tentang tulisan saya?

Senin, 28 Maret 2011

"JHON BANGAU dan PADEPOKAN WELUT PUTIH"



Radit seorang pemeran utama dari sandiwara radio berjudul "Jhon Bangau dan Padepokan Welut Putih". Sebuah petualangan bermisi penuntasan dendam kepada para pembunuh ke dua orang tuanya, dan penduduk desannya. Jhon bangau ber ayah Sujoyo dan ber ibukan Nyi kanti, korban kebiadaban para pembantai di desanya. Sujoyo merupakan seorang kepala desa Asmoro Guno, pada akhirnya terbunuh dengan tragisnya. Lalu dengan semena-mena sikap menghabisi harta hasil pertanian penduduk sekitar. Dengan ketamakan juga kelicikan menguasai daerah yang pada saat itu adalah sumber pangan.
.
Kebobrokan itu ternyata sangat rapi hingga tak tercium oleh pihak kerajaan setempat, sebagai naungan dari desa itu. Dengan cerdiknya para pembantai yang kini menguasai daerah Jhon bangau menutupi, hingga tak terbaca oleh pihak kerajaan. Mereka mengganti semua orang-orang yang biasa mengantar upeti pada istana dengan anak buahnya.Menyingkirkan bahkan juga membunuh mereka, yang biasanya mengemban tugas yang diberikan oleh Sujoyo. Untuk menghilangkan kecurigaan di istana pada kejanggalan itu, mereka bahkan dengan pintar menggunakan cara-cara licik. Upeti di tambahkan jumlahnya, untuk menghindari kecurigaan para punggawa istana.

Jhon bangau berhasil melarikan diri menghindari malapetaka, setelah melihat orang tuanya terbunuh juga para penduduknya. Lalu tanpa disangka dia mendapatkan naungan dari seorang yang tua. Kromo laksono lelaki tua berjenggot itulah penolong jiwanya, sebagai perantara dari Yang Maha kuasa. Untuk menyelamatkan nafas hidup dari Jhon bangau.

Kromo laksono seorang pendiri juga seorang guru dari padepokan "Welut Putih". Untuk kemudian merekrutnya guna menjadi murid di tempatnya, di sebuah desa tepatnya tiga desa jaraknya dari daerah Jhon bangau berasal. Bersama delapan murid lainnya Jhon bangau menempa suatu pelatihan kanuragan untuk menjaga dan membela diri. Jadi sekarang padepokan Welut putih mempunyai sembilan kawanan murid, termasuk Jhon bangau. Tetapi bukan ini yang akan menjadi topik cerita. Bukan kisah Jhon bangaunya sebagai serial sandiwara radio yang menjadi fokusnya. Melainkan kisah kehidupan nyata seorang Radit pemeran tokoh Jhon bangau. Jagoan serial sandiwara radio yang saat itu populer di kota ini.

Melalui gelombang radio para pendengar setia menikmati alur cerita petualangan. Ini lebih pada kehidupan nyata radit yang menurutnya kini ada semacam kejutan. Jhon bangau dan padepokan Welut putih dalam 81 episode. Ternyata tersirat sebuah realita hidup dari pemeran utama, yang bernama radit perdana ini. Keanehan itu muncul setelah episode ke 9 berkumandang, menghiasi ruang dengar para penggemar setianya.
..............................................................

Dalam episode 9 adalah awal bagaimana radit menghadapi kisah hidup yang aneh.Radit mendapatkan surat entah dari mana berasal dan siapa pula pengirmnya.Isi surat itu bertuliskan tentang aneka macam peristiwa dan dialog pada episode 9. Surat itu datang di siang hari oleh perantara pak pos, setelah Radit selesai take vokal untuk episode berikutnya. Alamat tujuan jelas di situ tertera, satu alamat redaksi stasiun pemancar gelombang radio "Kawan Kita FM". Stasiun radio yang mengumandangkan serial bersangkutan.

Kepada Yth; Radit pemeran Jhon bangau, radio "Kawan kita FM". Begitulah tertera tujuan yang dimaksud oleh si pengirim, tanpa membubuhkan nama yang jelas berikut lengkap dengan alamatnya pula.
"Aneh surat yang aneh". Radit berkata
"Ya itulah ungkapan kagum seorang penggemar, kerap kali aneh".
Ungkap kata seorang pemeran Kromo laksono.

Tokoh Kromo laksono diperankan oleh Doni. Sebenarnya bukan kali pertama ini saja Radit mendapatkan kiriman surat, akan tapi mereka yang mengirimkan surat sebelumnya, lengkap dengan nama dan alamat yang jelas.Ini tanpa keterangan apapun malah isinya aneh, dialog malah dijadikan isi surat.Para penggemar yang lain biasanya mengirimkan surat dengan isi dukungan terhadap acara tersebut. Lalu agar lebih bersemangat untuk memerankan tokoh yang dilakoni bagi para pemain pengisi suara tokoh. Sejak berperan sebagai Jhon bangau banyak sikap antusias rasa kekeguman pada dirinya. Mulai dari salam kenal, ingin tahu alamat rumah Radit, lalu mengajaknya ketemuan.Berita itu seringkali mampir di redaksi radio "Kawan Kita FM".
..............................................................

Walau hanya disajikan dalam bentuk audio dan hanya bisa dinikmati lewat pendengaran. Namun serial sandiwara radio "Jhon Bangau dan Padepokan Welut Putih" sangat menghibur. Tidak cuma itu bahkan banyak khalayak yang beranggapan, bahwa setiap peristiwa adegan dalam serial kolosal radio itu seperti nyata. Maka dari itu tak heran banyak atensi melalui surat, telepon juga lembaran-lembaran salam yang mampir di redaksi. Bahkan juga dari berbagai daerah, yang masih mampu menangkap gelombang pada frekwensi radio "Kawan Kita FM".

Yang paling banyak menyedot perhatian adalah surat-surat yang berasal dari luar kota. Biasa datang setiap selasa pagi dan jum`at pagi. Sebab serial ini mengudara setiap hari minggu dan hari rabu tepatnya di pukul 21.00. Dengan kata yang lebih populer saat itu adalah malam senin dan malam kamis. Dan acara yang menjadi kegemaran itu adalah 1 jam. Namun sebenarnya hanya praktis berdurasi 45 menit bila kita dengan seksama menghitung jumalah bersih waktu. Sebab rangkaian iklan reklame yang menjadi pendukung acara tersebut juga menghiasi ruang dengar para penikmatnya.

Disela acara itu muncul suara-suara mulai dari produk makanan, aneka macam komestik khas alam tropikal, juga tak ketinggalan berbagai macam toko-toko ingin memamerkan barang dagangannya. Mulai dari toko emas, toko sepatu, toko yang menjual sandang lalu toko alat optik berupa kacamata. Yang paling terakhir kali muncul adalah reklame produk rokok tak ternama di blantika nusantara. Namun cukup sangat populer di pinggiran kota ini bahkan jadi produk andalan komunitas masyarakatnya. Mungkin karena harganya yang cukup terjangkau dengan kantong-kantong sederhana mereka. Biasanya para pendengar akan sedikit menggresah bila iklan ini muncul. Durasinya cukup lumayan lama.
..............................................................

Frekwensi yang juga bisa menjangkau sampai ke luar kota ternyata juga mampu membius warga di sana. Tak jarang pula ada juga yang meninggikan anthena radio sebagai sarana penjernih suara. Maklum kadang untuk menjangkau sampai ke luar kota biasa terdapat gangguan pada kejernihan suara. Juga faktor cuaca adalah acuan kenapa mereka bersikap demikian. Radio "Kawan kita FM" adalah pemilik hak tunggal mengkumandangkan serial "Jhon Bangau dan Padepokan Welut Putih". Sebab serial tersebut adalah murni produk mereka sendiri.

Berawal dari sebuah cerita bersambung karya penulis amatir "Bayu Gustomo  De Oranje". Dengan judul yang sama pula, diajukan pada redaksi "Kawan Kita FM". Setelah melalui tes uji kelayakan tentang alur cerita, yang kadang juga membosankan juga kadang juga terdapat pesan-pesan tersirat di dalamnya. Lalu pihak redaksi menerima pengajuan cerita itu untuk dijadikan serial kolosal yang akhirnya digandrungi para penggemarnya. Pihak radio pun melakukan audisi pemilihan dengan cara membuka pendaftaran, tentu bagi yang berminat juga yang bisa menguasai tema yang akan di terima. Bayu Gustomo De Oranje selaku pencetus dan penulis cerita, juga di ikut sertakan dalam acara itu. Alhasil, maka pada akhirnya muncul pula di ruang dengar para penikmat serial ini. Menghembuskan kisah-kisah tentang perjuangan untuk suatu hak kebenaran yang harus di tegakkan. Jhon bangau yang gagah berani.

Berilmu tinggi warisan dari Kromo laksono, rendah diri dia punya sikap, lalu tangannya ringan dalam hal menolong sesama. Mampu menahan diri dari sikap semena-mena, walau menjadi pendekar pilih tanding. Tetap berjalan pada budi pekerti yang luhur. Bersahaja pula tokoh yang satu ini adalah panutan remaja-remaja senantiasa mengikuti kisah petualangannya.
..............................................................

Pengambilan take vokal pada serial kali ini juga bisa dibilang tak main-main. Mengontrak seorang ahli mixing untuk mengatur suara sound efek dari Ibukota. Dilengkapi pula dengan sarana yang cukup memadai, mulai dari microphone pengeras suara pada vokal pengisi suara pemeran. Dengan microphone juga standar untuk penghasil suara yang menakjubkan. Sound efek yang penghasil suara-suara di setiap peristiwa terdengar memuaskan sekali.

Suara-suara kealamian yang dahsyat, menggambarkan suasana kehidupan era kerajaan yang menaungi pundi kehidupan masyarakat, pada jaman dulu. Era di mana kuda menjadi alat transportasi tercepat menghubungkan daerah satu ke daerah yang lainnya. Suasananya riuh beraroma belukar-belukar liar. Saat kuda-kuda berlari, bagaimana tapakkan kaki pada tanah yang lebam, berumput kecil. Ilalang terhampar, pepohonan tinggi juga menjulang, tatkala para penunggannya melintasi jalanan hijau yang masih liar. Suara kicau burung di pagi hari, romantisme alam selalu jadi halusinasi para penikmatnya.

Jhon bangau telah menjadi wabah semangat perjuangan. Terlukiskan jelas saat mereka setia dengan radio-radio klasik. Bertenaga batu batterey, seakan tak peduli terhadap masalah apapun. Rangkaian dialog pada alur cerita, suara dari pemandu alur cerita yang dalam hal ini adalah penyiar radio.
Lahap tertelan oleh indera pendengaran mereka. Lalu tertangkap oleh otak kemudian menggambarkan kondisi yang terjadi dalam cerita itu.
..............................................................

"Semua ilmu telah aku wariskan pada kalian, sekarang kalian waktunya kalian untuk menyebarkan kebajikan".
Ujar kalimat dari Kromo laksono selaku guru para muridnya.
"Kakek guru telah memberikan kami ilmu, apakah dengan begitu saja kami akan pergi". Tanya Darmo salah seorang murid yang tampaknya enggan pergi dari padepokan.
"Sementara kami belum bisa membalas kebaikan kakek guru". Jarno yang juga ikut-ikutan enggan meninggalkan tempat ini. Lalu para murid lainnya, kecuali Jhon bangau yang tampak diam tak bersuara, bersahutan dengan reaksi yang sama pula.
"Kemana kami akan pergi?"
"kami tak tahu tujuan arah kami melangkah"
"Iya Kakek guru kami tak tau harus kemana lagi"
Susul-menyusul lontar kalimat dari para murid kecuali Jhon bangau, menghardik pendengaran Kromo laksono.

Sementara Jhon bangau tak berpatah kata sedikitpun, dia tenang dalam duduk posisi bersila. Sebab dia sudah tahu dan mengerti misi apa yang harus tertuntaskan. Bukan sekedar balas dendam melainkan adalah kabar kebenaran yang harusnya dia tegakkan. Memberi bukti bahwa kebenaran tak selamanya tengelam dan terkubur dalam kecurangan hidup. Disela hiruk pikuk pertanyaan para murid lain kini sang guru angkat bicara.
"Ikuti kata hati kalian, biarkan hati kalian yang mengajak untuk menentukan arah". Kata sang guru untuk muridnya.
"Kami tak bisa menangkap maksud kakek guru!".
Selontar kalimat bernada seru dari seorang Gandhos, salah satu murid yang terkenal banyak makannya. 

Bayangkan jika jatah makannya saja adalah 2 kali lipat dari teman-teman yang lain. Bila murid lain ukuran makannya 3 kali sehari, tapi bila melihat gunungan nasi saat Gandhos makan mungkin bisa 6 kali. Badannya pun paling bantat diantara teman-teman lainnya.
"Pergilah kalian kemana saja yang kalian inginkan,dengan bekal yang kalian dapat dari sini".
Memang di padepokan Welut putih selain diajarkan ilmu bela diri juga diajarkan tentang ilmu untuk bekal hidup. Ilmu bercocok tanam, berdagang, juga ilmu pergaulan yang tidak menyimpang. Berdasarkan norma yang tetap terjunjung tinggi sudah barang tentu. Mereka para murid diajarkan untuk berocok tanam di sawah juga di ladang secara bergantian. Adalah selain untuk bahan makanan sehari-hari juga untuk di jual ke pasar super tradisional terdekat. Sungguh suatu tempat untuk mengasah kemandirian dalam hidup. Gudang ilmu untuk mencapai kehidupan yang lebih berguna bagi individu lain.

Kromo laksono guru yang bijaksana memandang hidup dari segala aspek yang lebih luas. Tidak sekedar memberi ilmu kanuragan akan tetapi bagaimana para muridnya bisa hidup mandiri di tempat yang mereka tempa. Untuk menjadi manusia seutuhnya pada proporsi fungsi dan hakekat manusia sebenarnya. Memandang hidup adalah perjuangan yang tiada henti, perjalanan hidup yang berliku untuk tetap di hadapi.
Selalu berusaha keras untuk menggapai titik puncak, walau harus dengan jalan terjal berliku. Mengajarkan pada mereka semua hakekat hidup adalah berasal dari Sang Pencipta. Bahwa setiap kemampuan manusia itu berasal dari Tuhan, anugerah dari-NYA yang tiada terperi hebat-NYA.
..............................................................

Pagi hari seiring ufuk timur telah berpendar, murid berjumlah 9 orang berpamitan pada gurunya. Yang terakhir Jhon bangau berpamitan "Guru mohon do`a restu untuk kelancaran urusan dan tujuan saya". Benar memang semua murid yang ada di padepokan Welut putih tanpa ada pengecualian. Termasuk dalam golongan murid yang beradab. Bimbingan moril yang diberikan kakek Guru mereka bukan sekedar teori membosankan untuk diterima telinga kiri lalu keluar lewat lubang hidung. (kali ini penulis cerita ingin sedikit berguyon ria). Ajaran tentang norma yang beradab itu dipraktekkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Di tempat mereka bernaung.

"Asal kamu menapak pada jalan kebenaran semua akan senantiasa mendoakan kamu Jhon bangau".
"Terima kasih Kakek Guru atas naungan tempat berteduh, juga tanpa keberatan memberikan kami ilmu tentang bagaimana menyikapi hidup".
"Kiranya semua ini bisa kami jadikan bekal yang tak ternilai harganya dalam langkah-langkah hidup kami"
Kakek Guru Kromo laksono pun berujar penuh makna layaknya petuah bijak para pengabdi negeri ini.
"Berterimakasihlah pada Dzat Yang Maha Kuasa, aku hanyalah sekedar perantara, tanpa kuasa dari-NYA, aku bukanlah apa-apa".
"Bahkan tiada guna mungkin hidupku".

Tetap saja merendah kakek guru yang satu ini, kepada anak asuhnya. Untaian kata dari Sang Guru membuat hening suasana perpisahan bagi para murid-muridnya. Proses yang menempa bagian hidup mereka sungguh terlalu tebal untuk tertinggalkan. Tergambar dari bagaimana sang pemandu cerita merincikan keadaan kepada para pendengar setianya. Suasana haru menghiasi keheningan mendengarkan acara tersebut. Ketika para murid padepokan Welut putih saling bersalaman, berpelukan, lalu tak ketinggalan tangis tanda sebuah perpisahan untuk selamanya. Seakan tak ada lagi kesempatan bersua lagi di lain  waktu  dan  kesempatan.
"Lalu apa yang terjadi pada diri Jhon bangau setelah perpisahannya dengan Guru terhormat juga dengan para teman tersayang???"
"Nantikan di episode berikutnya 2 hari lagi"

Begitulah kira-kira sang penyiar radio yang pada akhirnya suara dari dia membuka sekumpulan misteri tanda tanya di benak para pendengarnya. Macam-macam reaksi para pendengar untuk akhir episode kali ini.
"Ahhhhhhhhhhhhh".
"Sabar bos........."
"waktunya tidur, besok harus bangun pagi untuk bekerja"
"2 hari lagi, kita lanjutkan"
Suara selentingan dari sekumpulan pendengar di sana.
..............................................................

Seperti 18 episode sebelumnya, kali ini surat yang hadir dari pengirim misterius itu membuahkan tanda tanya besar. Ada apa di balik ini semua??

Tidak sekedar pengulangan dialog pada episode sebelumnya, malah sekarang ada ungkapan kekaguman dari seorang penggemar yang entah di mana keberadaanya. Masih dengan isi yang sama dengan tambahan ungkapan kagum. Dengan pengirim yang sama, tingkat kemisteriusan yang sama pula. Tanpa terbubuhi tulisan siapa pengirmnya tak tertera pula alamat jelas pada "Pemuja Rahasia" itu. Radit hanya bisa menunjukkan bukti otentik itu pada Doni, pengisi suara tokoh Kromo laksono.
"Tak habis pikir aku boy dengan semua ini".
Radit biasa memnggil boy pada rekan satu timnya ini.
"Ya di nikmati aja sob, mungkin juga anak pejabat bisa aja kan?"
Tidak dengan suara parau tua layaknya kakek kromo laksono, Doni coba hibur sobatnya itu.
"Jhon pendekar, semakin eksis aja tuh surat datang ke sini?".
Satpam Suyatni menghentak suasana.
"Hemmmmm, ya gak taulah pak Yatni".
Geleng kepala di selingi dengan senyum ringan dari Radit jhon bangau. Menanggapi perbincangan dengan security radio "Kawan kita FM". "Hey pemuda sewa aja detektif untuk melacak keberadaan pengirim surat itu!". Ini sih suara mas Harun, penyiar untuk acara tembang-tembang kenangan di "Kawan Kita FM". "Ada-ada saja mas Harun ini, honor aku bisa habislah nantinya untuk biaya sewa detektif".
Tampaknya Radit makin pintar berbicara dalam bernacam logat nusantara. Kini dia dalam nada bicara orang medan, malah makin meramaikan blantika obrolan siang pengisi istirahat.
..............................................................

Radit Jhon bangau rajin sekali mengumpulkan surat-surat misterius itu. Koleksinya kini telah memasuki kumpulan angka 36. Koleksi yang dia mulai sejak episoode ke 9, dan surat-surat misterius yang dia terima sekarang. Layaknya sebuah tabloid yang rajin terbit 2 kali dalam seminggu. Seiring dengan lembar-lembar episode yang telah berkumandang surat-surat itu hadir. Tak jarang pula Radit senantiasa membacanya, sebagai kajian untuk improvisasi di episode berikutnya. Tentunya saat pengambilan suara take vokal. Tak sekedar mengevaluasi ataupun cuma mengulangi kejadian lampaunya. Lalu tanpa segan-segan Raditpun mempelajari alur cerita sebelumnya pada surat-surat itu.
Juga dengan gelengan kepala ringan ia pun bergumam lirih.
"Aneh".
"Masih pengirim surat misterius itu mengirimkan antusiamenya pada kamu?"
Ayah Radit muncul dari pintu dengan secara tiba-tiba, mengagetkan dirinya.
"Iya yah, Radit juga heran kenapa sedemikian terincinya dia menulis dialog-dialog ini?"
"Padahal aku yang berperan langsung aja masih lihat teks, saat take pengambilan suara di studio"
"Harusnya itu jadi motivasi kamu, anak muda".
Sambil menepuk bahu sebelah kanan anaknya, Pria dewasa telah banyak pengalaman itu memberi semangat pada puteranya.
"Intinya, pengirim itu kagum sama tokoh Jhon bangau yang kamu perankan". Dapat terlihat memang, bila melirik sejenak kepada siapa surat itu tertuju??

"Kepada Yth; Mas Radit Jhon bangau"............

Tumpukan surat-surat itu tertata rapi bahkan sangat, Raditpun rajin menata kembali seusai membacanya.
..............................................................

Episode Jhon bangau hari makin hari tambah menipis. Rasa penasaran para pendengarpun makin menggebu.
Saat malam senin dan malam kamis, pukul 21.00 saatnya berkumandang serial sandiwara radio.
"Jhon Bangau dan Padepokan Welut Putih".

Di episode 72, praktis menyisakan 9 episode lagi.
"Jhon bangau turun dari kuda cokelatnya"
Bermaksud mencari keterangan pada seseorang yang ada di hadapannya.
"Maaf bapak saya hendak mencari sebuah keterangan tentang si Mata api?"
Si Mata api adalah pembantai ke dua orang tuanya, juga pembunuh para penduduk desa Jhon bangau. Tepat 3 tahun lalu masih begitu terngiang ingatan itu dalam otak Jhon bangau.
"Dia sungguh kejih dan ketahuilah kisanak bahwa si Mata api telah merampas hasil bumi kami". Terang oleh bapak tua itu kepada Jhon bangau. Tanpa basa-basi Jhon bangau pun langsung membuka siapa sebenarnya dirinya?
"Ketahuilah bapak, bahwa saya adalah anak dari Sujoyo dan Kanti"
"Ingatkah bapak pada nama yang saya sebutkan?"
"A a aden ada da lah jhon ba ba.. bangau?" Dengan terbata tidak percaya bapak tua hampir tidak mengenali siapa yang ada di hadapannya.

Dulu Jhon bangau tampak kerepeng, belum berotot malah tak bertenaga, dan sebagai anak manja. Ayahnya yang kepala desa mudah sekali menuruti keinginannya, hingga Jhon bangau saat itu adalah anak manja. Lalu pak tua itu memberi sebuah petunjuk keterangan tentang keberadaan Si mata api. Situasi tentang rumah Jhon bangau, yang kini tertempati oleh Si mata api beserta komplotannya. Setelah kudeta pada ayahnya sungguh kejam pendekar dari aliran sesat itu memperlakukan rakyat sekitarnya. Menguras habis hasil pertanian warga sekitar, menyebarkan benih kesengsaraan pada setiap penduduknya. Dan itulah keadaan selama 3 tahun selama si Mata api menguasai desa Asmoro Guno.
.............................................................. 
"Teruntuk Mas Radit Jhon Bangau"

"SEBELUMNYA AKU MAU MINTA MAAF, KARENA TELAH MENGUSIK KETENANGAN MAS RADIT DENGAN SURAT-SURATKU SELAMA INI. DAN KADANG TERLALU BERLEBIHAN KIRANYA BILA AKU MALAH INGIN MERANGSUK KE DALAM KEHIDUPAN MAS RADIT YANG LEBIH DALAM. TAPI INILAH KEADAAN YANG SEBENARNYA, SUATU KEADAAN YANG TAK DAPAT TERPUNGKIRI. KARENA MEMANG ADANYA BEGITU".

"DAN KALAUPUN INI SANGAT MENGGANGGU KETENTRAMAN MAS RADIT SELAMA INI, SEKALI LAGI MAAFKAN KELANCANGAN INI. BUKAN TANPA SEBAB DAN ALASAN AKU BERSIKAP DEMIKIAN".

"SERIAL SANDIWARA RADIO "JHON BANGAU" TERNYATA MAMPU MENGILHAMI SATU BENTUK KEHIDUPANKU.
DARI RASA PESIMIS MEMANDANG KEHIDUPAN, KINI TELAH BERUBAH MENJADI KATA OPTIMIS".

"YANG SEMAKIN HARI SEMAKIN TEBAL PULA WUJUDNYA. SEMANGAT UNTUK MEMANDANG HIDUP JADI LEBIH BAIK, TERNYATA DAPAT AKU RASAKAN SEKARANG. SETELAH MENGIKUTI SERIAL TERSEBUT".

"AKU TAK TAHU APA YANG AKAN TERJADI PADA DIRIKU, BILA SERIAL INI HARUS BERAKHIR. SEMENTARA AKU SANGAT MEMBUTUHKAN ENERGI DARI SERIAL ITU. MEMANDANG KEHIDUPAN ,
MENYIMPAN HARAPAN. UNTUK DAPAT LEBIH JAUH MENAPAK PADA LANGKAHKU".

"SERTA BILA MASIH MUNGKIN UNTUK DI PERPANJANG AKU INGIN SEKALI SERIAL INI. JANGAN DULU MENEMUI TITIK AKHIR. TUNDALAH TITIK AKHIR ITU BARANG SEJENAK".

"AKU MASIH INGIN TETAP MENIKMATI PETUALANGAN KISAH ITU SEBAGAI PELECUT SEMANGAT HIDUPKU".

"SEKIAN KIRANYA SEKELUMIT CERITA TENTANG APA YANG ADA DALAM HARAPAN AKU. MAAF BILA INI MEMBUAT MAS MERASA TERGANGGU, DAN MAAF BILA INI TERASA SEBAGAI TEROR YANG TAK JELAS KEBERADAANNYA".

"AKHRIR DARI KATA AKU",

"TERIMAKASIH"

Surat singkat dari penggemar serial Jhon bangau, membuat jantung Radit berdegub kencang. Merasa ada getaran lain dalam isi surat itu, pengirim ternyata menyimpan sebentuk harapan, dalam serial yang Radit mainkan. Seolah pendengar yang tak tau dimana dan bagaimana keadaannya itu, sungguh berat mengagumi dirinya. Cerita itu bahkan merasuk ke dalam fase kehidupan seseorang di sana yang kita namakan semangat.
Dalam menggapai cita dan maksud hidup.

"Jelas dia adalah wanita".
Terka Radit sementara waktu itu.
..............................................................

Cerita  Jhon  Bangau

Malam yang tepat untuk mengintai musuh, Jhon bangau melalui semak belukar. Di balik pohon jati besar, mengamati lokasi tepat di mana si Mata api berada. Suara jangkrik mengusik hening malam, bersahutan dengan paduan suara-suara katak yang tanpa lelah bernyanyi ria.
"Benar memang apa kata bapak tua kemarin". Dalam bathin dia menyulutkan petunjuk akurat tentang singasana si Mata api. Singgasana yang dulu 3 tahun lalu adalah rumahnya.
"Berhati-hatilah aden, jangan terburu nafsu, perlahan tapi pasti". Pesan yang masih terngiang dari bapak tua itu, untuk Jhon bangau ada dalam benaknya. Masih tak beranjak, mengawasi kondisi pada malam itu.

Kini Jhon bangau merunduk jongkok sebagai antisipasi agar tak terdeteksi musuhnya. Suara binatang malam masih saja meramaikan suasana dalam misi Jhon bangau yang dalam keadaan mengintai. Mengintip sejenak guna mengatur sebuah rencana strategi dalam rangka penuntasan dendam. Kondisi yang berbalik arah malahan terjadi di dalam singgasana musuhnya. Pesta minum-minuman keras digelar di sana, oleh si Mata api beserta komplotannya. Lengkap dengan para penari wanita sebagai penghibur para pendekar aliran sesat itu. Pendekar aliran sesat karena mereka adalah pemuja kesombongan dan keserakahan.

Membantai kepada siapa saja yang tak patuh terhadap perintah mereka. Tak jarang pula menguras habis harta penduduk tak berdaya, kalau mereka tidak merelakan terpaksa nyawa dengan sangat ringan adalah taruhannya. Mereka pemuja kesesatan bukan tanpa alasan bila melihat kalung yang melingkari leher mereka. Berhiaskan gantungan berupa tulang tengkorak berwarna hitam, sebagai simbol membunuh adalah tabiat mereka. Begitu tampak berjuta kesombongan dari mereka, yang menari di atas penderitaan penduduk jelata. Yang lemah tak akan pernah bisa merasakan senang.
"Hey para penari kemari kalian!"
Perintah si Mata api yang harus dituruti. Empat penari penghibur bergegas menghentikan tariannya yang diiringi oleh irama etnik khas nusantara jaman dahulu kala.

Sementara para penabuh musik tradisional itu tetap saja sibuk membunyikan piranti kunonya.
"Hey kau jangan berhenti langgam itu!" Teriak si pendekar Hitam di sebelah kanan Gagak kaji itu, namun tangannya tak bisa berhenti untuk membelai penari yang kini memijit bahunya. Dengan ketakutan si bocah yang hampir beranjak remaja itu dengan terbata.
"I.... i..... iya tu tu tuan"

Lain lagi dengan si Gagak keji, dengan wanita penghibur dirinya. Sambil menenggak tuak yang memabukkan itu, si Gagak keji meminta kepada si penghibur.
"Sekarang kau pijit bagian pahaku, awas yang enak!"
Itu pun setelah meneggak tuak sambil mencumbui wanita di sampingnya.
Satu lagi anggota dari 4 kawanan biadab ini adalah si Macan tak berotak, masih saja larut dalam irama musik.
Tak peduli dengan sang wanita penghibur menunggu perintah darinya. Masih saja menggoyangkan badannya dengan keadaan mata merah merona karena mabuk berat. Wanita coba membelai lembut pipi si Macan tak berotak, tapi malah kena bentak.
"Hey kamu tak lihat aku sedang menikmati irama itu, main sentuh saja!"
Kaget terperanjak wanita cantik itu, lalu menarik tangannya dari pipi penghias wajah beringas itu.
"Ma.. ma..af tuan". Ketakutan dia dengan si Macan tak berotak.
Namun kemudian keadaan membaik seiring pendekar paling sulit di ajak bicara itu, mencumbui sang penghiburnya. Si Macan tak berotak memang sulit di ajak bicara sebab telinganya sangat tuli, dengan teriakan baru akan dia mendengarnya. Mereka masih menikmati keserakahan, kesombongan, ketidak pedulian terhadap semua penduduk di Asmoro Guno.

Tarian itu, musik etnik itu wanita penari sekaligus pemuas nafsu liar mereka, hanya bagian kecil dari korban kebiadaban mereka. Musik terus saja mengiring pijitan para wanita harus tetap ada. Lalu tangan-tangan nakal dan liar itu masih saja membelai wanita itu sekedar hempaskan nafsu liar. Sesekali menciumi, mencumbui yang kadang juga tak jarang membuat para objeknya risih. Itulah kondisi yang semakin membuat hati Jhon bangau prihatin terhadap nasib para penduduk. Membuatnya geram pada mereka yang berbuat semena-mena.menunjukkan contoh kebobrokan, pada yang harusnya mereka lindungi.
..............................................................

Helai demi helai lembar episode mulai mendekati titik klimaks, semakin klimaks pula permintaan untuk kisah Jhon bangau diperpanjang, pinta seuntai jiwa di sana entah di mana berada.Radit tak tahu harus berbuat apa, ikon tentang tokoh Jhon bangau telah membiuskan vaksin hebat, pada lain ruang di sana. Hingga dengan enggan melepaskan cerita, yang dalam hitungan jari saja sudah tuntas. Tinggal 3 episode, praktis menyisakan 3 kesempatan bagi para pendengarnya. Juga praktis menyisakan 3 kali saja untuk mempertahankan semangat dalam hidupnya.

Surat-surat itu tetap saja datang juga dengan isi sama dengan pengirim misterius yang sama pula. Permintaan semakin menjadi untuk perpanjangan cerita Jhon bangau. Tapi di mana Radit harus mencari, tak tertera titik terang yang jelas tentang keberadaan jiwa yang mengaguminya. Harus berbuat apa??

Sementara  dirinya  bukanlah Jhon bangau yang sebenarnya. Tak memiliki kemampuan hebat seperti hero yang dia lakonkan. Dia hanya pemuda kerempeng, kurus tak berpostur layaknya sang pendekar pilih tanding.
Tingginya cuma 169 cm, juga berat badannya berkisar 54kg. Ukuran t-shirt nya saja hanya berlabel huruf M.
Apalagi celana jeans belel yang sering dia kenakan warna hitam kusam itu, bernomor 27. Bukankah itu menandakan perut yang tak berisi dengan tenaga. Tak berkemampuan hebat seperti Jhon bangau dengan kanuragan yang tinggi. Tubuhnya tak kekar sangat kentara bahwa dia malas ber olah raga. Lihat saja cara dia berjalan tak gagah, juga tak setegap ketika membius para penggemarnya dengan peran Jhon bangau yang dia aksikan dalam bentuk vokal yang memang meyakinkan.
..............................................................

Setelah dengan beruntun menghabisi dan memukul jatuh Pendekar hitam, Gagak keji, lalu membuat takluk si Macan tak berotak.Jhon bangau menghampiri musuh yang paling tangguh, musuh yang 3 tahun lalu membunuh menghabiskan riwayat hidup bapak dan ibunya. Memang benar adanya ketika para 3 pendekar sesat yang lain (pendekar hitam, gagak keji, macan tak berotak), membantai penduduk, yang tak mau menyerahkan hartanya. Si Mata api sebagai ketua komplotan itulah yang membunuh ke 2 orang tua Jhon bangau. Masih kuat berbekas ingatan itu bagamana si musuh lamanya menghantam tepat perut ibunya, yang mencoba menjadi tameng saat akan mendaratkan pukulan mematikan pada Sujoyo, suaminya. Seketika itu pula Nyi kanti yang hanya seorang wanita tak kuat menahan keras pukulan, hingga menghembuskan nafas terakhir.Lalu bagaimana pedang kepala ular menusuk tepat pada pinggang kiri ayahnya, serontak tak kuasa menahan itu semua mereganglah nyawa dari raga Sujoyo. Benar-benar sebuah kebiadaban yang sudah saatnya untuk di akhiri.
"Hey kau anak kemarin sore, apa kau ingin membalas dendam atas nama orang tuamu?" Ternyata Si Mata api tak hilang keingatannya sedikitpun pada Jhon bangau yang pada saat itu masih tak punya daya dan tenaga.
"Bukan untuk mereka saja tapi juga atas nama penduduk di sini"
sontak dengan tegas Jhon bangau menandingi lantang suara musuhnya. Dan pada akhirnya terjadilah pertarungan hebat.

Suara-suara efek dari pergerakkan jurus-jurus mereka berdua menyeruak, menggoda telinga para pendengar
radio "Kawan Kita FM". Suara khas pakaian para pesilat sebagai dampak dari pergerakkan mulai dari menyerang, menghindari serangan lawan. Lalu kembali melayangkan serangan pada lawannya. kemudian juga berbalik menyerang begitu meyakinkan para pendengarnya. Yang padahal adalah hasil manipulasi dari sebuah alat hasil kemajuan teknologi di saat itu.
"Si Mata api mengibaskan pedangnya dan dengan tepat menggores lengan sebelah kiri Jhon bangau". Begitulah pemandu acara itu menerangkan.
Si Mata api berkoar sombong.....
"Kau masih belum mampu menandingi ku anak kemarin sore". Dengan lantang berdiri memelototi lawan yang memegang lengan bekas sayat pedang berkepala ular di genggamnya.
Tampak bekas darah dari Jhon bangau. Lalu sang pemandu jalan cerita serial sandiwara radio kolosal itu berbagi info tentang kebradaan nasib Jhon bangau.

"Jhon bangau sedikit tampak meringis menahan sakit, pada lengan kanannya hasil sayatan pedang dari Si Mata api".
"Dengan sedikit mengerang Jhon bangau tetap melawan".
"Kini Jhon bangau mencabut golok dari sarungnya, yang terselip pada pinggangnya sebelah kiri pula".
Adu senjata tak terelakkan, sengit pertarungan terjadi terdapat perimbangan kekuatan pada ke 2 manusia itu.
"TING... TING.... TING...".
"WHESSSS......WHESSSSSS........WHESSSSSSS".
"TING... TING... TING...".
"WHESSS........WHESSSSS.........WHESSSSSSS".

Suara adu pedang sesekali menyabetkan kearah musuhnya, juga bagaimana penghindaran serangan dapat dinikmati lewat suara oleh para penikmatnya.Suara pemandu serial ini termasuk dalam golongan pemacu semangat penggugah untuk mengikuti alur cerita. Tak ubahnya seperti suaranya sejenis pemikat massa pastinya cocok. Dalam suasana pertarungan yang hebat di sela-sela itu muncul gangguan dalam kenyamanan menikmatinya. Deret barisan iklan menyeruak ke dinding pendengaran para pendengar setia. Sejenak menikmati rangkaian reklame sebagai pendingin suasana agar tidak terlalu tegang. Pendukung acara serial sandiwara radio ini. Mulai dari obat sakit kepala, obat jamur kulit, juga produk teh cap apa itu namanya, bergiliran toko emas juga hadir di ruang dengar, yang terakhir biasa hadir adalah. Produk rokok yang populer di daerah pinggiran kota, mungkin karena harganya mudah untuk di jangkau.Sejenak mereka menikmati alunan baris reklame....
..............................................................

Kembali pada cerita pertarungan sengit antar 2 pendekar pencari pemenang sejati. Kembali sang pemandu mulai cuap-cuap.

"Jhon bangau dalam kondisi terjepit, menghadapi si mata api yang begitu gencar menyerang dengan sabetan pedangnya". Suara pemandu cerita itu malah menambah pendengar sangat khidmat menikmati. Tak ada keberisikan suara melainkan hanya monitor radio bertenaga batu batere, bagi yang hanya mampu memiliki jenis ini.

Lain lagi dengan perempuan di sudut berbeda sana dengan radio tenaga listrik. Itupun juga disandingkan dengan tape recorder yang sudah siap untuk merekam dialog di cerita itu. Benar-benar serial sandiwara radio yang telah menyusup dalam berbagai kasta kehidupan. Simbol keaneka ragaman ekonomi terlebur menjadi satu menikmati acara ini. Kembali pada cerita pertempuran pencari pemenang sejati. "Jhon bangau kembali tertimpa serangan hebat, kali ini sebuah bogem mentah mendarat ke wajahnya".
"Beghhhhhhhh.....". Suara yang tertangkap oleh sekumpulan telinga, hasil dari kinerja alat yang sempurna.
"Jhon bangau tersungkur jatuh" Belum sempat bangkit, lagi-lagi si Mata api mendaratkan tendangan maut. menyasar tepat pada dada Jhon bangau dengan setengah merintih.

Suara rintihan dari Jhon bangau begitu jelas terdengar oleh orang-orang yang menikmati kisah ini. Dengan kesombongan dan arogan yang tinggi si Mata api tertawa kelakar keras sekali, lalu berteriak lantang. 
"Kau tak akan bisa melaksanakan misi dendam dalam hidupmu anak kemarin sore".
"Aku masih terlalu tangguh untuk kau taklukkan". Tak segera menyerang lagi, malah berkelakar dengan kesombongannya. Memuaskan diri yang padahal belum mencapai kemenangan, padahal lawan belum terkapar tak berdaya. Lawan masih bertahan dengan nafasnya.

"Melihat lawan yang tak kunjung menyerang Jhon bangau memanfaatkan, untuk menata nafas dan menetralkan ketenangan. Mengontrol kembali konsentrasi, meluangkan sejenak untuk berkonsentrasi. Disela kesombongan lawan yang menikmati keunggulan sementara itu". Suara pemandu alur cerita kembali memberi petunjuk. Dan ketika pertarungan kembali di mulai, memang benar Jhon bangau tampak tenang dengan langkahnya. Tak berburu untuk menyerang, sekedar menunggu serangan dari si Mata api.

Ternyata benar hasilnya, Jhon bangau tampak lincah dan tenang menghindari serangan bertubi-tubi musuhnya.Tampak setelah mengalami berbagai kegagalan dalam penyerangan si Mata api frustasi. Serangannya ngawur tak menemui hasil malah dia kerap terperosok.

"Moment kebangkitan untuk Jhon bangau". Singkat kata dari sang pemandu cerita, meyakinkan pendengar. Bahwa jagoannya kini sedang dalam keadaan yang bagus.
"Aku bukan Jhon bangau yang dulu". Sambil mendaratkan pukulan tepat menyasar ke wajah Mata api.
Lalu tanpa banyak menunggu waktu yang lama Jhon bangau melancarkan tendangan sambil menerbangkan dirinya.Sontak membuat tubuh Mata api terpental jauh akibat keras tendangan itu menghantam bagian leher. Lompatan terkam ala bangau warisan dari Kromo Laksono itu mampu membuat Mata api tersungkur.

Darah keluar dari mulut rakus itu................
Tak berdaya sudah Mata api...............
"Jhon bangau menghampiri, dengan golok pemberian dari sang Guru mendekati".
"Dia amati dengan tatapan tajam, seorang yang menghabisi keluarganya".
"Dengan gemuruh hati yang terkesumat dendam, Jhon bangau mengangkat goloknya".
Sang pemandu acara masih dengan gaya yang khas memberi arahan tentang suasana yang terjadi.
"Ampun ampun ampun anak muda"
"Jangan bunuh aku.... maafkan kesalahanku 3 tahun lalu"
"Aku akan mengabdi padamu..... bila kau ampuni aku"

Kini Mata api bersikap seperti seorang pengecut. Menjadi pecundang yang tak mau bertanggung jawab atas perbuatannya di masa lalu. Perbuatan yang membuat semua penduduk desa merasa dirundung kegelisahan yang cukup panjang.
"Hutang itu harus kau lunasi sekarang".
"Apa kau dulu juga memperhatikan permintaan ampun ayahku?"
"Apa kau dulu juga merasa iba pada penduduk di sini?"
"Kau hanya pengecut yang tak mau menanggung akibat dari apa yang telah kau lakukan"
"Tak sadarkah kau perbuatanmu mengakibatkan kesengsaraan?"
"Sekarang terimalah semua akibat dari apa yang telah kau perbuat"

Sambil menurunkan goloknya Jhon bangau menghujamkan ke bawahnya. Sementara si lawan yang menjadi objek sasaran hanya memejamkan mata. Seakan tak ingin melihat dan menjadi saksi bagaimana golok mengakhiri riwayat hidupnya.

"Lalu apakah Jhon bangau akan menghujamkan golok pada si pembunuh orang tuanya?"
"Dan apakah keinginan penduduk Asmoro guno agar si Mata api tamat riwayatnya tercapai?"

Pemandu acara kali ini benar-benar mengganggu kosentrasi para pendengar setia. Kalimat yang selalu di ucapkannya dengan nada tanya pasti ada maksud jeda dalam cerita. Ya benar iklan kembali muncul di ruang dengar sekarang. Yang hampir menemui titik klimaks, terganggu oleh pendukung serial sandiwara kolosal radio ini.
..............................................................

Ternyata yang terjadi adalah Jhon bangau tak jadi menghujamkan goloknya untuk si Mata api. Golok itu di hujamkan ke arah tanah dan tertancap tepat di samping kanan tempat si Mata api. Berjongkok memegang lutut Jhon bangau, meminta belas kasihan agar tidak di bunuh. Jhon bangau ingin bersikap bijak lebih menyerahkan pada hukum istana tempat desa mereka bernaung. Hukum istana lebih punya kebijakan yang lebih tepat untuk mengadili pendekar sesat ini. Tentang dendam, tentang kebencian itu akan terasa percuma bila dia ingat pesan kakek guru Kromo Laksono. Masih sang pemandu cerita dengan gaya bahasa yang khas.

"Ingatlah jangan berbuat menuruti hawa nafsumu saja dalam mengambil suatu keputusan".

Pesan dari sang guru yang masih tersimpan olehnya. Pemandu cerita dengan sedikit keterangannya.
"Ya petuah bijak yang singkat begitu syarat akan keluasan makna mendalam.
"Masih ada tingkat kebijakan untuk menyelesaikan suatu perkara.Ada istana ataupun negara dengan perangkat yang punya keahlian di bidang peradilan. Punya wewenang yang lebih bersifat diskusi, daripada menuruti hawa nafsu". Itu lah sebab kenapa Jhon bangau mengurungkan niat untuk membantai si Mata Api" Dan pada akhirnya kisah Jhon bangau petualangan itu berakhir. Serial sandiwara kolosal radio yang sangat di gemari oleh seantero kota ini. Memberi sebuah pesan yang sungguh mendalam....

Bahwa hidup haruslah tetap berjalan pada mestinya, tiada akan pernah kita menemui ketenangan bila memaksa sesuatu. Yang pada akhirnya hanya mengakibatkan sebuah kesengsaraan pada pihak lain. Juga mengakibatkan sebuah ganjalan di hari kemudian.............
..............................................................

Usai sudah tugas Radit sebagai Jhon bangau dan dia berhasil menyelesaikan tugas-tugas itu dengan baik. Berbekal suara yang meyakinkan, mantab menunjukkan pada para pendengar serial sandiwara radio. Tentang semangat dan harapan untuk hidup yang lebih baik. Terutama pada kaum muda dan mudi. Untuk lebih bijak dalam menyikapi kehidupan, walau hanya sebatas suara yang berkumandang. Kini petualangan itu telah menemukan titik akhir. Namun, ada suatu ganjalan yang menyelinap setelah semua itu berakhir. Surat misterius, pengagum misterius tak kunjung juga kini datang, yang biasa dia terima setelah pengambilan take suara.

Tulisan-tulisan itu, coretan pena pengulangan dialog itu, dan juga kekaguman akan tokoh Jhon bangau tak menghampirinya. Walau guratan pena, sebatas tulisan, tapi kini telah menjadi bagian hidup yang telah hilang. Berperan dalam diri yang benar-benar seutuhnya dirinya. Bukan sebagai Jhon bangau yang menjadi ilham pada kehidupan di lain ruang sana. Berhari-hari dia menunggu, dengan penuh pengharapan kecemasan melanda kini menghinggapi dirinya. Hingga hampir seminggu tak jua apa yang dia dambakan hadir mengisi sebentuk keinginan hidupnya. Rasa putus asa pun akhirnya melanda memeluk dirinya dalam suasana sepi.
..............................................................

Sembilan hari setelah serial itu selesai, tiba-tiba saja ruang redaksi radio "Kawan Kita FM". Kedatangan seorang wanita berwajah keibuan, 45 tahun mungkin usianya. Bila di lihat dari kemeja yang ia kenakan, warna cokelat tua bersetelan dengan celana berbahan kain halus warna biru tua. Rambutnya yang belakang terikat rapi oleh karet pengikat rambut, berwarna putih. Ada keperluan apa wanita yang tampak anggun ini, walau di usia yang sudah bukan remaja ini.

Selangkah demi selangkah dia mendekati meja panjang khas ruangan loby penerimaan tamu itu. Karena di situ lah dia melihat ada seorang pegawai, mungkin bisa memberikan info tentang keperluannya. Benar memang adanya dia ternyata punya kepentingan. 
 "Maaf permisi bisakah mas memberi sedikit bantuan pada saya". Tanya wanita yang sekarang berhadapan dengan seorang karyawan. Tanpa basa basi, mungkin ada kepentingan yang perlu sekali.
"Ya, tentu saja bisa kalau saya bisa bantu"
"Memang ada keperluan apa?" sambung karyawan yang sudah 5 tahun bekerja sebagai penerima opini masyarakat ini.
"Boleh saya minta alamat Radit pemeran Jhon bangau?" Kembali wanita yang katanya bernama Marni itu mengajukan pertanyaan. Ya wanita itu sempat memberi tahu tentang namanya pada Sugiono, karyawan, yang sekarang jadi lawan bicaranya.
"Ada keperluan apa anda menanyakan alamat mas Radit?" Seolah tak ingin terjadi apa-apa pada tokoh yang melambungkan nama radio "Kawan kita FM" itu, Sugiono bertanya.

Memang namanya Sugiono, dapat terbaca pada sebuah kotak persegi berbahan mika, yang tersemat pada dada kanannya. Kemudian Marni menjelaskan kenapa sangat ingin tahu tentang alamat Radit. Setelah menjelaskan panjang lebar dan sejelas-jelasnya. setelah dikiranya alasan Marni itu sangatlah tepat. Lalu tanpa banyak urusan birokrasi, seiring dengan terluncurnya secarik kertas dengan keterangan alamat yang di maksud. Sugiono memberikannya pada Marni. Bergegaslah Marni meninggalkan tempat itu teriring kata "Terima kasih banyak".Untuk sang pemberi keterangan.
..............................................................

Hampir tak percaya Radit ketika mendapati wanita yang biasa di panggil dengan Marni itu menemuinya. Dengan menunjukkan surat yang sama, yang selalu hadir 2 kali dalam seminggu dalam hidupnya. Selama menjadi Jhon bangau sejak episode yang ke 9. Ternyata Marni yang selalu senantiasa mengirimkan surat itu padanya.Wanita yang lebih pantas jadi ibunya atau jadi tantenya ternyata yang mengaguminya. Ya itulah mungkin keadaan yang sebenarnya. Dapat saja juga begitu, ketika Radit menuruti untuk pergi bersama turut dengan Marni. Menuju suatu tempat, mungkin akan bercerita suatu alasan kenapa begitu menjadikan tokoh Jhon bangau sebagai ilham. Di atas roda berputar pada sebuah mobil kuno, yang dikemudikan oleh sopir Marni, Joko sebut saja begitu namanya. Sebab majikan wanita yang 5 tahun lagi genap berusia 50 tahun itu, biasa memanggilnya dengan sebutan Joko. 

Kemanakah mereka akan pergi......?

Terus saja melaju roda-roda di atas jalan, langit dalam cuaca mendung. Dalam sebuah mobil kuno apa jenisnya. Penulis tak begitu tahu tentang produk otomotif. Tak banyak perbincangan antara mereka ber 3 hanya sekedar Radit bertanya.
"Kita mau kemana bu?".
"Kamu akan tahu nanti sabarlah bentar lagi juga sampai". Terang Marni menghentikan rasa ingin tahu Radit.

Sementara Joko tetap saja asik dengan lingkar kemudi, pijakan gas, gagang transmisi pemindahan daya atau tuas gear, juga pijakan kopling. Setelah melaju dengan kecepatan sedang-sedang saja sampailah sudah pada tujuan yang dimaksud. Pada sebuah area pemakaman umum, mereka turun hanya Radit dan Marni. Sementara Joko di biarkan menjadi juru jaga mobil majikannya. Menuju sebuah makam sebuah area peristirahatan seseorang sepertinya. Langkah seperti biasa bagaimana berjalan di sebuah area pekuburan.
Tak berisik, tak ada suara yang keluar dari masing-masing mulut. Tenang seperti biasa angin yang sepoi segar khas suasana pemakaman pada umumnya. Kemudian mereka berdua berhenti pada sebuah gundukan tanah, yang tampak masih baru gundukan tanah itu.

Memang benar adanya bila melihat batu nisan sebagai pengenal ini memang masih tampak baru sekali. Atau jika melihat dari gundukan tanah itu masih belum merata, bahkan masih menggunung. Kira-kira seminggu lalu atau dalam 10 hari terakhir ini, pemakaman ini di laksanakan. Tertera sebuah nama "Chyntia" pada nisan di sebelah selatan. Berumur 18 tahun masih belum pernah kawin bila dilihat ada hiasan untuk orang yang akan menikah pada suku jawa. kembar mayang biasa orang jawa menyebutnya, berbahan daun kelapa. Biasa suku jawa menaruh hiasan itu di kuburan, bila yang meninggal belum pernah menikah.
"Ini kuburan siapa bu?" Radit menanyakan tentang apa yang sekarang ada di hadapannya.

Tapi malah Marni bergegas berlalu sambil tak kuasa menahan tangis meninggalkan Radit. Sebelum sempat menjawab, pergi berlalu hampiri Joko sopir setia yang menunggu di pelataran pemakaman umum untuk para rakyat di daerah Marni. Hanya terdiam bertanya dalam hati dengan penuh rasa tak percaya. Penuh dengan tanda tanya besar.
"Kenapa harus terseret sejauh ini?" Lalu dalam hal ini siapa yang patut untuk di pertanyakan, bila yang punya maksud malah bergegas meninggalkan Radit. Radit hanya terdiam sebelum pada akhirnya menyusul Marni yang terlebih dahulu bergegas meninggalkan dirinya. Kembali mereka di dalam mobil, kali ini malah tidak ada pembicaraan. Hanya sebuah perintah dari Marni untuk Joko agar menuju pulang.

Lalu bagaimana dengan Radit??"
..............................................................

Ternyata kuburan tadi ada satu nama yang terbaca jelas pada nisan, itu menyimpan misteri yang mungkin akan memberi sebuah kejutan dalam karier hidup Radit, yang tak pernah terjadi sebelumnya. Di sebuah rumah pinngir jalan raya bernama Kenanga bernomor rumah 81 persis dengan jumlah episode Jhon bangau. Mungkin Radit sudah menyadarinya, mereka masuk setelah pagar di buka oleh Karsito. Tukang kebun berkumis lebat, biasa para pembantu rumah sebelah menyebutnya dengan nama itu. Di dalam rumah itu hanya Marni dan Radit yang berhak masuk. Joko disuruhnya mencuci mobil, sementara para petugas perampung urusan rumah lainnya masih disibukkan dengan urusan masing-masing. Lalu Marni memutar sebuah kaset pita pada tape recordernya, sepertinya keluaran baru. Maklum Marni seorang pengusaha sembako yang sukses di kota ini.Berdagang di pasar tradisional paling besar pada kota ini.

Suaminya telah meninggal 4 tahun lalu lantaran kecelakaan saat perjalanan dari ibukota, dengan menumpang pada salah seorang teman. Kaset telah terputar bahkan terdengar keras di siang bolong itu. 
"Kamu kenal ini suara apa dan siapa?" Tanya Marni pada remaja yang sekarang duduk di kursi santai, berbahan karet bulir yang membungkus seluruh besi kursi itu.
Jelas saja Radit mengangguk dengan tegas pula dia katakan "IYA". Itu adegan suara dialog Jhon bangau yang telah tercopy pada pita kaset itu. Lalu Marni memberi keterangan sejelas-jelasnya.
"Chyntia yang melakukan ini semua"
"Dia pula yang menulis ulang setiap dialog dan peristiwa yang ada di serial Jhon bangau"
"Melalui kaset yang berisi rekaman itulah dia menyalin"

Pantas saja tak ada yang terlewatkan setiap dialog dan momen yang terjadi. Pikir Radit yang sibuk menikmati suara dari tape recorder berwarna silver di hadapannya. Radit sekarang malah tak bisa berbuat banyak atas keterangan Marni. Yang ternyata adalah ibu dari almarhumah, seorang gadis yang selama ini mengirimkan surat.Ungkapan kagum, rasa ketertarikan juga keinginan yang sungguh mendalam agar serial Jhon bangau diperpanjang. Gadis itu telah meninggal.

Chyntia gadis penderita leukemia adalah pengagumnya, pengirim misterius itulah julukannya. Telah meninggalkan dunia, meninggalkan sebuah arsip yang berarti. Arsip tentang jalan cerita serial sandiwara kolosal radio berjudul "Jhon Bangau dan Padepokan Welut Putih", 81 salinan yang 72 diantaranya sekarang ada pada Radit sang pemeran utama. 81 kaset pita rekaman dari setiap episode. Sementara yang 9 awal episode tak sempat mendiang kirimkan sebab belum tahu alamat redaksi radio pengudaranya. 9 Arsip tentang cerita di 9 episode awal ada di lemari pakaian Chyntia yang menurut rencana akan di serahkan pada Radit.

Benar adanya memang bahwa Chyntia adalah pengemar berat serial itu. Bahkan menjadikan serial itu sebagai pelecut semangat hidup untuk tetap bertahan. Hitungan waktu dalam hidup mendiang yang ternyata bisa lebih lama dari dugaan para ahli medis. Itu semua karena semangatnya untuk terus mengikuti hingga akhir cerita.
Serial sandiwara radio "Jhon Bangau dan Padepokan Welut Putih" telah menjadi semacam syndrom pelontar semangat yang cukup berarti.................

Mengajarkan pada khalayak muda di saat itu tentang semangat dalam hidup......................

Kamis, 24 Maret 2011

"TAK ADA JUDUL"

"Tak Ada Judul"

 

Inilah cerita tentang sebuah negara yang bernama Madiun. Wilayah kecil sih, namun kalo kita bicara soal kemandirian rakyatnya, jangan ditanya. Rakyat di negara Madiun terkenal dengan kreativitas tinggi. Punya sikap pantang menyerah, dalam hal mencari rejeki. Tanpa harus mengharapkan belas kasihan dari pemerintahan tetap mampu hidup.
"Bukankah ini patut kita banggakan??" Dengan bangganya saya bertanya pada kalian semua. Dan tentunya kalian juga akan secara bergantian menjawab.
"IYA dan IYA bro".
Baguslah kalau begitu, lalu apakah Raja di negara ini punya empati terhadap kreativitas dan kemandirian para rakyatnya??

Madiun walaupun sebuah negara kecil yang dipimpin oleh Raja. Namun sistem pemilihan tampuk kekuasaan tertinggi tetap dengan cara Demokrasi. Hasil suara dari rakyat oleh rakyat dan untuk kemakmuran rakyat. Ya kemakmuran semua manusia pasti bertujuan ke arah situ, begitu juga seorang pemimpin.

Seorang pemimpin hendaklah memberi dukungan guna terwujudnya kata 'makmur' untuk rakyatnya. Awalnya Raja terpilih negara Madiun ini sangatlah dermawan. Saat masih belum duduk di tahta tertinggi negara ini. Menunjukkan atensi pada masyarakat luas akan kedermawanan dia. Membagi alat transaksi jual beli yang sah, tiap orang dapat warna biru.
Menggiurkan bukan??"
Pribadi yang hebat bukan??"
Sosialnya tinggi bukan??"
Peduli nasib rakyat bukan??"

Jalanpun lancar tanpa banyak hambatan, untuk menggapainya. Lebih dari setengah penduduk ini meleburkan harapan padanya. Menggantungkan cita-cita luhur padanya. Pedagang, pegawai, wiraswasta aliansi pelajar berharap proses mereka menggapai mimpi bisa mudah diraih. Pemimpin bijaksana, arif peduli akan kemajuan.

Hati dan pikirannya sedamai Harun Al-Rasyid yang tak pernah bosan mengunjungi rakyat dengan cara menyamar. Untuk menanyakan ihkwal pemerintahannya sudahkah benar dalam memimpin rakyat. Menjanjikan tentang pendidikan dan kemakmuran untuk rakyatnya. Era di mana peradaban Islam menjadi bangsa terunggul di dunia saat itu. Peradaban tempat terlahirnya berbagi macam ilmu pengetahuan. Peradaban buku, boleh dibilang, sebab dalam masa itu berbagi macam buku tercetak. Setelah para cendekiawan Islam memperoleh rahasia pembuatan kertas dari tawanan perang asal negeri China. Negeri Baghdad, negeri dengan kisah dongeng 1001 malamnya. Merupakan negeri termahsyur di jaman itu. Atau secerdas Al-Ma`mun yang  begitu memandang pendidikan rakyat adalah faktor penting  dalam perjalanan menuju sebuah bangsa yang maju. Membangun sarana penunjang kemajuan untuk rakyat. Lalu juga memberikan keleluasaan pada rakyat untuk bebas mengembangkan diri. Al-Ma`mun  bahkan rela membayar sebuah buku dengan emas seberat buku yang diterjemahkan dalam bahasa arab. Memberikan keleluasaan kepada rakyat untuk mencari  nafkah dengan tenang, tanpa ada ketakutan terhadap aturan negara  yang biasanya menyulitkan kaum menengah kebawah. Semoga harapan-harapan itu bukanlah pepesan kosong belaka.

Atau sehebat Franklin Delano Roosevelt, yang mampu mengangkat kepercayaan diri rakyat Amerika di tengah-tengah suasana genting negaranya. Polio yang melumpuhkan kedua kakinya bukan hambatan untuk menyerah memberi semangat pada rakyatnya. Jutaan orang tak punya pekerjaan, masalah ekonomi yang berat, mampu dia atasi dengan kebijaksanaannya.

Itulah harapan rakyat negara Madiun saat itu. Pemimpin hebat yang mampu menginspirasi rakyat agar lebih maju. Waktu berlalu dan terus berjalan hingga sampailah kita di saat ini.

Madiun, negara kecil namun etos kerja rakyatnya tinggi. Terlihat di pinggir-pinggir jalan, tepat di trotoar jalan. Banyak yang mengais rejeki pada sarana itu.
"Bukankah ini hal menarik, hebat, tak menyerah dengan tipis dan minimnya kesempatan bekerja di sini??"
"Tak mengemis pada negara".
"Tak ikut serta dalam pembosoran Anggaran belanja negara".
"Malah ikut mengentaskan jumlah pengangguran yang selama ini jadi momok di negara Madiun tercinta".

Tetapi pada akhirnya sekumpulan pekerja keras. Yang menjujung tinggi arti kata kemandirian, harus bertopang dagu, gigit jari, dan kehilangan investasi terbesar dalam hidup mereka.

Lahan trotoar ibarat perlintasan menuju gerbang kemakmuran harus mereka tinggalkan. Sang Raja berkeinginan negara ini rapi, tertata sedap dipandang mata (sebuah penghargaan yang menggiurkan).  Raja ingin mengejar sebuah "AWARD" predikat sebagai negara terbersih, terapi, juga lebih sedap dipandang. Peraturan negara tak bisa di ganggu gugat adalah mutlak benar.
"Apapun dampaknya".
"Walaupun rakyat harus bernafas dengan sesaknya".

Pekerja keras, yang gigih mencapai kemakmuran harus menanggalkan mimpi. Padahal mimpi mereka tak menggangu negara. Hanya sebatas trotoar untuk memungut mimpi.
"Tapi kenapa kebijakan Raja justru membakar mimpi mereka??"
"Lalu apa maksud Sang Raja?? bila sebelum bertahta menjadi dermawan pada rakyat, membagi dana cuma-cuma".
"Hanya untuk menanamkan kepercayaan pada rakyat yang sifatnya sementara?"
"Lalu membuat kebijakan atas nama keindahan kota, dengan mengubur kemandirian dan etos kerja yang tinggi mereka".
"Sebuah entitas tergilas oleh pemimpin yang menyelipkan getas".

Bukankah akan lebih indah jika penghargaan itu datang dari rakyat sendiri. Juga lebih membanggakan bila rakyatnya akan hidup dalam kemandirian, maka kemakmuran dengan jalan bekerja keras akan terwujud. Tapi ternyata itu hanya pepesan kosong belaka, sebuah warna yang bertolakbelakang  dengan harapan rakyat yang  penuh harapan mendapatkan Raja bijaksana. Tapi tak lebih dari seorang hartawan yang mengumpulkan para jagoan untuk mempertahankan kekuasaannya. Yang lebih parah lagi adalah para jagoan dari berbagai penjuru daerah yang dia rekrut rata-rata tak memiliki basic jernih dalam berpikir. Kekuatan otot yang mereka andalkan. Merasa di atas daun, berlindung dalam kekuasaan sang raja. Hingga dengan semudahnya mencampakkan hak orang untuk mencari nafkah. Bagaimana tidak kita merasa kasihan, ketika melihat seorang yang sudah bertahun-tahun menmpati sebuah lahan parkir harus tergusur dengan paksa. Digantikan oleh pihak-pihak yang dekat dengan sang raja. Lalu bagaimana dengan nasib kehidupan yang tercampakkan??????????

Aku hanya bisa menulis tentang kisah ini. Cerita tentang negara kecil, dengan aneka kebusukan yang terselubung di dalamnya. Anggapan aku dulu tentang seorang Raja adalah pemimpin yang mampu menjadi inspirator untuk yang dipimpin. Ternyata.....

"AKU SUDAH LELAH MENJAWAB PERTANYAAN ITU"

Selasa, 22 Maret 2011

"Paman Gong dan Sepeda Kumbang Terbang"





"Awas Paman Gong mengejar, dia polkam yang sadis bro". Seru Kemvo pada Pepeng
"Ayo...ayo...ayo lari, jangan sampai kita tertangkap oleh Paman Gong".
"Dia polkam yang nggak punya otak". Pepeng serasa ketakutan. Memang paman Gong seorang polisi kampung yang tidak punya belas kasihan dengan siapapun. Seringkali main kekerasan, padahal sebenarnya Paman Gong itu polkam yang bodoh. Patroli dengan sepeda keliling kampung, tanpa ada hasil memuaskan.

Kemvo, Pepeng, dan Joni adalah bocah-bocah tengil yang suka iseng ngerjain dia. Mereka para bocah itu, menjuluki Paman Gong si polkam yang dungu. Paman Gong selalu marah bila dikatakan polkam yang dungu. Bagaimana tidak dungu coba?? Lha dia itu selama jadi polkam tak pernah mampu menuntaskan 1 kasus. Malah ujung-ujungnya bikin repot orang saja. Paman Gong polkam dungu...

Lalu bagaimana awal mula muncul nama paman Gong dan di mana letak sifat dungu Paman Gong??

Dan bagaimana pula hubungan Paman Gong dengan trio tengil kampung tersebut??

Inilah sekilas cerita dari kampung yang bernama 'DIARHEA'. Adalah salah satu kampung di bawah kekuasaan pemerintahan kota 'ANOREKSIA' yang luas ini.
.............

Sore yang sungguh na'as bagi Paman Gong. Waktu itu dia bersepeda untuk misi patroli menyelidiki kasus raibnya kambing Pak Lahar. Padahal rencana kambing itu untuk keperluan perayaan sunatan putra bungsu Pak Lahar, namanya Kepek. Di usia 10 tahun, Kepek merasa malu belum sunat. Karena melihat teman sebayanya telah melaksanakan kewajiban itu. Mulai dari Kemvo, Pepeng, juga Joni ketiganya malah mendahului Kepek. Tepatnya tahun lalu waktu ada 'SUNATAN MASAL' di kampung 'EBONY' mereka nekad mendaftarkan diri. Sehingga mereka bertiga sudah bertitel perjaka. Kembali pada kasus Pak Lahar.

Hajatan besar-besaran konon ide dari Pak Lahar, tapi alangkah malangnya nasib keluarga itu. Saat kambing yang baru tiga hari lalu ia beli dari kampung 'DIFENSORE'. Yang juga masih satu wilayah dengan kota 'ANOREKSIA' ternyata hilang. Dan muncul anggapan dari sebagian penduduk 'DIARHEA' bahwa kambing itu dicuri.

Sebagai polkam Paman Gong bersedia mencari sindikat pencurinya, karena memang sudah tugas dia.

Lalu apakah misinya berhasil, tuntas dengan kesuksesan besar??
Sabar dulu, kita amati kejadian di bawah ini dulu. Selingan kisah di balik sepak dan terjang Paman Gong.

Di tengah perjalanan tiba-tiba saja Paman Gong kebelet pup. Tak ada pilihan lain untuk pria itu, selain sejenak lepaskan beban. Tak ada pilihan lain kecuali menunda pekerjaan serunya.

Akhirnya Paman Gong terpaksa menumpang di WC nya Klowor. Sebab kebetulan yang terdekat adalah rumahnya Klowor, bocah sepantaran trio tengil namun tak masuk hitungan.
"Wor... Klowor aku nunut neng WC mu yo!!"
(Wor... Klowor aku numpang ke WC mu ya).

Wajah Paman Gong yang jelek malah berubah warnanya. Ungu gelap tak bisa dibayangkan. Muka yang kacau balau tambah tak keruan bentuknya. Tapi Klowor yang paham tabiat Paman Gong tak berani tertawa. Dia takut kalau-kalau bisa jadi korban kemurkaan Paman Gong. Dalam keadaan kebelet pup seperti ini setiap orang bisa berubah jadi segarang beruang. Mungkin sebab itu yang membuat Klowor tak bernyali.

Dengan sikap hormat Klowor mempersilahkan masuk.
"Monggo Paman Gong, menawi bade ngengek".
(silahkan Paman Gong, kalau mau buang air besar). Tanpa menjawab atau ucapkan terimakasih pada Klowor, walau sekedar basa basi saja.
Paman Gong masuk dengan tergesa-gesa, sebab rasanya seperti di ambang neraka, mungkin.

Lalu apa yang terjadi??

Joni, Pepeng serta Kemvo yang sedang bermain layangan di belakang rumah Klowor mengetahui, musuh besar datang. Suara Paman Gong yang khas bisa tertangkap oleh mereka, 3 bocah yang tengil. Muncullah ide konyol dari kemvo, si provokator.
"Peng, merconmu isek enek turahan?"
(Peng, petasan kamu masih ada sisa nggak).
"Enek okeh bro".
(Banyak bro).
"Jupuk'en bro, ben Joni karo aku nunggu neng kene".
(Ambil bro, biar aku sama Joni nunggu di sini).
"Iyo bro cepet jupuk'en".
(Iya bro cepat ambil).
Joni berkata, sebab ingin membalas dendam atas kejadian lusa kemarin. Lalu apakah kejadian, yang membuat Joni bernafsu membalas dendam??
Pepengpun tiba dengan nafas memburu oksigen, membawa mercon sesuai pesanan. Lalu diberikan barang tersebut pada Kemvo.
"Bro, ini merconnya, tapi gw lupa nggak bawa korek".
"Ini bukan tugas gw bro, masalah mercon adalah mutlak haknya Joni" "Dia kan yang punya dendam". Lanjut Kemvo
"Mana bro merconnya, sini kasih ke gw, empet gw lihat tuh orang, inget nggak waktu lusa kemarin, dia apaan mainan gw!!". Geram Joni yang sekarang menggenggam korek api. Juga mengingat kejadian, waktu Paman Gong memakan rakus kuda-kudaan miliknya, lusa lalu.

Dengan menyahut mercon dari tangan Pepeng, Joni penuh dendam. Dengan langkah berjingkat-jingkat Joni mendekati lubang angin ventilasi mini, pada WC nya Klowor. Hatinya sedikit berdegup nafasnya agak terengos-engos, namun Joni tetap mencoba tenang. Sebab dengan ketenangan akan meraih kemenangan.
 ..................................................................................................................
"Soldier  Fortune"
I have often told you stories
About the way
I lived the life of a drifter
Waiting for the day
When I’d take your hand
And sing you songs
Then maybe you would say
Come lay with me love me
And I would surely stay

But I feel I’m growing older
And the songs that I have sung
Echo in the distance
Like the sound
Of a windmill goin’ ’round
I guess I’ll always be
A soldier of fortune

Many times I’ve been a traveller
I looked for something new
In days of old
When nights were cold
I wandered without you
But those days I thougt my eyes
Had seen you standing near
Though blindness is confusing
It shows that you’re not here

Now I feel I’m growing older
And the songs that I have sung
Echo in the distance
Like the sound
Of a windmill goin’ ’round
I guess I’ll always be
A soldier of fortune
Yes, I can hear the sound
Of a windmill goin’ ’round
I guess I’ll always be
A soldier of fortune

Sementara di keasyikkan Paman Gong menikmati pup dalam WC nya Klowor. Paman Gong mencoba bernyanyi 'Soldier of fortune' tembang lawas kegemarannya. Tak peduli bahwa sebenarnya dia bernyanyi juga butuh nafas. Dan dia tak begitu menyadari akan tempat dan proporsi udara yang baik, benar, dan tepat untuk bernyanyi. Paman tak peduli apakah tempatnya kali ini termasuk dalam ruangan yang rotasi oksigennya stabil. Lalu dia mungkin juga tak paham tentang itu semua. Dasar polkam dungu, pas dengan julukannya.

Polkam tidak sadar bahaya mengancam, terlanjur nikmat banget. Tenaga dalam mulai Paman Gong kerahkan, perlahan demi perlahan untuk keluarkan beban dalam hidup. Alangkah sial bin na'as di tengah-tengah nikmat malapetaka datang. Dari lubang angin WC nya Klowor. Mercon sebesar dan sepanjang jari tangan sebelah telunjuk, menyelinap melalui celah angin itu. Kemudian "BOOOMMMM".

Paman Gong seketika kaget bukan kepalang dan sampai dia berjingkrak, lakukan lompatan katak. Sebagai reaksi atas serangan dadakan.

Paman Gong tercabik harga dirinya, teraniaya oleh penyerang misterius. Teror yang tiba-tiba datang dan menyerang dalam keadaan berbanding terbalik. Kenikmatan yang terampas, tercabik, terkotori oleh oknum tak berperi kemanusiaan. Tak memandang Paman Gong sebagai pengemban amanat rakyat 'DIARHEA' yang setia. Pengabdian terbayar penganiayaan. Stabilisasi keamanan hasil perjuangan Paman Gong membuahkan bingkisan, berupa bunyi dentuman memekak telinganya. Kontan berbagai kata makian, jenis satwa ungkapan untuk mengumpat diteriakkan olehnya. Jadilah terkesan pelajaran mengumpat dalam berbagai bahasa. Sekumpulan jenis satwa pun tak ketinggalan terlontar dari mulut Paman Gong. Benar-benar hari yang na'as bin, binti, sekalian apesnya juga terbawa.

Joni terpingkal-pingkal puas dendamnya pada kejadian lusa kemarin tuntas sudah.
............................................................................................................................
Polkam naik pangkat jadi Poldes, prestasi membanggakan pasti. Tapi malah terperdaya oleh Pepeng. Saat berlangsung upacara bendera di halaman kantor Kelurahan. Dengan cerdiknya, Pepeng berkata. "Paman Gong anda diharap ke ruangan Bapak Kades, segera".
Sesaat upacara telah selesai. Padahal Bapak Kades tidak ada keperluan dengan Paman Gong. Sebab taulah kinerja paman Gong.

Kasus tentang raibnya kambing Pak Lahar juga belum tuntas. Sekalipun hajatan untuk sunatan Kepek sudah lewat. Namun apa hasil kerja si dungu?? Cuma angin kentut yang bikin semua orang semaput.
Apalagi bila sedang buka mulut polusi yang dihasilkan separah radiasi bom atom. Dampak dan akibatnya sedikit banyak sama persis atau paling tidak mirip dengan Hiroshima dan Nagasaki, pasca serangan sekutu.
Kok malah bicara sejarah sih??

Itu terbukti pas setahun yang lalu, tepatnya tanggal 29 Februari. Sejenak flash back di tragedi kota 'Anoreksia' tepatnya kampung 'Diarhea'. Semua orang, pastinya tidak percaya dengan cerita ini.

Saat itu di pagi hari yang cerah, sang surya menyelinap diantara berisik dahan dan gesekan ranting-ranting pohon. Cicitcuit... Suara kicau burung (upzz jangan salah presepsi lho) menghibur mereka yang ingin mengais mimpi dan rejeki, tak terkecuali Paman Gong. Polkam ini selalu bangun di pagi hari melakukan senam-senam pelemasan tubuh. Olah raga bahasa singkatnya. Walaupun dia itu dungu namun soal kebugaran jangan ditanya.

Dengan telanjang dada menampakkan wujud pada pagi. Dadanya yang bidang, serta perutnya terkesan keras, sekeras batu mungkin. Tubuhnya mulai berkeringat terasa pembakarannya sempurna. Melihat tubuh mulai mengkilap dengan keringat Paman Gong malah tambah semangatnya berkobar. Berkobar sebesar kobaran api kebakaran pasar. Kian meninggi pula semangatnya tanpa kenal lelah dia lakukan.

Olah raga seperti ini rutin Paman Gong laksanakan. Setiap pagi di depan rumah, di pelataran rumah dia menghadap ke ufuk timur. Kata dia dengan arah pandangan ke matahari, akan secara otomatis ada transfer mahadahsyat dari matahari untuk manusia yang menghadapnya. "Otak akan jernih dalam berpikir, bila kepala tersinari matahari di saat pagi". Riset konyol mungkin, atau hasil rekayasa dari pikiran kalut Paman Gong, mungkin saja begitu. Sebab dari teorinya itu dia sendiri tak menemui hasil untuk perubahan yang signifikan dalam kariernya. Masih saja dia dungu dan belum ada prestasi memuaskan serta membanggakan. Selain julukan Polkam dungu. Hasil penemuan dari trio tengil yang tak ada hentinya membuatnya kalang kabut.

Paman Gong akhirnya kelelahan juga. Klimaks sudah olah raga pagi itu tanggal 29 Februari tahun lalu. Tahun lalu tuh kapan?? Ya tahun lalu nggak perlu dijelasin harusnya tahu. Biar tulisan cerita ini lifetime sifatnya. Seperti lagu firehouse yang judulnya 'love of lifetime' itu maksudnya. Yuk kembali pada aktivitas Paman Gong di 29 Februari tahun lalu, tepatnya saat kucing dia mati gara-gara menghirup nafas dan keringat Paman Gong. Bagaimana ceritanya??

29 Februari tahun lalu pokoknya tahun lalu. Paman Gong di pagi hari, setelah melaksanakan olah raga rutin. Dia merebahkan diri dalam posisi terlentang. Kepala menengadah ke atas, mata terpejam penuh dengan penghayatan akan adanya 'sabda alam'. Merasakan nikmatnya ber cooling down di bawah terpaan hangat mentari dini. Sisa lelah telah ia lepaskan seiring bulir-bulir keringat yang membasahi tubuhnya. Melepaskan setiap kelelahan bersama nafas tersembur melalui mulutnya. Keadaan semacam itu jelaslah nyaman terasa buat Paman Gong. Tapi apakah mungkin juga terasa nyaman buat mahkluk penghuni bumi lainnya. Maksudnya??

Apakah mahkluk lain seperti burung-burung piaraan tetangga tidak terkontaminasi saat bernafas? Akibat bau karbon menyengat dari ketiaknya. Belum dari mulutnya, apakah tidak menimbulkan efek pada ekosistem sekitar?? Kalau jengkol dan bangkai keco'a adalah makanan favorit Paman Gong.

Dan dari jenis makanan itulah kemudian mengorbit nama Gong, berarti 'jiGong' yang kemudian meroket di kampung 'Diarhea' bahkan telah meluas hingga 'Anoreksia' raya. Malah pada akhirnya nama aslinya tak ada yang tahu. Manusia tak sedikit yang mengabaikan arti sebuah nama. Semua tergantung individu masing-masing. Meski nama adalah warisan berharga dari sang pemberi, biasanya kedua orang tualah yang paling berperan dalam urusan ini. Namun nilai-nilai luhur semacam ini sudah tak peka jaman. Luntur karena cara pemikiran ngawur

Kembali pada nasib burung-burung piaraan para tetangga Paman Gong.

Seperti yang telah diduga dan diperkirakan bahwa keringat Paman Gong punya sengat dari keringatnya. Radiasi cairan asam cuka alami dari tubuhnya adalah maut. Hingga pada akhirnya muncul pampangan headline news di koran esok hari. 'Ratusan burung piaraan dari kampung Diarhea mati secara massal'.

Holocaust itu cuma dilakukan seorang diri tanpa bantuan pihak lain. Juga dengan tangan kosong, tak menggunakan senjata pembunuh massal seperti peperangan di TV. Pembantaian massal menggunakan gas berpotensi tinggi untuk bisa menguasai dunia, lalu menjadikan satu bangsa jadi ras terunggul dalam hal peperangan. Sayang SDG (Sumber Daya Gratisan) dari raga Paman Gong cuma bertahan di situ saja tingkat eksistensinya bagi kehidupan. Tak ada kontribusi lebih dari sekedar polusi. Lebih berguna bila dimanfaatkan untuk pembuatan tape. Otomatis tak perlu membeli bahan pengecutnya. Kan sudah disediakan oleh Paman Gong.

Sebenarnya dulu pernah seorang kebangsaan 'Centrocampista' menawar bau kettinya. Namun apalah arti uang jika setelah mendapatkannya akan membuat kesengsaraan masyarakat luas. Maka dari itulah terjadi penolakan oleh Paman Gong pada penawaran negeri tetangga.

Kembali menuju kantor desa tempat di mana sekarang Paman Gong serius berbincang dengan Pak Kades.

Lalu pembahasan masalah apa super hebat dan berat itu??

"Pak Kades panggil saya? Ada kasus apa ya pak?" tanya Paman Gong dengan percaya diri.
"Nggak..., saya nggak panggil kamu Gong!"
"Lho tapi pak, kata Pepeng Bapak panggil saya??"
"he Gong jangan ngeyel saya kades di sini". Pak Kades mulai kesal
"Eh tapi ada bagusnya juga kamu ke mari, ada tugas untuk kamu" kata Pak Kades berubah pikiran tampaknya, kok tiba-tiba dalam waktu sekejap mengubah keputusan. Ada angin aneh sepertinya, yang membuat Pak Kades seperti kesambet.
"Ada kasus pasti pak ya kan?" Gong pede banget
"Ya kasusnya serius Gong"
"Apa pak?"
"WC di belakang mampet bisa kan kamu nyedot pake tenaga dalam dari mulutmu"
"Ooo... tentu bisa dan senang hati pak, itu hobi saya nyedot wc pake mulut"
Pak Kades cuma dlongop thok. .................................................................................................................................

Paman Gong beberapa ini hari nggak patroli. Dia lagi ambil cuti tahunan, yang waktunya sudah tiba. Kesempatan semacam ini tak dia lewatkan dan sia-siakan. Liburan bukan berarti harus malas-malasan atau memboroskan waktu. Paman Gong bukan tipe orang seperti itu. Dia orang yang paling mahir, telaten, juga ulet serta lihai memanfaatkan waktu. Kata Paman Gong yang selalu peduli dengan waktu. "Waktu adalah momentum merupakan satu pelontar hebat. Bisa mengantarkan kita pada gerbang sukses ataupun gerbang kehancuran. Tergantung bagaimana kita menyikapi waktu itu".

Walau di negara barat berkata 'Time is money' dan ada lagi bangsa arab berkata. 'Waktu adalah pedang'. Namun pada intinya sama, penjabaran waktu oleh Paman Gong cukup luas. 'Seluas jagad raya dan setinggi langit di angkasa'. Heh... Jangan ngacau donkz! Itukan kata 'Ahmad Dhani' ntar dikira 'PLAGIATOR' lho. Apaan sih 'PLAGIATOR'?? Makanan baru ya...

Maksudnya ntar kita dikirain 'PENJIPLAK' atau nebeng ketenaran orang lain yang sudah lebih dulu nongol jadi orang terkenal, tenar, juga harum namanya. Kembali pada acara pengisi cuti Paman Gong. Apa yang 'beliau' lakukan?? Semenjak jadi Poldes yang merupakan akronim dari Polisi desa.

Kata ganti untuk Paman Gong telah berubah. Kemvo, Pepeng, dan Joni mengganti kata 'dia' untuk Paman Gong, menjadi 'beliau'. Supaya terkesan agak sedikit menghormati si punya jabatan. Polkam dan Poldes sendiri adalah jabatan yang sebenarnya tidak pernah ada, cuma sedikit julukan agar lebih keren sedikit. Mereka trio tengil masih tak punya hati untuk memanggil dengan kata 'KERA' (keamanan rakyat). Tapi memang sesungguhnya jabatan Paman Gong adalah itu. Keamanan rakyat yang kalau disingkat dan diperpendek jadi 'KERA'. Mungkin terlalu sadis untuk diucapkan. Namun akan lebih keren bila disebut polkam ataupun poldes.

Inovasi baru teknologi lebih mutakhir, cocok di jaman yang menuntut segalanya serba cepat. Segala jenis persoalan harus dapat teratasi, apalagi soal keamanan. Antisipasi juga persiapan bila suatu saat kelak, tingkat crime di kota 'Anoreksia' menjadi tinggi. Maka untuk mengatasi itu semua dibutuhkan sarana, semacam alat transportasi yang hebat.

Pemerintah setempat memahami akan kebutuhan tersebut. Hingga tak heran bila beberapa waktu lalu berdatangan ahli teknologi dari berbagai negara.

Ada dari negara Asterix, Obelix, transformer, Peterpan, he-man, dan yang terakhir kali tiba di kota 'Anoreksia' adalah ahli teknologi dari negara satria baja hitam. Mereka para ahli meleburkan segenap daya pikiran, tenaga juga fokus pada satu tujuan. Menciptakan alat transportasi hebat guna menunjang stabilisasi keamanan kota 'Anoreksia'.

'SEPEDA KUMBANG TERBANG' hasil inovasi hebat dari para pemikir yang ahli di bidangnya. Mampu berakselerasi melebihi kecepatan kilat.

Paman Gong sungguh beruntung dan bernasib baik lagi mujur nian. Sebelum sepeda kumbang terbang terealisi bentuk dan wujudnya. Jabatannya telah menapaki tangga yang lebih tinggi. Menjadi poldes, sebab alat transportasi bersistem canggih itu diperuntukkan bagi yang mengemban pangkat poldes. Hati Paman Gong gembira bukan kepalang hebatnya. Kebetulan proyek penggarapan telah selesai. Proses finishing juga telah usai. Tinggal launching perkenalan pada penggunanya. Serta juga pengenalan untuk khalayak umum. Guna memamerkan keunggulan kota 'Anoreksia' sebagai daerah tanggap teknologi. Sadar dengan kemajuan. Ilmu pengetahuan yang tiada batas berkembang pesat.

Lebih beruntung lagi Paman Gong, momen tersebut tepat datang bersamaan dengan masa cutinya. Jadi Paman Gong punya kesempatan yang luas untuk mempelajari kinerja mesin baru itu. Pastinya akan tambah gagah, dengan kacamata hitam mengendalikan kendaraan itu.

Paman Gong beraksi menjajal kehebatan 'sepeda kumbang terbang' untuk pertama kalinya. Hari yang sungguh mendukung, masih dalam masa cuti tahunan. Paman Gong mengambil jatah kendaraannya. Dengan begitu sudah tiba saatnya menanggalkan sepeda tua berkaratnya selama ini. Berganti dengan 'sepeda kumbang terbang' teknologi handal. Pastinya semua orang akan segan, tunduk, dan patuh bila bertemu dengannya. Poldes yang hebat akankah julukan itu menggantikan julukan lamanya???
"Sepedanya keren banget Paman, boleh dong kalo kapan-kapan aku pinjem". Kemvo sangat tercengang dengan perubahan musuh besar.
"Asik.. Nich kayanya kalo gw bisa nyoba bro". Pepeng menimpali dengan kata yang tak sopan.
"Bro loe nggak pengen apa nyoba ini barang baru??" Tanya Kemvo pada Joni.
"Asik bener top nih barang gw pengen banget naikin sepeda ini bro, pastinya gw tambah keren donk". Jawab si Joni.
"Minggir...minggir...minggir kalian semua, nggak lihat orang terburu-buru apa? Malah usil halang-halangin jalan". Ketus dan sombong, masih saja tidak berubah sifat arogan plus diktator itu.

Paman Gong tak pernah bisa merubah sifatnya. Malah tambah berlagak sok 'saviour' bagi masyarakat sekitar. Sang penyelamat gambaran seorang pahlawan, tapi jauh sekali dengan kesan seorang yang bijak.

Cara yang simple untuk menerbangkan sepeda itu. Membuat Paman Gong senang, sebabnya dengan begitu tak butuh belajar berhari-hari.

Setelah mengayuh 'sepeda kumbang terbang' kira-kira 500 meter. Paman Gong menekan tombol warna hijau di sebelah setir sebelah kiri. Cukup sekali tekan, Paman Gong sudah melayang, terbang kian meninggi di awang-awang. Melintasi udara melihat, mengamati kehidupan di bawah sana.

'Sepeda kumbang terbang' adalah sejenis alat transportasi yang fleksibel. Tergantung kebutuhan, bila ingin bersantai ada tombol biru warnanya untuk memperlambat kecepatan. Namun bila sedang dalam misi pengejaran terhadap pelaku kriminal. Manuvernya juga hebat, mampu melesat setara kecepatan cahaya. Dengan cara sekali klik pada tombol merah maka mesin akan turut perintah pengemudinya. Nanti kecepatan yang tak ada tandingannya terbukti. Paman Gong akan memamerkan kecepatan tiada tanding itu.
Sementara dengan kecepatan yang santai. Paman Gong sangat menikmati mulutnya komat-kamit. Menyanyikan 'I believe I can fly', lagu yang cocok untuk situasi di udara. Mungkin itulah yang terpikirkan oleh Paman Gong. Sepoi asoi geboi desir angin di ketinggian. Makanya dia kumandangkan lagu dari R.Kelly yang tersohor itu. Paman Gong sangat jeli dalam pilihan.

"Bro... Coba lihat di atas sana ada pemandangan aneh".
"Itu kan Papapa...man Gogogo... Gong terrrrbang". Berat sekali Kemvo mengucapkan jawaban pada Joni.
"Lagaknya kaya pilot aja tuh orang, gw sebel banget kalo dia lagi belagu, gak maching ma otaknya". Joni selalu saja geram pada Paman Gong. Dendam pada kejadian saat kuda-kudaan termakan rakus oleh Paman Gong, tak cukup habis dengan mercon.
"Gw ada ide bro!" Seru Pepeng.
"Apaan? Cemerlang nggak ide loe?"
"Kita sangkutin layangan ini ke arah dia". Sambil menunjuk ke atas, tepat di mana Paman Gong mengudara.
"Betul bro Pepeng ide loe hari ini bagus top dan hot". Kemvo coba yakinkan.
"Okey... Ayo kita jalankan misi hari ini, waktu yang tepat untuk menaklukkan kediktatoran Paman Gong". Masih dengan emosi yang meledak-ledak si Joni berbicara.
"Tapi sebelumnya gw mau kasih tulisan pada nih layangan 'PAMAN GONG YANG DUNGU' biar tambah hebat pertempuran sore ini". Kata Pepeng panjang lebar.

Kemvo masih berkonsentrasi, mengamati gerak musuhnya. Usaha demi usaha belum membuahkan hasil. Kinerja mesin itu terlalu hebat untuk ditaklukkan.
"Hahahahaha... Anak-anak tengil kalian nggak akan mampu ngalahin aku, kalian cuma kurcaci bego tau nggak". Paman Gong yang sombong. Merasa di atas ketinggian, seenaknya saja memaki bocah-bocah itu.

Anak-anak di bawah sana tetap pada kegigihan. Pada maksud kuat untuk membuat Paman Gong terperosok. Namun masih saja menemui kegagalan, titik terang juga belum benderang. Sementara di atas sana tambah menggila. Tak mau mengalah, tak mengontrol kecepatan, tak bisa pula memanejemen bahan bakar hingga akhirnya. Apa yang terjadi???

Semua alat, barang, atau apapun karya manusia tak ada kesempurnaan. Pastinya ada kelemahan terlebih lagi yang butuh bahan bakar. Bahan bakar berupa apapun bisa habis. Paman Gong tak menyadari itu semua. Lengah dengan kepongahan dan menganggap bahwa dirinya hebat serta perkasa.

Bahan bakar hampir menemui ajalnya. Pertanda sinyal buruk bakal menimpa 'sepeda kumbang terbang' milik Paman Gong. Namun apakah yang terjadi. Bukan mengurangi atraksi akrobatik di udara. Atau bergegas turun, dengan melipatkan sayapnya yang terletak pada kerangka atas sepeda belakang setir itu. Atau dengan menghentikan laju putar baling-baling di belakang sadelnya. Paman Gong malah lebih menggila. Mirip aero modeling dalam pesta olah raga sea games. Memutar, menukik dan membelah udara.

Asap putih dari cerobong knalpot kendaraan hasil inovasi teknologi itu menunjukkan tanda, bahan bakar habis. Pada alat pengukur tepat di bagian setir pun juga begitu. 'Fuel is over' pesan tulisan kelap-kelip merah warnanya. Paman Gong melirik alat tersebut.

Wajahnya pucat pasi dalam kondisi tak terkendali. Di ketinggian kehabisan bahan bakar dan apa jadinya bila dia jatuh. Bagaimana pula nasib tunangan yang bekerja jadi TKI di negara 'PERA GILGU PARA' bila dia mati.
Sepeda kumbang terbang mulai oling dan hilang keseimbangan. Bermacam-macam pikiran menjadi kecamuk yang luar biasa dalam pikiran Paman Gong. Mulai dari hutang pada toko klontongan yang menumpuk, jemuran di rumah, calon istri, ayam-ayamnya siapa yang nanti bakal ngurusin. Terus belum lagi 'sepatu bola butut' yang belum dia semir. Sebab minggu besok bakal ada pertandingan. Paman Gong terpejam, ketakutan dan lalu, hingga pada akhirnya terjadilah apa yang dia takutkan.

Sepeda kumbang terbang jatuh menukik tanpa keseimbangan. Paman Gong terpental meninggalkan kendaraan tersebut. Benar-benar situasi yang tragis, na'as, sial dan apes dikalikan 1 juta dolar amerika. Mungkin cuma ungkapan itu yang bisa mewakili keadaan Paman Gong. Nyawanya pasti melayang, pikirnya saat itu. Dalam situasi tak terbayangkan ngerinya, Paman Gong berdo'a meminta tempat yang terbaik. Lalu di mana ada tempat terbaik untuk orang macam dia???

Ternyata Sang Maha Kuasa masih memberikan ampun padanya. Kesempatan untuk lebih lama bisa makan jengkol dan bangkai keco'a. Atau mungkin neraka tidak sudi menerimanya?? Ah jangan apatis gitu donkz!!!

Permasalahannya sekarang di mana dia?
Dia masih hidup, dia jatuh di tempat yang layak dan pas untuk dia. Untuk pemberitahuan juga peringatan agar berhenti meneruskan kepongahan. Paman Gong ternyata nyungsep di tempat pemandian kebo dan babi. Di sebuah lubang berlumpur yang tak terpikirkan sebelumnya. Bila kita lihat hewan-hewan itu berendam, kencing, ada juga yang pup. Bagaimana baunya?? Pastinya gado-gado alias campur-campur. Dan jika anak-anak tengil itu sudah mengetahui keadaan Paman Gong yang seperti itu apakah umpatan dari mereka??
Untuk Paman Gong...

"PAMAN GONG POLKAM YANG DUNGU"