tentang tulisan saya?

Rabu, 05 Januari 2011

"wuihh"

    Segelas  kopi sebatang rokok, menikmati gemericik suara air di pinggir bibir kali yang tidak terlalu jernih. Tidak terlalu kusam pula warnanya, berkolaborasi  dengan  canda  ria bocah-bocah  kecil,  para  abg, petualang pencari acara pengisi liburan di awal tahun. Sepintas dua pintas waktu, penulis yang masih sibuk mencari alur apa untuk pengisi temanya siang ini. Sesekali ia menengok ke kanan lalu berbalik ke belakang. Samping kirinya hanya tumbuhan apa jenisnya. Perdu mungkin sebab tak begitu memahami khasanah Biologi pada alam semesta.

    Kepulan asap dari mulutnya. Berbahan kretek 3 angka tentunya. Bila mereka jumlah akan kita ketahui hasil ganjil. Jumlah 9 sudah pastinya. Sekutu (sepuluh kurang satu). Sering dia berkata seperti itu. Suasana alam yang tak begitu terlihat perawan. Namun kontaminasi kumpulan polusi tak begitu kentara.Lihat saja bocah-bocah menceburkan sebagian dari anggota badan tubuh mereka. Dua penopang badan berwujud kaki. Langkah di atas bebatuan-bebatuan itu.
    "Serasa surga layaknya di mimpi saya".

    Memang penulis pernah melihat surga?" Jawab dengan setengah ada kebohongan, pernah. Di mimpi suatu malam pada sebuah kota. Kota peradaban 1001 mimpi. Di mimpinya dia bermimpi lagi menjadi generasi ke 300 empat puluh satu. Menjadi penguasa sebuah istana langit, lalu menyandingkan langit pada keadaan yang tiada terperi indahnya.

    Kali ini penulis dari golongan amnesia tingkat akut super kolosal mulai ngelantur. Kenapakah    dia   ngelantur.
    Lebih karena kontaminasi reaksi nikotin dan kafein itu penyebabnya. Tak begitu jelas tiba-tiba saja dia berbayang wajah fir'aun dan raja namrud. Dia imajinasikan sungai itu layaknya laut merah. Beraksilah dia mengembara berperan sebagai musa.

    Memegang tongkat serta membelah laut merah. setelah itu laut terbelah menjadi 2 bagian, tengahnya tampak daratan memanjang diantara lautan itu. Lalu berlari melintasi tengah belahan antara 2 patahan laut itu.
    Ouw...
    Cukuplah khayalan ini terlalu rumit dibayangkan pembaca. Tokohnya terlalu super hero.Keberadaannya tak terdeteksi oleh literaturnya yang hanya penulis amatir kelas krupuk. Tapi kemudian dia sadar ,"ini terlalu gila terlalu sadis".

    Dengan tingkat kesadaran yang mulai di ambang normal kini dia menjelma. Kembali pada peradaban galaxy yang sebenarnya. Mengamati jalannya skema pada layar nyata. Ingin rasanya dia bertelanjang kaki berbaur pada air, gemericik tawa serta canda. Tetapi malah bayangan tentang jhon lenon pada artikel imagine adalah nyata buatnya. Bayangan kedamaian di seluruh penjuru kolong langit ini.Memaksanya sedikit berkedip enggan. Air tampaknya terlalu dingin. "Dasar penakut, phobia air itu namanya". Gerutu  penulis  padanya.

    Terus saja hingar engkau cerita pembuka awal tahun. Selipkan kegembiraan agar tak murung hari depan. Gelas kopi mulai mengering, rokok ini habis sudah dan selayaknya dia sadar. Hentikan hasrat ini dulu untuk sementara. Pepohonan, hijau, segar udara terlalu sayang untuk aku rusak. Otaknya kini mulai sok peduli terhadap alam sekitarnya. Merasa menjadi pembenci untuk kaum yang memporak porandakan alam. Hingga dia berpesan.

    "Berhentilah menginvansi bau yang ramah ini dengan reaksi kimia kalian".

    Di tengah himbauan dengan berseru kepada umat lainnya, tokoh ini otaknya mulai ter mutasi. Dari takut pada dinginnya air, sekarang malah ada sebuah ide membidikkan pesan agar bergumul dengan aliran dingin.

    Di bawah sana bebatuan kali itu menggoda untuk berbagi. Mengajarkan bahasa alam. Sastra-sastra penuh makna, isyarat tentang kegalauan akan sebuah ancaman. Ultimatum oleh eksploitasi atas nama kemajuan pada sistem global. Pemerataan revolusi bidang ekonomi dan industri yang mereka pampangkan. Inovasi segala bentuk teknologi canggih. Terkadang tanpa sadar ataukah dengan sengaja memusnahkan serta memangkas ekosistem alamiah yang lambat laun mulai terdegeradasi. Berganti dengan menara beton, gedung angkuh, berisikan manusia atas nama.
      
    "GERAKAN PEMERATAAN INOVASI DAN TEKNOLOGI".

    Tanpa ada pemisahan mana area layak untuk industri, pemukiman susun, persawahan, perkebunan, serta agro dalam bentuk lain. Bila itu yang mereka pikirkan adalah berbagai bentuk ekploitasi di segala bidang industri dan teknologi. Maka sebelum habis waktuku, mumpung tersisa durasi untuk bersimbiosis dengan air yang masih lumayan alami ini. Akupun ingin bersenggama dengan zat netral yang punya sifat kapilaritas pada celah-celah kecil itu. "Saatnya kutanggalkan alas kaki lalu dengan keadaan kaki tanpa busana aku berhambur menuju gemericik air"

    Sekian cerita tentang siang di pembuka tahun ini...
    Wassalam....

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar