghuninya. Tak ayal pada akhirnya bertambah ramai pula situasinya. Bertambah pula gairah anak-anak SMA dan STM yang bersekolah di sini. Terutama kaum cowonya. Dari sini pula akhirnya muncul cerita ini.

Salah satu momen menarik untuk saya adalah kisah ini.

Mungkin ungkapan ini sedikit naif, "bahwa persahabatan itu tak akan terpisah oleh apapun".

Edi dan Pranata pada akhirnya terjebak dalam sebuah persaingan memperebutkan harga diri dan gengsi. Setelah istirahat itu. Edi dihantui gelayut rasa yang tak menentu. Ingin dia tahu lebih banyak tentang cewe itu. Tentang siapa dia, pokoknya tentang segala sesuatu tentangnya, everything about her. Tapi di sini dia tampaknya berbuat kesalahan, blunder.

Sementara cerita hari ini terus berjalan. Lalu entah setan, iblis macam apa pula yang pada akhirnya merasuki otaknya Edi. Tiba dia melontarkan pernyataan mengejutkan ke Pranata. "Man piye nek awakdewe totoan cepet-cepetan. Sopo seng iso ngolehne cewe mau" (Man, gimana kalo kita taruhan. Siapa yang bisa dapetin cewe tadi). "Gak wani boy aku". (Gak berani boy gue). Jawab Pranata tegas tanpa aling-aling. "Lha nyapo?". (Lha kenapa). Tanya si Edi ingin tahu. "Saiki ngene lho boy, nek aku arep macari cah mau piye Lisa?" (Sekarang gini lho boy, kalo gue mau macarin cewe tadi, Gimana Lisa). Lisa itu cewe nya Pranata anak SMA 5 Madiun. Yang pada akhirnya sekarang jadi istrinya. "Ah.. cengcengpo kowe berarti man, nek gak wani". (Ah cemen lu man kalo gak berani). "Ben". (Biarin). Kata Pranata singkat saja. "Tibak'e nyalimu cuma sampek semono thok man". (ternyata nyali lu cuma segitu doang man). Edi mencibir lagi. "Yo nek awakmu sreg yo jak'en kenalan dewe trus yo pacarono dwe boy, aku wegah". (Ya kalo lu ada feeling ma dia, ajak kenalan sendiri trus lu jadiin pacar, gue gak ah). Masih tetap pada keputusan yang tak mau berubah. "Ngene lho man, kabeh kuwi mesti dadi asik yen enek saingane". (Gini lho man, semua itu akan jadi asik kalo ada pesaingnya). "Enek tantangane". (Ada tantangannya). Lanjut Edi. "Yo golek saingan liyane tho boy, ojo aku". (Ya cari pesaing yang lain jangan gue dong). ""Liyane mesti gak wani man, mergo musuhe aku". (Yang lain pastinya gak bakalan mau / berani, sebab lawannya gue). Sambil merapikan dandanan rambutnya biar kelihatan cool. Edi memberi penjelasan ke Pranata. Namun tak kunjung juga ada titik temu. Kepastian yang keluar dari mulut Pranata. Untuk menerima tantangan Edi. Meskipun tetap ada provokasi dari Edi. Hingga tiba waktu pulang sekolah. Pranata tetap tak bergeming dari keputusan awal.

Namun Edi tetap mencoba untuk menantang sahabatnya itu. Tanpa ada kesan putus asa. Malah semakin menjadi. "Nyalimu koyo tempe, mentalmu lemah, mendingan sesok gaweo rok wae man, gak usah gawe celono!" (Nyali lu kaya tempe, mental lu juga lemah, mending besok lu pake rok aja, gak usah pake celana). Serentet kalimat itu ternyata merupakan sebuah mantra ampuh. Membuat Pranata akhirnya berpikir.

..................................

Antara menerima tantangan Edi dan tetap teguh pada pendiriannya, adalah pilihan yang sama-sama rumitnya. Sepanjang malam dia berpikir, pilihan mana yang harus dia jalani. Pranata benar-benar dalam keadaan bimbang. Layaknya seorang Harry S truman. Sepeninggal Franklin Delano Roosevelt. Lalu meneruskan tahta kepresidenan Amerika Serikat. Langsung dihadapkan pada dua keputusan pelik. Antara mengirimkan pasukan perangnya ke Jepang, ataukah menjatuhkan bom atom untuk mengakhiri konflik. Dengan cara singkat. Mengorbankan ratusan atau bahkan ribuan pasukannya. Bila sampai terjadi perang berkepanjangan. Atau membinasakan sebuah negara?" Yang secara otomatis juga akan membawa akibat kesengsaraan pada negara tersebut. Pada rakyat yang belum tentu ikut berdosa. Petimbangan yang tak mudah kawan.

Lalu..............

Setelah melalui skenario pemikiran berjam-jam. Pranata akhirnya menerima tantangan Edi.

Tapi bukankah memulai sesuatu yang baru butuh ketepatan untuk mengawali. Waktu dan momentumnya tentu harus tepat. Apa dan bagaimana aksinya, agar terkesan enak, luwes, dan nyaman. Lalu kapan waktu yang tepat untuk melaksanakan misi ini?"

"Oh iya besok hari sabtu band gue manggung di sekolah, secara otomatis cewe itu kan pastinya juga nonton. Saat itulah waktu yang tepat buat gue deketin dia.Kan keren juga, sambil gue berjalan hampiri dia. Sementara gue menggengggam stick drum gue. Ehmmmm so cool". Dalam lamunan akhirnya Pranata menemukan ide brilian. Dia memang punya band waktu di SMA namanya "SPIDOL BAND" yang kebetulan jadi jawara waktu lomba band di sekolah tersebut. Bersama Hartomo dan Feri tukang gitar, Maryono pemain bassnya, untuk vokalisnya Bayu Gustomo.  Kebanggaan yang mungkin akan menentukan hasil untuk misinya kali ini. Semoga.

..................

"Ratna", nama yang terlontar dari bibir itu. Seiring juluran tangan yang lembut menyambut ajakan buat kenalan dari Pranata. Kemujuran yang tak dinyana-nyana olehnya. Tanpa kesulitan dia berhasil kenal dengannya. Ini adalah momen awal sekaligus penentu dari misinya. Awal yang indah. Dengan sedikit meningkatkan kepercayaan diri berhasil juga melampauinya. Dan betapa sekarang kini Pranata telah meninggalkan Edi satu langkah ke depan. "Ada nomer telepon rumah gak?", gaya yang rada-rada malu kaya anak kucing yang lagi ditinggal sama induknya, buat nyolong tongkol di meja makan. Pranata coba bertanya ke Ratna.Cewe yang barusan dia kenal ini. Lalu tanpa banyak kata, seulas senyum tersungging di bibirnya Ratna "ada, bentar ya aku catatkan". Sesaat kemudian setelah beberapa detik menyerahkan kertas bertuliskan nomer telepon rumahnya. Giliran Ratna, "lha kamu adakah nomer telepon?" logat khas orang Indonesia bagian timur.

Waktu itu alat komunikasi terhebat adalah telepon rumah. Belum memasuki semarak era handphone seperti sekarang. Orang-orang yang punya jaringan telepon rumah pun ternasuk dalam golongan hebat pula. Jadi bukan nomor handphone, email, akun facebook, twitter, dan jejaring sosial lainnya. Presiden kita pun juga masih Gus Dur.

......................

Alhasil. Berawal dari tantangan Edi beberapa hari lalu. Pranata merasakan adanya benang-benang cinta dalam dirinya, yang ingin dia untai bersama Ratna.

Tak terasa. Seminggu berlalu. Bulan puasa pun akan segera tiba. Bukan Ramadhan yang seperti biasanya. Bapak presiden Gus Dur mengeluarkan kebijakan baru. Tak seperti biasanya. Bahkan terkesan mencengangkan. Sekolah libur hingga 10 hari setelah hari raya Idul Fitri. Bukankah dengan demikian sedikit mengganggu Pranata dan Edi, untuk saling adu kelihaian. Siapa yang tercepat mendapatkan Ratna.

Namun mengingat Cokroaminoto berbasis yayasan Islam. Maka akan mengisi dengan kegiatan pondok Ramadhan di awal bulan puasa. Inilah momen yang akhirnya menjawab. Siapa yang mampu meluruhkan hatinya Ratna.

Finally. Pranata akhirnya berhasil juga. Malah Ratna, cewe pindahan dari kota Sorong itu. Kota nun jauh di sana, bagian dari pulau paling timur ini, Papua. Yang bila berbicara bahasanya sangat khas dan kentara sekali. Multiplikasi antara bahasa Indonesia formal. Bercampur logat orang Indonesia bagian timur. Sering terdapat akhiran kah bila bicara. mau kah, iya kah, sudah kah.

"Pranata, nanti kita buka puasa bareng yuk, mau kah?" "Jemput aku ya bisa kah?" Lalu bibir itupun mengatup. Akhirnya dia mengajak Pranata buka puasa bareng. "Iya InsyaALLAH aku usahain ya". Jawab Pranata dengan logat medog Jawa. Tapi masih dia coba paksain seluwes mungkin. Namun tetap saja yang namanya lidah, cara ucap pada bahasa. Tak bisa dihindari. Tiap-tiap daerah, suku, negara pastinya punya ciri khas sendiri-sendiri. "Sampai nanti ya!" Ratna melenggang sambil meninggalkan lelaki muda di depannya, yang masih terkesima akan pesona dirinya. Tsahhhh.........

Sepak terjang semakin dekat dengan hasil akhir yang memuaskan. Mungkin dia bakal jadi pemenangnya. Sebab si penantang, Edi belum juga beraksi hingga saat ini. Baunya pun juga tak ada sama sekali. "Emang kentut?" Kegiatan pondok Ramadhan pun tak dia ikuti. Kemana dia, kemana si Edi?" Tak ada yang tahu.

Mungkin saja sekarang dia sedang berada di planet Krypton. Planet khayalan dari luar sistem tatasurya kita. Atau mungkin dia malah punya misi khusus untuk menyelamatkan mesin waktu Eradicator*. Agar tak jadi meledak, yang pada akhirnya menghancurkan planet Krypton. Upzz sori itu cerita Superman.

(*) Sebuah mesin waktu dari jaman purba. Dalam cerita Superman bahwa mesin inilah yang menyebabkan planet Krypton meledak.

Kembali ke cerita...

Ajakan Ratna ternyata tidak serta merta membuat hati Pranata berbunga. Bukan ia tidak mau sih, cuma di hari ini ada sedikit gangguan. Atau dia takut nantinya ketahuan si Lisa?" Bukan itu saudara-saudara senasib, seperjuangan, di atas tanah dan di bawah langit yang sama. Pada hari ini dia lagi bokek. Dompetnya lagi paceklik. Dua hari lalu habis isinya buat beli alat-alat motor. "Huft, bad of the day. When I have the great moment to make a romance's. I have trouble with my financial. Ohh.. I don't know where to go?"

Dalam kecemasan, memikirkan nasibnya hari ini. Lama ia terdiam dan berpikir. Memutar otak dan ingatan. Tiba-tiba muncul sekelebat bayangan Hartomo, yang akrab kita panggil Mbah Kung. Sebulan lalu meminjam uang padanya buat bayar sewa kamar kos. Tapi sungguh sayang, jika dia mau menagih ke Hartomo. Dia harus pergi dulu ke Ngawi. Mbah Kung, sapaan akrabnya juga tidak masuk pondok Ramadhan. Seperti Edi. Tak masalah asal masih ada harapan yang bisa terwujud. Ke Ngawi pun bukan pilihan yang buruk.

Dan tanpa pikir panjang lebar. Pranata mengajak saya. Karena memang saya lah yang tahu dan paham. Tentang letak geografis, kondisi alam, kebiasaan masyarakat setempat. Mulai dari kapan waktu yang tepat buat jemur pakaian, memasak, dan pergi ke pasar. Halah ini mau nagih utang atau mau survey sih?" Kita berangkat naik bis. Dengan misi menagih uang 50 ribu Rupiah.

Dasar nasib. Mujur tak selalu kita dapat, sial tak selamanya bisa ditolak. "Hartomo gak neng omah mas, bocahe saiki neng Jakarta. Preinan pengen dolan neng mas seng nomer siji. Mergo dulur-dulur soko Ambon podo kumpul neng kono kabeh". (Hartomo gak ada di rumah mas, anaknya sekarang di Jakarta. Liburan pengen maen ke abang kita yang pertama. Sebab sodara-sodara dari Ambon juga kumpul di sana). Kata mas Ibnu kakaknya Hartomo paling buncit. Setelah beberapa menit lalu menyambut kedatangan kami. Pranata yang punya kepentingan yang sifatnya urgent, mendadak lesu.

Dengan langkah yang gontai Pranata meninggalkan rumah Hartomo. Saya juga tak mampu berbuat banyak. Hanya mengikuti langkahnya dari belakang. Matahari bersinar garang. Panas terik. Lebih-lebih ini bulan puasa. Makin bertambah pula ujian yang kami hadapi.

Layaknya dua orang kafilah yang terdampar di gurun pasir. Berharap ada oase ditengah-tengah gurun itu. Terengah berjalan di hari yang terik. Langit dan panas matahari menjadi tudung sepanjang perjalanan. Baik berangkat maupun pulang. Bertambah berat pula pikiran Pranata. Digelayuti kebingungan, ketakutan, kekhawatiran, membayangkan acaranya nanti kacau.

"Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan".
Pepatah kuno bangsa China

Berharap sesuatu akan menjadi lebih baik. Tanpa harus menyumpahi kesialan yang datang. Daripada harus menyudutkan diri dalam ketidakberdayaan. Pranata akhirnya pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti. Daripada terus menyalahkan nasibnya hari ini.

Nasib memang siapa yang tahu kecuali Tuhan di atas sana. Kemujuran dan kemalangan bisa datang kepada siapa, kapan, dan bagaimanapun keadaannya. Di tengah kepasrahan yang semakin mendalam. Seorang tetangga, lelaki seusia pula. Datang ke rumah Pranata. Dengan maksud mengembalikan uang yang dipinjam tetangga itu beberapa bulan lalu. Malah jumlahnya dua kali lebih besar dari yang dipinjam oleh Hartomo. Dan sekarang tinggal menunggu kemujuran berikutnya.

Obrolan selepas menikmati buka puasa bareng. "Iya, aku mau jadi pacar kamu". Kata Ratna pada Pranata. Setelah dia sejenak menetralisir kondisi tubuhnya dengan oksigen. Biarkan menyebar. Menyebar melaluli pembuluh darah, vein's. Setelah terpompa oleh jantung. Masih dengan posisi duduk yang berhadap-hadapan. Saling menatap beradu chemistry. Tsahhh....... gayung bersambut. Hasrat yang tak bertepuk sebelah tangan. Sepasang anak manusia ini akhirnya menjadi bagian dari indahnya dunia.

"Cinta adalah ruang waktu, datang dan menghilang. Semua karunia Sang Pencipta"

Begitulah penggalan lirik "Lagu Cinta" dari Dewa 19 meng-ejawantah perjalanan kasih Pranata dan Ratna.

Sementara di sisi lain Edi masih belum tahu keadaan itu. Kini telah kembali. Tepat hari pertama masuk sekolah. Selepas menghabiskan masa liburan panjang dari negeri antah berantah. Mungkin. Sebab tak begitu penting juga untuk membahasnya. Orangnya suka gak jelas gitu sih soalnya. Kadang juga banyak bohongnya.

Dengan gaya rambut habis rebonding. Mulut yang tak henti mengunyah permen karet. Biar kaya Alm. Ryan Hidayat waktu jadi bintang utama, sebagai pemeran Lupus.  Satu film yang diangkat dari komik karya Hilman Hariwijaya. Dan film itu sangat populer di dekade 90'an. Edi tebar pesona. Biar nanti pas si Ratna lihat dirinya langsung mendekat dan ngrengek-ngrengek sama dia. Buat dijadiin pacar. NGAREP!!"

"Ohhh tapi perjuangan lu terlambat man. Percuma lu ngerubah penampilan se-elegan mungkin. Nantinya malah bikin lu kecewa. You are never get luck at now. Everything is too late".

Drendendenden, motor Pranata melintas dengan lambat. Seolah tak ingin begitu saja melewatkan pagi ini. Namun kali ini ada yang lain.  Tak seperti biasa. Ada mendekap erat  di sepanjang lingkar pinggangnya. Sepotong tangan kanan yang putih bersih. Tangan kirinya yang juga putih dan bersih, memegang sapu tangan. Untuk menutup lubang hidung agar terlindung dari polusi asap dan debu. Gaya duduknya menghadap timur. Gayanya perempuan banget saat dibonceng. Tak urung hangat mentari pagi menerpa kisi-kisi wajahnya. Berlapis bedak tipis.

"Boy", sedikit teriakan Pranata menyapa Edi. Waktu hampir memasuki gerbang sekolah. Membuyarkan pagi harinya Edi. Seketika Edi lemas tanpa daya. Semua yang dia persiapkan untuk hari ini jadi sia-sia. "Perjuangan telah usai kawan". Slogan dari bau parfumnya mendadak hilang. "Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya..... Elu manyun man".

Dalam hidup manusia selalu dituntut untuk bersikap sportif. Dan mengakui sebuah kekalahan dengan lapang dada. Kekalahan dan kemenangan adalah unsur yang bersenyawa dalam setiap persaingan. Apapun jenis persaingan dan perlombaan itu. Tapi terkadang semua itu hanya slogan. Simbolis saja. Tak jarang malah praktek di lapangan, malah berbanding terbalik. Ada-ada saja tingkah laku manusia untuk menutupi rasa malu atas kekalahannya.

Edi tak lebih dari layaknya anak kecil yang kalah dalam permainan. Ketika dia kalah dari si Pranata. Dia ngambek, gak mau bicara sama Pranata. Aksi membisu. Menjauh. Bangkunya yang juga pindah sekarang. Tak mau dekat lagi dengan Pranata. Entah rasa malu, sakit hati, karena Ratna sekarang jadi cewe nya Pranata?" Atau dia memang tipe orang yang gampang ngambek?" Yang jelas begitulah keadaannya.

Sebelum peristiwa ini terjadi. Saling bercanda, duduknya sebangku, bolos, cabut dari sekolah bareng, mabok bareng, rokok join, sampai taruhan balap motor liar pun, modalnya patungan.  Tapi sekarang. Hanya gara-gara memperebutkan cinta bertatap mukapun enggan. "Ahggghhhhh".

Bukan hidup namanya bila tak ada cobaan. Bukan perjalanan hidup tentunya jika tak ada hambatan. Sebelum lebih jauh perjalanan hidup kita lalui. Hendaknya kita juga menyadari. Bahwa hidup memang penuh kejutan.

Seperti kisah cinta Pranata dan Ratna. Romansa yang sedang mengembang.

Pada dasarnya sifat cinta itu menjebak. Semua manusia normal pasti mengalami hal itu. Menjebak dan terjebak. Seperti bumi yang terjebak untuk terus mengelilingi matahari. Lalu menjebak bulan yang ber-rotasi mengelilingi bumi, turut serta pula mengitari matahari. Satu konsep yang mungkin sama dengan cinta. Menjebak para pelakunya untuk turut serta menuruti kemauan cinta. Cinta ibarat matahari. Dua sejoli yang sedang dimabuk asmara berperan sebagai bumi dan bulan.

Ketika Pranata larut dalam jebakan itu. Ia akan selalu berusaha mempertahankan cintanya, mataharinya. Meskipun Edi kini telah telah enggan bertegur sapa dengannya. Bukan berarti dia akan keluar dari orbitnya. Meninggalkan sang bulan, yaitu Ratna. Mereka akan selalu berusaha saling menjaga. Agar tak keluar dari orbitnya. Dengan kata lain terlepas. Pernah suatu kejadian menganggu kisah mereka berdua. Namun bukan Edi, dia sudah menyerah. Melainkan Puput. "Ooooo Siapa Dia?" "Berpacu Dalam Melody". Uppz itu jenis acara kuis di TVRI jaman dulu sob.

Latar belakangnya dengan saya adalah sama. Sebab dia pindah ke Cokro pun juga sama. Berasal dari SMA 5 juga. Gara-gara tak naik ke kelas 3 dia memutuskan pindah ke sini. Tapi ini anak juga lumayan tengil lho. Anak baru, sudah berani bikin ulah. Sudah tahu Ratna itu lagi deket sama Pranata. Tapi dia nekad juga. Nyamperin ke rumah Ratna dan ngajak jalan pula. Sebenarnya juga kesalahan bukan mutlak pada Puput. Cowo itu cuma pengen meng-apresiasikan kekagumannya pada Ratna. Bayangkan saja, di tengah kelabunya cerita tentang sekolah Cokro. Tapi masih terselip mutiara berwujud Ratna.

Tapi apes buat Puput. Awal malapetaka yang tak dinyana datangnya. Pranata dengan jelas melihat dan menjadi saksi. Ketika Puput membonceng Ratna dengan motornya. Melintas di jalanan. Dari sinilah Puput membuat catatan pengalaman pahitnya di Cokro.

Di jam istirahat. Pranata tanpa banyak kompromi. "Put reneo sedilut, aku enek perlu karo awakmu!" (Put tolong lu ke sini bentar, gue ada perlu sama lu). Tak ada tanda kemarahan, karena waktu itu Pranata menampilkan wajah ramah plus senyum renyah.  Bak bertemu sahabat lama Puput mendekat. Pranata merangkul, menggiringnya ke lorong yang akan menuju toilet.

Dan apa yang terjadi?"

Beg..beg..beg..., tiga pukulan. Bogem mentah Pranata, tepat mendarat di wajah puput. Membuat Puput tersungkur jatuh. Tak berdaya. Harus mengakui bahwa, sekarang dia dalam kondisi TKO.

Setelah puas melihat lawan tak berdaya, barulah Pranata berkata. "Kowe kuwi wes ngerti Ratna gandeng karo aku, kok malah nekad ngajak metu dewek'e. Karepmu piye, ngajak gegeran rame we?" (Lu tuh tahu, kalo Ratna itu cewe gue, kok lu nekad ngajak dia keluar. Lu pengen bentrok rame?). Karena sudah tak punya daya untuk melawan. Puput cuma bisa menempelkan kedua telapak tangannya. Memelas minta maaf ke Pranata. Atas kesalahannya. "Sepurane boy, aku salah damai wae wes". (Sori boy, gue salah damai aja lah). Tanpa menanggapi lagi. Pranata meninggalkan lawannya, yang masih berusaha untuk menetralkan kondisi tubuhnya.

Dalam posisi sedemikian nahasnya bagi Puput. Bukan berarti keadaan jadi berangsur membaik. Kali ini bukan Pranata yang kembali menghajarnya lagi. Melainkan Hartomo, Mbah Kung dari arah sudut lain. Sekonyong-konyong datang. Mendekati Puput. Bukan membantu Puput untuk bangkit, ini malah menambah penderitaan padanya makin menjadi.

Memang sih beberapa bulan lalu. Saat Puput baru masuk sekolah di Cokro. Hartomo akrab dengan sebutan Mbah Kung ini tak begitu simpatik dengan Puput. Berulangkali dia mengutarakan maksud pada saya. Hendak menghajar Puput. Cuma belum ada kesempatan. Menunggu Puput berbuat kesalahan dulu, mungkin. Atau ini mungkin juga cara Hartomo membalas kebaikan Pranata. Bisa juga begitu. Sebab hingga peristiwa tragedi ini terjadi. Dia, Mbah Kung belum juga mengembalikan uang 50 ribu yang dia pinjam dari Pranata.

Hingga pada akhirnya dengan sedikit melakukan lompatan. Mbah Kung menyarangkan tendangan tepat mengenai dada Puput.

"BLARRRRRRR".................



Minggu, 13 November 2011

"BEN KAPOK"

Satu konsep tembang religi memuat tiga kebudayaan berbeda baru saja saya nikmati. Aroma timur tengah yang begitu kental pada irama musiknya. Dipadu dua kekuatan bahasa yang berbeda. Bahasa Indonesia yang begitu memikat. Lalu tutur kata dalam bahasa Inggris terlantun khas. Berlogat timur tengah. Membuka mata, hati, dan pikiran saya.

Kicau burung. Sinar mentari pagi. Kilau embun di ujung daun. Sebuah cerita di awal hari. Satu persatu kegiatan pagi setelah bangun tidur akhirnya tuntas juga. "Mandi sudah, pakaian juga sudah rapi, manasin mesin motor juga sudah, and sekarang tinggal sarapan pagi". Begitulah kegiatan awal pagi dari seorang pelajar SMK GAMALIEL Madiun ini.

Pagi ini sebenarnya dia agak telat bangun. Kelelahan setelah menghabisi Irfan, Badhrun, dan Yahya. Dalam bertanding bola billyard. Dan kini jelaslah kiranya. Isi dompet tak perlu diragukan lagi ketebalannya. Soal uang jajan dan bensin ada cadangan berlimpah.


Dengan sopan dan penuh rasa hormat abg ini berpamitan sama papa dan mamanya. Lalu tanpa pikir panjang ia tancapkan kuci sepeda motornya. Dia tekan tombol starter, "dren....dren....dren....dren" suara mesin berguncang. Asap menyembur dari lubang knalpot. Menambah perbendaharaan karbondioksida di pagi yang sejuk ini. Dani pun berangkat menuju Stadion Wilis Madiun. Sebab mata pelajaran olahraganya memang di sana. Jadi satu dengan berbagai sekolah yang ada di kota ini. Minimnya lahan dan fasilitas guna menunjang kegiatan pelajaran tersebut mungkin jadi sebabnya. Jadi alternatif pilihannya adalah memanfaatkan fasilitas yang sudah dipersiapkan oleh pemerintah kota. Sekalian kesempatan juga menghilangkan suntuk. Melihat warna-warna baru yang lebih fresh.

Hari ini. Rabu. Dani tampak begitu sumringah. Mata pelajaran olahraga dan kesehatan. "Lho padahalkan badan dia sedikit tambun, kok sumringah sih?" Ya jelas sumringah dan bungah dong. Bagaimana dia tidak senang hati di hari ini?" Jika melihat aktivitas di sepanjang waktu saat berada di lingkup sekolahnya. Kejenuhan itu mungkin kerapkali menderanya. Menengok ke kiri ada solder. Coba alihkan pandangan ke kanan seperangkat alat elektro lainnya untuk bahan praktek jadi objeknya. Giliran ada sedikit kesegaran saat diajar oleh guru yang cantik, manis, tak urung juga cuma sekejap. Si guru yang cantik, manis, dan lumayan memesona untuk dipandang itu tak jarang ngambek. Ogah lagi ngajar akibat ulah siswa-siswanya yang mayoritas. Hampir 100% diisi oleh cowo'.

...............................

Sembulan mentari hangat. Ramah menyambut pagi. Menerobos diantara celah-celah daun. Awan putih di atas langit sana. Canda riang anak-anak SMP di atas laju roda sepeda yang mengantarkan mereka ke sekolah. Betapa indahnya pagi yang cerah ini. Derap kaki para pejalan di trotoar yang pulang menuju rumah. Setelah sejenak meluangkan waktu untuk menikmati udara pagi yang relatif masih segar dan bersih. Lalu lalang para pengendara sepeda motor, mobil, becak. Terus saja melaju. Mengisi waktu di hari ini. Dengan masing-masing urusan yang berbeda.

"Damai" begitulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan pagi harinya Dani saat ini. "Ooo.... damainya hatiku kala mentari bersinar lagi". Melaju di atas roda sepeda motornya. Dani penuh keceriaan menyenandungkan tembang pop lumayan lawas. Dari grup band Wayang. Tak peduli sedang melintasi pertigaan yang menghubungkan jalan Sarean dan jalan Kapuas. Dengan tetap menjaga kestabilan nada dan tempo lagu tersebut. Namun konsentrasi serta kontrolnya pada situasi jalanan sama sekali tak terganggu.

Ada suatu kebiasaan dari tokoh yang satu ini saat berkendara sepeda motor. Jarang mengenakan helm. Bukan dia lupa, melainkan memang disengaja. "Toh tujuan juga ga' jauh-jauh amat ini, cuma ke stadion". Begitu pikirnya mungkin.

Seperti kata pepatah-pepatah kuno bilang. "Dalam sebuah perjalanan hidup ini. Bila tak pernah menemui aral, hambatan, rintangan, kesulitan, dan cobaan. Perjalanan hidup itu akan terasa hambar. Tanpa kesan yang membekas". Lalu bisa disimpulkan pada akhirnya mengalami itu semua?" Atau lebih tepatnya mengalami gangguan dalam perjalanan hidup di hari ini?"

Sudah pada kodratnya bila seorang anak manusia dalam mengarungi kehidupan ini terganjal sesuatu hal. Karena dengan begitu kita akan menyadari. Betapa hidup itu selalu punya alasan untuk menguji para pelakunya. Agar menyadari bahwa, di dunia ini ada dua sisi berlawanan yang mewarnai hidup. Tanpa mengalami salah satunya, niscaya kita tak akan tahu bagaimana satu sisi lainnya. Dalam artian manusia tak akan tahu dan merasakan  tentang arti kebahagiaan. Tanpa pernah mencicipi kesedihan. Lalu apa rintangan Dani di hari ini?" Atau jangan-jangan ada segerombolan penyamun menculiknya?" Sebelum dia tiba di stadion untuk berolahraga bareng teman-temannya.

Sabar!" Kita ikuti saja kisah ini layaknya air sungai yang mengalir. Jangan dipaksakan. Biarkan menuju muara dulu sebelum pada akhirnya menjadi gelegak besar di samudra.

..........................

Matahari pagi pancarkan cahaya menerpa sisi kanan pipi Dani yang agak tembam. Maklum badannya sedikit tambun. Hangat bercampur menjadi satu dengan desiran angin pagi pula. Tekanan angin juga sedikit ada tingkatan. Karena sekarang dia berada di atas benda yang bergerak. Laju roda sepeda motornya menjadi pemicunya. Sudah merupakan hukum alam. Bahwa suatu benda yang bergerak maju pastinya melakukan tekanan pada udara di depannya. Tak urung juga membuat jambul rambutnya bergoyang-goyang.

Dari jalan Kapuas dia terus ke arah timur. Lalu belok kiri saat di pertigaan. Terus saja ke utara titik penghabisan jalan Asahan. Arah setir lalu dia rubah ke kanan, jalan Wuni. Jarak beberapa puluh meter saja, kembali setir berubah haluan ke arah kiri lagi. Jalan Kenari. Jalan kecil yang akan membawanya menuju jalan Jenderal Soedirman Madiun. Hingga lampu merah berganti hijau tak ada firasat atau pertanda buruk terbaca olehnya. Dan akhirnya.

Sebelum lebih jauh melangkah ke cerita ini. Ada baiknya kita mundur ke belakang. Pada persiapan Dani saat di rumah. Beberapa waktu lalu. Ternyata ada sesuatu yang kurang. Dia lupa menambah bensin dalam tangki motornya. Yang pada akhirnya nanti jadi hal yang menggagalkan harinya kali ini.

Jalan Jenderal Soedirman. Adalah satu tanda dari kota Madiun untuk mengenang kehebatan sang pahlawan ini. Kita tentunya ingat ada satu kemenangan gemilang yang diraih beliau. Pertempuran Ambarawa. Telah mampu memberi cukup bukti pada kita semua. Bahwa sebenarnya kita adalah bangsa yang didirikan oleh orang-orang hebat. Dengan kehebatan, kejeniusannya, dan keberaniannya sang jenderal beserta pasukannya, akhirnya mampu mengusir Inggris dari ibu pertiwi. Sebuah sejarah masa lalu yang patut kita banggakan. Oleh karena itulah tanda penghormatan dengan mengabadikan nama sang pemimpin perang tersebut bukanlah hal yang berlebih-lebihan.

Ruas badan jalannya adalah jalur yang digunakan para pelajar, guru, staf-staf kantor, pekerja toko, sales, angkutan umum dalam kota. Maka dari itulah di sini. tak jarang digunakan sebagai tempat operasi kendaraan bermotor. Strategis mungkin alasannya. Atau dengan kata lain untuk mendapatkan ikan dengan gampang, mudah, dan cepat. Maka carilah di tempat yang banyak ikannya. Untuk menjaring para pelanggar lalu lintas. Maka pilihlah jalur yang ramai akan kendaraan bermotor. Dengan begitu tinggal menyesuaikan waktu. Kapan saat yang tepat, sebuah jalur akan ramai dan padat penggunanya. Dan hasilnya, tanpa dicaripun para pelanggar masuk dalam jebakan. Terperangkap undang-undang. Cerdas. Benar-benar pemikiran cara yang jitu.

Di sepanjang jalan ini berderet toko-toko berjajar di kanan dan kiri jalan. Sekolah COKROAMINOTO ada di selatan jalan. "Eh.... hampir saja saya lupa. Termasuk alumni SMA COKRO. Lulus tahun 2002. Pas di tahun itu juga tepat diselenggarakan pesta sepakbola Piala Dunia. Di Jepang dan Korea, sebagai tuan rumah. Brazil menjadi jawaranya, setelah menaklukkan tim Jerman. Dengan 2 gol tanpa balas. Saya jadi membayangkan betapa sedihnya para fan's tim Panzer (julukan bagi tim nasional Jerman).   Walaupun pada dasarnya saya bukan pendukung dari dua tim tersebut di atas.

Bicara soal sekolah. Sebenarnya saya pernah mengalami kegagalan. Sebelum diri ini (baca saya) menghabiskan masa puber di COKROAMINOTO Madiun. Saya membuang waktu. memboroskan dan menyiakan kesempatan selama setahun. Hingga berakibat fatal. Saya gadel (istilah dalam bermain kelereng. Yaitu saat buah gundu yang kita tembakkan ke arah sekumpulan gundu untuk diperebutkan dalam kotak. Namun gundu kita terjebak dalam kotak tersebut. Dan terjadilah kekalahan). Secara singkatnya saya pernah tidak naik kelas. Di salah satu SMA negeri kota Madiun ini.

Ya, sekarang adalah waktu yang tepat untuk membuka sejarah yang menyakitkan itu. Dan sumpah demi apapun yang ada di dumia ini. Sakitnya lebih pedih dari yang namanya patah hati. Jika patah hatipun saya bisa melupakan walau kadang teringat lagi. Tetapi untuk yang satu ini saya tidak mungkin dan tidak bisa untuk melupakannya. Setiap detik, menit, jam, setiap haripun selalu saja terlintas penyesalan. Mengisi pikiran di sepanjang tahun. Bahkan seumur hidup gue (baca saya biar kelihatan formalnya).

Jika saya teringat masa-masa itu lagi. Jadi terkenang kesalahan-kesalahan saya. Pada kedua orangtua, pak Priyo walikelas saya saat itu. Pernah suatu ketika dia marah dan malu akibat ulah saya. Serta pada beberapa teman saya "yang tak perlu disebutkan namanya". Kembali saya harus memutar mesin waktu untuk mundur ke belakang. Pada masa lampau.

Waktu itu siang yang panas. Suasana gerah. Pelajaran fisika. Menambah suasana semakin bertemperatur tinggi. Untuk mendinginkan keadaan, "tuing" ide dalam otak saya muncul. Akhirnya!" Untuk menyingkat waktu. Saya mengajak Agus, Sandi (kuncung), Arif, Nanang, dan saya sendiri pelopornya (lho tadi kan ga' boleh disebutkan satu persatu namanya). Bermain judi lotere. Jenis judi bertaruh angka-angka yang saya tulis di atas permukaan mejanya Nanang. Lalu menaruhkan uang sebagi taruhan. Mengocok lintingan kertas mirip arisan. Siapa yang angkanya keluar berhak membawa semua uang yang dipertaruhkan di atas meja itu.

Tapi sungguh sial dan naas menimpa nasib kami. Awal yang damai menjadi malapetaka. Permainan judi lotere mirip arisan itu berakhir dengan kesan buruk. Teriakan Sandi Kuncung mengacaukan semuanya. "Hayo saiki serahno kabeh duitmu neng aku ya. Aku udu angka 5". (Hayo sekarang serahin semua uang sama aku. Aku yang menaruhkan duit di angka 5). Kontan bu Susi mendengar kegaduhan dan segera melapor pada pak Priyo. "Ahhhh..... cerita berbuntut panjang, hingga tak puas hanya menghukum kami lari keliling tanpa alas kaki, keliling lapangan tenis sepuluh kali". Masih saja pelanggaran itu jadi indikator paling kuat untuk tidak menaikkan saya ke kelas 2.

Dan akhirnya saya hanya bisa berkata, "selamat tinggal SMA negeri 5 Madiun". Dengan penuh keikhlasan walau kadang terasa berat terpikul di pundak. Saya melangkah gontai ke gerbang baru. Dan bergumam lirih, "COKROAMINOTO adalah lembaran baru".

..........................

Sejenak saya memutar kenangan hidup di masa lalu. Kini saatnya kembali pada situasi di jalanan. "Trittt...tritttt...trittttt", bunyi peluit begema. Pagi yang semakin ramai jadi tambah hidup. Sekelompok polisi menjalankan tugas. Di depan galeri Indosat. Ada mencegat para pengendara motor, memeriksa surat kelengkapan. Ada pula yang meminggirkan para pelanggar ke trotoar. Duduk di belakang meja kecil, polisi agak senior. Lengkap dengan setumpuk surat sakti, untuk bukti dan menjerat para pelnggar. Nyaman sepertinya dia duduk di situ. Di bawah pohon, tak perlu berpanas-panasan. Seperti para junior-juniornya yang lebih muda.

Situasinya mungkin tidaklah mengganggu. Bagi mereka yang pakai helm, motornya juga komplit, serta surat-suratnya lengkap. Tapi bagi Dani, yang tak pakai helm?"

"Jancok*, apes wes dino iki". (Apes deh hari ini). Hanya itu reaksinya melihat pemandangan yang merusak paginya ini. Sementara dia terus melaju ke depan. Mendekati gerombolan polisi itu. Tanpa ada perintah sekitar jarak 5 meter dari lokasi tersebut seorang petugas memintanya minggir. "Kiri..kiri...kiri...kiri...". Intonasinya sedang-sedang saja. Tanpa ada maksud membentak dan meneriaki si Dani. Petugas sepertinya begitu yakin ketika melihat gelagat Dani yang terkesan "nyerah" di pagi ini. Terkesan "nrimo" dari raut mukanya. Terkesan "mau" menerima sanksi atas segala pelanggarannya hari ini. Tapi kenyataan tak selalu seindah dengan bayangan, imajinasi, bayangan, terawangan sebelumnya. Namun semua itu terjadi pasti ada sebabnya. Hingga terjadilah akibat atas sebab itu.

(*) Sebuah umpatan, yang umumnya dipakai oleh masyarakat Jawa. Kata ini lazim diucapkan bila seseorang sedang dalam keadaan jengkel dan marah. Juga saat dalam kesialan.

Petugas lalai tak mengawasi lebih jeli. Fokusnya tak sepenuhnya pada Dani. Sebab ada mahasiswi cantik dari belakang Dani yang muncul. Dengan motor matic warna pink yang flamboyan. Rambutnya yang menerobos sela-sela helm dan leher. Menjuntai indah hingga bahunya. Kulitnya yang bersih. Wajahnya yang berlapis bedak tipis. Auranya semakin elok tertimpa mentari pagi. Akhirnya membuyarkan fokus polisi muda itu. Sebenarnya juga tak bisa kita menyalahkan dia. Manusiawi dan senormal-normalnya. Seorang pria tertarik pada lawan jenis, yang bentuk dan rupa aduhai seperti itu. Siapa tahu saja iseng-iseng berhadiah. Periksa SIM nya. Lihat alamatnya. Ingat-ingat dalam otak. Kalau perlu dicatat. Lain kesempatan saat waktu longgar datang ke rumahnya.

Melihat kelengahan itu, Dani tak mau buang waktu. Menyiakan begitu saja. Naluri. Insting. Pikiran. Hatinya. Tekadnya sudah bulat. Tanpa pikir panjang dan lebar. Sepersekian detik terlambat ambil keputusan malah kacau jadinya. "Kabur", tiada kata lain.

Pacu sekencang mungkin. Melarikan diri di situasi seperti ini adalah pilihannya. Jangan terlambat. Akhirnya Dani kabur. Memacu kecepatan untuk menghindari sanksi. Tak peduli keadaan saat itu ramai.

Seorang rekan dari polisi yang terkelabuhi oleh Dani. Beberapa saat lalu hanya duduk santai di atas motor patrolinya. Guna mengantisipasi dan melakukan pengejaran bagi para pelnggar yang melarikan diri. Kali ini sepertinya ada mengganggu rileks-nya. Kali ini dia harus membuktikan kehebatannya pada dunia kalau dia memang layak diberi mandat atas tugas itu. Hitung-hitung tes uji kelayakan atas skill dan kemampuannya. Seketika itu juga langsung melakukan pengejaran pada Dani yang lebih dulu berada lumayan jauh di depannya. Sebab ibarat sebuah perlombaan dia telah mencuri start, sebelum ada signal balapan akan dimulai.

Kejar mengejar berlangsung seru. Mirip singa yang bernafsu memangsa rusa. Cuma yang tercepatlah yang akan memenanginya. Sebaliknya jika kalah sang singa akan kelaparan. Jikalau sang rusa yang terlambat atau dengan kata lain tak bisa mengungguli kecepatan singa. Maka nyawa akan terancam. Separah itukah akibatnya?" Kok malah mirip dengan film dokumentasi tentang dunia binatang. Tentang pemangsa dan yang akan dimangsa.

Dani terus memacu kecepatan tertinggi. Kontrol pada situasi jalan yang mulai ramai harus ia tingkatkan. Sedikit saja lengah. Sedikit saja tak memerhatikan apa yang ada di depannya. Nasib dan harga diri akan begitu saja menguap. Kebanggaan akan sirna begitu saja. Dan itupun juga berlaku pada si pemburunya. Jika pagi hari ini dia gagal menangkap Dani. Maka reputasinya sebagai pemburu, pengejar, akan hilang terbawa angin. Dan akan lebih memalukan lagi. Bila semua orang tahu bahwa yang berhasil membuatnya kalang kabut tak lebih dari sesosok anak baru gede. Seorang remaja yang lagi sibuk mencari tentang arti sebuah jatidiri sebagai manusia seutuhnya. Seorang pelajar sekolah lanjutan tingkat atas mengambil jurusan elektronika.

"Gila bener tuh anak, kok beraninya kabur ya". Seorang siswi sekolah jurusan masak-memasak. Sembari mnyeberang jalan. Kaget terbengong bukan kepalang menyaksikan Dani ngebut. Sementara ada seorang polisi menguntitnya dari belakang. Lain lagi dengan sekumpulan tukang becak yang mangkal di sebelah barat SMA negeri 1. Melihat pemandangan seperti itu. "Lho kok isuk-isuk wes nguber-nguber bocah kae nyapo ya?" (Lho kok pagi-pagi udah ngejar bocah). "Halah biasa kuwi, ojo nggumun, paling yo golek ceperan gae sarapan". (Halah gak usah heran paling juga cari sampingan buat sarapan). Jawab seorang rekan di sampingnya. Kemudian dia berkomentar lagi. Setelah puas mendengar penjelasan temannya, "ooooo..... yo wes nek ngono, berarti aman awakdewe ngene iki, gak perlu gawe helm, tuku SIM, opo maneh STNK" (oooooo....... ya udah kalo gitu, berarti yo aman kita-kita ini ya, gak perlu pake helm, beli SIM, apalagi STNK). Sambil menyedot rokok walangkekeknya, santai seperti tak ada beban. Kalimat itu meluncur dari mulutnya.

Pengejaran masih terus berlanjut. Si pemburu belum juga dapat menaklukkan yang diburunya. Sudah lewat jalan Thamrin. Kini malah terus berlanjut ke arah utara. Dani semakin menggila. Diterobosnya lampu rambu lalu lintas. Tak peduli warna merah. Terus saja tanpa kenal ragu tancap gas. Guna meloloskan diri. Membebaskan diri dari segala sanksi yang ada. Berusaha agar selamat dari jeratan denda. Kan juga sayang hasil kemenanga billyard lawan Badhrun, Irfan, dan Yahya semalam harus raib dengan percuma. Perjuangan yang mengorbankan waktu dan energi harus sia-sia begitu saja. "Sebisa mungkin harus tetap dipertahankan, jangan sampai jatuh ke tangan pendekar berwatak jahat". Eh itu cerita sandiwara radio "Mahkota Mayangkara" dengan lakon utama Arya Kamandanu.

Tapi memang harus diakui oleh siapapun juga bahwa Dani bukan tipe manusia yang gampang nyerah gitu saja. Terbukti hingga sampai terminal, petugas yang mengejarnya belum juga mampu menangkapnya. Sanksi itu sepertinya bukan jodohnya. Tapi kita juga harus memberi acungan jempol pada si pemburu. Sampai sejauh ini tak ada pertanda dia akan mengakhiri perjuangannya. Kata lainnya menyerah. Dengan wajah yang masih menampakkan segala ambisinya. Si pemburu bertekad akan tetap memburu Dani. Apa dan bagaimanapun caranya harus bisa.

Memasuki area Nglames. Kawasan terakhir yang termasuk dalam wilayah kota Madiun. Selebihnya. Ke arah utara terus masuk wilayah kabupaten Madiun. Dani semakin memacu kecepatan. Motornya meliuk-liuk. Terobos kiri dan kanan. Menyalip satu persatu kendaraan yang ada di depannya. Sementara si pemburunya tak henti-hentinya membunyikan klakson. Sebagai sirine kalau dia sedang menjalankan tugas dan misi pengejaran. Terhadap seorang pelanggar. Sama-sama berdarah muda. Antara pemburu dan yang diburu. Akhirnya terjadilah keseruan ini. Ada ketegangan pada Dani. Ada kedongkolan pada pak Polisi itu.

Inilah cerita dan sebuah penggambaran tentang pejuangan hidup. Tak peduli siapapun kita. Tanpa harus memandang berada di pihak mana. Apakah seseorang ada di sisi kiri ataupun kanan. Tetap sama saja dalam hidup ini. Yaitu semua manusia dalam hidup ini butuh "perjuangan" atas kehidupannya masing. Begitupun Dani. Juga begitupun pak Polisi yang mengejarnya. Dani berjuang agar lolos dari jeratan sanksi atas pelanggarannya. Sementara pak Polosi itu, berjuang atas nama tugas dan kewajibannya sebagai seorang penegak hukum. Dan pastinya semua itu akan ada akhirnya.

Perjuangan Dani pada akhirnya harus terhenti. Ada sesuatu hal yang membuatnya harus mengakhiri ini semua. Buka dia menyerah, namun lebih disebabkan tak adanya faktor pendukung. Hampir di perbatasan Kota dan Kabupaten Madiun dia harus mengakui kekalahannya hari ini. Apa yang dia sulut ternyata harus dia padamkan saat ini.

"Geg......geg......geg.....geg.....!" Tiba-tiba mesin motornya berhenti. Tak ada suara lagi dari motornya. Bahkan untuk berguncang saja, enggan. "Damput*, bensinku entek (abis)!" Sambil geleng-geleng kepala si Dani mengumpat. Menyesali kecerobohannya tadi waktu masih di rumah. "Kenapa tadi gak isi bensin dulu, kenapa juga tadi buru-buru?" Tapi apa mau dikata. Semua sudah terlambat. Mau sampai komputer beranak pun gak bakalan tangki motornya akan terisi bensin. Dan sekarang hanya satu kata, "menunggu nasib" berikutnya. Dia pinggirkan motornya. Menunggu pak Polisi yang nantinya bakal memberinya sebuah sanksi.

(*) Sebuah umpatan, yang umumnya dipakai oleh masyarakat Jawa. Kata ini lazim diucapkan bila seseorang sedang dalam keadaan jengkel dan marah. Juga saat dalam kesialan.

"Setttttttttttttttttttttttt". Pak Polisi datang mendekat pada Dani. Sesaat setelah ABG yang sedikit tambun itu meminggirkan motornya. Dengan ekspresi penuh dendam dia perintah Dani untuk keluarkan STNK dan SIM nya. Tapi sebenarnya tanpa harus dimintapun surat-surat itu sudah dia siapkan sebelum polisi datang. Dia tampaknya sudah menyiapkan diri akan segala resikonya. Sementara polisi itu sibuk memeriksa dua surat itu. Tak menghabiskan waktu lima menit. Polisi itu bertanya pada Dani, "kenapa tadi kamu lari?" "Ma'af pak, saya salah". Cuma itu suara yang keluar dai mulut Dani. "Gak pake helm, malah kabur lagi". Kembali polisi itu menyemprot. "Ya pak saya salah, dan saya minta ma'af". "Kesalahan kamu termasuk berat, gak pake helm dan kabur waktu akan diperiksa. Jadi kamu harus bayar denda". "Ya udah lah pak kalo emang harus gitu peraturannya, saya nurut aja. Sekarang tolong surat tilangnya ya pak!" Dengan nada memelas penuh dengan permohonan Dani mengutarakan pintanya. Selang beberapa menit kemudian pak Polisi itu menyerahkan surat tilang pada Dani. Berikut juga SIM nya. Sementara untuk STNK tetap berada di tangan polisi muda itu. Sebagai jaminan dan akan dia tebus saat sidang nantinya. Sementara kunci masih menancap di motornya. Tiba-tiba dari arah berlawanan. Dari seberang jalan.

"Jeeeezzzzzzzzzzzzzzzzzz!" Sebuah bis jurusan Surabaya-Ponorogo dari seberang berhenti. Suara angin hasil kerja dari kampas rem-nya terdengar oleh Dani. Kebetulan bis lagi menurunkan serombongan penumpang Dari situlah lalu timbul ide lagi dari dalam benaknya. Dia segera berlari menyeberang. Menghampiri bis itu. Lalu masuk menghamburkan dirinya bersama penumpang lainnya. Singkat kata dia "melarikan diri" lagi. Meninggalkan pak Polisi, sepeda motornya yang kehabisan bensin. Dan sekarang dia berada dalam ruangan yang aman. Tak mungkin lagi polisi itu akan mengejarnya. Sebab ada tanggung jawab yang harus dia emban. Yaitu keselamatan dan keamanan sepeda motor miliknya. Sekarang ada di tangan polisi muda itu. Jika dia nekad mengejar, dan terjadi hal yang tak diinginkan. Semisal motornya di bawa kabur orang. Pasti akan panjang urusannya. Dan pak Polisi itu juga tak ingin nama dan kredibiliasnya akan hancur dalam waktu sekejap.

Ini akan jadi perjalanan yang aman tentunya. Di samping pak Polisi itu tidak akan mengejarnya. Tentunya Dani punya cukup banyak waktu untuk bersantai. Polisi itu pastinya akan menunggu rekannya untuk menjemput dan membawa motor Dani. Belum harus terpotong waktu lagi, buat mengisi bensin motornya Dani. Benar-benar hari yang tak disangka-sangka. Penuh kejutan. Setelah main kejar-kejaran dengan pak Polisi. Dengan penuh ketegangan. Tensi yang meninggi. Namun semua pasti ada ganjarannya. Seusai melalui detik-detik menegangka itu. Tuhan pada akhirnya memberi ganjaran setimpal. Secara kebetulan Dani duduk bersebelahan dengan seorang wanita. Walau tidak terlalu putih bisa dibilang menarik. Hidungnya ragak menjulang. Bibirnya tipis tampak selalu basah. Matanya sesekali berkedip. Hingga tak kuasa Dani untuk menolak pemandangan itu.

Dani menghela nafas panjang. Berpikir. Tentang keadaan dirinya. Apakah ini suatu keberuntungan atau kebetulan semata?" Yang jelas walau tak sempat untuk saling bertegur sapa. Setidaknya dia menikmati itu semua hingga di akhir perjalanannya. Sebab wanita yang kira-kira lebih tua dua tahun darinya itu adalah seorang yang kursus komputer. Di lembaga pendidikan MADCOM. Maka dari itu perempuan itu selalu naik bis jurusan Ponorogo. Biar tak terlalu banyak oper kendaraan. Mengirit ongkos.

Ada satu pelajaran dari cerita si Dani hari ini. Dia memang melakukan pelanggaran. Lalu kabur. Tapi coba kita renungkan. Apa yang dia lakukan, setelah pada akhirnya tertangkap. Terlepas dari kesalahannya sebagai manusia biasa. Dia tetap menjujung tinggi sebuah aturan negara yang berlaku. Dia tidak serta merta langsung membayar denda itu di tempat. Walaupun saat itu dia ada uang di dompetnya. Dia tidak melakukan sebuah penyelewengan tentang pembayaran denda atas pelanggaran lalu lintas. Yang biasa orang-orang lakukan pada umumnya. Membayar, menyogok petugas di tempat. Agar urusan cepat selesai. Tanpa menyadari tentang jeluntrungan ke mana arah uang suap itu. Dani tetap memilih sidang. Membayarkan dendanya pada negara. untuk kas negara. Dia menyadari bahwa dia adalah bagian dari negara. Padahal dia masih STM. Tapi sudah punya pemikiran semacam itu.

Dan akhirnya dengan penuh rasa kemenangan dia hanya berkata. "BEN KAPOK"

Sabtu, 05 November 2011

"Cerita Hari Ini"

"Eksekusi"

Eksekusi hari ini oleh Pak Dimek alias Mr. Doomex's. Seekor kambing kiriman dari hamba ALLAH asal kota Jakarta untuk kampung saya. Seorang tetangga saya yang merupakan pegawai dari si dermawan. Memperoleh mandat untuk mengemban amanat. Karena dirasa lingkungan tempat di sana mereka tinggal merupakan kawasan para golongan mampu. Maka terbesit ide untuk berkurban di kampung saya. Demikian sedikit cerita mengawali perjalanan hari ini. Semoga menjadi amal yang akan senantiasa menemani hamba ALLAH tersebut. 




"Dengan dibantu beberapa orang lainnya. Sang jagal mulai melaksanakan aksinya".


 "Konsentrasi pada satu bagian".

Mungkin dari sekian orang yang ada di sini cuma saya sendiri yang tak tahu malu. Ditengah-tengah mereka sibuk mengurusi kambing yang sudah terpotong kepalanya. Saya malah tak ikut membantu. Saya hanya sibuk mencari momen. Dengan kamera saku sederhana milik saya. Menjepret. Mencari sudut untuk memotret mereka.

"Hitam dan Putih".


"Mematahkan tulang"


"Beristirahat selepas acara pembagian"

Dan sekarang adalah giliran saya untuk melakukan aksi. setelah semua orang pada beristirahat. Daging-daging dalam bungkusan telah terbagi semua pada warga sekitar. Saya beranjak dari tempat duduk. Menjalankan sebuah misi yang ringan. Bahkan sangat ringan. Seringan kapas. Untuk menjual kulit kambing pada seorang pengepul.

Cuaca hari ini minggu 6 November 2011 dari tadi pagi, sebelum digelarnya shalat Ied. Langit memang tak menampakkan sembulan matahari. Boleh saya katakan agak mendung. Sebuah kondisi cuaca yang saya dambakan. Tidak panas namun juga tak turun hujan. Maklum sedang dalam perjalanan menuju rumah pengepul kulit kambing, lembu, dan kerbau, serta kulit herbivora lainnya. Jalan Indragiri Madiun. "Ah lagi-lagi saya harus teringat si Gembrot. Cewe kecengan saya dulu".  Pernah tinggal juga di jalan ini. Ikut Pak De nya .
Dan sekarang menurut kabar yang saya peroleh dari dia. Bahwa sekarang dia telah bersuami. Pada akhirnya membuat saya sadar pula bahwa apapun usaha saya untuk mempertahankan hubungan kita juga percuma. TUHAN punya kehendak yang lebih baik daripada keinginan saya. Dia (TUHAN) lebih maha tahu daripada sekedar pemikiran dangkal saya. Dan sekarang apapun yang terjadi dalam kisah romansa hidup saya. Adalah menunggu disaat yang tepat adalah pilihan bijak. "Sebab seorang yang bijak kan memahami cinta bukan dicari, diraih. Cintapun hadir sendiri". Restu Bumi. Taken from Dewa 19 "album terbaik-terbaik".

Sambil menggendong cucunya yang masih bayi. Nyonya tua ini memandangi kulit kambing dalam bungkusan yang saya bawa. Kulit kambingpun saya gelar dihadapannya. Dengan teliti dia mengamati kondisi barang dagangan saya. Mungkin sudah saking biasanya dalam bidang perkulitan. Makanya begitu dia lihat barang itu. Belum sempat saya menggelar penuh. Matanya begitu awas. Bak seekor elang yang langsung menerkam mangsanya. Lalu mencapit mangsanya itu dengan cengkramannya. "Kulitnya bolong mas". Ketus dia bilang pada saya. "Limabelas ribu, saya beraninya". Lanjutnya tanpa tedeng aling-aling. Tak begitu memerhatikan saya. Konsentrasi mengayun-ayun si jabang bayi. "Tambahin sedikit dong Bu!" Pinta saya dengan sedikit memasang raut muka yang semelas-melasnya. Berharap cemas dapat suatu tambahan dari dermawan yang perhitungan ini.

Para pengrajin yang mengambil kulit darinya konon cerita dari si Nyonya tua ini. Kalau kondisi barang yang bolong seperti punya saya ini hanya berharga tak lebih dari limabelas ribu Rupiah. Dia terus saja mengomel tentang keluhan para pelanggan-pelanggannya. Pengrajin bedug, gendang, ketipung, tambur, beginilah permintaannya. Untuk para pengrajin sabuk, dompet kulit juga beginilah. Lalu pembuat wayang-wayang kulit begitu. Yang initinya tetaplah sama. Minta barang yang bagus tanpa cacat, Tanpa ada bolong satupun. Yang padahal menurut penilaian saya bahwa kulit yang saya bawa toh cuma bolong di bagian pinggir. Bukan di tengah. Jadi kalu saya minta sedikit tambahan maklum lah.

Dari arah pintu rumah keluar seorang wanita. Ibu muda mungkin. Sebab dari perawakannya saya coba untuk menerka. Jilbabnya warna pink. Menghiasi raut mukanya yang hitam manis. Adalah anak dari si Nyonya tua ketus itu. Berbeda dengan tipikal ibunya yang keras dan susah diajak berkompromi. Bagi Nyonya tua itu bisnis adalah meraup keuntungan sebesar-besarnya. Mungkin itulah motifnya. Mbak yang berjilbab itu tanpa banyak kata menawar, "duapuluh ribu mas". Tapi si Nyonya tua langsung menyambar, "barang kaya gitu aja kok duapuluh ribu". Masih dengan nada ketus seperti beberapa menit lalu.

Tanpa banyak berdiskusi dengan sang ibunda. Mbak berjilbab ini langsung ngibrit ke belakang. Meminta pendapat bapaknya. Tentang harga yang pas untuk kulit kambing yang saya bawa. Harap cemas saya menunggu lumayan lama. Harga diri saya untuk sementara hanya senilai kisaran limabelas hingga duapuluh ribu Rupiah. Itupun masih ditentukan oleh tiga orang. Nyonya, Mbak berjilbab, dan si Big Bos.

Sementara dalam keadaan menunggu. Muncul satu lagi anak si Nyonya tua itu. "Beuhhhhhhh". Di tengah dahaga, di tengah penentuan nasib berapa harga diri saya. Muncullah seorang ibu muda yang masih segar. Memakai kaos warna hitam. Celana 3/4 ketat berbahan kain halus. Membalut sepanjang paha hingga lutut kaki. Wajahnya segar. Kulitnya yang kuning langsat. Bibirnya basah tampak sekali dia seusai gosok gigi. Rambutnya tergerai. Hitam lebat. Bak rimba belantara. Tak terlalu lurus, sedikit bergelombang. Masih sedikit basah, aroma shampoo nya terberai. Kala dia berjalan rambutnya yang hitam pekat itu bergoyang.

Dari balik pilar berbahan beton ini saya mengamati. Menikmati secuil sensasi ini. Sambil bersandar saya mencuri kesempatan. Saya tak begitu punya cukup nyali untuk menatapnya dalam-dalam. Ada sekat antara kami. Tak boleh saya menjebolnya. Bayi perempuan ini sekarang lagi digendong oleh si nenek Nyonya ketus itu. Yang kini cuma duduk pada kursi plastik. Merah warnanya. Dalam hati kecil saya cuma bisa berucap, "kalo harus nunggu dua jam dengan pemandangan seperti siapa yang menolak?" Di atas bibirnya yang merekah itu. Terpasang karya TUHAN yang sungguh indah. Hidungnya mungil, khas wanita Jawa. Namun  tak terkesan pesek 

"Mas duapuluh ribu, kata bapak saya". Tiba-tiba suara muncul dari arah utara. Beriring derap kaki mbak berjilbab itu. Dalam perasaan penuh kemenangan saya pun menjawanya, "ya udah mbak saya mau". Tapi begitu akan membayar pada saya. Entah ini suatu kemujuran dadakan bagi saya atau apalah. Yang jelas ketika mbak itu bertanya, "ada kembalian ga' mas, uang saya seratusan soalnya". "Ga' ada mbak", jawab saya singkat. Sebab memang dalam dompet saya cuma tinggal tersisa selembar sepuluh ribuan.  Jadi pada akhirnya si mbak berjilbab itu menukar uangnya. Kesimpulannya saya punya kesempatan sedikit lebih lama lagi untuk memandang ibu muda di samping saya itu. Yang sekarang lagi ngobrol dengan seorang tetangga. Tentang hajatan tetangga lainnya. "Ahh kaum betina dari dulu sampai sekarang hobinya masih saja sama, ngerumpi". Gumam saya dalam hati. Tapi tak apalah. Malah ada baiknya bagi saya. Ada kesempatan untuk lebih lama menikmati dia (maksudnya memandangnya). 


"Pemuda ini, Kempleng,  julukannya.
 Sedang mereguk nikmatnya kopi".

Setelah pada akhirnya terlepas dari cengkraman si Nyonya ketus itu. Hingga menikmati wajah ibu muda yang membuat saya sejenak gila. Kini giliran untuk berkeliling menggunakan sepeda onthel BMX warisan mantan bos saya. Meluncur ke Masjid Kuno Taman Madiun. Daripada tak ada kerjaan di rumah. Siapa tahu ada momen-momen yang lumayan pantas untuk diabadikan. Sebagai dokumentasi. "Tii titt... tittttttt..............". Ponsel saya berbunyi. Pasti jawaban sms dari si Kempleng. "Aku yo neng nggon belehan tho le" (Aku ya di tempat penyembelihan tho). Kata dia dalam pesan singkat itu. Saya pun langsung saja tak buang waktu menuju ke tempat itu. Sebelah barat masjid. Pas di sekolah Madrasah yang tahun ini baru saja aktif melakukan kegiatan belajar mengajar.


"Si Gendut ini jadi seksi dokumentasi untuk Peringatan Hari Besar Islam"


"Tarto yang sehari-hari menjadi petugas keamanan Madrasah ini 
sekarang jadi penilik acara PHBI".


"Bagi mereka, momen seperti adalah langka".

Hari semakin tinggi. Hampir menjelang waktu shalat Duhur. Namun matahari nampaknya enggan untuk mengepakkan sayap keperkasaannya di saat ini. Ketika dari sebagian ibu rumah tangga menjerang air, mencuci daging yang mereka terima. Kemudian memasak. Di tempat ini saya mulai kembali mengingat masa kecil saya. Ketika saya melihat sekumpulan bocah-bocah. Berkumpul barisan, menghadap satu arah. pikiran saya pergi ke masa di mana saya seusia dengan mereka.

Berduyun dengan teman-teman yang masih sekampung. Cuma ingin melihat prosesi penyembelihan hewan kurban. Lebih-lebih bila yang dipotong adalah hewan berjenis sapi. Betapa itu jadi rasa sebuah keinginan yang hebat. Tapi di jaman sekarang saat arus globalisasi dan modernisasi merajarela. Pemandangan  seperti penyembelihan sapi dan kambing mulai jadi hal yang kurang menarik. Hanya sebagian dari anak-anak usia dini sekarang berhasrat melongok pada ritual tahunan ini. Tontonan dan hiburan mereka pun sudah lain. Tak sama dengan ketika saya dulu masih kecil. Jaman. Waktu. Ternyata juga mengalami pergeseran. Relatif juga berlaku pula pada jaman. Apa yang digemari jaman dulu belum tentu akan menjadi kegemaran di waktu sekarang. Gameonline, situs-situs jejaring sosial, juga game Playstation telah merubah semuanya. Kesenangan, hobi, kegemaran, selalu ada jamannya.


 "Gotong royong adalah budaya kita".


"Menggelar kulit, berharap kering walau tak bermentari".


"Sekelompok kaum hawa dan kesibukannya".


"Inilah dua persembahan wujud keta`atan pada TUHAN"


"Selalu saja kelihatan siapa pemalas dan siapa saja yang giat".


"Saat rasa haus ini mendera, saat kerongkongan mengering
dan butuh aliran air".


"Semoga TUHAN meridhoi kebersamaan kami semua di sini.
AMIN YA ROBBAL ALAMIN"

Kamis, 27 Oktober 2011

"WOW"

Saat tiba di tempat ini kita akan terjebak aroma daun teh yang terbawa oleh hembusan angin. Lokasi tempat ini berada di kecamatan Sine, masuk dalam wilayah kabupaten Ngawi.  Jawa Timur. Dari kendal menuju Ngrambe, jalur arah Jogorogo. Nama lokasi wisata ini Kebun teh Jamus. Jika hendak ke tempat ini alangkah baiknya menggunakan sepeda motor. Agar dalam menikmati suasana tak terhalang oleh apapun. Kanan kiri jalan hamparan sawah hijau membentang. Terlalu sayang untuk dilewatkan.

Bahu jalan relatif agak lebar, aspalnya juga lumayan halus. Ada kejutan jalan tanjakan, menurun tajam, namun kondisi jalan cukup aman untuk dilalui. Ketika hendak memasuki area ini kita akan melihat. Sekelompok lelaki dan perempuan paruh baya mengumpulkan ranting-ranting kering. Setelah menjemur di pinggir jalan. Tak peduli lelaki dan perempuan ternyata mereka cukup bertenaga. Menggendong seikat ranting-ranting kering di punggung mereka. Jalanan aspal yang mendaki, naik turun tak membuat kokoh kaki-kaki mereka mengendur. Mungkin sudah terbiasa.
Untungnya sepeda motor yang dikemudikan Pak Manto cukup punya tenaga untuk menandingi medan yang lumayan berat ini. Saya hanya menikmati perjalanan ini. Duduk di belakang. Mengapit si Gisan anak SD kelas 1 ini. Sambil menoleh kiri kanan. Memerhatikan setiap panorama di sekitar kami. Pohon-pohon tinggi menjulang. Barisan bukit-bukit nan hijau. Berbalut indahnya daun-daun teh.
Lagi dan lagi. Tempat ini akan menghadapkan kita pada masa lalu negeri ini. Perkebunan teh ini merupakan peninggalan dari pemerintah Kolonial Belanda. Pertama kali dikembangkan pada tahun 1886 oleh seorang pengusaha asal negeri kincir angin, Van Der Rap. Ingat ya!" Bukan Van Der Sar!"
Tahun berganti. Waktu terus berjalan. Hingga pada tahun 1973 beralih dikelola oleh pihak swasta. PT CANDI LOKA yang merupakan pengelola ke 13. Kebun Teh Jamus dikelola berdasarkan SK Hak Guna Usaha (HGU) terbaru No. 12/HGU/BPN/2001 dengan luas areal 478,2 hektare.
Perkebunan yang berada di ketinggian 800 hingga 1.200 mdpl (meter di atas permukaan laut) tergolong dalam dua jenis tanah. Tanah yang berasal dari abu gunung berapi (andosol). Lalu tanah berbutir  kasar yang berasal  dari material gunung api (regosol).
 
Sebuah pemandangan yang membuat saya takjub. Bukit yang tertutup oleh rimbun dan hijaunya daun teh. Bentuknya menyerupai candi Borobudur. Sehingga bukit ini dinamakan "Borobudur Hill", bukit Borobudur.
Bukit itu bak raksasa. Tingginya 35,4 meter. Sementara luasnya 3,54 ha. Sekitar 35.400-an pohon teh tumbuh di bukit itu. (Padahal belum pernah gw ngitung jumlahnya). Dari kejauhan pohon-pohon teh itu tampak berundak-undak.  Namun sayang, kedatangan saya kali ini sebenarnya terlambat. Kabut berangsur memburu waktu. Sore menjadi pekat. Rintik gerimis mengusaikan keasyikan saya. Hingga saya tak sempat menaiki "Borobudur Hill" itu. Namun saya harus tetap bijak. "Meglio Tardi Cemai" kata orang Italy. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Padahal di puncak bukit itu, konon ada tersisa beberapa pohon teh yang sengaja tidak dipangkas. Tingginya mencapai 2 meter. Pohon teh yang berusia lebih dari seratus tahun. Merupakan pohon teh gernerasi pertama yang ditanam oleh Van De Rap. Yang kalau saya artikan nama itu mungkin adalah Van yang suka Dengan lagu Rap. Ahh.. Lagi-lagi maksain. Jadi ngawur gitu. BABAHNO!"
 


Ternyata akhirnya saya sadar. Bahwa mata manusia, hati, dan pikiran manusia memang terkodrat untuk tergoda. Kelelahan semalam selepas menonton konser GIGI. Sabtu malam minggu 22 Oktober 2011. Dalam tajuk REUNION. Tak membuat godaan untuk bercumbu dengan keindahan alam semesta pudar begitu saja. Gambar barisan pepohonan di kebun teh Jamus ini adalah bukti kongkrit saya hari ini. Minggu 23 bulan ke sepuluh tahun 2011 Masehi.






Nasib sial lagi-lagi menaungi saya di hari ini. Bukan sial sih sebenarnya. Melainkan kurang mujur akibat minimnya persiapan. Sebuah monumen alam yang berusia lebih dari seratus tahun ada di hadapan kami. Pohon kantil raksasa. Masih juga tegak menantang angin, kokoh pula dia berdiri. Usianya memang telah renta namun semakin gagah saja pohon ini berdiri. Namun apa mau dikata, nasib memang belum berpihak pada saya. Ketika saya mengambil kamera sederhana dalam tas punggung saya. Batereinya sudah sekarat.

Ahhh... Kenapa tidak dari tadi pagi saya melakukan pengisian baterei?" Gumam sesal saya dalam hati. "Kenapa baru setengah jam sebelum berangkat baru saya charge's?" Apapun penyesalan saya hari ini, saat ini, detik ini pula. Toh tak akan membuat energi pada baterei kamera saya bertambah. Saya akhirnya menyadari betapa pentingnya arti sebuah kata persiapan. "Prepare"................