tentang tulisan saya?

Selasa, 31 Mei 2011

"Hidup itu simpel ajalah"



Terkadang atau bahkan sering kita mempersulit hidup kita sendiri. Melakukan kesalahan di masa lampau, merugikan diri sendiri dan orang lain. Sering kita takut mengambil keputusan, walau kadang keputusan itu sangatlah benar. Atau tidak jarang pula kita terlalu berani dalam bersikap (berjudi / gambling) atau apalah. But everything`s pasti ada hikmahnya. Berguru pada setiap sejarah hidup tak ada salahnya bukan?? Tentu sebagai acuan kita untuk lebih bersikap bijak. Ini bukan sekedar ungkapan menilik sebuah sejarah namun lebih daripada itu. Dengan kita belajar dari sejarah hidup kita, sejarah hidup orang lain. Semoga saja kita mampu melihat masa mendatang sebagai arah yang lebih baik.

Oke, setiap orang pastinya punya masa lalu yang kemungkinan besar juga tidak terlalu terang benderang, bahkan suram. Tapi coba kita sedikit untuk menuangkan sedikit saja waktu dalam hidup kita. Untuk sejenak merenung dan berpikir tentang diri dan potensi dalam pikiran dan jiwa kita. Setiap orang punya potensi yang hebat untuk berusaha dan berubah dalam hidupnya. Tak peduli siapapun kita, seberapa banyak kuasa dan harta kita, kita punya potensi untuk berubah. Karena itu anugerah dari TUHAN yang paling luar biasa untuk manusia. Sekali  lagi bukan harta dan kuasa yang mampu membuat hidup kita bahagia. Lalu apakah kuncinya????

Hidup itu simpel dan cukup easy kalau kita tahu caranya. Tak butuh harta yang berlimpah untuk meraih itu semua. Cukup dengan niat dan usaha yang keras kita dapatkan kesimpelan dalam hidup itu sendiri. Coba kita renungkan 4 hal dalam hidup agar kunci tentang kesimpelan itu tetap kita raih dan senantiasa kita mampu mempertahankan.
1. Kita (diri kita sendiri) berlaku baik pada diri kita sendiri adalah kunci pokok agar kita bahagia (relatif harta bukan patokan). Selama kita mampu menempatkan diri kita pola hidup yang selayaknya.
2. Keluarga, berlakulah baik dan seadil-adilnya pada setiap anggota keluarga kita. Kita harus menganggap bahwa setiap anggota keluarga adalah orang-orang yang terkasih, tanpa terkecuali. Dengan begitu kita telah berusaha menempatkan diri kita sebagai orang yang layak mendapatkan kasih dan cinta dari keluarga kita.
3. Lingkungan, berlaku baik pada lingkungan sekitar tempat kita tinggal serta lingkungan di mana kita singgah. Kalau kita orang yang punya potensi kreatif dalam diri, salurkan pada lingkungan sekitar. Agar apa yang kita pelajari dalam hidup tidaklah percuma. Hanya orang-orang kreatif dan peduli yang akan menyelamatkan lingkungan dan negaranya. Dengan kita berlaku baik pada lingkungan, tidak mustahil semua orang yang ada di sekitar kita akan memperlakukan kita secara baik.
4. Ini adalah paling puncak dalam tingkah laku setiap manusia, berlaku baik pada TUHAN. Tanpa harus dengan data-data yang sangat detail tentu kita tahu bahwa seberapa besar, TUHAN telah memperlakukan manusia dengan kelimpahan kebaikan. Kita diberikan oleh-NYA sebuah bentuk paling sempurna dibanding mahkluk ciptaan TUHAN yang lain. Kita mampu berpikir dari hal termudah hingga tersulit sekalipun. Ketika kita melihat burung bisa terbang, pada akhirnya ada sebagian dari manusia mampu membuat sebuah pesawat terbang. Saat manusia berada pada tempat terpisah yang sangat jauh dari orang-orang terkasih, ada pula dari sebagian mahkluk bernama manusia mampu menciptakan alat penghubung jarak jauh mulai dari telepon, hinnga  ponsel beraplikasi canggih. Serta tak ketinggalan media komputer jadi sarana kita ber relationship dengan pihak lain. Bukankah itu semua membutuhkan sebuah pikiran yang cukup baik. Dan pada akhirnya kitapun menyadari dari mana asal anugerah pikiran itu datang. Bukankah itu dari TUHAN. Kurang apa coba kita sebagai manusia?????

Jadi itulah kunci hidup bahagia menurut pikiran dan gagasan dari hasil proses saya belajar. Sekali lagi janganlah kita merasa hidup itu rumit, hidup itu simpel jika 4 hal tersebut di atas terpenuhi. Bila ada masukan dan kritikan yang saya sangat mengharapkan itu semua. Karena saya ingin hidup saya "SIMPEL"

"Polemik Belajar Di Negeri Yang Gemah Ripah Loh Jinawi ini"



Sebagai kajian bila memang perlu untuk kita mengkajinya. Sebagai wacana bila cerita ini memang pantas untuk kita ceritakan dan bicarakan. Namun kita perlu membuang apa yang ada dalam tulisan saya ini bila tak ada unsur yang berarti bagi kita dan masa depan negeri ini.

Kadang dalam kehidupan kita, sering menjumpai seorang anak sekolah pada saat malam hari menjelang waktu isya' tak bergegas membaca buku pelajaran sekolah. Tiada kunjung menuju rumah untuk belajar.
 Ada apa gerangan?????
"Sering ada jawaban karena tak ada buku, sebab orangtua belum mampu membelikannya".
Itu jawaban yang memang patut untuk mendapatkan toleransi.

Namun jika pada kenyataannya terungkap sebuah kenyataan
yang sangat sulit kita terima sebagai alasan yang tepat???

Ketika seorang anak pada kebingungan dengan belajarnya, yang membutuhkan buku. Saat mereka butuh sarana untuk menyiapkan masa depan agar hari depannya cerah. Agar mereka mampu menjadi generasi yang ampuh untuk negeri yang dicintai. Tapi pada kenyataanya apa yang dilakukan oleh si Bapak saat melihat anaknya dalam situasi terjepit. Membutuhkan dukungan sarana penunjang guna terwujudnya cita-cita.

Sang Bapak malah sibuk dengan deretan angka undian, berhadiah yang besar jumlahnya juga menggoda bathin untuk memiliki. Mereka kadang lupa ada sebuah tanggung jawab untuk menjaminkan kemajuan pada anak-anaknya. Mereka menggilai deretan angka yang mereka anggap mampu meningkatkan taraf hidup dalam waktu sekejap. Togel, undian judi nomor yang begitu kental menjadi budaya dan jalan pintas agar cepat kaya. Ternyata mampu membakar sebuah cita-cita luhur generasi muda. Sebuah pengaduan nasib yang tak pasti, membuang hasil keringat dari proses bekerja. Tak sadar investasi terbesar dalam hidup manusia adalah mendidik anak. Memintarkan seorang manusia.

Kenapa mereka, para Bapak itu tidak memilih untuk menabungkan uangnya?
Lalu setelah jumlahnya cukup untuk membelikan anaknya buku. Bukankah itu lebih pasti, lebih rasional, lebih dapat kita terima dengan akal pikiran yang waras???? 

Daripada harus menaruhkan hasil kerja belum tentu pasti ada hasil positif, mendingan sepenuhnya tersalurkan untuk sang anak dan pendidikannya. Pasti anak akan tambah pintar, bertambah ilmunya bahkan bisa lebih daripada itu. Mampu menjadi orang penting negeri ini. Dan pastinya akan lebih membanggakan bila semua itu dapat terwujud..............

Inilah kelemahan kita tapi kadang kita tak menyadarinya

Lalu di sudut lainnya seorang anak yang butuh pendamping dalam belajar, butuh teman berbagi bila ada kesulitan dalam mengerjakan tugas sekolah. Sering para orangtua juga lalai dalam hal sepele tapi sangat berperan penting dalam tumbuh kembang anak. Menuju kemajuan dalam perkembangan dirinya. Si Ibu malah asik menikmati sinetron yang jelas-jelas bukan hal itu yang harus didahulukan. Yang jelas-jelas hal semacam itu bukan cara tepat untuk mendukung anaknya. Sementara si Bapak malah sibuk di warung-warung kopi, tanpa mampu untuk sedikit menunda kegiatan tersebut untuk mengamati anaknya dalam belajar. Ibu malah antusias dengan cerita sinetron yang mengharu birukan perasaan.

Dengan alur cerita, "Ini anaknya itu, itu  anaknya ini".

Saking asiknya dengan cerita yang konon bisa memotivasi orang untuk mempunyai rasa kemanusiaan yang tinggi. Kadang sampai tak sadar. Sampai lupa bahwa "Anakmu itu butuh teman dalam belajar". Butuh dukungan untuk menata masa depannya. Karena masa depan mereka bukan sesuatu yang datang secara tiba-tiba, melainkan proses yang terbentuk dari ketelatenan, kedisiplinan, juga kesabaran yang tak ada batasnya. Anak akan berkembang bila ada perhatian terhadap proses belajarnya.

Ini cuma sebagai bahan perenungan dan pemikiran kita semua. Kadang hal yang ironi semacam ini sering terjadi pada masyarakat kita. Tak perlu kita berkecil hati dengan kenyataan ini, asal kita berusaha keras untuk merubahnya. Kita bangsa yang punya potensi besar untuk maju dan berkembang. Sumber Daya Manusia yang melimpah jumlahnya, Sumber Daya Alam nyaris semua tersedia di sini.

Dan bagaimana pula jika TUHAN menghendaki negeri ini maju??
Dan bagaimana pula jika TUHAN mengijinkan dan memberi restu pada negeri ini??
Itu semua sangat mungkin terjadi............................
Inilah negeri kita yang "Gemah Ripah Loh Jinawi" ini.

Ini cuma buah dari pemikiran saya sendiri, selama saya hidup sampai sejauh ini. Pengamatan sederhana ini memang kadang terjadi dalam hidup sehari-hari. Mungkin ini bukan sebuah karya ilmiah seperti para pakar-pakar pendidikan mampu mengupas lebih dalam tentang polemik dan problematika yang melanda anak pelajar negeri ini. Tapi dengan tulisan ini semoga mampu memacu diri saya untuk terus belajar dan belajar.

Dan terakhir, saya sadar kemampuan saya dalam berpikir, mengupas suatu masalah, lalu mencoba mencoba menulis masih jauh dari kata "pantas" maka inilah saat yang tepat. Saya meminta pertimbangan guna masukan agar saya lebih giat dalam belajar lagi..........................