tentang tulisan saya?

Senin, 05 Desember 2011

Dear.... My Insomnia

Sebenarnya malam ini saya ingin sesegera mungkin tidur. Namun entah mengapa hampir tengah malam, belum juga mata ini berasa ngantuk. Entah sudah berapa minggu saya sudah tak bisa menikmati  tidur sore? Semenjak tidak lagi kerja, inilah kebiasaan saya. Melek hingga dinihari. Tak jarang juga selepas subuh baru bisa tidur. Sesuatu membuat saya galau.

Ketika pagi hingga menjelang siang. Mereka sedang giatnya beraktivitas, bekerja, "ah saya tak lebih dari seorang pemalas, menghabiskan waktu dalam impian". Mending kalau mimpi itu datang di saat malam yang indah. Ini mimpi "siang bolong" yang panas. Tapi memang itulah mimpi. Saya tak bisa menjadwalkan kapan mimpi itu harus datang dan pergi.  Dan saya tentunya juga tak bisa meminta apa mimpi saya di tidur saat ini, nanti, besok, lusa, atau minggu depan, bulan ini, bulan depan, dan tahun berikutnya. Semua di luar hak dan wewenang saya. Sebagai mahkluk kecil di jagad raya yang maha luas ini.

Mimpi dan rasa kehilangan........

Manusia memang ditakdirkan dalam hidup ini untuk melihat, mendengar, dan merasakan dua sisi yang saling bertolak belakang. Bila ada kiri sudah barang tentu ada kanan. Begitupun rasa pahit yang saya kecap. Pada akhirnya akan membuat saya tahu dan mengerti serta bisa membedakan. Ketika merasakan manis. "Ah kehilangan. Di dunia ini hampir semua mahkluk yang bernyawa pastinya pernah merasakan kehilangan. Ya. Termasuk saya. Kehilangan apapun. Barang, kepercayaan, orang yang kita cintai dan sayangi. Tapi itulah hidup yang normal. Jadi tak perlu lah terlalu hanyut menyesali semua itu. Jika pada akhirnya malah membuat diri kita hanya jalan di tempat". Tanpa ada kemajuan dalam hidup.

Toh pada dasarnya apa yang hilang sangat kecil kemungkinan untuk kembali. Atau bahkan malah tidak ada peluang sama sekali. Awal dan akhir. Hilang dan muncul.

Kehilangan dalah cikal bakal dari lahirnya sebuah harapan baru. Seharusnya saya mengerti itu.

Waktu adalah langkah. Terus melaju dan berjalan. Pasti akan menuntun saya pada harapan-harapan yang lebih indah. Jalan masih panjang dan membentang. Setiap hembusan nafas bukan tanpa tujuan. Semua pasti ada maksudnya. Hidup adalah takdir saya. Takdir hidup saya adalah untuk berusaha. Berpikir agar menjadi lebih baik. Lebih indah dari yang kemarin, hari ini, dan seterusnya.

Bila kemarin saya merasakan pahitnya kehilangan. Maka hari ini saya perlu ber introspeksi diri, bercermin atas kekurangan saya. Lalu membuka segenap pikiran. Dan menyadari bahwa, "saya pantas kehilangan". Esok hari kita mulai berpikir tentang harapan baru. Adanya kemungkinan yang lebih menjanjikan dari yang kemarin.

Berawal dari mimpi.....

Ditemani kompilasi hits-hits dari albumnya Coldplay. Melalui ponsel Nokia 5130 XpressMusic. Saya mencoba menulis cerita singkat ini.

Rasanya seperti baru kemarin saja berkenalan dengannya. Lalu bercinta dan mereguk romansa. Seperti baru kemarin juga kunikmati indahnya kebersamaan dengannya. Berbicara tentang hari depan. Indah memang ketika rajutan asmara masih terjalin. Ketika rindu menggebu terasa dunia layaknya inspirasi yang tiada habisnya. Apapun wujudnya bisa menjadi karya. Namun ketika tiba-tiba, "boom" emosi meledak. Terjadi kesalahpahaman. Perpisahan jadi kata pamungkas, untuk memecahkan masalah.

Tiada terasa perpisahan saya dengannya berujung pada mimpi. Satu mimpi yang akhirnya membuat saya menyadarinya. Bahwa sesegera mungkin kisah antara aku dan dia beberapa waktu lalu. Tak selayaknya terus menjadi beban.

Rasa syukur dan terimakasih  sebesar-besarnya pada Tuhan. Sujud syukurku pada-NYA telah memberi petunjuk lewat mimpi.

Sumpah tak mungkin saya munafik. Dia masih tetap menarik. Dengan jaket sweater merah hati. Pipinya yang ranum delima masih tetap tidak berubah. Dia menghampiri saya, mendekat. Seperti hendak mengatakan sesuatu. Namun tanpa berucap sepatah kata. Ketika kita saling berhadapan. Dia tetap membisu tanpa kata. Lalu menyerahkan sebuah buku gambar baru. Lengkap dengan crayon warnanya yang berjajar dalam kotaknya. Lalu dia bergegas pergi meninggalkan saya. Yang terpaku tanpa mengerti maksud dan tujuan pemberian itu. Saya terus berpikir. Apa ini maksudnya? Sementara saya belum tahu maksudnya. Dia malah pergi tinggalkan saya. Tak lama berselang saya menikmati kebingungan ini. "Yu tangi, yah mene isik turu wae. Kae lho ditunggu bocah arep ngeprint tugas sekolah". (Yu bangun, jam segini masih tidur aja. Itu lho ditunggu ada anak mau ngeprint tugas sekolah). Teriakan pak Manto dari luar kamar membangunkan saya. membuyarkan sesuatu yang belum ketemu maksud dan tujuannya. Tentang mimpi itu. Buku gambar dan alat warnanya.

Pikiran digelayuti tanya. Apa maksud mimpi itu?

Setelah memulihkan kesadaran mengumpulkan segenap nyawa. Aliran darah kembali normal. Saya bergegas ke kamar mandi.

Padahal kalau di awal bangun tidur biasanya gue gak langsung mandi. Tapi langsung aja ngeloyor ke mana ya?" (off the record). Gak enak kalau tanpa sensor. Entar lu semua pada gak doyan makan. Gue termasuk manusia yang masih punya etika dan kesopanan kok.Tenang aja sob.

Segarnya air benar-benar layaknya nikmat surgawi. Di siang yang panas guyuran air adalah sensasi kesegaran yang tiada tandingannya. Meluruhkan seluruh pundi-pundi kepenatan yang bersarang di raga ini. Lalu saya menutup kesegaran yang sempurna ini dengan berwudhu. Sit suit suit suit suit.........

Sholat Dzuhur, gugur satu kewajiban di siang hari. Saya masih belum bangkit dari duduk di atas sajadah. Namun tidak berdo'a maupun dzikir. Inilah kebiasaan saya. Malah melamun. You may say I'm a dreamer?" Seperti kata John Lenon. Mungkin.

Dalam melamun pikiran itu datang lagi. Membebani saya lagi. Paksa saya akhirnya harus berpikir mencari jawabannya.

Terus saya mencari jawaban, mengerahkan segenap hati dan pikiran. Sambil melafalkan mantra-mantra. "Jiwalangkajikokokbelokdemdemdem........... Jiwalangkajikokokbelokdemdemdem.............
 Jiwalangkajikokokbelokdemdemdem".  Entah sudah berapa ratus kali mantra itu keluar dari mulut gue. Apaan coba artinya, ada yang tau gak? Berharap semoga mantra itu bisa bantu gue mecahin teka-teki mimpi itu.


Tek,tek,tek,tek, detak jarum jam terus saja melaju. Sedetik, semenit, hampir sepuluh menit, masih juga buntu. Cuma satu yang tertangkap oleh saya. Cuma kesannya terlalu konyol. Bahkan teramat konyol man.

Gue, baca saya biar terkesan formal, gitu dech!" Semua orang di kampung manapun juga tahu kalau gue gak bisa melukis. Jadi gak mungkin kalau mimpi itu memberi isyarat gue berprofesi jadi pelukis. Kesimpulannya bukan itu. Terlalu konyol. Bukan duit dan pujian yang gue dapat. Malah gue kena semprot, maki, dan omelan. Istilah Jowone  "dipisuhi" dan "diclathoni". Wah..... harga diri dan kehormatan gue yang selama ini terjaga. Bisa-bisa hancur. Sejarah akan mengingatnya, kalau gue nekad jadi pelukis.

Sementara gue masih berpikir. Gak peduli mau ada orang ngeprint, mau ngetik tugas-tugas sekolah, kantor, atau apalah. Pokoknya gue harus menemukan arti dan maksud mimpi itu.



Ahayy!" Pada akhirnya saya menemukan. Membuka rahasia di balik mimpi itu. Tentang maksud buku gambar dan alat warnanya. Begini saudara-saudara yang merasa hatinya sedang dirundung galau. Sama kaya gue.

Mungkin saya bukan golongan manusia yang ahli menafsirkan mimpi. Tidak pula manusia yang mempunyai indera ke enam. Mampu menerawang apa yang ada di alam bawah sadar kita. Juga bukan Indra Lesmana ataupun Indra L Brugman. Sori dampak dari hati yang galau. Sering keceplosan.

Seperti lirik terakhir di lagu Katon Bagaskara, yang judulnya, Selembut Awan. "Kini kumengerti anganku hanya lamunan....... Kisah kita berakhir menjadi kenangan". Ya menjadi kenangan, kisah antara gue dan mantan pacar gue. Gak boleh jadi beban dalam hidup gue yang sekarang. Buku gambar dan alat warna berupa crayon itu. Adalah petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Bahwa sesegera mungkin gue harus menghapus kisah itu. Menggantikan dengan lembaran-lembaran baru. Hidup gue masih teramat berarti. Masa depan gue terlalu indah kalau hanya untuk terus menengok masa lalu. Dan apapun keadaannya gue harus tetap survive menjalani hidup ini. Sebagai awal dari hidup gue yang baru. Dan untuk mengakhiri tulisan ini.  

"Thank's GOD"........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar