
Saat tiba di tempat ini kita akan terjebak aroma daun teh yang terbawa oleh hembusan angin. Lokasi tempat ini berada di kecamatan Sine, masuk dalam wilayah kabupaten Ngawi. Jawa Timur. Dari kendal menuju Ngrambe, jalur arah Jogorogo. Nama lokasi wisata ini Kebun teh Jamus. Jika hendak ke tempat ini alangkah baiknya menggunakan sepeda motor. Agar dalam menikmati suasana tak terhalang oleh apapun. Kanan kiri jalan hamparan sawah hijau membentang. Terlalu sayang untuk dilewatkan.
Bahu jalan relatif agak lebar, aspalnya juga lumayan halus. Ada kejutan jalan tanjakan, menurun tajam, namun kondisi jalan cukup aman untuk dilalui. Ketika hendak memasuki area ini kita akan melihat. Sekelompok lelaki dan perempuan paruh baya mengumpulkan ranting-ranting kering. Setelah menjemur di pinggir jalan. Tak peduli lelaki dan perempuan ternyata mereka cukup bertenaga. Menggendong seikat ranting-ranting kering di punggung mereka. Jalanan aspal yang mendaki, naik turun tak membuat kokoh kaki-kaki mereka mengendur. Mungkin sudah terbiasa.
Untungnya sepeda motor yang dikemudikan Pak Manto cukup punya tenaga untuk menandingi medan yang lumayan berat ini. Saya hanya menikmati perjalanan ini. Duduk di belakang. Mengapit si Gisan anak SD kelas 1 ini. Sambil menoleh kiri kanan. Memerhatikan setiap panorama di sekitar kami. Pohon-pohon tinggi menjulang. Barisan bukit-bukit nan hijau. Berbalut indahnya daun-daun teh.
Lagi dan lagi. Tempat ini akan menghadapkan kita pada masa lalu negeri ini. Perkebunan teh ini merupakan peninggalan dari pemerintah Kolonial Belanda. Pertama kali dikembangkan pada tahun 1886 oleh seorang pengusaha asal negeri kincir angin, Van Der Rap. Ingat ya!" Bukan Van Der Sar!"
Tahun berganti. Waktu terus berjalan. Hingga pada tahun 1973 beralih dikelola oleh pihak swasta. PT CANDI LOKA yang merupakan pengelola ke 13. Kebun Teh Jamus dikelola berdasarkan SK Hak Guna Usaha (HGU) terbaru No. 12/HGU/BPN/2001 dengan luas areal 478,2 hektare.
Perkebunan yang berada di ketinggian 800 hingga 1.200 mdpl (meter di atas permukaan laut) tergolong dalam dua jenis tanah. Tanah yang berasal dari abu gunung berapi (andosol). Lalu tanah berbutir kasar yang berasal dari material gunung api (regosol).
Sebuah pemandangan yang membuat saya takjub. Bukit yang tertutup oleh rimbun dan hijaunya daun teh. Bentuknya menyerupai candi Borobudur. Sehingga bukit ini dinamakan "Borobudur Hill", bukit Borobudur.
Bukit itu bak raksasa. Tingginya 35,4 meter. Sementara luasnya 3,54 ha. Sekitar 35.400-an pohon teh tumbuh di bukit itu. (Padahal belum pernah gw ngitung jumlahnya). Dari kejauhan pohon-pohon teh itu tampak berundak-undak. Namun sayang, kedatangan saya kali ini sebenarnya terlambat. Kabut berangsur memburu waktu. Sore menjadi pekat. Rintik gerimis mengusaikan keasyikan saya. Hingga saya tak sempat menaiki "Borobudur Hill" itu. Namun saya harus tetap bijak. "Meglio Tardi Cemai" kata orang Italy. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Padahal di puncak bukit itu, konon ada tersisa beberapa pohon teh yang sengaja tidak dipangkas. Tingginya mencapai 2 meter. Pohon teh yang berusia lebih dari seratus tahun. Merupakan pohon teh gernerasi pertama yang ditanam oleh Van De Rap. Yang kalau saya artikan nama itu mungkin adalah Van yang suka Dengan lagu Rap. Ahh.. Lagi-lagi maksain. Jadi ngawur gitu. BABAHNO!"
Ternyata akhirnya saya sadar. Bahwa mata manusia, hati, dan pikiran manusia memang terkodrat untuk tergoda. Kelelahan semalam selepas menonton konser GIGI. Sabtu malam minggu 22 Oktober 2011. Dalam tajuk REUNION. Tak membuat godaan untuk bercumbu dengan keindahan alam semesta pudar begitu saja. Gambar barisan pepohonan di kebun teh Jamus ini adalah bukti kongkrit saya hari ini. Minggu 23 bulan ke sepuluh tahun 2011 Masehi.
Nasib sial lagi-lagi menaungi saya di hari ini. Bukan sial sih sebenarnya. Melainkan kurang mujur akibat minimnya persiapan. Sebuah monumen alam yang berusia lebih dari seratus tahun ada di hadapan kami. Pohon kantil raksasa. Masih juga tegak menantang angin, kokoh pula dia berdiri. Usianya memang telah renta namun semakin gagah saja pohon ini berdiri. Namun apa mau dikata, nasib memang belum berpihak pada saya. Ketika saya mengambil kamera sederhana dalam tas punggung saya. Batereinya sudah sekarat.
Ahhh... Kenapa tidak dari tadi pagi saya melakukan pengisian baterei?" Gumam sesal saya dalam hati. "Kenapa baru setengah jam sebelum berangkat baru saya charge's?" Apapun penyesalan saya hari ini, saat ini, detik ini pula. Toh tak akan membuat energi pada baterei kamera saya bertambah. Saya akhirnya menyadari betapa pentingnya arti sebuah kata persiapan. "Prepare"................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar