tentang tulisan saya?

Jumat, 07 Januari 2011

"cerita pendek di akhir tahun"



Cerah sinar pagi di penghujung tahun lalu. Selaksa momen yang telah berlalu dan tampil di sepanjang tahun, mulai sedih, suka, gelak juga tawa. Mulai dari isak dan tangis. Manis juga pahit, hitam, biru, merah, kuning, putih, ungu, abu, coklat, bahkan lembayung senja. Berangsur menitikkan berkas-berkas cerita, tak terkecuali pasangan muda suami-istri ini. Seroja tak kan pernah lupa atas perlakuan terhadap dirinya, oleh Pandu suaminya. Terasa akhir tahun yang menyesakkan, tak mendapat tempat istimewa dari bagian hidup terpenting dirinya. Hanya mementingkan kesenangan pribadi. Tak peduli dengan sang istri yang butuh perlakuan istimewa di akhir tahun. Harapan untuk melepas, menghabiskan waktu semalaman telah pudar. Harapan untuk mencipta suasana pengisi acara di ambang batas hanyalah halusinasi yang basi. Seroja tampak murung malang nian nasibnya. Saat membaca lampiran kertas pada meja hias kamarnya. Dengan jelas terbaca tulisan berita akan gagalnya harapan keinginannya. "sayang aku gak bisa temani malam tahun baru". Begitulah kira-kira rangkaian kata yang membuat seroja jadi patah semangat. Dan yang paling membuatnya tak bisa menahan sedihnya ialah di akhir kalimat, surat itu semakin hebat membuat sesak dada. "ada acara mancing bersama teman-teman ". Lebih penting memancing daripada istrinya. Pandu sudah berlalu, meninggalkan seroja istri satu-satunya. Ditengah lelap tidur itu ternyata pandu telah berlalu. Tinggalkan istri yang pastinya akan melewatkan malam tahun baru sendirian (maklum baru setahun usia pernikahan mereka) (belum punya momongan).
..............................................
Seroja tak ada libur buat dirinya. Seorang wanita total berkarya dalam bidang makanan. Usahanya adalah membuat roti peringatan pesta-pesta. Semisal ultah, pernikahan, kondangan juga apapun yang jelas berkenaan dengan perayaan. Tanggal 31 desember pagi, dengan lemas dia membuka toko miliknya "seroja" begitulah papan nama itu tertulis. Diantara rasa kesal, rasa penuh curiga terhadap suaminya dia coba tetap bekerja seperti biasa. Gladys adalah satu-satunya pegawai yang tersisa. Sebab pegawai lain lebih memilih untuk pulang ke kampung masing-masing. Ada 4 pegawai sebetulnya tapi penulis tak begitu ingin memperkenalkan pada pembaca. Males penulis dari golongan yang masih sangat sungguh terlalu amatir ini adalah kategori pemalas stadium 531. Kembali pada toko "seroja" yang tampaknya dalam keadaan tak seperti biasa. Terlihat ramai pembeli, ramai pengunjung, dengan macam-macam permintaan. Mulai dari roti basah berlapis krim, coklat, keju, kacang (asal jangan kacang panjang), apalagi namanya penulis bukanlah petugas pendataan dan perincian. Dua orang tenaga perempuan itupun lelah, kewalahan sudah mengatasi kelarisan hari ini.
..............................................
"Seroja" telah waktunya tutup, walau belum waktunya. Masih pukul 3 sore, tetapi tak ada yang dijual. Pulang adalah pilihan yang tepat. Maka bersegeralah seroja dan gladys beranjak tinggalkan toko.
..............................................
Dengan rasa kesal masih pada pandu, seroja berdiam sendiri dalam rumah. Tak tahu harus berbuat apa di dalam kesepian ini. Tiba-tiba saja terselip ide menonton bioskop adalah tepat mengisi kekosongan. Berangkat dan sampailah seroja di tempat tujuan.
..............................................
Tapi sayang lagi-lagi dia harus sial. Karcis jam pertama telah habis, harus menunggu jam kedua. Sekitar jam 9 malam film di jam kedua baru mulai. Jadi sekitar pukul 23 dia baru keluar dari gedung bioskop. "tak masalah pikirnya". Walau harus menunggu jam pertama kelar duluan.
..............................................
Turun dari taksi seroja heran dengan keadaan rumahnya yang gelap. Ada yang aneh di pelataran depan ada sebatang lilin menyala. Dia mencoba tidak curiga. Mungkin lampu teras putus. Maka sama tetangga sebelah di pasang lilin pada meja depan rumah. Seroja melangkah mendekati gagang pintu rumah. Coba memasukkan kunci. Tapi alangkah terkejutnya saat mendapati pintu tak terkunci. Pikiran semakin tak karuan. Rumahnya mungkin tersatroni maling. Tapi ditengah rasa penasaran itu. Lampu dalam rumah menyala.........
......................................................................................................................................................................
......................................................................................................................................................................
.......................................................................................................................................................................

Malam tahun baru yang tak terduga. Penuh dengan kejadian tiada terkira, tiada diinginkan menyelipkan kecewa. Dalam hati seroja. Suami satu-satunya tiada di sampingnya. Menggenggam tangannya lalu mengajaknya berlenggang di kemeriahan malam akhir tahun. Seroja watak dan namanya tidak seimbang. Seroja adalah simbol ketenangan serta kedewasaan. Namun wanita ini tak cukup nilai untuk kategori 2 kata tersebut di atas. Menggresah tak bisa tenang menghadapi kenyataan hidup yang ada. Pikirannya tak karuan beraneka macam curiga terdeteksi dari sikapnya. Kesal dan takut pandu suaminya akan berbuat macam-macam. Jengkel tak dipedulikan malah teracuhkan. Ya sebenarnya seroja berhak atas sikap demikian. Bukankah ini wujud rasa cinta yang sangat dalam pada sang penyandar jiwanya. Yang terjadi justru berbanding terbalik, pandu lebih peduli pada kegiatan memancing dengan komunitasnya dengan tajuk "menembus batas". Alasan yang dirasa pandu cukup kuat untuk memperoleh keyakinan sang istri. Tapi apakah cukup dengan itu?? Tidak jawabnya...
Bagaimanapun juga kaum betina khususnya istri punya acuan besar, menjurus pada sikap curiga. Punya sikap sangka dan duga, maklum namanya betina antisipasi adalah terpenting. Ibarat sebuah sarana rumah tangga adalah gawang. Serta istri ataupun suami harus bekerja sama agar kuat mempertahankan gawang dari kebobolan. Menghalangi penyusup lain masuk (PIL/WIL) dapat digambarkan sebagai wujud bola, yang merobek jala gawang. Kembali pada kejadian seroja yang sampai di rumahnya.
...................................................................
Suasana dalam rumah kosong tak ada siapapun. Juga tak ada tanda bekas orang masuk. Hanya isi perkakas rumah yang tampak masih utuh. Tapi anehnya, "kenapa pintu dalam keadaan tak terkunci?" seroja coba ingat kejadian beberapa jam yang lalu. Sesaat sebelum dia meninggalkan rumah. "ah tapi gak mungkin aku lupa" sambil dia memeriksa kembali daya ingat. Memang benar adanya, seroja tidak lupa mengunci pintu. Dia orang teliti, kalaupun dia lupa mengunci pintu, pastinya sarana pembuka pintu yang ada penghias berupa gantungan itu juga lupa terbawa kan. Alat itu ada pada seroja dalam tas kulit kecil berwarna cokelat pekat gelap itu. Yang sekarang tas itu di taruh pada sofa ruang tamu. Pada akhirnya seroja duduk diam disandarkan kepala bertopang leher itu pada sofa yang masih lumayan baru. Sekitaran 3 bulan lalu dia beli (hitungan malam tahun baru setahun yang lalu). Setengah dalam rasa kantuk, dalam keadaan pintu rumah sudah tertutup, seroja menutup mata. Mencoba melepas beban sumpek akhir tahun lalu.
................................................................
"SELAMAT TAHUN BARU"
"HAPPY NEW YEARS"
"UNTUK BELAHAN JIWAKU"
Beruntun 3 kalimat terucap dari belakang. Seroja agak setengah terperanjat, seperti mengenal suara itu. Dengan keadaan setengah baru saja terbangun dari setengah tidurnya. Seroja menoleh ke belakang. Seseorang yang dia kenal bahkan sangat. Ternyata mengagetkan tidurnya. Merusak kantuknya, membinasakan mimpi yang hampir saja hadir. Dengan sedikit rasa kesal, melihat pandu membawa terompet lalu dengan 3 kali tiupkan. Ke arah seroja agar tersadar dari mimpi. Agar menyadari bahwa kejadian sehari ini hanyalah ungkapan kasih pandu pada istrinya. "sengaja aku bikin acara begini" sambil menghampiri istri tercinta. Dikecupnya bibir manis itu, dinikmatinya dengan sedalam kenikmatan. Lalu pandu buka sebuah kotak besar. Berisi roti, "sekarang kamu makan ini sayang".
"bukankah ini roti bikinanku?". Seroja bertanya, dengan nada lirih terharu penuh kepastian. Dengan anggukkan yang ringan lalu pandu berkata. "kau selalu bikin roti, tapi kamu gak pernah menikmati karya yang paling berarti dalam karier hidupmu ini".
"malam ini aku ingin melihat, seseorang yang berarti dalam hidupku menikmati karya yang juga berarti dalam hidupnya.
Pandupun lalu bercerita bahwa semua ini kejadian seharian ini cuma akal-akalan dia. Cuma ungkapan rasa terdalam atas istrinya. Kemudian dia juga bercerita bahwa roti di toko "seroja" telah pandu borong. Semua orang yang datang membeli roti adalah suruhan pandu. Ada misi tersendiri dalam diri pandu di akhir tahun kemarin. Ternyata ingin mengajak istrinya untuk berbagi sebagian milik mereka. Berbagi dengan anak-anak panti asuhan di seberang jalan sana. Yang juga berhak atas kemeriahan malam terakhir di penghujung tahun. Mengajarkan pada seroja ungkapan perayaan yang lebih terarah serta tepat sasaran. Waktu menunjukkan pukul 00.00 kurang beberapa menit. Cukup waktu untuk melaju keseberang jalan menuju panti asuhan "kita" lalu berbagi. Berbagi kebahagiaan, berbagi perayaan menikmati hasil karya seroja. Roti dengan aneka macam aroma dan rasa. Dengan beraneka ragam krim pemanis lalu berselipkan rasa kebersamaan berbagi kebahagiaan dengan mereka yang juga berhak atas kebahagian. Bukankah perayaan ini terasa manis kawan. Semanis krim dan roti bikinan "SEROJA"....
Dan terakhir pesan dari pandu dan seroja
nikmati perayaan apapun secara terarah.....

Rabu, 05 Januari 2011

"artikel ku kenangan ku" chapter 1

"ARTIKEL ku kenangan ku"

6 sahabat pelaku pendidikan berperan sebagai siswa di salah satu SMP paling bontot kota ini.
Epin selaku pemeran utama dalam cerita ini tingkahnya kerapkali membuat decak tawa sahabat lainnya.
Gentho, galih, agung teko, soni, lalu sodan merupakan teman dalam bagian hidup epin. Kepada merekalah bayu mendapatkan cerita rangkaian kekonyolan sikap epin. Bayu, pengumpul artikel-artikel cerita yang rajin. Seakan berurutan layaknya sebuah tabel data, dia menyimpan dalam memori otak. Dan kesempatan pagi hari ini adalah waktu yang tepat membuka sedikit kotak memorinya.

Epin kurus dia punya bodi, gak keren juga dia punya face. Tapi soal "confidenza" upz.... Wuih.... Jangan tanya, kepercayaan dirinya melampaui kata "posesif". Ya cowo harusnya gitu dong, kekurangan sama dengan kelebihan. Kelebihan sama dengan kekonyolan. Pagi hari selasa yang cerah burung berkicau mengiri derap langkah para pelaku pencari ilmu pencerah. Pencerah kehidupan.

6 sahabat ini punya jadwal rutin berangkat bareng menuju sekolah mengendarai 2 kaki alias jalan. Biasa kumpul di rumah soni base camp di pagi hari. Dapat dikatakan di sini rumah soni adalah muara pertemuan dari 3 penjuru. Penjuru utara galih dan gentho. Penjuru selatan epin dan sodan. Penjuru pusat agung teko dan soni adalah jenis omnifora di habitat ini. Wow... Mereka telah berkumpul, menunggu soni yang super lelet. Tiap hari seperti raja minta ditungguin tapi gak nyadar harusnya cepetan bergegas siap tinggal berangkat. Malah temen pada udah kumpul di rumahnya dia masih asik dengan sabun, sikat juga pasta gigi. Belum lagi bila semalam soni mimpi upz (sensor ahh). Harus tambahan ada acara keramas butuh waktu lagi. "dasar lelet". Sering selentingan itu kerapkali muncul dari 5 sahabat soni. Jenuh mulai menghinggapi epin dan menyeretnya pada lubang kekesalan. Hebatnya rasa tersebut bisa epin tahan selama waktu belakangan sebelum pagi ini. Tampaknya habis sudah kesabaran mungkin juga terasa oleh kawan lain. Otak epin bekerja, psikopat konyol tingkat akut stadium 113 kumat. Gawat dong?? Penulis cuma tenang!!

Epin masuk ke dalam rumah soni. Dalam gerutu dan sikap kesal tengok kanan mencari ide. Tengok kiri mencari bahan untuk melaksanakan idenya. Rumah soni di pagi hari selalu sepi. Soni hanya sendiri. Saudara lain juga ortu sibuk sama aktivitas masing-masing. Kembali pada epin van kasar yang kini sudah mendapatkan gunting di tangan. Apa yang ingin dia lakukan???

Hari ini kelas soni ada jadwal mata pelajaran olah raga. Dalam hal ini soni kebanggaan gurunya. Maklum dia juga pemain bola tingkat kampung. Jadi pastinya ada kebanggaan tersendiri, dengan seabrek gelar. Mulai dari gelar bek terbaik juga juara satu tingkat RW. Piagam juga piala serta fotonya terpajang kok di ruang tamu. Kembali pada epin kini telah keluar dari rumah soni. Sahabat lainnya pada bertanya saat mendapati epin van kasar memegang gunting dan celana pendek seragam olah raga punya soni. Dengan tenang epin mulai pertunjukan.

"ssttt" jari telunjuk itu dipamerkan pada bibirnya yang manyun. "ben kapok, dienteni gak rumangsa". Epin menggunting celana olah raga soni. "krek krek krek krek" begitu lah suara gunting melintasi bagian tengah celana pendek yang entah warna apa (penulis buta warna). Yang jelas hanya hitungan detik rampungkan benak gilanya. Lalu santai saja bersikap seperti film james bönd tanpa reaksi berlebihan, epin dalam sikap. Dengan tenang membuang korban ke tempat sampah. Seperti tak terjadi apa epin masuk ke rumah kembalikan gunting. Teman lain malah tertawa tak mampu mencegah epin van kasar yang konyol psikopat dan puas dalam kelakar tawa. Epin terbahak seusai menjalankan aksinya. Eksekusi pagi ini hasilkan tawa yang indah. Epin puas, sukses dengan proyek pelampiasan rasa kesal terhadap soni. Terus bagaimana nasib olah raga soni??? Jawabnya telah hancur di tangan epin van kasar.

"wuihh"

    Segelas  kopi sebatang rokok, menikmati gemericik suara air di pinggir bibir kali yang tidak terlalu jernih. Tidak terlalu kusam pula warnanya, berkolaborasi  dengan  canda  ria bocah-bocah  kecil,  para  abg, petualang pencari acara pengisi liburan di awal tahun. Sepintas dua pintas waktu, penulis yang masih sibuk mencari alur apa untuk pengisi temanya siang ini. Sesekali ia menengok ke kanan lalu berbalik ke belakang. Samping kirinya hanya tumbuhan apa jenisnya. Perdu mungkin sebab tak begitu memahami khasanah Biologi pada alam semesta.

    Kepulan asap dari mulutnya. Berbahan kretek 3 angka tentunya. Bila mereka jumlah akan kita ketahui hasil ganjil. Jumlah 9 sudah pastinya. Sekutu (sepuluh kurang satu). Sering dia berkata seperti itu. Suasana alam yang tak begitu terlihat perawan. Namun kontaminasi kumpulan polusi tak begitu kentara.Lihat saja bocah-bocah menceburkan sebagian dari anggota badan tubuh mereka. Dua penopang badan berwujud kaki. Langkah di atas bebatuan-bebatuan itu.
    "Serasa surga layaknya di mimpi saya".

    Memang penulis pernah melihat surga?" Jawab dengan setengah ada kebohongan, pernah. Di mimpi suatu malam pada sebuah kota. Kota peradaban 1001 mimpi. Di mimpinya dia bermimpi lagi menjadi generasi ke 300 empat puluh satu. Menjadi penguasa sebuah istana langit, lalu menyandingkan langit pada keadaan yang tiada terperi indahnya.

    Kali ini penulis dari golongan amnesia tingkat akut super kolosal mulai ngelantur. Kenapakah    dia   ngelantur.
    Lebih karena kontaminasi reaksi nikotin dan kafein itu penyebabnya. Tak begitu jelas tiba-tiba saja dia berbayang wajah fir'aun dan raja namrud. Dia imajinasikan sungai itu layaknya laut merah. Beraksilah dia mengembara berperan sebagai musa.

    Memegang tongkat serta membelah laut merah. setelah itu laut terbelah menjadi 2 bagian, tengahnya tampak daratan memanjang diantara lautan itu. Lalu berlari melintasi tengah belahan antara 2 patahan laut itu.
    Ouw...
    Cukuplah khayalan ini terlalu rumit dibayangkan pembaca. Tokohnya terlalu super hero.Keberadaannya tak terdeteksi oleh literaturnya yang hanya penulis amatir kelas krupuk. Tapi kemudian dia sadar ,"ini terlalu gila terlalu sadis".

    Dengan tingkat kesadaran yang mulai di ambang normal kini dia menjelma. Kembali pada peradaban galaxy yang sebenarnya. Mengamati jalannya skema pada layar nyata. Ingin rasanya dia bertelanjang kaki berbaur pada air, gemericik tawa serta canda. Tetapi malah bayangan tentang jhon lenon pada artikel imagine adalah nyata buatnya. Bayangan kedamaian di seluruh penjuru kolong langit ini.Memaksanya sedikit berkedip enggan. Air tampaknya terlalu dingin. "Dasar penakut, phobia air itu namanya". Gerutu  penulis  padanya.

    Terus saja hingar engkau cerita pembuka awal tahun. Selipkan kegembiraan agar tak murung hari depan. Gelas kopi mulai mengering, rokok ini habis sudah dan selayaknya dia sadar. Hentikan hasrat ini dulu untuk sementara. Pepohonan, hijau, segar udara terlalu sayang untuk aku rusak. Otaknya kini mulai sok peduli terhadap alam sekitarnya. Merasa menjadi pembenci untuk kaum yang memporak porandakan alam. Hingga dia berpesan.

    "Berhentilah menginvansi bau yang ramah ini dengan reaksi kimia kalian".

    Di tengah himbauan dengan berseru kepada umat lainnya, tokoh ini otaknya mulai ter mutasi. Dari takut pada dinginnya air, sekarang malah ada sebuah ide membidikkan pesan agar bergumul dengan aliran dingin.

    Di bawah sana bebatuan kali itu menggoda untuk berbagi. Mengajarkan bahasa alam. Sastra-sastra penuh makna, isyarat tentang kegalauan akan sebuah ancaman. Ultimatum oleh eksploitasi atas nama kemajuan pada sistem global. Pemerataan revolusi bidang ekonomi dan industri yang mereka pampangkan. Inovasi segala bentuk teknologi canggih. Terkadang tanpa sadar ataukah dengan sengaja memusnahkan serta memangkas ekosistem alamiah yang lambat laun mulai terdegeradasi. Berganti dengan menara beton, gedung angkuh, berisikan manusia atas nama.
      
    "GERAKAN PEMERATAAN INOVASI DAN TEKNOLOGI".

    Tanpa ada pemisahan mana area layak untuk industri, pemukiman susun, persawahan, perkebunan, serta agro dalam bentuk lain. Bila itu yang mereka pikirkan adalah berbagai bentuk ekploitasi di segala bidang industri dan teknologi. Maka sebelum habis waktuku, mumpung tersisa durasi untuk bersimbiosis dengan air yang masih lumayan alami ini. Akupun ingin bersenggama dengan zat netral yang punya sifat kapilaritas pada celah-celah kecil itu. "Saatnya kutanggalkan alas kaki lalu dengan keadaan kaki tanpa busana aku berhambur menuju gemericik air"

    Sekian cerita tentang siang di pembuka tahun ini...
    Wassalam....