tentang tulisan saya?

Sabtu, 26 November 2011

"Cerita Yang Masih Tersisa"


Cokroaminoto Madiun. Gedung sekolah terletak di jalan Jenderal Soedirman. "Kenapa sekolah itu?" Lagi-lagi serentetan pertanyaan menjadi hal yang menarik untuk saya. Menemukan jawabannya. Bak bisul yang berkembang, tumbuh subur dalam benak saya. "Anak STM nya yang duduk santai menikmati segelas es teh di warung depan sekolahan. Terkena lemparan batu dari dua orang pelajar sekolah lain. Berboncengan lalu yang belakang melemparkan batu". "Dua hari lalu terjadi tawuran dengan anak SMA 5 Madiun". "Sebulan yang lalu anak-anak Taman Bakti melancarkan serangan. Pembalasan dendam atas pencegatan di Cokroaminoto, sehari, sebelum menuntaskan misi ini". "Belum lagi kejadian yang mengakibatkan rusaknya bagian depan dan kopsis sekolah ini. Oleh siswa-siswa STM Gamaliel Madiun". Ah..hampir semua kata selalu berkonotasi negatif. Bila berkenaan dengan sekolah ini. Apakah yang menyebabkan itu semua?"

Harga dirikah?" Kehormatan atas nama golongankah?" Atau hanya sekedar pencarian jatidiri pada setiap individu ditengah-tengah eksistensi mereka untuk menemukan kebanggan?" Lalu kebanggan apa yang mereka cari?"

Semua pertanyaan itu menguap begitu saja. Menghablur bersama waktu dan angin. Dengungan slogan, "peace, love, unity, and respect" tak cukup memberi secercah terang di balik itu semua.

Masing-masing pihak memproklamirkan diri sebagai kubu yang benar. Buntut dari pertikaian, alih-alih akan merubah keadaan menjadi baik. Akan tetapi hanya menjadi kesumat dendam yang berkepanjangan. Di masing-masing kubu. Padahal sebagai manusia terdidik, hendaknya menyadari. Bahwa manusia tercipta di dunia ini punya "ide" untuk menyelesaikan masalah. "Secara damai"
"Ahh,,, sebegitu rumitkah merumuskan ide?" Demi tercipta kata "damai" dan penuh cinta. Hingga habis waktu saya, membaurkan diri di sekolah itu. Akhirnya ungkapan "damai" itu. Bak labirin yang tak pernah ketemu ujung pangkalnya.

Penggalan-penggalan kisah dari gulungan waktu yang terpaksa saya tarik kembali. Mengawali tulisan ini.

Pada akhirnya saya harus menyusuri mesin waktu. Sepasang sobat karib. Duduk bersandar dinding. Menghadap utara. Satu meter ke timur adalah lorong untuk ke toilet. Mereka berbincang. Mengisi jeda istirahat di sekolah. Walau mungkin cuma berdusari 15 menit. Tapi. Okelah. Tak ada salahnya bukan menikmati?" Kepulan asap rokok menyebar, diantara partikel udara. Mengiringi cerita, obrolan, canda, dan tawa. Sudah bukan rahasia lagi mungkin. Dimanapun tempatnya, di Indonesia ini. Pelajar menghabiskan waktu istirahat di sekolah dengan merokok. Kecuali gue, kali ye? (bo'ong).

Pranata dan Edi, teman dekat. Sobat karib. Hari ini begitu antusias berbincang. Tentang kemenangan waktu balapan liar semalam. Tentang motor Pranata yang bikin musuhnya harus rela menyerahkan uang taruhan atas balapan tersebut. Edi pun juga ikut berbahagia. Entah berapa persen dia ikut andil pula dalam taruhan itu. Tentu juga berkembanglah jumlah uangnya saat ini. Dalam obrolan yang semaikin seru mendadak mulut mereka berdua terbungkam. Apa pasal?"

Bagaimana obrolan mereka tidak terhenti?" Dari barat, arah kopsis. Semampai langkahnya, rambutnya tergerai, sesekali kibasan angin menggoyangkan helai-helai rambutnya. Bila agak dekat memandang, terpaan sinar matahari sedikit merubah warna rambut itu. Bertransformasi dari hitam menjadi kecoklatan agak kemerah-merahan. (Hayo apaan namanya?" gue juga gak tau).

..........................

Gedung ini memang bertambah meriah dengan dipindahkannya SMEA dari jalan Timor ke sini. Jika beberapa waktu lalu cuma STM dan SMA kini bertambah lagi penghuninya. Tak ayal pada akhirnya bertambah ramai pula situasinya. Bertambah pula gairah anak-anak SMA dan STM yang bersekolah di sini. Terutama kaum cowonya. Dari sini pula akhirnya muncul cerita ini.

Salah satu momen menarik untuk saya adalah kisah ini.

Mungkin ungkapan ini sedikit naif, "bahwa persahabatan itu tak akan terpisah oleh apapun".

Edi dan Pranata pada akhirnya terjebak dalam sebuah persaingan memperebutkan harga diri dan gengsi. Setelah istirahat itu. Edi dihantui gelayut rasa yang tak menentu. Ingin dia tahu lebih banyak tentang cewe itu. Tentang siapa dia, pokoknya tentang segala sesuatu tentangnya, everything about her. Tapi di sini dia tampaknya berbuat kesalahan, blunder.

Sementara cerita hari ini terus berjalan. Lalu entah setan, iblis macam apa pula yang pada akhirnya merasuki otaknya Edi. Tiba dia melontarkan pernyataan mengejutkan ke Pranata. "Man piye nek awakdewe totoan cepet-cepetan. Sopo seng iso ngolehne cewe mau" (Man, gimana kalo kita taruhan. Siapa yang bisa dapetin cewe tadi). "Gak wani boy aku". (Gak berani boy gue). Jawab Pranata tegas tanpa aling-aling. "Lha nyapo?". (Lha kenapa). Tanya si Edi ingin tahu. "Saiki ngene lho boy, nek aku arep macari cah mau piye Lisa?" (Sekarang gini lho boy, kalo gue mau macarin cewe tadi, Gimana Lisa). Lisa itu cewe nya Pranata anak SMA 5 Madiun. Yang pada akhirnya sekarang jadi istrinya. "Ah.. cengcengpo kowe berarti man, nek gak wani". (Ah cemen lu man kalo gak berani). "Ben". (Biarin). Kata Pranata singkat saja. "Tibak'e nyalimu cuma sampek semono thok man". (ternyata nyali lu cuma segitu doang man). Edi mencibir lagi. "Yo nek awakmu sreg yo jak'en kenalan dewe trus yo pacarono dwe boy, aku wegah". (Ya kalo lu ada feeling ma dia, ajak kenalan sendiri trus lu jadiin pacar, gue gak ah). Masih tetap pada keputusan yang tak mau berubah. "Ngene lho man, kabeh kuwi mesti dadi asik yen enek saingane". (Gini lho man, semua itu akan jadi asik kalo ada pesaingnya). "Enek tantangane". (Ada tantangannya). Lanjut Edi. "Yo golek saingan liyane tho boy, ojo aku". (Ya cari pesaing yang lain jangan gue dong). ""Liyane mesti gak wani man, mergo musuhe aku". (Yang lain pastinya gak bakalan mau / berani, sebab lawannya gue). Sambil merapikan dandanan rambutnya biar kelihatan cool. Edi memberi penjelasan ke Pranata. Namun tak kunjung juga ada titik temu. Kepastian yang keluar dari mulut Pranata. Untuk menerima tantangan Edi. Meskipun tetap ada provokasi dari Edi. Hingga tiba waktu pulang sekolah. Pranata tetap tak bergeming dari keputusan awal.

Namun Edi tetap mencoba untuk menantang sahabatnya itu. Tanpa ada kesan putus asa. Malah semakin menjadi. "Nyalimu koyo tempe, mentalmu lemah, mendingan sesok gaweo rok wae man, gak usah gawe celono!" (Nyali lu kaya tempe, mental lu juga lemah, mending besok lu pake rok aja, gak usah pake celana). Serentet kalimat itu ternyata merupakan sebuah mantra ampuh. Membuat Pranata akhirnya berpikir.

..................................

Antara menerima tantangan Edi dan tetap teguh pada pendiriannya, adalah pilihan yang sama-sama rumitnya. Sepanjang malam dia berpikir, pilihan mana yang harus dia jalani. Pranata benar-benar dalam keadaan bimbang. Layaknya seorang Harry S truman. Sepeninggal Franklin Delano Roosevelt. Lalu meneruskan tahta kepresidenan Amerika Serikat. Langsung dihadapkan pada dua keputusan pelik. Antara mengirimkan pasukan perangnya ke Jepang, ataukah menjatuhkan bom atom untuk mengakhiri konflik. Dengan cara singkat. Mengorbankan ratusan atau bahkan ribuan pasukannya. Bila sampai terjadi perang berkepanjangan. Atau membinasakan sebuah negara?" Yang secara otomatis juga akan membawa akibat kesengsaraan pada negara tersebut. Pada rakyat yang belum tentu ikut berdosa. Petimbangan yang tak mudah kawan.

Lalu..............

Setelah melalui skenario pemikiran berjam-jam. Pranata akhirnya menerima tantangan Edi.

Tapi bukankah memulai sesuatu yang baru butuh ketepatan untuk mengawali. Waktu dan momentumnya tentu harus tepat. Apa dan bagaimana aksinya, agar terkesan enak, luwes, dan nyaman. Lalu kapan waktu yang tepat untuk melaksanakan misi ini?"

"Oh iya besok hari sabtu band gue manggung di sekolah, secara otomatis cewe itu kan pastinya juga nonton. Saat itulah waktu yang tepat buat gue deketin dia.Kan keren juga, sambil gue berjalan hampiri dia. Sementara gue menggengggam stick drum gue. Ehmmmm so cool". Dalam lamunan akhirnya Pranata menemukan ide brilian. Dia memang punya band waktu di SMA namanya "SPIDOL BAND" yang kebetulan jadi jawara waktu lomba band di sekolah tersebut. Bersama Hartomo dan Feri tukang gitar, Maryono pemain bassnya, untuk vokalisnya Bayu Gustomo.  Kebanggaan yang mungkin akan menentukan hasil untuk misinya kali ini. Semoga.

..................

"Ratna", nama yang terlontar dari bibir itu. Seiring juluran tangan yang lembut menyambut ajakan buat kenalan dari Pranata. Kemujuran yang tak dinyana-nyana olehnya. Tanpa kesulitan dia berhasil kenal dengannya. Ini adalah momen awal sekaligus penentu dari misinya. Awal yang indah. Dengan sedikit meningkatkan kepercayaan diri berhasil juga melampauinya. Dan betapa sekarang kini Pranata telah meninggalkan Edi satu langkah ke depan. "Ada nomer telepon rumah gak?", gaya yang rada-rada malu kaya anak kucing yang lagi ditinggal sama induknya, buat nyolong tongkol di meja makan. Pranata coba bertanya ke Ratna.Cewe yang barusan dia kenal ini. Lalu tanpa banyak kata, seulas senyum tersungging di bibirnya Ratna "ada, bentar ya aku catatkan". Sesaat kemudian setelah beberapa detik menyerahkan kertas bertuliskan nomer telepon rumahnya. Giliran Ratna, "lha kamu adakah nomer telepon?" logat khas orang Indonesia bagian timur.

Waktu itu alat komunikasi terhebat adalah telepon rumah. Belum memasuki semarak era handphone seperti sekarang. Orang-orang yang punya jaringan telepon rumah pun ternasuk dalam golongan hebat pula. Jadi bukan nomor handphone, email, akun facebook, twitter, dan jejaring sosial lainnya. Presiden kita pun juga masih Gus Dur.

......................

Alhasil. Berawal dari tantangan Edi beberapa hari lalu. Pranata merasakan adanya benang-benang cinta dalam dirinya, yang ingin dia untai bersama Ratna.

Tak terasa. Seminggu berlalu. Bulan puasa pun akan segera tiba. Bukan Ramadhan yang seperti biasanya. Bapak presiden Gus Dur mengeluarkan kebijakan baru. Tak seperti biasanya. Bahkan terkesan mencengangkan. Sekolah libur hingga 10 hari setelah hari raya Idul Fitri. Bukankah dengan demikian sedikit mengganggu Pranata dan Edi, untuk saling adu kelihaian. Siapa yang tercepat mendapatkan Ratna.

Namun mengingat Cokroaminoto berbasis yayasan Islam. Maka akan mengisi dengan kegiatan pondok Ramadhan di awal bulan puasa. Inilah momen yang akhirnya menjawab. Siapa yang mampu meluruhkan hatinya Ratna.

Finally. Pranata akhirnya berhasil juga. Malah Ratna, cewe pindahan dari kota Sorong itu. Kota nun jauh di sana, bagian dari pulau paling timur ini, Papua. Yang bila berbicara bahasanya sangat khas dan kentara sekali. Multiplikasi antara bahasa Indonesia formal. Bercampur logat orang Indonesia bagian timur. Sering terdapat akhiran kah bila bicara. mau kah, iya kah, sudah kah.

"Pranata, nanti kita buka puasa bareng yuk, mau kah?" "Jemput aku ya bisa kah?" Lalu bibir itupun mengatup. Akhirnya dia mengajak Pranata buka puasa bareng. "Iya InsyaALLAH aku usahain ya". Jawab Pranata dengan logat medog Jawa. Tapi masih dia coba paksain seluwes mungkin. Namun tetap saja yang namanya lidah, cara ucap pada bahasa. Tak bisa dihindari. Tiap-tiap daerah, suku, negara pastinya punya ciri khas sendiri-sendiri. "Sampai nanti ya!" Ratna melenggang sambil meninggalkan lelaki muda di depannya, yang masih terkesima akan pesona dirinya. Tsahhhh.........

Sepak terjang semakin dekat dengan hasil akhir yang memuaskan. Mungkin dia bakal jadi pemenangnya. Sebab si penantang, Edi belum juga beraksi hingga saat ini. Baunya pun juga tak ada sama sekali. "Emang kentut?" Kegiatan pondok Ramadhan pun tak dia ikuti. Kemana dia, kemana si Edi?" Tak ada yang tahu.

Mungkin saja sekarang dia sedang berada di planet Krypton. Planet khayalan dari luar sistem tatasurya kita. Atau mungkin dia malah punya misi khusus untuk menyelamatkan mesin waktu Eradicator*. Agar tak jadi meledak, yang pada akhirnya menghancurkan planet Krypton. Upzz sori itu cerita Superman.

(*) Sebuah mesin waktu dari jaman purba. Dalam cerita Superman bahwa mesin inilah yang menyebabkan planet Krypton meledak.

Kembali ke cerita...

Ajakan Ratna ternyata tidak serta merta membuat hati Pranata berbunga. Bukan ia tidak mau sih, cuma di hari ini ada sedikit gangguan. Atau dia takut nantinya ketahuan si Lisa?" Bukan itu saudara-saudara senasib, seperjuangan, di atas tanah dan di bawah langit yang sama. Pada hari ini dia lagi bokek. Dompetnya lagi paceklik. Dua hari lalu habis isinya buat beli alat-alat motor. "Huft, bad of the day. When I have the great moment to make a romance's. I have trouble with my financial. Ohh.. I don't know where to go?"

Dalam kecemasan, memikirkan nasibnya hari ini. Lama ia terdiam dan berpikir. Memutar otak dan ingatan. Tiba-tiba muncul sekelebat bayangan Hartomo, yang akrab kita panggil Mbah Kung. Sebulan lalu meminjam uang padanya buat bayar sewa kamar kos. Tapi sungguh sayang, jika dia mau menagih ke Hartomo. Dia harus pergi dulu ke Ngawi. Mbah Kung, sapaan akrabnya juga tidak masuk pondok Ramadhan. Seperti Edi. Tak masalah asal masih ada harapan yang bisa terwujud. Ke Ngawi pun bukan pilihan yang buruk.

Dan tanpa pikir panjang lebar. Pranata mengajak saya. Karena memang saya lah yang tahu dan paham. Tentang letak geografis, kondisi alam, kebiasaan masyarakat setempat. Mulai dari kapan waktu yang tepat buat jemur pakaian, memasak, dan pergi ke pasar. Halah ini mau nagih utang atau mau survey sih?" Kita berangkat naik bis. Dengan misi menagih uang 50 ribu Rupiah.

Dasar nasib. Mujur tak selalu kita dapat, sial tak selamanya bisa ditolak. "Hartomo gak neng omah mas, bocahe saiki neng Jakarta. Preinan pengen dolan neng mas seng nomer siji. Mergo dulur-dulur soko Ambon podo kumpul neng kono kabeh". (Hartomo gak ada di rumah mas, anaknya sekarang di Jakarta. Liburan pengen maen ke abang kita yang pertama. Sebab sodara-sodara dari Ambon juga kumpul di sana). Kata mas Ibnu kakaknya Hartomo paling buncit. Setelah beberapa menit lalu menyambut kedatangan kami. Pranata yang punya kepentingan yang sifatnya urgent, mendadak lesu.

Dengan langkah yang gontai Pranata meninggalkan rumah Hartomo. Saya juga tak mampu berbuat banyak. Hanya mengikuti langkahnya dari belakang. Matahari bersinar garang. Panas terik. Lebih-lebih ini bulan puasa. Makin bertambah pula ujian yang kami hadapi.

Layaknya dua orang kafilah yang terdampar di gurun pasir. Berharap ada oase ditengah-tengah gurun itu. Terengah berjalan di hari yang terik. Langit dan panas matahari menjadi tudung sepanjang perjalanan. Baik berangkat maupun pulang. Bertambah berat pula pikiran Pranata. Digelayuti kebingungan, ketakutan, kekhawatiran, membayangkan acaranya nanti kacau.

"Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan".
Pepatah kuno bangsa China

Berharap sesuatu akan menjadi lebih baik. Tanpa harus menyumpahi kesialan yang datang. Daripada harus menyudutkan diri dalam ketidakberdayaan. Pranata akhirnya pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti. Daripada terus menyalahkan nasibnya hari ini.

Nasib memang siapa yang tahu kecuali Tuhan di atas sana. Kemujuran dan kemalangan bisa datang kepada siapa, kapan, dan bagaimanapun keadaannya. Di tengah kepasrahan yang semakin mendalam. Seorang tetangga, lelaki seusia pula. Datang ke rumah Pranata. Dengan maksud mengembalikan uang yang dipinjam tetangga itu beberapa bulan lalu. Malah jumlahnya dua kali lebih besar dari yang dipinjam oleh Hartomo. Dan sekarang tinggal menunggu kemujuran berikutnya.

Obrolan selepas menikmati buka puasa bareng. "Iya, aku mau jadi pacar kamu". Kata Ratna pada Pranata. Setelah dia sejenak menetralisir kondisi tubuhnya dengan oksigen. Biarkan menyebar. Menyebar melaluli pembuluh darah, vein's. Setelah terpompa oleh jantung. Masih dengan posisi duduk yang berhadap-hadapan. Saling menatap beradu chemistry. Tsahhh....... gayung bersambut. Hasrat yang tak bertepuk sebelah tangan. Sepasang anak manusia ini akhirnya menjadi bagian dari indahnya dunia.

"Cinta adalah ruang waktu, datang dan menghilang. Semua karunia Sang Pencipta"

Begitulah penggalan lirik "Lagu Cinta" dari Dewa 19 meng-ejawantah perjalanan kasih Pranata dan Ratna.

Sementara di sisi lain Edi masih belum tahu keadaan itu. Kini telah kembali. Tepat hari pertama masuk sekolah. Selepas menghabiskan masa liburan panjang dari negeri antah berantah. Mungkin. Sebab tak begitu penting juga untuk membahasnya. Orangnya suka gak jelas gitu sih soalnya. Kadang juga banyak bohongnya.

Dengan gaya rambut habis rebonding. Mulut yang tak henti mengunyah permen karet. Biar kaya Alm. Ryan Hidayat waktu jadi bintang utama, sebagai pemeran Lupus.  Satu film yang diangkat dari komik karya Hilman Hariwijaya. Dan film itu sangat populer di dekade 90'an. Edi tebar pesona. Biar nanti pas si Ratna lihat dirinya langsung mendekat dan ngrengek-ngrengek sama dia. Buat dijadiin pacar. NGAREP!!"

"Ohhh tapi perjuangan lu terlambat man. Percuma lu ngerubah penampilan se-elegan mungkin. Nantinya malah bikin lu kecewa. You are never get luck at now. Everything is too late".

Drendendenden, motor Pranata melintas dengan lambat. Seolah tak ingin begitu saja melewatkan pagi ini. Namun kali ini ada yang lain.  Tak seperti biasa. Ada mendekap erat  di sepanjang lingkar pinggangnya. Sepotong tangan kanan yang putih bersih. Tangan kirinya yang juga putih dan bersih, memegang sapu tangan. Untuk menutup lubang hidung agar terlindung dari polusi asap dan debu. Gaya duduknya menghadap timur. Gayanya perempuan banget saat dibonceng. Tak urung hangat mentari pagi menerpa kisi-kisi wajahnya. Berlapis bedak tipis.

"Boy", sedikit teriakan Pranata menyapa Edi. Waktu hampir memasuki gerbang sekolah. Membuyarkan pagi harinya Edi. Seketika Edi lemas tanpa daya. Semua yang dia persiapkan untuk hari ini jadi sia-sia. "Perjuangan telah usai kawan". Slogan dari bau parfumnya mendadak hilang. "Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya..... Elu manyun man".

Dalam hidup manusia selalu dituntut untuk bersikap sportif. Dan mengakui sebuah kekalahan dengan lapang dada. Kekalahan dan kemenangan adalah unsur yang bersenyawa dalam setiap persaingan. Apapun jenis persaingan dan perlombaan itu. Tapi terkadang semua itu hanya slogan. Simbolis saja. Tak jarang malah praktek di lapangan, malah berbanding terbalik. Ada-ada saja tingkah laku manusia untuk menutupi rasa malu atas kekalahannya.

Edi tak lebih dari layaknya anak kecil yang kalah dalam permainan. Ketika dia kalah dari si Pranata. Dia ngambek, gak mau bicara sama Pranata. Aksi membisu. Menjauh. Bangkunya yang juga pindah sekarang. Tak mau dekat lagi dengan Pranata. Entah rasa malu, sakit hati, karena Ratna sekarang jadi cewe nya Pranata?" Atau dia memang tipe orang yang gampang ngambek?" Yang jelas begitulah keadaannya.

Sebelum peristiwa ini terjadi. Saling bercanda, duduknya sebangku, bolos, cabut dari sekolah bareng, mabok bareng, rokok join, sampai taruhan balap motor liar pun, modalnya patungan.  Tapi sekarang. Hanya gara-gara memperebutkan cinta bertatap mukapun enggan. "Ahggghhhhh".

Bukan hidup namanya bila tak ada cobaan. Bukan perjalanan hidup tentunya jika tak ada hambatan. Sebelum lebih jauh perjalanan hidup kita lalui. Hendaknya kita juga menyadari. Bahwa hidup memang penuh kejutan.

Seperti kisah cinta Pranata dan Ratna. Romansa yang sedang mengembang.

Pada dasarnya sifat cinta itu menjebak. Semua manusia normal pasti mengalami hal itu. Menjebak dan terjebak. Seperti bumi yang terjebak untuk terus mengelilingi matahari. Lalu menjebak bulan yang ber-rotasi mengelilingi bumi, turut serta pula mengitari matahari. Satu konsep yang mungkin sama dengan cinta. Menjebak para pelakunya untuk turut serta menuruti kemauan cinta. Cinta ibarat matahari. Dua sejoli yang sedang dimabuk asmara berperan sebagai bumi dan bulan.

Ketika Pranata larut dalam jebakan itu. Ia akan selalu berusaha mempertahankan cintanya, mataharinya. Meskipun Edi kini telah telah enggan bertegur sapa dengannya. Bukan berarti dia akan keluar dari orbitnya. Meninggalkan sang bulan, yaitu Ratna. Mereka akan selalu berusaha saling menjaga. Agar tak keluar dari orbitnya. Dengan kata lain terlepas. Pernah suatu kejadian menganggu kisah mereka berdua. Namun bukan Edi, dia sudah menyerah. Melainkan Puput. "Ooooo Siapa Dia?" "Berpacu Dalam Melody". Uppz itu jenis acara kuis di TVRI jaman dulu sob.

Latar belakangnya dengan saya adalah sama. Sebab dia pindah ke Cokro pun juga sama. Berasal dari SMA 5 juga. Gara-gara tak naik ke kelas 3 dia memutuskan pindah ke sini. Tapi ini anak juga lumayan tengil lho. Anak baru, sudah berani bikin ulah. Sudah tahu Ratna itu lagi deket sama Pranata. Tapi dia nekad juga. Nyamperin ke rumah Ratna dan ngajak jalan pula. Sebenarnya juga kesalahan bukan mutlak pada Puput. Cowo itu cuma pengen meng-apresiasikan kekagumannya pada Ratna. Bayangkan saja, di tengah kelabunya cerita tentang sekolah Cokro. Tapi masih terselip mutiara berwujud Ratna.

Tapi apes buat Puput. Awal malapetaka yang tak dinyana datangnya. Pranata dengan jelas melihat dan menjadi saksi. Ketika Puput membonceng Ratna dengan motornya. Melintas di jalanan. Dari sinilah Puput membuat catatan pengalaman pahitnya di Cokro.

Di jam istirahat. Pranata tanpa banyak kompromi. "Put reneo sedilut, aku enek perlu karo awakmu!" (Put tolong lu ke sini bentar, gue ada perlu sama lu). Tak ada tanda kemarahan, karena waktu itu Pranata menampilkan wajah ramah plus senyum renyah.  Bak bertemu sahabat lama Puput mendekat. Pranata merangkul, menggiringnya ke lorong yang akan menuju toilet.

Dan apa yang terjadi?"

Beg..beg..beg..., tiga pukulan. Bogem mentah Pranata, tepat mendarat di wajah puput. Membuat Puput tersungkur jatuh. Tak berdaya. Harus mengakui bahwa, sekarang dia dalam kondisi TKO.

Setelah puas melihat lawan tak berdaya, barulah Pranata berkata. "Kowe kuwi wes ngerti Ratna gandeng karo aku, kok malah nekad ngajak metu dewek'e. Karepmu piye, ngajak gegeran rame we?" (Lu tuh tahu, kalo Ratna itu cewe gue, kok lu nekad ngajak dia keluar. Lu pengen bentrok rame?). Karena sudah tak punya daya untuk melawan. Puput cuma bisa menempelkan kedua telapak tangannya. Memelas minta maaf ke Pranata. Atas kesalahannya. "Sepurane boy, aku salah damai wae wes". (Sori boy, gue salah damai aja lah). Tanpa menanggapi lagi. Pranata meninggalkan lawannya, yang masih berusaha untuk menetralkan kondisi tubuhnya.

Dalam posisi sedemikian nahasnya bagi Puput. Bukan berarti keadaan jadi berangsur membaik. Kali ini bukan Pranata yang kembali menghajarnya lagi. Melainkan Hartomo, Mbah Kung dari arah sudut lain. Sekonyong-konyong datang. Mendekati Puput. Bukan membantu Puput untuk bangkit, ini malah menambah penderitaan padanya makin menjadi.

Memang sih beberapa bulan lalu. Saat Puput baru masuk sekolah di Cokro. Hartomo akrab dengan sebutan Mbah Kung ini tak begitu simpatik dengan Puput. Berulangkali dia mengutarakan maksud pada saya. Hendak menghajar Puput. Cuma belum ada kesempatan. Menunggu Puput berbuat kesalahan dulu, mungkin. Atau ini mungkin juga cara Hartomo membalas kebaikan Pranata. Bisa juga begitu. Sebab hingga peristiwa tragedi ini terjadi. Dia, Mbah Kung belum juga mengembalikan uang 50 ribu yang dia pinjam dari Pranata.

Hingga pada akhirnya dengan sedikit melakukan lompatan. Mbah Kung menyarangkan tendangan tepat mengenai dada Puput.

"BLARRRRRRR".................



1 komentar: