"Tak Ada Judul"
Inilah cerita tentang sebuah negara yang bernama Madiun. Wilayah kecil sih, namun kalo kita bicara soal kemandirian rakyatnya, jangan ditanya. Rakyat di negara Madiun terkenal dengan kreativitas tinggi. Punya sikap pantang menyerah, dalam hal mencari rejeki. Tanpa harus mengharapkan belas kasihan dari pemerintahan tetap mampu hidup.
"Bukankah ini patut kita banggakan??" Dengan bangganya saya bertanya pada kalian semua. Dan tentunya kalian juga akan secara bergantian menjawab.
"IYA dan IYA bro".
Baguslah kalau begitu, lalu apakah Raja di negara ini punya empati terhadap kreativitas dan kemandirian para rakyatnya??
Madiun walaupun sebuah negara kecil yang dipimpin oleh Raja. Namun sistem pemilihan tampuk kekuasaan tertinggi tetap dengan cara Demokrasi. Hasil suara dari rakyat oleh rakyat dan untuk kemakmuran rakyat. Ya kemakmuran semua manusia pasti bertujuan ke arah situ, begitu juga seorang pemimpin.
Seorang pemimpin hendaklah memberi dukungan guna terwujudnya kata 'makmur' untuk rakyatnya. Awalnya Raja terpilih negara Madiun ini sangatlah dermawan. Saat masih belum duduk di tahta tertinggi negara ini. Menunjukkan atensi pada masyarakat luas akan kedermawanan dia. Membagi alat transaksi jual beli yang sah, tiap orang dapat warna biru.
Menggiurkan bukan??"
Pribadi yang hebat bukan??"
Sosialnya tinggi bukan??"
Peduli nasib rakyat bukan??"
Jalanpun lancar tanpa banyak hambatan, untuk menggapainya. Lebih dari setengah penduduk ini meleburkan harapan padanya. Menggantungkan cita-cita luhur padanya. Pedagang, pegawai, wiraswasta aliansi pelajar berharap proses mereka menggapai mimpi bisa mudah diraih. Pemimpin bijaksana, arif peduli akan kemajuan.
Hati dan pikirannya sedamai Harun Al-Rasyid yang tak pernah bosan mengunjungi rakyat dengan cara menyamar. Untuk menanyakan ihkwal pemerintahannya sudahkah benar dalam memimpin rakyat. Menjanjikan tentang pendidikan dan kemakmuran untuk rakyatnya. Era di mana peradaban Islam menjadi bangsa terunggul di dunia saat itu. Peradaban tempat terlahirnya berbagi macam ilmu pengetahuan. Peradaban buku, boleh dibilang, sebab dalam masa itu berbagi macam buku tercetak. Setelah para cendekiawan Islam memperoleh rahasia pembuatan kertas dari tawanan perang asal negeri China. Negeri Baghdad, negeri dengan kisah dongeng 1001 malamnya. Merupakan negeri termahsyur di jaman itu. Atau secerdas Al-Ma`mun yang begitu memandang pendidikan rakyat adalah faktor penting dalam perjalanan menuju sebuah bangsa yang maju. Membangun sarana penunjang kemajuan untuk rakyat. Lalu juga memberikan keleluasaan pada rakyat untuk bebas mengembangkan diri. Al-Ma`mun bahkan rela membayar sebuah buku dengan emas seberat buku yang diterjemahkan dalam bahasa arab. Memberikan keleluasaan kepada rakyat untuk mencari nafkah dengan tenang, tanpa ada ketakutan terhadap aturan negara yang biasanya menyulitkan kaum menengah kebawah. Semoga harapan-harapan itu bukanlah pepesan kosong belaka.
Atau sehebat Franklin Delano Roosevelt, yang mampu mengangkat kepercayaan diri rakyat Amerika di tengah-tengah suasana genting negaranya. Polio yang melumpuhkan kedua kakinya bukan hambatan untuk menyerah memberi semangat pada rakyatnya. Jutaan orang tak punya pekerjaan, masalah ekonomi yang berat, mampu dia atasi dengan kebijaksanaannya.
Itulah harapan rakyat negara Madiun saat itu. Pemimpin hebat yang mampu menginspirasi rakyat agar lebih maju. Waktu berlalu dan terus berjalan hingga sampailah kita di saat ini.
Madiun, negara kecil namun etos kerja rakyatnya tinggi. Terlihat di pinggir-pinggir jalan, tepat di trotoar jalan. Banyak yang mengais rejeki pada sarana itu.
"Bukankah ini hal menarik, hebat, tak menyerah dengan tipis dan minimnya kesempatan bekerja di sini??"
"Tak mengemis pada negara".
"Tak ikut serta dalam pembosoran Anggaran belanja negara".
"Malah ikut mengentaskan jumlah pengangguran yang selama ini jadi momok di negara Madiun tercinta".
Tetapi pada akhirnya sekumpulan pekerja keras. Yang menjujung tinggi arti kata kemandirian, harus bertopang dagu, gigit jari, dan kehilangan investasi terbesar dalam hidup mereka.
Lahan trotoar ibarat perlintasan menuju gerbang kemakmuran harus mereka tinggalkan. Sang Raja berkeinginan negara ini rapi, tertata sedap dipandang mata (sebuah penghargaan yang menggiurkan). Raja ingin mengejar sebuah "AWARD" predikat sebagai negara terbersih, terapi, juga lebih sedap dipandang. Peraturan negara tak bisa di ganggu gugat adalah mutlak benar.
"Apapun dampaknya".
"Walaupun rakyat harus bernafas dengan sesaknya".
Pekerja keras, yang gigih mencapai kemakmuran harus menanggalkan mimpi. Padahal mimpi mereka tak menggangu negara. Hanya sebatas trotoar untuk memungut mimpi.
"Tapi kenapa kebijakan Raja justru membakar mimpi mereka??"
"Lalu apa maksud Sang Raja?? bila sebelum bertahta menjadi dermawan pada rakyat, membagi dana cuma-cuma".
"Hanya untuk menanamkan kepercayaan pada rakyat yang sifatnya sementara?"
"Lalu membuat kebijakan atas nama keindahan kota, dengan mengubur kemandirian dan etos kerja yang tinggi mereka".
"Sebuah entitas tergilas oleh pemimpin yang menyelipkan getas".
Bukankah akan lebih indah jika penghargaan itu datang dari rakyat sendiri. Juga lebih membanggakan bila rakyatnya akan hidup dalam kemandirian, maka kemakmuran dengan jalan bekerja keras akan terwujud. Tapi ternyata itu hanya pepesan kosong belaka, sebuah warna yang bertolakbelakang dengan harapan rakyat yang penuh harapan mendapatkan Raja bijaksana. Tapi tak lebih dari seorang hartawan yang mengumpulkan para jagoan untuk mempertahankan kekuasaannya. Yang lebih parah lagi adalah para jagoan dari berbagai penjuru daerah yang dia rekrut rata-rata tak memiliki basic jernih dalam berpikir. Kekuatan otot yang mereka andalkan. Merasa di atas daun, berlindung dalam kekuasaan sang raja. Hingga dengan semudahnya mencampakkan hak orang untuk mencari nafkah. Bagaimana tidak kita merasa kasihan, ketika melihat seorang yang sudah bertahun-tahun menmpati sebuah lahan parkir harus tergusur dengan paksa. Digantikan oleh pihak-pihak yang dekat dengan sang raja. Lalu bagaimana dengan nasib kehidupan yang tercampakkan??????????
Aku hanya bisa menulis tentang kisah ini. Cerita tentang negara kecil, dengan aneka kebusukan yang terselubung di dalamnya. Anggapan aku dulu tentang seorang Raja adalah pemimpin yang mampu menjadi inspirator untuk yang dipimpin. Ternyata.....
Aku hanya bisa menulis tentang kisah ini. Cerita tentang negara kecil, dengan aneka kebusukan yang terselubung di dalamnya. Anggapan aku dulu tentang seorang Raja adalah pemimpin yang mampu menjadi inspirator untuk yang dipimpin. Ternyata.....
"AKU SUDAH LELAH MENJAWAB PERTANYAAN ITU"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar