tentang tulisan saya?

Minggu, 20 Maret 2011

"DAUN dan RANTING"



Daun, begitu gadis ini di sapa wajahnya manis pipinya ranum seranum delima merekah. Tampilannya sederhana tapi energik dalam berfikir, otaknya encer. Punya kemampuan ilmu pengetahuan, ya di atas rata-ratalah diantara sekian temannya. Maka dari itu tak jarang pujian melayang kepada dirinya. Ini adalah 4 bulan pertamanya merasakan kelas terakhir pada pendidikan dasar formal tertinggi yaitu SMU. Kelas pilihannya pun juga tak main-main,dia ambil jurusan IPA. Maklum nilai ilmu pasti matematika, fisika, kimia dia menjulang tinggi. Tambahan lagi bagaimana dia begitu berkuasa dalam bidang ilmiah biologi. "Bukan main kecerdasan anak ini". Kebanggaan orang tua pastinya.

Di SMU Bugenfil gadis ini mencari bekal ilmu untuk hidup di hari kemudian. Sekolah Menengah Umum swasta di kota ini walau bukan sekolah favorit. Namun bukan berarti tak punya kualitas dalam proses pendidikan. Bukti paling kongkrit dan nyata adalah Daun  gadis energik dan berotak encer. Begitu sekilas tentang Daun yang manis berpipi ranum pandai kebanggaan semua.

Pagi begitu sumingrah dengan senyum sang mentari tambah meriah dengan nyanyian burung pemanis alam semesta. Namun daun belum juga nampak keluar dari rumah,padahal biasanya tepat di pukul 06.15 dia sudah menampilkan wujud pada pagi. Ya pagi, ini dia sedikit terlambat bangun tak seperti biasanya, pukul 05.30 masih terlalu dingin untuknya di hari ini. Bahkan di jam 06.15 Daun baru tampak bersolek menghias tipis wajahnya dengan usapan bedak sekedar seperti biasa berdandan ala kadarnya. Tak perlu terlalu menor sebab sekolah butuh daya pikir untuk modal mendapat ilmu. Bukan ajang atau kontes kecantikan atau pemilihan puteri sejagat. Sementara dia bersolek Rimba cowok berbadan tegap berpostur ideal atletis (pastinya sang arjuna nona Daun). Menunggu dengan rasa keheranan tak percaya "Kok tumben ya bi daun terlambat?". Kalimat tanya pada bibi pacarnya.
"Ah tanya aja sendiri pada Daun".  Jawab Bibi Asih yang merupakan adik dari ayahnya Daun.
"Ya udah lah Bi, Rimba tunggu aja Daun".
Sambil mengambil permen dalam kantong saku putih seragamnya.
"kalau  gitu  Bibi  mau  lanjutin,  bersih-bersih aja dulu". Bi Asih berlalu meninggalkan Rimba.
"Hey pagi, sory agak telat nih". Tiba-tiba muncul suara berwujud gadis yang ditunggu mengabarkan keterlambatan pada Rimba.
"Pagi  juga Daun,ayo buruan berangkat" tanpa basa-basi Rimba raih tangan si manis Daun.
Bersama berdua di atas vespa merah mengkilap menyusuri jalanan suasana cerah hias pagi menuju Bugenfil school.

 Tiga  malam  sudah  Daun  tak begitu  nikmat dalam tidur, selalu  dalam  keadaan  larut  dia  baru  terlelap.
Apa gerangan penyebabnya?? Tiadakah dia merasa kantuk atau tak ingin berhasrat tidur mungkinkah terpikirkan beban?? Daun tak terpikirkan beban apapun dia tak terbebankan apapun. Di kota ini tugasnya hanya sekolah dia adalah titipan orang tuanya untuk di asuh Bibinya.  Ayahnya menjalankan tugas berkala dari satu kota ke kota lain. Sedang Ibunya turut serta dalam tugas berkala itu. Karena itulah Daun jadi tanggungan serta pengawasan Bibi Asih. Malam hari Daun akhir-akhir ini sungguh perih tak dapat tenang dalam peristirahatan. Suara dari seberang jendela kamarnya adalah penyebab, setiap datang waktu untuk tidur selalu saja ada denting irama musik dan pria bernyanyi dengan suara keras, bukankah itu malah sebagai kidung penghantar tidur. Aturan itu tak berlaku untuknya, dia gadis yang butuh ketenangan saat tidur dan juga belajar. Itulah kondisi yang tak bisa di tawar, namun peduli amat dengan Daun, pemuda yang baru 2 minggu menjadi tetangganya itu masih saja berdendang merusak hasrat kantuknya. Hingga akhirnya tidur adalah jadi barang mewah dalam 3 malam terakhir Daun. Dan yang paling parah barang mewah ini tidak bisa ditawar apalagi dibeli.

"Malangnya  nasibmu  Daun  yang  manis".
Gumam  lirih  sang  angin  malam  pada  kelesuan  Daun.

Bel bertenaga elektrik pada SMU Bugenfil menandakan berakhirnya proses perjalanan ilmu pada komunitas formal itu telah usai. Daun meninggalkan kepenatan kelas yang berisi deretan rumus-rumus arogan. Seperti meriam yang siap meluncurkan daya ledak berikut bunyi dentuman dahsyat. Rumus tentang senyawa atom atau apalah hingga membuat sesak dada. Belum lagi harus berjumpa sama yang namanya Logaritma selalu membuat patah hati untuk bidang ini. Ketika menjumpai rumus suatu gelombang serta menghitung suatu kecepatan gaya, dalam hal ini selalu sinis untuk menyikapi (bukan hal yang menarik).
...................................................................................................................................................

Seperti  layaknya  tiga  malam sebelumnya,  Daun terganggu sekali dengan suara nyanyian seorang pemuda.
Seusai selesaikan tugas-tugas rasa kantuk telah mengisyaratkan waktunya telah tiba. Tetapi suasana sungguhlah tak bersahabat, ibarat berimajinasi kini Daun berada dalam medan pertempuran dengan musuh. Membentengi telinga dari suara memekakkan, padahal sebenarnya pemuda itu begitu merdu bernyanyi. Terhalang sebuah jendela kayu, tertutup tepat di depan jendela kamar Daun pula. Mungkin itu lah anggapan pemuda itu pada suaranya. Atau sekedar ungkapan hati agar merasa kepercayaan dirinya tetap saja ada.

Nasib Daun yang harus menerima ancaman di pergulatan malamnya. Padahal besok pagi tak ada kata untuk bertoleransi pada waktu, terlambat sama dengan bunuh diri. Rumus untuk hasil pasti. Pemuda itu tak ambil peduli, mungkin baginya syair lagu yang berkumandang darinya adalah satu idealis untuk disebarluaskan. Tetap tak bergeming pada keputusannya, durasi pengisi malam yang sepi tetap stabil tak berubah. 2 jam adalah harga mati untuk sebuah pertunjukkan malam tanpa  wujud yang tampak. Tanpa berbayar pula, penikmat tak perlu khawatir berapa kocek dalam saku yang harus dikeluarkan. Dari jam sepuluh malam biasa sampai pukul duabelas malam itu suatu keharusan tak bisa ditawar. Jadi itulah ukuran semacam takaran seberapa lama daun menemani tembang-tembang pemuda itu. Gerutu,  cacian, makian, umpatan tak tergubris sama sekali.
"Semua orang saja bisa tidur, kenapa kamu malah terganggu?"
"Tak kau perhatikankah, sekitarmu begitu terlelap dalam mimpinya?"
"bukan tanpa alasan pasti karena tembang aku". Mungkin itulah rangkaian kalimat sangkalan dalam hati.
Oleh pemuda itu, atas makian kesal dari daun. Yang dengan terpaksa pada akhirnya tidur pagi dan sekali lagi terlambat bangun, juga terlewatkan sudah acara sarapan pagi.
..................................................................................................................................................

Rimba terus saja menatap wajah manis Daun di sela-sela nikmati semangkuk bakso. Ya karena terlambat bangun seperti pagi-pagi sebelumnya, tak sempat untuk menikmati sarapan. Lambungnya berontak melilit pada keadaan akut, waktunya bekerja menerima asupan makanan. Dasar ilmu pengetahuan alamnya selalu saja mendetail dalam mengupas setiap fungsi-fungsi organ tubuh. Entah itu bagian dalam tubuh manusia ataupun bagian luarnya. Setelah itu menciptakan suatu macam reaksi apabila dari organ tersebut terdapat penyimpangan dalam perlakuan.

"Ohh teratasi sudah masalah lambung".
Tanpa rasa canggung pada sang kekasih Daun tampakkan rasa lega pada lambungnya. Sementara telapak tangan bagian kanan elus-elus perut rampingnya. Kini  Daun  menenggak segarnya es teh bikinan Ibu pengelola kantin hijau itu. Tak lama berselang bel masuk kembali menyeruakkan tanda kembalinya pada aktivitas belajar. Rimba bergegas menuju kelas IPS setelah menggiring sang  bidadarinya ke habitat IPA yang sudah terpenuhi molekul-molekul angkuh itu. Siap mengisi dan memaksa para komunitas di dalamnya untuk menjadi pemikir ampuh.  Bugenfil yang segar suatu komunitas para calon cendekia muda. Beruntungnya negara ini punya begitu banyak sumber daya manusia.

Waktu berlalu, siangpun berlalu, haripun juga berlalu. Beriring makin bertambahnya tumpukan ilmu. Hal biasa dalam kehidupan daun menjalani aktivitasnya. Rutinitas formal telah usai di hari ini, tinggal menunggu malam.

"Waktunya istirahat siang".
Pikir gadis ABG itu sembari menuju tempat pembaringan. Dinyalakannya kipas angin dengan kecepatan sedang tak terlalu kencang. Silir semilir nyaman terasa terlihat saat dua mata lentik itu mengatup. Siang dalam mimpi, dalam mata yang menutup. Nafas lega menyeruak, seakan dendam pada rasa kesal terhadap melek semalam terlampiaskan. Gangguan suara pemuda dengan nyanyian di tiap malam kini harus ia bayar di siang hari. Tidurnya lelap enak dan nyaman, sepertinya lagi bermimpi bersama Rimba melintasi kebun bunga yang indah. Mungkin saja sedang memungut bunga-bunga yang jatuh pada tanah pertamanan tengah kota. Lalu merangkai bunga dengan benang-benang asmara bersama Arjuna  gagah  itu. Dengan senantiasa lalu Rimba mengalungkan padanya, mengajaknya berjalan beriring. Atau mengelilingi taman di SMU  Bugenfil  dengan bergandengan tangan.

"Daun  teruslah  bermimpi,  jangan  takut  bermimpi  tentang  Taman  Surga.
..................................................................................................................................................

Malam minggu waktu yang luang tak ada acara selesaikan tugas. Hanya sebuah waktu yang kosong, menghimpit dan menyelipkan sepi sebab Rimba tak bisa datang (apel). Ada acara di rumah tetangga (kondangan besar-besaran potong gajah mungkin).
"Malam yang sepi tak ada kecupan pipi". Hanya sendiri, sambil mengamati jalan menuju toko buku.
Tak seperti biasa juga tak seindah malam sebelumnya,  ketika gadis ini berburu buku kumpulan cerita pendek.
Tanpa Rimba yang senantiasa ada menjemput, mengantar, serta memulangkannya  ke tujuan. Tak ada gandeng tangan membelah ruang gudang ilmu, gudang cerita, gudang pengetahuan, tapi bukan masalah besar tampaknya. Begitu asyik ia mengamati sedikit selektif untuk hal pemilihan. Daun bukan tipe gadis gegabah dalam soal pilihan. Bukan sekedar cerita romansa kebanyakan ABG pada antusias. Daun lebih tertarik dan memilih segi cerita dari hal pengetahuan berbumbu romansa pemanis cerita.

"Judul yang berbobot dan menarik tema-nya".
Sambil mengamati dan menimang buku di tangannya. Lalu bergegas menuju kasir.

Usai sudah perburuan dilantunkan langkah  menuju kedai ice juice. Tenggorokannya telah mengering kebanyakan asupan hawa dingin. Hasil dari sirkulasi freon yang pada akhirnya dihamburkan oleh mesin penyejuk udara. Air Conditioner berakronim AC, begitu kata orang Inggris, Amerika, serta daratan Eropa lainnya bahkan belahan bumi ini seluruhnya menyebut begitu. Dengan manis kini bibirnya mengulum batang cylinder berdiameter 2 MM kurang lebihnya, untuk menikmati minuman segar yang barusan dibelinya tadi. Jus mangga  pada  gelas  panjang  lengkap dengan   sedotan  warna  kuning,  terjepit  diantara  bibir manisnya.

Masih tak beranjak pada bangku kayu tempat ia duduk, sambil menikmati segelas kesegaran yang hampir habis. Kini Daun menatap para lalu lalang yang berlintas di sekitarnya. Menatap khalayak ramai dari berbagai strata sosial yang ingin bermanja-manja di akhir pekan. Walau kadang kantong tak dalam keadaan bagus, dompet juga dalam keadaan kurus. Namun ada sebagian orang yang berpendapat bahwa rekreasi merupakan kewajiban yang harus.

Malah  ada  juga  ide  bagi  suatu  kaum  di  sana  sebagian  kecil  sih.
"Bahwa rekreasi adalah hak paten yang harus terengkuh walau harus dengan cara-cara angkuh (memaksa kehendak)". Seperti harus berhutang kepada pihak lain untuk memenuhi hasrat yang tak begitu penting.

Kembali pada kegiatan daun yang sibuk dengan apa yang terlihat indera penglihatannya.

Toko buku, kedai jus yang bertempat di satu tempat yaitu pusat perbelanjaan di kota ini. Tak terhindar dari keramaian pusat peradaban manusia modern sekedar sarana rekreasi bagi yang ingin refreshing. Juga lebih dari sekedar untuk mengusir rasa penat, berbelanja aneka kebutuhan, mulai dari urusan perut, hingga ke barang yang sifatnya sekedar sekunder. Para pasangan muda juga terlihat menyibukkan diri pamerkan kemesraan, walau kadang hanya numpang lewat di sini (tak ada keperluan untuk dicari). Daun tampak berbayang dengan rasa keinginan, membayangkan

"Bila saja Rimba disamping".
Mungkin malam ini jadi hal yang menarik. Disela indah daun membayangkan dan berkhayal dia mendapati ada sepasang anak manusia bergandeng tangan. Bercanda tawa kecil, saling beradu genggam tangan gadis itu menutupi tawa kecilnya. Tampak sekali dari belakang Daun tak melepaskan pandang terus saja jadikan objek itu pusat perhatiannya. Matanya tetap saja membidik sebuah sasaran yang berangsur menjauhi matanya. Telah menuju pada Eskalator merangsak naik ke bagian atas tempat ini. Pemandangan itupun kini menjauh berganti  pemandangan  lain tampil di  depannya.

Lalu langkah semampai bertubuh ramping berpasangan dengan langkah tegap menghalangi pandangan Daun. Sebuah pemandangan yang begitu membuat dirinya terperanjat. Tak percaya dengan apa yang kini dia lihat, menyelinap memaksa alihkan perhatian dari pasangan sebelumnya. Yang semakin menjauh dari pandangan Daun kini hadir sepasang remaja memamerkan indahnya akhir pekan. Kali ini malah membuatnya enggan melepaskan  sasaran seakan adalah bidikan paling menarik. Panorama jitu untuk melepaskan hasrat mangambil gambar (andai dia seorang fotografer). Terus saja mengamati melihat untuk memutuskan suatu kepastian tentang dugaannya. Seperti apa yang ia terka, kira, lalu membenarkan dari apa yang dia lihat. Memastikan sebuah fakta di depan mata lalu berkesimpulan bahwa itu sebuah kebenaran. Dalam perasaan yang setengahnya masih ragu-ragu, namun apa yang dia lihat adalah kenyataan kebenaran menurut tatapan matanya.

Hatinya kini berubah muram  menjadi kajian yang tak karuan rasanya. Berasa apa yang kini dia rasakan telah habis, memudar tak ada lagi keadaan sadar. Daun mengenal bahkan sangat kenal terhadap pasangan itu. Postur tubuh remaja putera dan puteri itu sangatlah dekat dengan kehidupannya. Bahkan sudah menjadi bagian hidupnya selama ini, adalah para manusia yang kerapkali berbagi dalam hidupnya. Memecahkan masalah bersama, berdiskusi, saling membantu dalam hal apapun. Rasanya tak percaya dengan semua ini, melihat apa yang menjadi miliknya berinteraksi sangat dekat dengan pihak lain. Bahkan menjurus pada hal yang kata banyak orang bernama mesra, akrab sekali tak ada kecanggungan saat bergandeng tangan. Tak menyadari bahwa itu menyakiti pihak lain, dalam hal ini adalah dirinya. Daun tampak sakit dan tersakiti melihat kejadian di akhir pekan yang menyesakkan. Seseorang yang selama ini menjadi teman tempat menyandarkan manja, bermain dalam sekam. Memainkan sebuah irama asmara dalam bentuk segitiga. Bahkan sudut-sudutnya melebihi lancip pada segitiga seperti biasanya. Bukan lagi segitiga sama  kaki ataupun sama sisi, kali ini sama sekali tak mengenakkan hati. Menusukkan rangkaian asa yang selama ini terkemas dalam jalan kehidupan daun.

Bergandeng tangan mesra bersama anggrek teman sejawat di SMU  Bugenfil  kelas IPS. Anggrek gadis tinggi ramping bermodalkan kepiawaian dalam memimpin kumpulan marching band ternyata telah berhasil pikat Rimba. Mengalihkan rasa yang selama ini hanya untuknya, pedih terasa menjadi endapan asam dalam hati yang jelas adalah gangguan. Anggrek memang menarik untuk dilirik hidupnya pun penuh dengan pesona tak terpungkiri oleh siapapun. Daun begitu patah tercabik sudah kepercayaan mendalam pada Rimba. Tegak badan dan gagah cara berjalan remaja itu ternyata tak seimbang dengan tegak kesetiaan seorang pria sejati. Berlenggang arogan dalam kamuflase kata, untuk menghindari pertemuan dengan daun. Tapi ternyata hanya menyelipkan semacam fungi jamur dalam hati manis itu.
............................................................................................................................................

Ternyata cinta bukanlah rangkaian rumus ilmu pasti untuk menjumpai hasil pasti. Itulah kesimpulan Daun tentang cinta, dalam kamar saat meratapi kisah malam minggu ini. Bukan suatu yang bisa sejalan dengan apa yang dia pelajari selama ini. Albert Einstein bukanlah peramu rumus cinta yang tepat, tidak bisa menemukan tentang cara hitung fenomena dalam kehidupan ini. Albert einstein bukanlah Dewa pembagi teori-teori ilmu cinta, ternyata. Ilmuwan itu hanya mampu menciptakan dan mempopulerkan  tentang  Relativitas, yang sungguh tak enak untuk diperbincangkan di saat ini.  Tidak pula menarik bagi  Daun yang terus meratapi kepedihannya kali ini.

Analisa ketulusan yang sementara ini menjadi tolok ukur dalam menyikapi soal cinta tak sejalan dengan hasilnya. Hanya sebuah perbandingan terbalik hasilnya, padahal apa yang dia perjuangkan adalah harapan untuk hasil yang brillian. Terkalahkan dengan cara sosialisasi Anggrek dalam hal pendekatan memikat hati  Rimba. Setiap saat punya intensitas yang  lebih sering berinteraksi di dalam ruangan yang sama.

Dalam  isak tangis  yang  terdengar  samar  menghayati  kesedihan,  dengan  begitu  merasuk  ke  palung  sepi. Tak ada acara yang lain hanya kesedihan di akhir pekan menghujam di selipkan oleh malam. Kepedihan itu, tangis malam itu, serta apa yang menjadi kenangan manis di belakang waktu sebelumnya. Berdesir begitu saja, bayangan waktu sebelumnya bersama Rimba yang terasa manis sudah tak berarti. Rusak dan retak di tengah perjalanan ketika menjumpai dermaga baru bernama Anggrek. Masih dalam tangis dalam isak kesedihan yang tiada tara, nona sederhana ini meratap. Hingga memaksa pemuda di seberang jendela yang biasa mengganggu malam-malamnya. Menghentikan denting gitarnya, menghentikan laju lagunya di awal permulaan.

"Ternyata kamu benar-benar tersiksa dengan kebisingan yang kuciptakan selama ini". Dalam hati pemuda itu menyangka.
"Hingga kamu tak punya cara lagi untuk menghentikan kesombonganku". Seakan merasa bersalah dengan kegiatan malamnya selama ini.
"Mungkin inilah cara yang tepat biar aku sadar bahwa suaraku adalah gangguan buat kamu". Tak ada lagi kata selain perasaan yang bersalah ada dalam benak pemuda ini.
"Maaf bila aku mengganggu". Pemuda itu berucap pelan pada daun sambil meletakkan teman (gitar) di samping piano klasiknya itu. Daun hanya terdiam tak menjawab masih saja sibuk dan menyibukkan diri salam ekstase kesedihan tiada terhingga. Masih dalam lantunan sedih yang bersandarkan pada malam minggu sedih yang begitu pedih.

Suasana hambar menghinggapi hari-hari Daun, sudah tiada lagi keceriaan seperti sedia kala. Saat bersama Rimba hanya jadi satu  fase nasib cinta berbentur kepalsuan. Cinta anak remaja ada-ada saja harapan, yang kadang meluncur terlalu jauh. Memandang masa depan cinta mereka sebagai satu objek yang cerah. Kadang juga tak tertamengi satu sikap "waspada" sebagai bahan antisipasi saat roda terhenti di tengah jalan. Penyesalan selalu ada di belakang akan tampak terlihat ketika penyimpangan telah terjadi. Tak ada lagi keceriaan bila Daun memutar kembali kata-kata indah dari Rimba. Janji itu cuma suara angin seiring lontar kata "maaf" dari Rimba pasca perpisahan itu. Klarifikasi tentang kebenaran kasus hubungan remaja ini telah tuntas. Memberikan kesedihan yang sungguh tiada berbatas. Malah bertambah perih mengiringi kesendirian Daun melihat proporsi tubuh atletis Rimba. Bergandeng mesra bercanda renyah dengan wujud Anggrek yang sintal  ramping. Belum  lagi beban antrian ilmu hitung tumpukan rumus layaknya rantai misteri yang harus terurai  juga  tertuntaskan,  adalah  harga  mati  dan  tak  bisa  di  tawar.
...................................................................................................................................................

Empat malam sudah Daun dalam isak tangis lirih mengisi suasana kosong hatinya. Tak ada acara lain di sementara  waktu  ini. "Lalu  bagaimana dengan kehidupan pemuda yang  kerap kali berdendang itu?" Pemuda itu sudah tak lagi eksis dengan nyanyian pengisi malamnya yang sepi. Setiap suaranya adalah siksa untuk gadis seberang jendela kamarnya. Dia sadar bahkan sungguh paham, bahwa selama ini begitu dia membuat siksaan yang tak terperi. Tak bisa hanya dengan  kata siksaan itu di gambarkan, bahkan harus dengan tangis, baru berhenti. Sekarang keadaannya adalah sama-sama dalam kondisi terhenti. Kisah cinta Daun juga ungkapan menghibur mengisi malam pemuda itu. Suatu keadaan yang sebenarnya adalah salah sasaran, tentang tangis  tiap malam terakhir ini. Tentang anggapan pemuda itu mengutuk dirinya sebagai biang penyebab tangis daun. Berasa bahwa siksaan di tiap malam harus disudahi diakhiri.

Tetapi malam ini adalah lain pemuda itu sudah tak betah dengan hasratnya yang menggelora. Kerinduan pada lagu-lagu dambaan memicunya untuk beraksi lagi. Sekedar ungkapan untuk mengisi malam lontarkan rangkaian kata bernada. Kini dia telah siap untuk berorasi dengan nada. membebaskan isi hati lewat lagu, sekedar pelepasan dari rasa gundah gulana mungkin saja. Penghindaran diri dari sifat yang arogan mungkin itulah lagu. Sarana pelepas juga sebagai motivasi lain dari seorang yang punya  motivasi. Menyanyi pada dasarnya sama dengan menulis adalah suatu cerita dari kehidupan. Ada yang mengatakan kegiatan bernyanyi dan menulis itu adalah untuk merefleksikan suatu bentuk cita-cita yang tak tersampaikan. Juga adalah bagian dari mimpi-mimpi yang tak tercapai. Itulah nyanyian dan menulis bentuk ungkapan perasaan atas apa yang terjadi menghinggapi diri manusia. Maka tak jarang jika dua bidang tersebut di atas sering dan kerapkali berisi, lalu bertemakan tentang suatu maksud kehidupan. Angan-angan, cita-cita, juga gambaran dari masa depan  yang  lebih  cerah  pada  umumnya  banyak  yang  di  simpulkan di  kedua   bidang  itu.

Kembali pada pemuda di malam ini yang sudah merasa hasratnya bercumbu pada nada tak terbendung. Di petiknya dengan penuh perasaan lalu genjrengan ringan sembari mengatur hela nafas persiapan menghembuskan suara.   Tanpa ragu dia lontarkan sederet baris kata dalam lirik lagu itu. Disela hela nafasnya untuk  kembali   bersuara pada bait berikutnya tiba-tiba dia hentikan suara. Terdengar tangis kecil tersedu gadis itu lagi tangis Daun menghentikan dia dalam bernyanyi lagi. Di tidurkan gitar itu menunduk dia menyerahkan dirinya pada kesalahan telah lancang lagi mengganggu. Ketenangan itu harus terbayar lagi dengan tangis. Tetapi  kali  ini  ada  suatu  kejutan  untuk  pemuda  itu  kala  terdengar  kalimat.
"Kenapa engkau hentikan nyanyianmu". Daun bertanya masih dalam suara tangis yang tersisa.
"Bukankah suaraku membuatmu tersiksa". Pemuda itu melontarkan alasan pada Daun.
"Hingga kamu menangis, nggak tahu lagi cara untuk menghentikan aku".
Tanpa ada nada keraguan pemuda itu berkata lagi.
"Teruslah kamu bernyanyi untuk di malam ini".
"Jangan  hiraukan  tangisku, nggak ada hubungannya dengan nyanyianmu".
"Aku menangis bukan karena tersiksa karena suara kamu".
Daun  kini  dengan  suara  yang  sedikit  tenang walau  masih  tersisa  bekas  tangisnya.


Memberi penjelasan tentang apa yang terjadi di tiap malam-malam terakhir ini. Sebab tangisan selama ini, kesedihan pada dirinya. Bukan sebab suara pemuda itu. Enggan Daun bercerita, pada pemuda di balik jendela yang tertutup di samping kamar istana kecilnya. Terlalu rahasia mungkin.

Lalu dengan rasa percaya diri pemuda di seberang jendela kamar langsung tak menyiakan kesempatan. Layaknya kucing mendapati ikan tongkol (eh) bandeng ukuran besar nan jumbo. Di raihnya kesempatan itu lalu dia ambil kesempatan emas itu layaknya  "INZAGHI"  lepas dari jebakan "Offside".
"Berlari menghampiri bola yang tak jauh dari jangkauannya lalu menceploskan dalam gawang lawan". "Mengelabuhi "EDWIN VAN DER SAR" ataupun "PEPE REINA"  lalu menceploskannya ke dalam gawang. Untuk membuat "AC MILAN" unggul lalu menyabet gelar  "CHAMPION".

Hanya sekedar gambaran tentang kondisi malam itu. Hingga pada akhirnya Daun dan pemuda itupun saling meneyebutkan nama masing-masing antara mereka berdua. Dan pada malam-malam seterusnya mereka berdua semakin dekat walau belum juga beranjak untuk berjalan bersama. Hanya sebatas lewat tembang pemuda itu menjumpai Daun, juga belum juga untuk menampakkan wajahnya.
Siapa nama pemuda itu???
..................................................................................................................................................

Bi Asih yang sebenarnya sudah tahu tentang problematika keponakannya, sejak pertama  kali cerita. Masih belum angkat bicara secara serius, asih hanya bilang "sabar" pada Daun. Bukan karena adik dari ayah Daun itu tak peduli, atau juga bukan karena faktor pekerjaannya sebagai seorang bidan membuatnya tak punya waktu untuk care pada keponakannya. Lebih karena Asih percaya, masalah Daun tak seberat masalah gadis yang sempat menumpang berteduh di klinik bersalin tempat dia bekerja. Begitu pekat memori tujuh bulan lalu saat gadis yang bernama Pertiwi ketemu dirinya untuk pertama kalinya.

Lalu  siapa  Pertiwi??"

Kita kembali pada masalah Daun.

Sebuah masalah klasik gejolak anak muda menyangkut perasaan suka pada lawan jenis. Asmara yang melanda untuk pertama kali pada Daun terasa menyesakkan saat berbuah pelencengan dari satu arti kata setia. dalam hal ini Rimba berada di pihak yang melenceng. Berjalin  kasih  dengan  Anggrek  sementara rajutan  asmara  cinta  dengan  Daun  masih  terjalin.

Asih hanya tersenyum geli, bidan 28 tahun ini jadi ingat dengan gita asmara ketika masih seusia daun. Memori sepuluh tahun lalu saat masih hijau, memandang cinta bak bunga-bunga merekah juga terkadang sebagai angin penyejuk dikegalauan hati. Namun inilah hidup selalu saja ada kisah yang untuk pertama kalinya hadir menghiasinya.

Hanya senyum simpul kecil menyeringai hati asih. Istri dari Lesmana seorang ABK  (awak badan kapal) itu, tak kunjung membelai Daun dengan gelontoran petuah. Namun tetap saja mengamati sejauh mana dampak yang diakibatkan itu, menimpa bidadari kecilnya. Selama dalam batas kewajaran, artinya tidak ada suatu empedu mengoles bagian terdalam paling berarti dalam diri seorang perempuan. Tak akan mengakibatkan pelencengan alur kehidupan yang ia takutkan.
.................................................................................................................................................

Asih memang terpaut cukup jauh usianya dengan Mardiono, ayah Daun. Asih lahir saat Mardiono berumur dua  belas  tahun, sebuah program dari orang tua mereka yang kurang tepat, mungkin. Ataukah ada kesalahan pada alat kontrasepsi pencegah kehamilan. Atau  mungkin memang Tuhan merencenakan demikian. Namun jawabnya sekarang  toh terbukti, Asih menjadi seorang bidan di usia yang muda.  Lalu bersuamikan Lesmana seorang pelayar yang melintasi samudera negeri ini. Belum juga punya momongan dan mendapatkan amanat mungkin. Tiga tahun pernikahannya dengan Lesmana, bukan Asih tidak ingin punya momongan atau Lesmana yang tidak suka pada anak kecil. Asih dulu juga pernah hamil saat usia pernikahan baru setahun. Saat itu terjadi sesuatu yang tak bisa terhindarkan, di usia kandungan yang hampir dua bulan Asih mengalami kecelakaan kecil terjatuh dari sepeda motor.

Waktu pulang kerja di suatu belokan hampir mendekati rumahnya. Mungkin karena habis terguyur hujan jadi kondisi gang kecil itu licin atau apalah. Asih terjatuh dan sesuatu tak terhindarkan terjadi. Lesmana dan Asih kehilangan sang penerus generasi mereka. Benih yang Lesmana tanam itu harus gugur pada usia yang dini. Lesmana yang saat itu sedang ada di kapal hanya bisa pasrah. Pembicaraan lewat gagang teleponlah yang jadi luapan ungkapan rasa minta maaf pada pihak asih. Ucapan kata menghibur pada pihak  Lemana, agar sang istri tak terlalu larut dalam kesedihan.

Dalam pembicaraan di telepon Asih hanya bisa meminta maaf. Tak bisa penuhi keinginan suami agar tak mengendarai sepeda motor sebagai transportasi bekerja. Namun semua telah terjadi, masing-masing pihak punya dalil kebenaran. Asih pada sikap lebih menghargai efisiensi waktunya, bila dia harus menggunakan jasa angkutan umum. Berapa waktu yang harus terbuang untuk menunggu. Lagipula di kota ini angkutan umum juga tak se eksis kota besar lainnya. Yang kehadirannya sering kita jumpai setiap detik, setiap menit, bahkan setiap kerdipan mata selalu saja ada sarana yang dimaksud.
..................................................................................................................................................
.................................................................................................................................................. 

"Kesempurnaan itu tidak selamanya menjadi yang terbaik".
Tiba-tiba saja di sela perbincangan dengan Daun berungkap kata seperti itu. Perbincangan yang pada awalnya masalah reproduksi pada mahkluk hidup. Dengan cukup membuat hati daun terperanjak entah kemana arahnya sekarang.
"Apa maksud Bi Asih?" Daun berdesis tanya.
"Maksud Bibi adalah  bahwa  Rimba yang selama ini kamu anggap sebagai lalki-laki sempurna, wajah ganteng,  dan berpostur  atletis  bukan  yang  terbaik  bagimu".
"Kok tumben Bibi  singgung  masalah aku dan Rimba?".
"Daun kira, Bibi cuma peduli sama masalah pelajaran aku di sekolah". Sambungnya  pada  sang  Bibi.
"Dalam pengamatan Bibi ternyata kamu bisa mengatasi itu sendiri, kenapa Bibi bersikap demikian?"
Hanya gelengan kepala ringan pada Daun tak bersuara sepatah katapun.
"Bibi hanya ingin kasih kamu kesempatan untuk bersikap dewasa menyikapi masalah". Dengan anggukkan kepala  kecil  memberi  tanda  pada  pengasuhnya   tentang  keadaan  pola  pikirnya.
"Masalah kamu tidak separah Pertiwi". Seperti ingin memperkenalkan seseorang pada keponakannya.
"Siapa Pertiwi bi?" Singkat tanya daun.

Lalu dengan seksama asih ceritakan tentang siapa pertiwi???
Dengan tingkat kejelasan yang pada akhirnya dimengerti oleh Daun.
Tentang siapa Pertiwi dan apa yang melandanya.
..................................................................................................................................................

Pertiwi, gadis yang Bi Asih dapati saat 7 bulan lalu. Sore hari hujan cukup deras menyegarkan klinik bersalin, tempat asih bekerja. Bidan ini masih sibuk menyelesaikan berkas-berkas laporan kerja dalam sehari ini. Tumpukan kertas berisi data-data dan laporan tentang pasien yang melahirkan di klinik bersalin "Melati". Di penghujung tugas yang menumpuk itu asih keluar dari ruang kerjanya. Menuju teras depan tempat antrian para pendaftar untuk proses kelahiran, juga untuk mengantri giliran pemeriksaan kehamilan. Tetapi sore hari kisaran pukul 15.30 pastinya tak akan ada barisan manusia-manusia yang duduk mengantri.

Hujan masih juga meneteskan air mata kebahagiaan untuk keceriaan flora-flora penghias klinik "Melati".

Seorang gadis seumuran Daun mungkin, duduk di bangku panjang tempat antrian para pasien. Dalam keadaan hujan mencari tempat berteduh, mungkin. Terlihat oleh Asih  keadaan  pakaian bekas cipratan gerimis. Sebelum  deras  hujan  turun dia bergegas berteduh. Dan secara kebetulan  klinik "Melati"  adalah pilihan  yang  tepat.
"Sore Mbak". Sapa Asih pada gadis itu.
"Sore juga Bu Dokter".
"Bu Dokter saya numpang berteduh di sini ya?" Sambung gadis itu meminta ijin pada asih.
"Ya Mbak silahkan ". Jawab Asih singkat saja.
"Ini tempat melahirkan ya bu dokter?" Tanya gadis itu terasa lucu asih mendengarnya.
"Ya Mbak betul". Jawab Asih singkat saja, karena sudah terpampang jelas pada papan nama di depan itu tempat apa ini.
"Mbak tadi habis dari mana, kok sampai kehujanan?". Asih kini giliran yang bertanya.
"Carikan makanan buat teman Bu, kasihan nanti kalau pulang nggak ada makanan". Sambil menunjukkan kantong plastik putih tembus pandang di tangannya. Ada 2 bungkusan di dalamnya, kertas cokelat itu pastinya nasi dan plastik bening itu adalah berisi sayur bersantan dapat terlihat oleh Asih dengan sedikit kejelasan.
"Mbak sendiri  kerja apa masih sekolah?"
"Saya sudah  nggak lagi  kerja  Bu Dokter,  majikan  saya galak". Terang  gadis itu  pada  Asih.

Hujan disertai selingan angin jelas bagaimana dingin terasa. Saat kedua tangannya menelangkup bagian depan tubuhnya. Tak mengenakan pakaian tebal untuk melapisi kaos warna putih guna melindungi tubuhnya dari sengatan dingin.
"Bu Dokter boleh saya bertanya?"
"Ya tentu saja kalau saya bisa menjawab Mbak". Tak enak hati Asih, bila memanggil dik, walaupun terkanya pasti benar bahwa gadis ini seusia Daun. Atau selisih satu tahun lebih tua dari keponakannya itu.
"Ibu bisa mengugurkan kandungan nggak?". Terperanjak hati Asih mendengar pertanyaan itu, namun bidan dengan mata lentik ini tetap mencoba tenang, lalu dengan sikap bijaksana menjawabnya.
"Maaf, saya  tidak  bisa  melakukannya  Mbak". Bukan Asih tidak bisa dalam urusan ini, melainkan dia tidak mau untuk melakukannya.
"Kenapa Ibu Dokter nggak bisa?" Penuh dengan keluguan yang sebenarnya bikin hati Asih sedikit tergelitik.
"Sebab saya tak pernah mempelajari ilmu itu". Masih dengan kesabaran yang sama Asih melayani gadis lawan bicaranya.
"Barangkali Ibu Dokter tahu tempat lain untuk menggugurkan kandungan, Ibu nanti juga dapat bayaran lho". Terasa gadis yang lugu mengejar maksudnya.
"Sayang sekali saya tidak tahu menahu tentang tempat yang Mbak maksud".

Tidak mungkin Asih bersedia memberikan informasi tentang letak praktek-praktek Aborsi di kota ini. Sebenarnya banyak yang datang para oknum-oknum berpraktek Aborsi. Minta orderan, bila ada tawaran Aborsi untuk Asih. Namun Asih hanya menjawab.
"Iya  kalau  ada  Pak".
"Iya  kalau  ada  Bu".
"Iya  kalau  ada  Nek".
"Iya  kalau  ada  Kek".

Dengan senyum kecil, agar tak menyinggung mereka sebab Asih sangat anti terhadap praktek tanpa alasan medis yang tepat ini.  Memang  uang  adalah motivasi  dalam bekerja.  Namun  Asih  sangat  memegang  nilai-nilai  luhur  Kedokteran.  Sebagai  pengabdi  bagi  negara  guna  terwujudnya  masyarakat   yang  sehat.
"Memang siapa yang akan menggugurkan kandungan?". Tanya Asih pada gadis itu.
"Teman saya bu". Sahut  gadis  itu  sopan.
"Lho kok  malah  Mbak  yang  repot  nyari  praktek  Aborsi?"
"Aborsi  itu  apa  Bu?" Satu  pertanyaan  aneh  menyergap  telinga  Asih.
"Aborsi itu menggugurkan kandungan". Giliran Asih singkat menjawab, lalu terdapat kesimpulan bahwa lawan bicaranya bukan dari golongan pendidikan yang standar.

Perbincanganpun  terus  berlanjut  ke  arah  yang  serius.

"Boleh tahu nama Mbak siapa? Tampaknya asih ingin berkenalan dengan gadis ini.
"Pertiwi Bu". Nama yang tak seindah pengetahuannya.
"Mbak Pertiwi, nama saya Asih". Sambil mengulurkan tangan asih mencoba memperkenalkan diri yang sebenarnya agak terlambat. Kenapa tidak dari tadi beberapa waktu sesaat  sebelum  jauh  berbincang.
"Mbak Pertiwi asal mana ya,  kalau  boleh  tahu?" Sambung  Asih  dengan  pertanyaan.
"Saya orang Desa Bu, orang gunung kalau malam nggak seterang kota ini". Pantaslah bila memang belum kenal dengan istilah Aborsi. Karena setelah mendengar cerita Pertiwi bahwa desanya termasuk dalam golongan tertinggal.

Hanya cukup dengan pendidikan Sekolah Dasar itu sudah layak, maka berhentilah rantai ilmu yang harusnya tetap terkait. Atau dengan  kata  lain tak harus berlanjut  ke jenjang  yang  lebih  tinggi.  Lalu  apa  sebabnya? Jarak  tempuh  yang sangat jauh untuk ke kota, juga lambat menerima kemajuan akses terputus, mungkin saja. Entah apa sebabnya, mungkin terlalu banyak tangan-tangan melempar tongkat estafet. Bantuan dana dari pusat tak tepat sasaran, bisa jadi. Pokok tujuan dana untuk pendidikan kawasan tertinggal hanya berakhir salam manis dari para penikmatnya. Hanya sebagai penambah pendapatan bagi kantong-kantong yang tak seharusnya merampasnya. Hingga munculah generasi seperti Pertiwi, tak cukup punya bekal untuk menghadapi tuntutan hidup dengan mobilisasi yang cekatan. Malah saking parahnya akan terdapat pola pikir pada generasi seperti Pertiwi, pola pikir yang dangkal dalam menyikapi hidup. Asal bisa makan saja cukuplah senang, tanpa peduli terhadap pendidikan pada generasi berikutnya. Sampai sejauh itu pemikiran Asih mengiringi obrolan bersama gadis yang tak lebih dari satu jam dia kenal. Melayang jauh sampai pada nasib generasi berikutnya.

Bersamaan dengan hujan yang kian mereda, Pertiwipun berpamitan pada Bi Asih untuk pulang. Yang sepertinya  Asih  juga  berniat  bergegas  untuk  pulang.
"Bu saya mau kembali ke kontrakkan". Pertiwi berpamitan
"Ya mbak Pertiwi, hati-hati di jalan".
"Eh lupa Bu, saya mau tanya kalau boleh besok saya main kesini lagi ya?"
Hanya dengan ringan berangguk, Asih  memuaskan Pertiwi. Penutup pertemuan sore ini, Pertiwi melangkahkan kaki. Tapak demi tapak gadis itupun berlalu meninggalkan klinik "Melati". Hingga tak terlihat oleh Asih. Bidan inipun lalu bergegas juga beranjak mengambil sepeda motor bebek sarana transportasi untuk bekerja. Juga sebagai sarana mengantarkan  keponakannya menuju sekolah SMU "Bugenfil". Sebab semenjak hubungan dengan Rimba telah putus, Daun tak ada yang menjemput saat berangkat sekolah. Tak ada vespa warna merah mengkilap itu menghampiri rumahnya.
..................................................................................................................................................
..................................................................................................................................................

Pertiwi, pada keesokan harinya datang lagi juga di klinik "Melati", kali ini malah dengan sengaja ingin bertemu Asih. Bukan  seperti kemarin yang secara tidak sengaja ingin bertemu bidan andalan klinik tersebut. Sepertinya  sudah tahu jadwal kapan klinik akan sepi, maka gadis desa itu datang tak jauh beda dengan waktu kemarin hari. Dengan waktu yang hampir sama, penampilan yang tak banyak mengalami perubahan pula. Hanya  pada   kaos warna biru  muda  bersetelan  dengan celana pendek  warna 3/4, berbahan jeans tipis, bercorak salur ke bawah. Warnanya biru dongker, celana pendek jeans tak begitu ketat membalut sepanjang paha hingga bawah lututnya. Wajahnya juga tak jauh beda dengan yang kemarin sore. Masih tampak layu dan sayu, padahal tak dalam keadaan hujan ataupun  mendung  kemarin. Langit sore begitu cerah  memancarkan  selorot  cahaya  matahari  sore  yang  tinggal  sepenggalan.
"Sepertinya  ada  masalah  serius   Mbak  Pertiwi?"  Tanya  Asih  membuka  obrolan  sore  dengan  Pertiwi.
"Eng..eng..eng...gak Bu". Wajah Pertiwi gugup untuk menjawab pertanyaan Asih, kalimatnya tak selancar kemarin  sore.

Asih sepertinya tahu masalah yang sedang menindihnya. Berbagai pengalaman menghadapi banyak orang yang membuatnya  tahu  akan  semua  itu,  mungkin.
"Sudahlah  Mbak  Pertiwi  jangan  bohong  sama  saya".
"Kok Ibu tahu, saya ada masalah?". Dengan keluguan yang sama dengan  sebelumnya  Pertiwi membuka mulut. Sepertinya pelajaran membaca Psikologis seseorang  pada Asih tak berbuah sia-sia.
"Dari melihat kondisi tubuh Mbak saya bisa tahu".
"Maksud Ibu apa lagi, saya nggak tahu?".
"Mbak Pertiwi sedang hamil kan?". Kali  ini  penuh  keyakinan  Asih  mencoba  membenarkan  terkanya.
"Bu asih, panggil aja saya dengan sebutan Tiwi nggak usah pakai Mbak". Seakan ingin mengalihkan perhatian agar Asih tak menggelontorkan pertanyaan itu lagi padanya.
"Baiklah Tiwi, sekarang jawab pertanyaan saya dulu!" Asih pastinya tahu kalau  Tiwi mencoba untuk mengalihkan  perhatian  saja. Tetapi  tampaknya bidan ini terlalu sangat pintar bagi gadis sekelas Tiwi.
"I...i..i...ya bu". Berat hati Tiwi untuk membuka mulut.
"Lalu kenapa ingin mengugurkan kandungan itu?" Asih bertanya dengan nada yang masih saja ramah.

Lalu dengan seksama  Tiwi  bercerita  kepada  Asih.
..................................................................................................................................................

Sebenarnya Pertiwi adalah seorang pembantu rumah tangga, bermajikan salah seorang petinggi kota ini Darmoyo, namanya. Lebih dari  setahun  sebagai  tukang cuci, seterika dan juga bersih-bersih rumah pekerjaan yang pastinya berat. Namun dengan penghasilan yang tak beda jauh dengan buruh pabrik, membuat Pertiwi betah bekerja di rumah Darmoyo. Tak berpikir masalah tempat berteduh, makan, cuci, sabun, mandi dan kakus. Semua  fasilitas itu tersedia di rumah majikannya. Tak perlu membeli alias gratis sebagai  fasilitas  bagi  para  pekerja  petinggi  kota.

Kejadian berawal dari kepulangan Riky, anak sulung dari Darmoyo. Setelah beberapa tahun belajar di Amerika, kakak dari Siska dan Boby pulang di negara tercinta ini. Tentunya untuk mempraktekkan ilmu menajemen yang dia dapatkan dari Paman Sam. Riky pada akhirnya tahu bahwa di rumahnya sekarang ada seorang  pembantu  baru,  yang sering disebut dengan nama Pertiwi. Setiap keperluannya  di  rumah  mulai dari menyiapkan susu, membersihkan kamar, merapikan tempat tidur, juga membereskan pakaian yang bergantungan di kamar Riky. Kemudian mencucinya lalu menyeterika tak ketinggalan. Dari situ pula muncul suatu perasaan aneh pada Riky untuk Pertiwi. Ternyata dari  ketelatenan  mengurusi setiap pekerjaan rumah yang berkenaan dengan kebersihan dan kerapian. Ditambah dengan wajah ayu Tiwi yang khas gadis desa alami tanpa olesan komestik berlebih itu. Tiwi kelihatan segar dalam busana yang sederhana bahkan sangat sederhana. Membuatnya  tak kuasa menahan rasa aneh itu, lelaki yang lebih tua empat tahun dari Tiwi  itupun jatuh cinta pada gadis desa itu. Tiwipun  tak  keberatan  untuk menerima karena merasa nyaman  di  sisi  Riky.

Hingga terjadilah suatu pelanggaran norma, mereka berdua hanyut dalam asmara yang tiada batas, tiada sekat pengontrol untuk menyikapi cinta dalam artian menjaga satu kewajaran kodrati. Tiwipun hamil, Darmoyo serta istrinya pada akhirnya tahu setelah tak kuasa, ke dua insan di mabuk asmara itu menyembunyikan aib diantara mereka. Darmoyo naik pitam, dengan emosi yang meninggi mengirim paksa Riky untuk kembali ke amerika.

Dengan  uang  10  juta Rupiah menyuruh Pertiwi  menggugurkan kandungan. Mengusirnya untuk enyah dari istana rumah megahnya. Aib, penurunan mutu keluarganya, kemerosotan moral akan terjadi, bila Pertiwi menjadi menantunya. Tapi bukankah janin dalam  perut  gadis itu  adalah calon cucunya, sekaligus cikal bakal penerus generasi Riky. Peduli amat dengan generasi penerus, nama besar keluarganya lebih berarti. Hingga pada akhirnya Pertiwi yang lugu  pergi dengan tragisnya. Cukup dengan uang  10 juta  Rupiah jadi pelipur rasa kehilangan yang banyak diantara kita bilang adalah masa depan wanita. Memang 10 juta bukan jumlah sedikit, bila melihat berapa gaji Pertiwi, harus dikalikan berapa untuk mencapai angka tersebut. Tapi permasalahan bukan terletak di situ saja, lebih pada sikap menghargai dan menjujung tinggi kesamaan hak setiap manusia. Pertiwi dan bakal bayinya tak selayaknya mendapat perlakuan yang mencabik serta merampas nilai moral kehidupannya. Kemalangan yang kerap mendera sisi kehidupan ini. Kerap kali juga merampas apa yang seharusnya kita raih. Kesewenangan yang terus merajalela, hari ini mungkin Pertiwi, esok waktu  lagi  Pertiwi-pertiwi  yang  lain,  akan  muncul.
...................................................................................................................................................

Asih dengan seksama mendengarkan  cerita dari Tiwi yang mulai meneteskan air mata dalam rinai tangis yang pelan. Dinantinya emosi gadis itu agar berhenti tenang sejenak, untuk kembali asih ingin sedikit memberikan sebuah himbauan pada Tiwi.
"Berapa bulan kamu tidak datang bulan, Tiwi?" Tanya Asih  sesaat  setelah  kondisi pada  emosi  mereda.
"Dua  bulan Bu, memang ada apa  dengan  haid  saya?" 
Masih  dengan sedikit  tersedak  sisa  dari  tangis  yang  barusan  tadi  Tiwi  bertanya.
"Bila saya mendengar cerita tentang haid kamu, maka dalam perutmu masih berupa gumpalan darah dan belum berbentuk, usianya juga masih  delapan  minggu lalu satu minggu kemudian akan berubah dan  terbentuk wujudnya juga pastinya akan memiliki nyawa". Seakan Asih tak tega bila harus memakai kata  Embrio  dan Foteus. Karena betapa susahnya untuk menjelaskan,  menilik  Tiwi  yang cuma lulusan SD. Masih saja terdapat  kesenjangan  tingkat  pendidikan  di  jaman  yang menuntut segalanya serba bisa dan tahu. Begitu  klise,  namun  juga  nyata  terlihat  di  sekitar  kita.

Pembicaraanpun kini malah bertambah serius, Asih  kini meminta Tiwi agar tidak menggugurkan kandungannya. Namun tetap saja dengan keinginan yang tiada terbendung oleh apapun juga. Walau dengan seribu  cara  Asih  mencoba  memberi  pengertian,  himbauan,  serta  bujukan  pada  gadis  desa  malang  itu.
"Kenapa Ibu melarang saya untuk menggugurkan kandungan?".
"Bukan  saya  melarang  tapi  saya  hanya  menghimbau,  Tiwi".
"Tapi  ini  bukan  membunuh  orang  kan  bu?"  Polos Tiwi  bertanya  pada Asih.
"Memang ini bukan membunuh tapi dalam perut kamu ada segumpal darah yang juga berhak untuk hidup. Maka berikan kesempatan itu pada bakal bayimu Tiwi". Pinta  Asih  yang  tahu  bagaimana  rasanya  hidup tanpa seorang anak menghiasi kehidupannya. Namun Tiwi tetap saja berkekeh pada keputusannya, mulai bosan  dengan  argumen-argumen  bidan  Asih.

Dengan  nada  kecewa  lalu  Tiwipun  berujar.
"Kiranya dengan saya kemari lagi, ibu  Asih  bisa  membantu  saya  untuk  menggugurkan  kandungan".
"Sayang sekali  dan maaf saya tidak bisa membantu kamu dalam hal urusan ini". Dengan berat hati Asih melepas kepergian Tiwi  tanpa  mampu  mencegah  niatnya  yang  sudah  membatu.
"Baiklah Bu, mungkin saja saya mendapatkan tempat lain untuk bisa menggugurkan kandungan saya".
"Semoga saja kamu berhasil, tapi harapan saya usaha kamu akan sia-sia dan gagal mengugurkan kandunganmu". Hanya  dengan  kepasrahanlah  Asih  mengabdikan  diri  dan  karyanya  pada  saat  itu.

Dengan kekecewaan mendalam gadis korban dari kesewenangan seorang Darmoyo itu pergi meninggalkan Asih. Terlihat dari  punggungnya  caranya  berjalan jelas  menandakan kekecewaan yang tiada tara pada Asih. Asih bisa menangkapnya, dan tentunya dalam hal ini bidan andalan klinik "Melati" benar adanya. Tak ada suatu peraturan tanpa ada alasan yang tepat. Namun memang dalam hal ini  Tiwi  berada pada pihak terjepit  juga  tidak  bisa  semua  kesalahan  terbebankan  kepadanya. Mungkin dia hanya  korban  yang tak tahu  cara  bijak, dalam menyikapi sebentuk problem terberat dalam hidupnya itu. Dan sampai di sini pula batas akhir perkenalan Pertiwi dengannya. Yang  terus  dibuntuti  perasaan  kecewa  pada seseorang  yang tak  bisa  untuk dibantunya. Tak terdengar lagi hingga lebih dari 7 bulan ini tentang keberadaan Pertiwi olehnya. Kadang  bayangan  tentang  Pertiwi  muncul  secara tiba-tiba, juga tak jarang pula bayangan  tentang  Pertiwi dan kisahnya  tak ada. Semua muncul begitu saja, semua juga pergi begitu saja. Seiring dengan hilir masuk dan hilir  keluarnya  para  pasien  di  tempat  Asih  bekerja.
..................................................................................................................................................

Seorang  pemuda, sebelah  rumah  Daun tampak asik sedang menuliskan sesuatu pada buku catatan berwarna coklat pekat. Sejenis catatan harian bila melihat sebegitu bersih buku itu. Pastinya sering dia membuka, baca isinya kemudian bila perlu menambahkan suatu peristiwa. Sebagai   penambah  koleksi karya-karyanya di ranah tulis menulis. Walaupun berasal dari kumpulan-kumpulan "true story" namun bila ditambahkan dengan sedikit gaya bahasa, pastinya akan sedikit menarik. Juga tak perlu terlalu banyak mengembangkan dengan imajinasi yang luas, pastinya juga tak akan mengurangi rasa keingintahuan pada isinya. Tetapi di siang  ini  tak banyak yang akan dia tambahkan di buku itu. Hanya  sekedar  muqaddimah pada  halaman  awal, seklumit  berita tentang apa yang ada di dalam hatinya. Mungkin juga sebagai perwakilan dari isi buku itu..
...........................................................................................................................................  

"Belajarlah,   Bercerminlah,   Bergurulah,  Terimalah"

" Belajarlah       pada    kekalahan    kita    akan     tahu    cara     meraih    kemenangan.
"Bercerminlah  pada  rasa  sakit  kita  ada  makna  hidup  di  sela  hati  yang  terhimpit.

"Tetaplah  tegar  engkau  sang   fajar .
"Tuk  terus  bersinar  jadi  satu  binar.

"Sampaikan  semua  risau  dan  ragumu  pada  DIA  penuntun  jalanmu.
"Tak    perlu   dirimu   tertimbun   resah   biar   berlalu   semua   gelisah.

"Bergurulah  pada  kesalahan  kita  kan  mengerti  arti  kebenaran  yang  hakiki.
"Terimalah    semua    jalan    walau   kadang   bimbang   tetaplah   melenggang.


Berulang-ulang pemuda itu membacanya sambil mengigiti ujung tangkai penanya. Gerangan apa yang mendorong dia membuat catatan  perjalanan  dan   persinggahan  dalam  hidupnya. Apakah  tulisan-tulisan  itu ada hubungannya  dengan  gadis  samping  rumahnya  bernama  Daun?

Di tengah dia membaca meneliti muqaddimah itu, terdengar suara dari balik punggungnya mengajaknya berbincang akan suatu hal.
"Kak ranting Ibu di mana? di kamar kok nggak ada".  Ternyata  pemuda  itu  bernama  Ranting
"Tadi  sih  bilang  mau  ke  rumah  Bu  RT,  ngurusin surat,  buat  bikin  KTP  kamu".
"Ya udah kalau gitu, kirain kemana". Sambil mendekati kakaknya Dimas  menyambung  dengan  pertanyaan lagi
"Berapa biayanya ngurus KTP biar cepet jadi ya kak?"
"Harusnya sih gratis, tapi kalau minta cepet ya lain lagi dana yang harus kita bayarkan, biasalah sudah budaya sejak jaman nenek moyang kita dulu, bahwa yang berkenaan dengan surat-surat apalagi menyangkut masalah kependudukan, pastinya berbayar dalihnya sih buat ngisi  uang  kas  tapi  prakteknya  mana  kita  tahu?  Saku  dan  kantong  tak  jarang  juga  kering  lho  Dimas,  itu  sih  kata  mereka".
"Padahal  mereka  itu  para aparatur  pemerintahan yang ada di kantor Kelurahan  dan  Kecamatan  pastinya sudah  fasilitas  gaji. Cukuplah  buat  biaya  hidup sehari-hari. Tapi  kok  bisa  begitu  ya  kak?"  Tanya Dimas  pada  saudara  tuanya.
"Bukan rahasia umum lagi kalau budaya sperti itu sudah mengakar, mereka cuma bagian kecil tak seperti berita di TV".
"Tapi jenisnya tetaplah sama praktek suap menyuap, berawal dari hal yang kecil menjalar ke hal yang paling, super besar".

Berprofesi pegawai serabutan di salah satu lembaga bimbingan belajar berbasis bahasa Inggris. Sebagai tukang kebersihan, foto copy surat-surat, kalau kran air pas dalam keadaan rusak dia yang memperbaiki. Belum lagi kalau  harus  menambal dinding kelas yang berlubang. Maklum  tempat  berkumpul  macam-macam  individu ada  yang  tangan jail lalu ada yang pendiam saja. Namun dengan seabrek tanggungan tugas itu tak menyurutkan niat, untuk tidak betah bekerja di "U n I". Pendapatan gaji yang berkecukupan, mungkin alasannya. Selama bekerja di situ Dimas bisa mampu mencukupi kebutuhannya sendiri. Mengangsur cicilan sepeda motor, keperluan sandang terpenuhi dan yang lebih penting lagi Dimas tak mengemis pada orang tuanya.

Selain dari itu semua dimas juga mendapatkan bentuk ilmu selama bekerja di situ. Memperoleh bimbingan belajar bahasa Inggris secara gratis. Pihak pengelola tak berkeberatan dengan itu semua alasannya simple, Dimas rajin, tekun, disiplin pastinya, jujur dan bertanggung jawab atas pekerjaannya. Ya itulah ganjaran untuk seseorang, semua berdasarkan atas apa yang dikerjakan dan dilakukan.
...................................................................................................................................................

Selain  daripada  itu Dimas juga mempunyai kegiatan di luar jam kerja yang tergolong mulia. Misi kemanusiaan himbauan untuk semua orang tanpa terkecuali. Bernaung di bawah bendera "SAVE OUR LIFE" sebuah perkumpulan massa yang mengajak kepada semua orang untuk menyadari betapa sangat berbahanya HIV/AIDS. Virus itu ada dimana-mana, anjuran yang setiap saat didengung-dengungkan oleh Dimas beserta komunitasnya. Tak jarang mereka menyebarkan brosur di jalan raya. Tentang peringatan agar tak melakukan tindakan-tindakan yang berindikasi pada terjangkitnya virus mematikan. Generasi bangsa ini terlalu sayang, bila harus berbuat ceroboh bersifat sesaat. Namun berdampakkan kesengsaraan yang berkepanjangan. Sisa umur ini terlalu sayang untuk kita siakan, maka isilah dengan hal yang positif. Juga himbauan untuk para penderita HIV agar tetap semangat menjalani hidup ini. Apa yang kalian deritakan bukanlah akhir dari dunia. "TETAPLAH BERKARYA TEMAN DENGAN SEGENAP KETERBATASAN DAN JANGAN BERPUTUS ASA". Salah satu tulisan yang tersemat pada t-shirt Dimas. Sering juga adik dari Ranting itu memakai kaos bertemakan HIV/AIDS yang lainnya. Yang terpenting anjuran bagi para penderita adalah jangan menyebarluaskan penyakit itu dengan cara menularkan pada orang lain.

Kalau Dimas orangnya rajin tapi kenapa Ranting seperti orang yang tak punya semangat. Tak mau beranjak dari dalam rumah tapi itulah 2 individu walaupun sekandung tak sama dalam bersifat. Dan Dimas tak pernah menyinggungkan perihal tersebut. Menerima dengan kelapangan dada seluas-luasnya. Sebenarnya Ranting dulu pernah juga bekerja di kota barometer pendidikan negeri ini, hampir 5 tahun lamanya malahan. Namun entah kenapa dan alasan apa sekarang tidak lagi bekerja?? Kembali pada perbincangan yang sepertinya tambah seru saja. Sebab  kedatangan  tambahan  anggota  lagi.

"Siang kak Ranting, siang kak Dimas, lagi ngobrol apa nih kok kelihatannya seru banget?" Tegur sapa dan tanya dari seberang jendela kamar, sambil dia membuka gerbang kecil ventilasi udara kamarnya pula.
"Siang juga Daun". Bergantian dua saudara itu menjawab sapa Daun.
"Lagi ngobrol soal KTP Dimas yang sudah kadaluwarsa, waktunya untuk disegarkan... eh Daun udah punya cowok lagi belum?" Ternyata Daun sudah cerita sama ranting kalau dirinya putus dengan Rimba.
"Kalau sudah kenapa dan kalau belum juga kenapa kak?" Tanya Dimas sembari melongok pada arloji di tangan kirinya.
"Ya untuk sementara misi hari ini cukup tanya dulu, besok-besok tunggu perkembangan". Detektif Ranting menyembunyikan misi rahasia, agar tak terdeteksi maksudnya.
"Ganti seragam dulu ahhhhhhhhh". Seru Daun bergegas menuju kamar mandi yang sepertinya menghindari pertanyaan Ranting.
"Kak aku mau balik kerja dulu, sudah hampir habis waktu istirahat aku, entar kalau Ibu datang tanyain berapa ongkos KTPnya ya". Giliran Dimas berbalik arah meninggalkan sang kakak.

Sendirilah kini Ranting untuk sementara waktu. Sambil menunggu Daun yang lagi berganti kostum. Ranting merapikan buku, pena, lalu ditindihkannya pada bantal berbungkus kain penutup berlogo FC. BARCELONA. Menyempatkan menatap ruang kosong di depan jendela kamarnya. Tempat Daun belajar, beristirahat, pengaduan ungkapan hati mungkin saja.

Kini Daun telah kembali lagi di kamarnya, berbincang bersenda gurau ringan bersama Ranting. Yang berada di seberang jendela kamarnya. Pemuda yang beberapa waktu lalu sempat dan sering kali membuat hatinya dongkol. Tak nikmat dalam tidurnya, kata puas dalam tidur hanya mimpi belaka saat itu. Namun setelah pada akhirnya hubungan keduanya membaik, malah keadaan berbalik arah. Ranting bertoleransi padanya sudah tak lagi bernyanyi sampai larut. Cukup satu atau dua tembang menghentikan kegiatannya. Adakah perasaan antara dua  anak manusia ini.

"Kak  udah makan belum?" Tanya gadis yang sekarang mengenakan kaos berwarna merah hati, berhiaskan bunga  matahari  itu.
"Udah aku udah makan, dari satu jam yang  lalu  malah, kamu belum makan ya ?"
"Iya  nih  kak  tahu  aja  kalau  aku  belum  makan, belum  lapar  sih".
"Lho   kok  makan nungguin lapar, kata orang Perancis nggak asik lho kalau mau makan harus nungguin lapar". Gaya  Ranting  sok  tahu  tentang  negeri  Zinadine zidane.
"Lha  terus  nungguin apa coba kalau nggak nunggui lapar dulu baru deh kita makan jadi enak dan lahap". Daun mempertahankan alasan yang pada dasarnya itulah jawaban sesungguhnya walau kurang tepat sebenarnya. Bukankah makan yang baik adalah sebelum lapar dan sudahi sebelum kenyang.
"Ya nungguin kereta api atau nungguin bis dulu, entar kalau udah nyampai baru kita makan". Canda garing dari Ranting namun mampu membuat Daun tergelak tawanya.

Seketika itu pula lepaslah tawa renyah Daun. Matanya berbinar-binar, manis sekali ke dua lesung pipit pada ranum pipinya terbidik tepat oleh mata Ranting. "Manis, anggun juga rendah hati, pintar lagi, goblog pemuda itu nggak setia sama dia". Hanya dalam hati ranting bergumam. Sambil menatap tawa manis di depannya, terhalang tralis-tralis jendela namun tak mengurangi esensi ketakjubannya pada daun.
"Kak ranting bisa saja bercanda". Dengan sisa binaran mata, Daun berujar.
"Daun, tawa kamu renyah, krupuk aja bisa melempem tapi tawa kamu tetap merdu".
"Masa' sih kak?"
"Kak Ranting tadi kok tanya  aku udah punya cowok lagi apa belum, emang ada apa sih kak?"
"Cuma tanya nggak lebih dari sekedar tanya, nggak boleh emang?" Ranting menjawab rasa penasaran lawan bicaranya.
"hemmmm". Senyum daun mengangkasa.
"Belum berpikir ke arah situ dulu, lagian Bi Asih juga pesan untuk nggak pacaran dulu, takut pelajaran terbengkelai kan bentar lagi ujian kak". Alasan yang sepertinya tepat dari daun kepada ranting.
"O.....ooo begitu". Reaksi  singkat  dari  Ranting
"Kenapa kak ada yang salah ya?"
"Eng..eng..enggak". Rada kikuk jawaban Ranting, namun langsung dia sambung agar tak tertangkap oleh Daun.
"Bagus ide Bi Asih".
"Ya udah kak, aku mau istirahat dulu, tadi fisikanya bikin panas dingin". Penutup perbincangan siang itu beriring salam selamat istirahat siang........
...................................................................................................................................................


"Patience"

Shed a tear ’cause I’m missing you
I’m still alright to smile
Girl, I think about you every day now
Was a time when I wasn’t sure
But you set my mind at ease
There is no doubt you’re in my heart now
Said woman take it slow
It’ll work itself out fine
All we need is just a little patience
Said sugar make it slow
And we’ll come together fine
All we need is just a little patience
Patience…
Ooh, oh, yeah Sit here on the stairs
‘Cause I’d rather be alone
If I can’t have you right now, I’ll wait dear
Sometimes, I get so tense
But I can’t speed up the time
But you know, love, there’s one more thing to consider
Said woman take it slow
Things will be just fine
You and I’ll just use a little patience
Said sugar take the time
‘Cause the lights are shining bright
You and I’ve got what it takes to make it
We won’t fake it, Oh never break it
‘Cause I can’t take it
…little patience, mm yeah, ooh yeah,
Need a little patience, yeah
Just a little patience, yeah
Some more pati…
I’ve been walking these streets at night
Just trying to get it right
(Need some patience, yeah)
It’s hard to see with so many around
You know I don’t like being stuck in a crowd
(Could use some patience, yeah)
And the streets don’t change but maybe the name
I ain’t got time for the game
‘Cause I need you
(Patience, yeah)
Yeah, yeah well I need you
Oh, I need you
(Take some patience)
Whoa, I need you
(Just a little patience is all we need)
Ooh, this ti- me….

Daun menyalakan lilin pada bibir jendela kamarnya, yang berhias berhias besi-besi pengaman melekat pada jendela berbahan kayu itu. Lalu ia matikan lampu kamarnya, menikmati denting "Patience" oleh Ranting. Kehangatan hasil semburat api kecil pada lilin merayap menuju ke hati. Dia telan lirik lewat nada dari seberang kamarnya. Sebuah alunan transversal dari petikan gitar ranting. Menjadi longitudinal yang searah dengan rambatan dalam hati daun. Begitu memecah gundah gulana yang selama ini tiada terperi. Suasana akustik, natural membentuk semacam klorofil dengan butiran-butiran kloroplas penyejuk hati. bagai sekumpulan stomata menyerap oksigen di hadapannya.
..................................................................................................................................................

"Daun mau nggak besok pagi jalan-jalan di taman kota? bertiga sama Dimas". Tanya Ranting pada Daun setelah menyanyikan lagu "Patience".
"Apa kak? Daun nggak denger tadi". Daun ternyata masih membayangkan lagu yang barusan tadi. Kemudian Ranting mengulangi pertanyaan nya sekali lagi.
"Memang di taman kota besok pagi ada apa sih kak?". Balas Daun balik bertanya padanya.
"Nggak ada apa-apa, kamu bersedia nggak?"
"Daun nggak janji ya kak, kalau besok bisa bangun pagi pastinya bersedia"
"Oke, sekarang istirahat malam Daun, selamat tidur sampai jumpa besok pagi".

Daun hanya memandangi langit-langit kamarnya, tak juga kunjung terlena dalam rasa kantuk. Mungkin saja terpikirkan ajakan  Ranting, dalam hatinya pastinya bertalukan tanya. Maksud apa kok tiba-tiba mengajaknya jalan-jalan di taman kota. Padahal selama kenal, tak pernah Ranting menampakkan hidungnya di luar rumah sekalipun. Dan itu juga tak terpungkiri oleh Ranting, semenjak tidak lagi bekerja, serta pindah rumah dan menjadi tentangga Daun. Pemuda yang satu ini dekat dengan kata malas, tidak serajin adiknya. Cenderung menutup diri, mungkin  karena  hidup  di  kawasan  perumahan  jadinya  merupakan  hal  yang  biasa.
.......................................................................................................................

Minggu yang tak sia-sia, bangun pagi buat Ranting. Berjalan bersama Daun menuju taman kota, menghirup nafas alam yang konon katanya udara pagi adalah pemicu daya pikir.
"Kak  Dimas  katanya  ikut,  kok  nggak  ada?"
"Nggak  usah  ngurusin  Dimas  ah,   molor  di  kamar".
"Kok  nggak  di  bangunin  sih  kak?"
"Udah  sih,  tapi  kayanya  Dimas  kecapean  banget  minggu  ini  dia  banyak  kerjaan".
"Ooo begitu... Kak kita udah nyampe nih enakny cari tempat istrahat yuk!".  Pinta  Daun
"Ayo...".
"Di sana enak tuh sambil lihat orang-orang pada senam".  Menunjuk  pada bangku taman dekat dengan penjual  kue  jemblem,  timus,  petholo  juga  tak  absen  gethuk  lindri.
"Kak Ranting... Daun... Tungguin". Teriakan Dimas dari arah barat menghampiri sepasang manusia itu.
"Eh kak dimas, kok udah disini?"
"Ya aku  nungguin  dari  tadi  malah". Jawab Dimas sambil menyerahkan tas selempang ukuran kecil pada kakaknya.
"Kata  Kak  Ranting  lagi  molor?".  Ranting  cuma  tertawa  lirih  tak  berdesis  apa-apa.
"Kak ranting dipercaya". Tukas dimas singkat saja. Ranting cuma memandangi wajah Daun yang menampakkan reaksi dengan senyumnya khas, sepertinya telah paham cara bercandanya. Kini mereka bertiga telah duduk di bangku kayu yang memanjang.

Posisi sehamparan menghadap selatan memandangi orang-orang berolah raga di minggu pagi. Sambil berbincang, canda tawa menghiasi pagi yang masih berudara segar itu. Ranting menikmati timus, Dimas asyik dengan jemblemnya, sementara belum puas dengan timus, Ranting meraih gethuk lindri. Daun nikmat sekali dengan petholo kuah bersantan dan manis. Makanan tradisional yang populer saat itu. Dengan 500 perak cukup murah dan meriah tak bikin marah. Ranting  membuka tas selempang pemberian Dimas beberapa waktu yang lalu.

"Kreeeeeeek..." begitulah bunyi retsleting tas hitam bahan anti air dan ranting mengeluarkan sesuatu.
"Nich   buat  kamu  Daun".
"Ooo.... jadi ini maksudnya, ngajak aku jalan pagi-pagi". Jawab Daun  mencari  kepastian.
"Kak Ranting kan mau ke luar kota, jadinya dia mau ngasih kamu kenang-kenangan". Dimas menyahut sebelum si  abang  sempat  menjawab.
"Emang  kak  Ranting  ada  keperluan  apa  ke luar kota? Pastinya  lama  ya  kak?". Tanya Daun penasaran.
"Ya.... nggak tau sih, lihat dulu betah apa nggak di sana?"
"Luar kotanya mana sih kak?" Tanya Daun lagi lebih penasaran. Ranting  diam, tak segera menjawab sebab Dimas mengernyitkan kening padanya. Memberi isyarat pada Ranting untuk tak mengatakan tentang maksud kepergiannya. Dimas begitu khawatir, daun pastinya akan mengejar dengan pertanyaan-pertanyaan lain, bila tahu  maksud  Ranting  ke  luar  kota.
"Ke jakarta, mau kerja habis di sini nggak ada kerjaan yang cocok". Kata  Ranting  meyakinkan.

Dimas lega mendengar jawaban bohong untuk  Daun. Dan setelah itu mereka bertiga melantunkan langkah kaki menuju pulang. Daun berkaos kuning gading pas dengan warna kulitnya yang segar. Ranting tampak bangga dengan kostum tim tango argentina bertuliskan "Batistuta" di punggungnya, terpampang nomer 9 yang tegak. Lain lagi Dimas t-shirt warna putih terbubuhkan kalimat "Jangan pernah mencoba".Lalu apa isi pemberian ranting untuk daun itu? Apakah maksud ranting juga trdapat di situ??Daun hanya tertegun memandangi barang berbungkus kertas koran itu. Dia hanya berpikir lekas ke rumah dan membuka isinya, hingga terjawab apa yang terkandung di dalamnya...........
..................................................................................................................................................

Halaman permulaan terbaca sudah berganti lembar berikutnya lagi. Dibacanya helai per helai rangkaian kata, kalimat demi kalimat yang berjajar. Barisan isi sedikit demi sedikit menumpukkan tanda tanya. Walau masih belum memasuki puncak, terbesit penasaran di dalam pikirnya. Sebuah cerita perjalanan hidup dari sekumpulan nama, tokoh, pelaku lengkap dengan bermacam beda perangai, tersadur dalam bentuk tulisan. Penggalan-penggalan kisah tentang persahabatan, kerja keras dan cinta rasa saling kasih mengasihi adalah isi ceritanya. Daun sesekali menghembus pelan untuk bernafas. Tatkala emosi dalam cerita perlahan menemukan konflik.

Berpacu dengan udara yang semakin meninggi, kegerahan terasa memeluk sekujur tubuh. Siang minggu yang sedikit panas menjadi hawa dalam kamarnya. Dinyalakan kipas angin, silir-silir pelan saja mendera pada muka manisnya. Kembali dia melanjutkan aktivitas pemacu rasa penasaran, pemicu emosi yang telah perlahan meningkat sedikit demi sedikit. Namun apa mau dikata ditengah keasyikan itu, ada-ada saja gangguannya. Mulailah ia menguap serta matanya, enggan untuk berpendar meskipun coba untuk dia paksa.Tapi tampaknya rayuan kipas angin kuat sekali, terasa semburan hawanya melemahkan kekuatan matanya. Sekali lagi menguap dan pastinya akan menguap lagi. Tubuhnya lemas tangannya tak mampu lagi menahan berat beban apa yang terpegang olehnya. Semakin erat dan kuat, malah semakin berat dari buku itu tak karuan nian hebatnya. Daun pada akhirnya menyerah buku itu dia jatuhkan. Sampulnya yang cokelat pekat, pemberian Ranting di pagi hari tadi, telah berada menindih samping kanan tempat dia berbaring.

Buku catatan bersampul cokelat pemberian Ranting kembali terbaca. Setelah tertunda dengan rasa kantuk yang memperlenakan dalam tidur. Sore usai membantu Bi Asih bersihkan rumah lalu menyegarkan tubuh dengan mandi. Daun membuka bagian tertunda di cerita hasil tulisan tangan Ranting.

Setapak  demi  setapak  langkah  cerita  menunjukan   kejutan  saat  menjumpai  tokoh  bernama  Ranting.

'Seorang pria yang mengadu nasibnya di kota pusat peradaban pendidikan negeri ini. Sebagai salah satu karyawan Bank swasta bertugas mencari nasabah untuk peminjaman dana. Ranting 4,5 tahun kurang lebihnya, sejak lulus dari SMA bermodalkan tekad yang kukuh. Hijrah ke kota barometer cendekiawan negeri ini. Tawaran dari Tody, seorang teman SMA yang berkoneksi dengan salah seorang pegawai tempat ranting bekerja saat itu'.

'Tanpa banyak persyaratan berbelit jalan Rantingpun mulus. Lalu menjalani masa training, dalam kurun waktu 3 bulan hasil positif Ranting kelihatan. Semakin hari makin lihai pula cara Ranting merekrut orang untuk jadi nasabah. Walau dengan prosentase bunga yang lumayan tinggi jadi konsekwensi ditambah lagi jaminan berupa surat-surat berharga. Para peminjam dari berbagai latar belakang kebutuhan tetap tak ciut tekadnya. Asal proses pencairan cepat dan tak menyulitkan, dengan syarat-syarat yang memadai dana langsung cair, mereka bersedia. Walaupun sebagian dari para peminjam itu ada yang tak sebegitu butuhnya akan uang. Dalam artian mereka tak memiliki bidang usaha seperti dagang, usaha pelayanan jasa dan lain-lain. Hanya karena kebutuhan mendadak misal, seorang pegawai kantoran yang punya hasrat membeli barang baru, sebab ada tetangga, teman, atau kerabat mereka memiliki barang baru namun ia tak memiliki cukup dana, maka dengan cara demikianlah bisa terpenuhi mimpi mereka. Termasuk dalam konsumerisme tingkat tinggi'.

'Dan itu betul-betul dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan menggandakan uang. Hingga tercipta jenis lapangan kerja seperti yang digeluti oleh Ranting. Namun dari situlah hidup Ranting mengalami keganjilan, kaget dengan penghasilan juga makin bertambahnya banyak teman. Dari berbagai tingkat hidup, pendidikan, keahlian, pola pikir juga pandangan hidup. Mulailah Ranting dengan kehidupan yang baru, bertolak belakang dengan kesederhanaan di kampungnya'.

'Perkumpulannya dengan teman-teman kost yang beraneka ragam bentuk aktivitasnya. Pekerja, anak sekolah, juga para mahasiswa, tua dan muda penduduk sekitaran kost, sebagai teman di waktu luang harinya. Perlahan demi perlahan mengantarkan dia pada kehidupan yang serba bertambah. Pola pikir bertambah pintar, tahu akan dunia yang luas pergaulanpun mulai bergeser pada dinamika beragam'.

'makin kentara keadaan yang serba berubah itu saat dekat dengan seorang gadis anak ibu kostnya. Aida, mahasiswi  Fakultas  hukum  tingkat  dua  universitas  kenamaan  di barometer Edukasi  negeri  ini'.

'Binar mata, senyum manisnya, jenjang lehernya seimbang dengan cara kakinya melangkah tapaki bumi ini. Indah pula pergaulannya dan banyak pula teman-teman gadis itu. Supel begitulah orang bilang, hingga tanpa kesulitan Ranting tak merasa canggung berkomunikasi dengannya'.

Apakah seindah dan semulus itu perjalanan kisah mereka berdua?

'kedekatan Ranting dengan Aida lama kelamaan berbuah cinta. Belum memasuki bulan ke 6 Rantingpun tak ada perasaan gusar untuk berucap tentang perasaan pada gadis itu. Gayungpun bersambut ramah Aida menerima dengan kerelaan setulus-setulusnya. Tak pula segan gadis  itu membawa pada teman-temanya. Memperkenalkannya  dengan Klisto,  Mala,  Fahmi,  Mono,  juga  Mario'.

'Hidup di kota orang, dalam kurun waktu yang singkat mampu mendapatkan tambatan hati. Aida gadis tenang setenang aliran sungai "Aida"  di Jepang pada musim semi. Air sungai "Aida" yang jernih, tenang berkilauan tertimpa sinar mentari pagi. Sungguh tergambar pula di kemilau rambut Aida. Langkah kakinya tenang, menuju satu muara yg bernama Ranting. Namun dibalik semua keelokan dan "kirana" luarnya'.

'Tersembur aroma luka mendalam yang tersisa di sepanjang hidup Ranting. Perkenalan  dengan teman-teman Aida menguak sebuah kelam yang bersembunyi dalam anggun  gadis  itu'.

Daun hanya menghela nafas saat membaca bagian dari catatan harian pemberian Ranting. Tersimpulkan satu tokoh dan watak bahwa ini jelas sebuah "true story" bukan karangan belaka. Ceritanya tak banyak ter-improve namun terdapat kesan yang tegas tanpa berliku-liku. Dalam hal ini dirinya  sebagai  pembaca sedikit  berkerut hatinya. Tak tahu harus berbuat apa memasuki bab tentang dilema kehidupan yang membawa Ranting  dalam  hitam  mencekam.

'Ternyata Aida serta alur hidupnya yang tenang hanyalah fatamorgana belaka. Perempuan berpendidikan hukum itu menyeret Ranting dalam sebuah rongga kosong. Bahkan semakin deras hitamkan sebuah sejarah seorang pemuda. Hari mulai menyusul pekan ke pekan, bulan pun berubah tahun'.


Masih pada catatan harian pemberian dari ranting untuk daun.

'Hingga memasuki tahun ke 3 lewat 3 bulan. Semakin tegas bahwa Aida adalah ketenangan namun menenggelamkan karier yang tertata itu, dalam hal ini Ranting. Aida bersama para teman dan kawannya hanya tahu hidup enak, menghambur dan juga membakar kertas-kertas bernominal. Yang jumlahnya juga bukan kepalang banyaknya. Selalu tertawa melengking dalam gumpal-gumpalan asap surga. Adiktif kimia rutin mereka suntikan pada lekukan siku tangan mereka. Dan Ranting  hanya  mengikuti  arus lalu terbawa pula oleh aliran deras hasil pengaruh Aida'.

'Ranting termakan suatu anggapan bahwa "cinta" itu harus bisa menerima apa adanya keadaan pasangan, tidak terlalu bisa tersaring maknanya. Dia tak begitu sadar bahwa "cinta" haruslah saling membangun kebaikan satu sama lainnya. Tapi malah turut serta dalam moral yang tak tahu kemana perginya'.

'kehidupan bertambah kelam, Aida semakin pintar mengatur gerak dan gerik kekasihnya. Ranting tak kuasa menolak, anggapannya adalah ini masa muda biarkan saja melaluinya dengan segala warna'.

"Tetapi apa yang terjadi?"

'Semua cuma tinggal cerita, bahkan untuk membangkitkan diri saja Ranting tak kuasa. Tubuhnya terlalu miskin tenaga. Kekebalan tubuhnya sudah hilang bersama obat-obatan  yang  menari di pembuluh darahnya. Lewat jarum suntik yang tidak steril, bergantian mereka memakainya'.

'Peristiwa demi peristiwa dilalui Ranting dengan begitu saja. Tanpa bisa mencegah perangai Aida, berikut kawannya.  Setidaknya  untuk  menjauhkan  dirinya,  ia   tak  mampu'.

'Aida sungguh tebal pengaruhnya buat dia. Membawanya  pada dimensi-dimensi yang tinggi penuh khayalan. Ranting muda, melarutkan dirinya dalam kubangan keruh. Walaupun  masih dia bekerja, namun dari kerja itu hasilnya  nihil.  Sisa  uang  gajian  per  bulan  hanya   menambah  perbendaharaan  penyakit'.

'Demam, nyeri otot, nyeri sendi, rasa lemas, ruam pada kulit, nyeri kepala, nyeri pada belakang mata, batuk, sariawan dan nyeri saat menelan. Sehingga menyebabkan anoreksia atau kehilangan nafsu makan. Pusing kepala atau dengan kata lainnya nausea. Lalu menyusul diare, sesak nafas, tak ketinggalan penurunan berat badan'.
........................................................................................................................

'Seiring dengan apa yang melanda, tanpa sengaja Ranting mendapati sebuah artikel kesehatan. Tercetak di kolom "konsultasi kesehatan" pada tabloid yang terbit di setiap hari selalu memuat ragam bentuk mengenai kesehatan dan macam-macam gangguan. Ranting terhenyak ketika membaca keluhan seseorang yang tak disebutkan namanya. Keluhan itu sama persis dengan apa yang dia alami. Namun sedikit lebih parah daripada apa yang melandanya'.

'Dari artikel itulah membuat Ranting mengalami tekanan dalam hidupnya. Walau dia belum mengalami pneumonia atau sejenis penyakit radang yang menyerang paru-paru. Namun cukup membuatnya sedikit yakin apa yang sedang ia derita. Bukankah gejala-gejala klinis tersebut termasuk dalam tanda-tanda primer HIV'.

'Untuk menambah keyakinan tentang apa yang dideritanya. Ranting melakukan tahap konseling dan konsultasi di klinik pemeriksaan kesehatan. Setelah merasa pikiran dan jiwanya siap terhadap apapun yang terjadi.

Ranting   melakukan  tes  kepastian,  apakah  dia  penderita  HIV?"

Daun menghela nafas sedalam-dalamnya, sebelum membuka halaman berikutnya. Untuk mendapatkan satu inti, isi dari buku catatan seorang pemuda yang bernama Ranting. Dia usap muka dengan telapak tangan yang sedikit berkeringat. Sambil menempatkan diri pada posisi yang enak. Kini Daun kembali membaca setelah membalikkan lembar cerita terakhir dari buku itu. Pelan dia membaca, seorang lakon yang ternyata adalah penulisnya sendiri.

Kisah hidup seorang Ranting yang benar nyata, senyata  nyatanya. Tak ada keraguan di cerita itu, semua dikemas  lewat  goresan  pena.  Lengkap  dengan   muqaddimah,  isi  cerita,  dan  bagian  penutup.
Dalam hatinya .  "Sebuah   keterpurukan  yang  menghasilkan  satu  karya  anak  manusia".

Daun   hanya  terpekur tanpa  gumam apa-apa. Menatap langit kamar dengan  pandangan  yang  kontemplatif. Renungan  bercampur  ketidak percayaan, dibiarkan saja  pikiran itu melayang menuju  seberang  kamarnya. Menuju Ranting yang  telah  patah, seorang  pengidap HIV. Akibat tak bisa mengontrol diri dari pergaulannya. Dan terbesit satu kesimpulan lagi dalam benak daun. "Bukan tanpa alasan jika Dimas menjadi aktivis kepedulian akan ancaman HIV/AIDS".

Dimas telah merasakan menjadi bagian dari apa yang dia suarakan.

(HIV/AIDS adalah ancaman yang nyata)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar