tentang tulisan saya?

Kamis, 27 Oktober 2011

"WOW"

Saat tiba di tempat ini kita akan terjebak aroma daun teh yang terbawa oleh hembusan angin. Lokasi tempat ini berada di kecamatan Sine, masuk dalam wilayah kabupaten Ngawi.  Jawa Timur. Dari kendal menuju Ngrambe, jalur arah Jogorogo. Nama lokasi wisata ini Kebun teh Jamus. Jika hendak ke tempat ini alangkah baiknya menggunakan sepeda motor. Agar dalam menikmati suasana tak terhalang oleh apapun. Kanan kiri jalan hamparan sawah hijau membentang. Terlalu sayang untuk dilewatkan.

Bahu jalan relatif agak lebar, aspalnya juga lumayan halus. Ada kejutan jalan tanjakan, menurun tajam, namun kondisi jalan cukup aman untuk dilalui. Ketika hendak memasuki area ini kita akan melihat. Sekelompok lelaki dan perempuan paruh baya mengumpulkan ranting-ranting kering. Setelah menjemur di pinggir jalan. Tak peduli lelaki dan perempuan ternyata mereka cukup bertenaga. Menggendong seikat ranting-ranting kering di punggung mereka. Jalanan aspal yang mendaki, naik turun tak membuat kokoh kaki-kaki mereka mengendur. Mungkin sudah terbiasa.
Untungnya sepeda motor yang dikemudikan Pak Manto cukup punya tenaga untuk menandingi medan yang lumayan berat ini. Saya hanya menikmati perjalanan ini. Duduk di belakang. Mengapit si Gisan anak SD kelas 1 ini. Sambil menoleh kiri kanan. Memerhatikan setiap panorama di sekitar kami. Pohon-pohon tinggi menjulang. Barisan bukit-bukit nan hijau. Berbalut indahnya daun-daun teh.
Lagi dan lagi. Tempat ini akan menghadapkan kita pada masa lalu negeri ini. Perkebunan teh ini merupakan peninggalan dari pemerintah Kolonial Belanda. Pertama kali dikembangkan pada tahun 1886 oleh seorang pengusaha asal negeri kincir angin, Van Der Rap. Ingat ya!" Bukan Van Der Sar!"
Tahun berganti. Waktu terus berjalan. Hingga pada tahun 1973 beralih dikelola oleh pihak swasta. PT CANDI LOKA yang merupakan pengelola ke 13. Kebun Teh Jamus dikelola berdasarkan SK Hak Guna Usaha (HGU) terbaru No. 12/HGU/BPN/2001 dengan luas areal 478,2 hektare.
Perkebunan yang berada di ketinggian 800 hingga 1.200 mdpl (meter di atas permukaan laut) tergolong dalam dua jenis tanah. Tanah yang berasal dari abu gunung berapi (andosol). Lalu tanah berbutir  kasar yang berasal  dari material gunung api (regosol).
 
Sebuah pemandangan yang membuat saya takjub. Bukit yang tertutup oleh rimbun dan hijaunya daun teh. Bentuknya menyerupai candi Borobudur. Sehingga bukit ini dinamakan "Borobudur Hill", bukit Borobudur.
Bukit itu bak raksasa. Tingginya 35,4 meter. Sementara luasnya 3,54 ha. Sekitar 35.400-an pohon teh tumbuh di bukit itu. (Padahal belum pernah gw ngitung jumlahnya). Dari kejauhan pohon-pohon teh itu tampak berundak-undak.  Namun sayang, kedatangan saya kali ini sebenarnya terlambat. Kabut berangsur memburu waktu. Sore menjadi pekat. Rintik gerimis mengusaikan keasyikan saya. Hingga saya tak sempat menaiki "Borobudur Hill" itu. Namun saya harus tetap bijak. "Meglio Tardi Cemai" kata orang Italy. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Padahal di puncak bukit itu, konon ada tersisa beberapa pohon teh yang sengaja tidak dipangkas. Tingginya mencapai 2 meter. Pohon teh yang berusia lebih dari seratus tahun. Merupakan pohon teh gernerasi pertama yang ditanam oleh Van De Rap. Yang kalau saya artikan nama itu mungkin adalah Van yang suka Dengan lagu Rap. Ahh.. Lagi-lagi maksain. Jadi ngawur gitu. BABAHNO!"
 


Ternyata akhirnya saya sadar. Bahwa mata manusia, hati, dan pikiran manusia memang terkodrat untuk tergoda. Kelelahan semalam selepas menonton konser GIGI. Sabtu malam minggu 22 Oktober 2011. Dalam tajuk REUNION. Tak membuat godaan untuk bercumbu dengan keindahan alam semesta pudar begitu saja. Gambar barisan pepohonan di kebun teh Jamus ini adalah bukti kongkrit saya hari ini. Minggu 23 bulan ke sepuluh tahun 2011 Masehi.






Nasib sial lagi-lagi menaungi saya di hari ini. Bukan sial sih sebenarnya. Melainkan kurang mujur akibat minimnya persiapan. Sebuah monumen alam yang berusia lebih dari seratus tahun ada di hadapan kami. Pohon kantil raksasa. Masih juga tegak menantang angin, kokoh pula dia berdiri. Usianya memang telah renta namun semakin gagah saja pohon ini berdiri. Namun apa mau dikata, nasib memang belum berpihak pada saya. Ketika saya mengambil kamera sederhana dalam tas punggung saya. Batereinya sudah sekarat.

Ahhh... Kenapa tidak dari tadi pagi saya melakukan pengisian baterei?" Gumam sesal saya dalam hati. "Kenapa baru setengah jam sebelum berangkat baru saya charge's?" Apapun penyesalan saya hari ini, saat ini, detik ini pula. Toh tak akan membuat energi pada baterei kamera saya bertambah. Saya akhirnya menyadari betapa pentingnya arti sebuah kata persiapan. "Prepare"................

"Cerita Ringan Menjelang Malam"



Pria ini ,teman saya umurnya 37 tahun. Dua kali menikah, betapa berat beban hidupnya di pernikahan pertama. Harus tertambat di tengah jalan. Mertuanya ternyata hanya setengah hati menerimanya. Hanya sebab karena penghasilan yang tak memenuhi standar mertuanya. Tapi apa yang sebenarnya dia usahakan juga tidaklah buruk. Hidup sederhana, tanpa hutang, makan seadanya dengan anak istri. Namun apa mau dikata. Penilaian tentang hidup berumah tangga masing-masing orang adalah relatif. Ada yang bahagia hidup dalam kesederhanaan. Ada pula, gelimang harta kekayaan jadi tolok ukur. Atau semua adalah nisbi?"


Ini adalah pernikahan keduanya. Belum juga dikaruniai anak. Wiwin terus saja mengobral unek-uneknya dalam hatinya. Dia cukup berbahagia sebenarnya. Namun bayangan tentang anak dari istri pertamanya nyaris melinangkan air matanya. Tetap saja dia bertahan. Menikmati kebahagiaan yang tersisa.


Sambil bersandar pada dinding masjid yang selaras warnanya dengan baju koko yang ia kenakan. Kedua matanya tampak segaris. Kumisnya jarang-jarang. Bulu-bulu jenggotnya beberapa helai.


Saya menjadi pendengar setia atas keluh kesahnya. Hari-harinya memang terkadang berat. Sebagai tukang parkir di jalan Delima Madiun. Selatan kantor Pegadaian kota ini. Penghasilan bukan jadi bebannya. Lebih pada suasan kerja. Sepanjang hari berada pinggir jalan. Meladeni orang dari berbagai macam karakter. Ada yang tipikal keras, suka bercanda, enak di ajak ngobrol, ada pula yang dingin menganggap remeh dirinya. Hidup memang selalu saja ada sekat pembatas. Antara orang bawahan tak berpunya kedigdayaan. Dan orang besar dengan segala reputasi tertumpuk di pundaknya. Selalu ada kotak pembeda.


Wiwin cuma bisa bilang, "kalo bukan karena terpaksa mungkin aku sudah tinggalkan perkerjaan jadi tukang parkir". Begitulah kalimat itu terlontar dari bibirnya.


Dia tinggal bersama istri keduanya. Rumah warisan orang tua adalah hak miliknya penuh. Sebab Wiwin adalah anak tunggal. Kedua orang tuanya telah berpulang ke hadirat Sang pemilik semesta raya ini.


Sempat juga terkadang dia mengeluh. Mengiri pada orang yang punya kakak ataupun adik. Bukan dia tak bersyukur atas keadaannya. Namun beban hidup juga terkadang perlu untuk dibagi. Agar dalam mencari jalan keluar ada yang membantu. Menimbang dan memilih cara yang tepat kata lainnya. 


.......................................


"Andai kata Ibuku masih ada, mungkin nasib tidak akan seperti ini". Aksen bicaranya sedikit berat dan tertahan di tenggorokan. Berat rasanya dia ingin berucap demikian. Seolah memprotes kehendak Illahi. Tapi bukan itu maksud Wiwin.Dirinya tahu pastinya, bahwa setiap kehendakNYA adalah yang terbaik untuk semua mahkluk.


Ibunya memang telah lama tiada. Namun kebanggaan itu tak pernah luntur. Untaian kata, "surga di telapak kaki ibu" benar-benar terpatri olehnya. Mendiang ibunya dulu adalah seorang guru sekolah dasar.


.............................


"Yu mendingan setiap lewat tengah malam kamu bertahajud!" Anjuran Wiwin pada saya. Agar apa yang saya inginkan dan cita-citakan cepat mendapatkan jalan. Alias terkabul. Dan yang paling dia singgung dalam hal ini adalah jodoh. Sesuatu yang sampai sekarang, saya tak tahu bagaimana menjawabnya. Berpikir ke arah situpun tampaknya belum cukup bekal. Entah apa sebabnya?" Akupun juga tak tahu.


Perkataan Wiwin benar-benar menjebak saya dalam lamunan. Berkontemplasi. Bagaimana kehidupan saya di masa datang?" Ketika sore menjelang senja. Menikmati secangkir kopi hasil racikan istri saya. Lalu anak saya menunjukkan nilai agama, matematika, tugas mengarangnya, bahasa Inggrisnya yang memuaskan. Tak lupa budi pekertinya luhur. Tentang pemahaman Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.


Semua berjalan begitu saja. Lamunan itu, segala keinginan ibarat aliran air dan udara. Bersirkulasi. Selalu ada pergantian.


Wiwin terus berargumen tentang sarannya. Sementara saya hanya sibuk melukis pikiran tentang masa depan yang indah. Hanya sekilas-sekilas kata saya menanggapinya. Sebab biarpun sampai mulutnya berbusa toh dia tetap Wiwin. Bukan Da'i-da'i kondang yang sering nongol di layar televisi. Namun juga tak ada salahnya bukan?" Jika sesama umat manusia saling memberi nasehat. Satu dan lainnya.


Lantunan ayat-ayat Al-Qur'an lirih terdengar. Nemun aksen dan cara bacanya terdengar fasih. Mbak Yulaikah namanya. Orang-orang akrab memanggil ibu dua orang anak ini, dengan sebutan Mbak Yul. Masih dengan pakaian sholatnya. Menghadap barat agak miring ke kiri. Beralaskan sajadah biru warnanya.


Mengisi waktu jeda maghrib menuju isya'. Biasa dan rutin dengan membaca Al-Qur'an. Wiwin masih mengoceh tentang dalil-dalil untuk hidup berumah tangga.


Wawan Jempug asik dengan dunianya sendiri. Bertafakur. Duduk bersila di bawah kipas angin yang baling-balingnya seakan enggan untuk berhenti. "Tak....tak...tak".  Jari tangan sebelah kanan memutar tasbih 33 butir jumlahnya.Coklat susu berhias pernik-pernik kaligrafi kecil pada tiap butirnya. Hampir tiga tahun sudah si Wawan Jempug kembali lagi menjadi penghuni masjid ini. Baitur Rahmah. Semenjak peristiwa naas menimpanya. Kedua matanya kini sudah tidak normal lagi alias buram untuk melihat. Itu lantaran minuman keras yang dia tenggak tiga tahun yang lalu berefek samping separah itu. Namun ia tak sendiri. Ada si Yoyon Tupai juga mengalami nasib yang sama. Tak beda jauh dengannya. Si Yoyon Tupai akhirnya juga menyusul Wawan Jempug kembali ke jalan yang benar.


"Ketika pandangan mata gelap. Justru matahati yang menuntun ke jalan yang terang"


...............................


Mas Edi belum juga datang jam segini. Andai saja dia datang pasti akan mampu memecah kemonotonan bersama Wiwin. Atau andai kata pintu masjid ini adalah sebuah lorong untuk menembus dimensi dan lorong waktu. Maka saya akan melompat. Pergi meninggalkan si Wiwin. Bergabung bersama suku bangsa Dwarf dan Elves. Lalu dengan pedang (Aragorn) dan panah (Legolas) melawan raja kegelapan Sauron. Eh itu cerita  film "The Lord Of  The Ring" ding...!".


Selalu ada saja bahan dari mas Edi untuk melakukan penggojlokan pada Wiwin. Perploncoan. Uji mental. Untuk Wiwin yang kerap kali kehabisan argumen guna mengimbangi.
"Win, sekali-kali nek parkiran rame cah-cah yo ajak'en ngopi"
(Win, kalo parkiran kamu pas rame sekali-kali traktir ngopi dong)
"Aku gak pernah ngopi Ed.. Edi!" Jawab Wiwin.
"Aku gak tanya kamu pernah ngopi apa gak, ini cuma sekali-kali. Lagian kalo gak ngopi kamu bisa minum teh, es teh, es jeruk, wedang jeruk, es tomat, wedang tomat, apa wedang jahe. Warunge Pak Timbul kuwi komplit lho Win!" Mas Edi coba membujuk.
"Aku gak hobi ke warung". Tangkas Wiwin dengan tegas.
"Berarti kamu terlalu eman (pelit). Ternyata percuma kalo tiap Pak Narso ceramah tentang sifat aweh (suka memberi). Di kupingmu cuma mapir sebelah kiri lalu keluar lewat lubang sebelah kanan". Sambil menjewer kuping Wiwin. Mas Edi berkata panjang lebar. Lalu Wiwin hanya diam saja. Tak kuasa berbuat apa-apa. Sebab saya, Wawan Jempug dan Om Soyo ikut membumbui. Memojokkan Wiwin.


........................................


Itu cuma guyonan ala mas Edi. Tak ada maksud yang berarti. Dan itu merupakan hal yang biasa. Sama seperti yang kemarin-kemarin. Bahkan mas Edi pun sebenarnya terlalu baik untuk Wiwin. Pemuda yang setiap malam bekerja di penginapan bernama Langgeng itu peduli sama Wiwin. Sudah berapa ratus gelas plastik kosong, bekas air putih kemasan dia kumpulkan. Lalu disuruhnya Wiwin untuk membawanya pulang. Lumayan kalau sudah terkumpul banyak. Buat tambah-tambah beli cabe dan bawang.


Wiwin menganggap perlakuan mas Edi padanya hanyalah nasi sayur. Guyonan itu tak ada maksud apa-apa. Hanya gurauan. "Edi itu orangnya peduli", begitulah ujarnya pada saya. Terbukti dari gelas-gelas plastik itu. Selain dia kumpulkan. Itupun sudah dalam keadaan bersih dan tertata rapi. Wiwin hanya tinggal mengambilnya saja. Mebawa pulang dan dikumpulkan untuk kemudian dijual. Mas Edi tak pernah meminta bagian. Semua hasil untuk Wiwin.


Mas Edi adalah orang yang mengabdikan diri untuk kemakmuran masjid ini. Setiap ada kerusakan sarana di masjid ini. Pasti tenaga dan pikiranya jadi yang pertamam sibuk mengurusi. lampu, selokan, kran, kebersihan masjid. Hampir semua dia yang menangani.


Belum rompi latihan dan seragam bertanding Tanjung Anom. Dia pula yang mengurusi. Hingga saya menarik kesimpulan bahwa. "Kebahagiaan hidup seseorang terletak pada peran, fungsi dan kepedulian di masyarakat. Apalah arti segudang reputasi bila tak ada kontribusi buat lingkungan dan masyarakat".