"Un-break my heart
Say you'll love me again
Undo this hurt you caused
When you walked out the door
And walked out of my life
Un-cry this tears
I cried so many, many nights
Un-break my
Un-break my heart oh baby
Come back and say you love me
Un-break my heart
Sweet darlin'
Without you I just can't go on
Can't go on....
oleh Toni Braxton. Yang mengejawantah
setiap langkah Mahesa, menuju pulang ke rumah. Masih saja terngiang
di sela tapak kaki Bartender. Klab malam
'Antonioli' yang tersohor di kota ini.
"Aku benci, kehidupan malam".
"Aku benci, lelaki hidung belang".
"Aku muak, pada wanita malam".
"Aku benci manusia-manusia sakit jiwa".
Dalam hati Mahesa terus saja mengumpat.Memaki kehidupan
pengisi malam, pelipur jiwa
yang sakit.
Para perempuan malam itu, para lelaki
hidung belang. Penari ular, Bar Girl, Waiters, juga mantan istrinya.
Dia terus saja menyeret langkah di pagi buta, juga mulai mengumpat
pada lembaran uang dan pemiliknya yang serakah. Lalu kakinya
tiba-tiba saja terhenti, terkaget setengah mati, tak percaya. Hanya bergumam
dalam hatinya. Mendapati kenyataan lewat pandangan mata secara langsung.
"Lagi-lagi, seorang pelacur mati".
"Semua lelaki masih saja menganggap".
"Pelacur, hanya barang rongsokan".
Tapi Mahesa tak peduli, dia terus saja mendorong langkah
untuk terus melaju. Tak ada gunanya, mungkin itu anggapannya
saat pagi
jam 03.00 yang buta.
Malah menambah masalah,
Polisi-polisi itu biar bekerja sendiri. Toh dia, tak akan dapat untung
dari kesaksian yang diperolehnya atau yang ia ketahui.
Tentang siapa pelacur itu??"
Dengan siapa pelacur itu??"
Terakhir kali dia kencan??"
Ahh. Semua bukan urusan Mahesa. Lebih baik berjalan,
sambil membayangkan wajah
Cindy, Penari ular penggemar
'When I Look into your eyes'
hasil kreasi minuman yang dia buat sendiri, setahun lalu.
Cindy gadis ABG tanggung usia, sekarang jadi kembang
di klab malam 'Antonioli' selesai show pasti banyak yang
mengantrei. Begitu banyak pengunjung, yang menginginkannya. Lelaki tua, Eksekutif muda,
Pejabat kota ini. Berlomba untuk menjadikan Cindy istri simpanan.
Istri kedua, istri ketiga atau ke dua puluh tujuh. Yang jelas pada intinya
mengobati jiwa yang sakit jiwa. Itulah tugas Cindy.
"Kasihan Cindy, terlalu muda untuk jadi korban
para bangsat-bangsat itu".
"Mereka cuma orang sakit jiwa, tak tau kemana
harus membuang duit"
"Tapi, Cindy juga butuh biaya hidup untuk setiap
kehidupan yang bersandar pada hidupnya".
"Hidup ayah dan ibunya, sekolah adiknya, biaya
berobat ayahnya yang sedang menderita asma"
"Ah, aku sendiri juga bangsat, kenapa aku maki
mereka, bukankah istriku tinggalkan aku, karena
aku bangsat".
Mahesa terus saja pikirannya menggerayang,memelototi aspal jalan itu.
Mukanya pekak merahpanas, sisa dari cape dikerja pagi ini. Bayangan
Cindy kembali lagi datang.
Lentik jarinya saat meraih segelas 'Vodkatini' yang ia sodorkan, lalu
dengan nafas memburu dia cumbu pipi Cindy.
"Ahh...bau parfum itu, polesan bedak itu???"
"Mengapa begitu gampang aku rasakan
aromanya?"
"Tapi kenapa aku harus bertahan di ruangan ini?"
"Sesak dadaku mendengar hentakan musik dan
kepulan asap itu".
"Gerombolan 'Homo Seksual' dan sepasang
'Lesbian' itu??"
................................................................................................................
"This Romeo is bleeding but U can't
see his blood....
It's nothing but some feeling that this old
dog kicked up...
It's been rain since U leave me now.........
drawing in the flood...
U see I've always been a fighter
but without U... I give up...
Now I can't sing love song
like the way it's mean't to be...
Well I guess I'm not good anymore
but baby thats just me...
Ponsel berbunyi, tanda pesan singkat masuk. Mahesa terpaksa
terbangun dari tidurnya yang hampir saja pulas. Seketika rasa menyesal
dalam hati Mahesa, tak mematikan ponselnya menjelang tidurnya.
Namun begitu dia membuka apa isinya dan siapa pengirimnya?"
Dibuangnya sesal itu, sebab tak patut dia mem-
benci pengirim pesan.
"Papa,...tolong telepon aku penting banget".
Pesan dari anak semata wayang, hasil pernikahan dengan mantan istri. Dio,
biasa mengirimkan pesan seperti itu pada papanya. Bila anak 10
tahun itu, menginginkan sesuatu yang ia anggap
penting.
"Hallo... Assalamu'alaikum Papa".
"Wa'alaikumsalam Dio, ada apa kok minta
Papa telepon kamu?"
"Ma'af ya Pa, masih pagi udah gangguin
Papa".
"Iya sayang... Kamu nggak perlu minta ma'af ,
ceritakan ada apa, Dio pengen apa?"
"Tapi, Papa janji ya nggak bakal
marah sama Dio?"
"Kenapa mesti marah, Papa kan belum tau
maksud Dio apaan".
"Anu...anu...anu Pa, Dio pengen Playstaion 3,
temen-temen Dio udah banyak yang punya,
jadi Dio pengen juga, Pa".
"Ya, kalo Papa udah ada uang ntar
secepatnya Papa beliin".
"Bener Pa? Makasih ya Papa".
"Sekarang, Dio buruan mandi abis itu sarapan
pagi, trus berangkat ke sekolah. Tapi jangan
lupa, cium tangan Kakek ma Nenek sebelum
berangkat".
"Ya Pa.. Daghhh... Assalamu'alaikum Papa".
"Wa'alaikumsalam Dio, jadi anak rajin biar
jadi unggulan di sekolah".
Pembicaraan lewat ponselpun berakhir sudah. Dan Mahesa hanya terdiam,
terpaku pada permintaan si buah hati. Rasanya tak tega bila dia
tak menuruti keinginan itu. Hanya Dio, cuma anak
itulah harapan menjemput hari tuanya.
"Teknologi, kenapa selalu berkembang selalu ada
saja kemajuan di bidang ini".
"HP baru saja aku belikan, model terbaru dengan
aplikasi terkini pula, itupun harus dengan cara
berpuasa, mengesampingkan kebutuhanku sendiri,
hanya untuk anakku tak lebih".
"Aku benci teknologi, aku juga benci kecanggihan
hasil penemuan mereka".
"Hari ini, detik ini tepat di waktu ini masih sebatas
Playstaion namun esok hari, lusa nanti, lusanya lusa,
dan berlusa-lusa lagi? 'Komputer, sepeda motor',
pasti akan ada di daftar barang keinginan anakku".
"Tapi aku tak mungkin membenci anakku, menghen-
tikan kreativitas otaknya".
"Aku benci keinginannya, namun tak sanggup
membendungnya, juga tak ingin merampas kesem-
patan otaknya untuk bekerja lebih pintar".
"Aku benci ibunya, benci karena tinggalkan aku
dan dia".
"Aku benci mantan istriku dan mata uangnya,
karena lembaran itu, tinggalkan aku dan Dio".
Air putih itu ia tenggak.
Pria 31 tahun, duda,
seorang Bartender klab malam 'Antonioli' menyandarkan diri di tembok
ber cat biru yang kusam. Tak bisa kembali memejamkan matanya. Rasa
kantuk hilang. Karena dipaksa meninggalkan mimpi oleh sang anak.
Kemudian si anak menjejali dengan mimpi yang serba mendadak datangnya.
Kedua tekuk kakinya melipat, memandang kearahdepan kosong tanpa lamunan.
Ia raih Marlboro dan korek yang usang tergeletak di meja
penuh debu samping kanan, tempat tidurnya. Jaket dan celana
jean's Lea warnanya telah kusam pula. Lima tahun lalu mungkin dulu dia
membelinya. Tergantung, cantolannya bahan plastik mungkin sudah reot.
Dipindahkannya pikiran kalut itu, tapi pada apa dan siapa. Ruangan ini tak ada objek panorama yang pantas untuk menyegarkan otak.
Rumah itu terlalu besar untuk disinggahi sendirian.Mahesa telah menyadari
sejak dulu, pertama kali datang ke kota ini. Tapi dia tak ingin bergumul
serumah dengan orang lain. Harusnya Mahesa menyewa sebuah kamar kos saja.
Namun baginya kamar kos terlalu kecil dan mini bahkan terlalu sumpek, anggapannya.
Beban hidupnya sumpek, maka ia tak ingin menambah kesumpekan dengan hal lain.
Diantara rasa kalut dan kegamangan dalam
pikirannya.
Selalu terlintas bayangan mendinginkan emosinya. Rasa muak pada
mantan istrinya, rasa geram pada kehidupan malam, juga pada rasa
suntuk menyikapi manusia-manusia batu. Bagaimana dia melihat badut-badut tua,
para blandotan tak sadar umur. Tertawa pingkal dalam dingin AC,
asap rokok,
aroma minuman.Whiskey, Bloody Mary, Vodkatini, Smirnoff
Whiskey.
Sementara,..
bibir mereka, para manusia yang masa pubernya masih memuncak di usia
yang tak muda lagi. Mungkin dalam hitungan hari,minggu, bulan, atau juga
beberapa tahun lagi akan mati menjadi santapan cacing-cacing tanah.
Bayangan Cindy pekat menari dalam kalutnya.Mahesa sungguh menyadari
bagaimana Cindy, sang Penari ular itu membiuskan aroma yang tak
biasa.
Ketika Mahesa dapati mereka, orang-orang rakus mendekati dan menjailkan
tangan pada lekuk tubuh Cindy. Mahesa selalu meninggi,
emosinya. Gemetar, gemerutuk deretan jajaran
gigi-giginya.
..............................................................................................................................
Cindy adalah gadis yang terlalu segar bila kemudian dia memar. Ekonomi, sakit hati,
atau patah hati dan frustrasi mungkin adalah alasannya.
Namun Mahesa tak pernah mau peduli dengan berbagai alasan para
perempuan-perempuan malam itu, menggeluti dunia malamnya. Toh dia
juga tak mau menanyakan, alasan-alasan tersebutsepertinya klasik dan alasan kawakan.
Apapun wujudnya, Cindy tak layak untuk dia dakwakan seperti itu. Cindy itu kembang,
setangkai mawar berlakon Penari ular. Tetap akan mekar, sepanjang
hidupnya.Walau dalam keadaan hidup dan kondisi
yang memar.
Sering dia naik pitam, meracau dalam pikiran bila Cindy bersama lelaki lain.
Hidung belang...
"Aku muak dengan blandotan tua itu".
"Bagaimana bila yang kau cumbu ada lah anak
gadismu sendiri?"
"Ahhh... Kenapa aku terus meneror pikiranku
sendiri?"
"Aku tak berhak jadi hakim, jadi pemutus nasib,
aku cuma rendahan di sini, dipekerjakan, dibayar".
"Memberikan sebagian upah bulananku pada
anakku, orang tuaku dan sisanya cukup untuk
kesenanganku".
"Tapi aku masih tak rela bila Cindy menjadi
korban mereka".
"Benar-benar degradasi moral yang sungguh tajam
merosot pada kasta Jahiliyah".
"Namun aku juga termasuk di dalamnya, memberi
pelayanan pada mereka pelaku kemerosotan
moral".
"Bila ada Cindy, pikiranku tenang apalagi dalam
keadaan yang memang sama-sama sendiri".
"Kugenggam tangannya dan kubisikkan".
"'And I sword ......... I never Let U Go............
coz I need U....... I want to take U away....
To find a better place' ".
Itulah berbagai macam bayangan dan khayalan dalam diri Mahesa,
tentang Cindy. Penari ular
di klab malam 'Antonioli' tempat Mahesa
bekerja.
..........................................................................................................................
Koran pagi ini, sehari setelah terjadi pembunuhantragis di sebuah tempat
rekreasi keluarga. 'Avokado' tempat yang indah, nyaman bagi
para pengunjungnya. Bila ingin relaksasi, bernyanyidalam room yang dingin,
menikmati alunan dariberbagai genre musik. Mulai dari domestik yang campur aduk
hingga lantunan lagu-lagu mancanegara. Cukup dengan biaya per jam, bila
semua terpenuhi segala macam akan terdapati. Bernyanyi dengan iringan musik
sekeras mungkin volumenya, tanpa menganggu privacy orang lain
Di sela kedamaian bernyanyi bisa juga merasakan pijatan-pijatan
Hareem penghibur. Dengansikap siaga, senang hati lalu dengan
kemesraan walau tak jarang cuma bentuk kamuflase,
fake, absurd dan palsu.
Para Hareem-hareem itu siap memberi pelayanan ramah.
Hati siapa tak akan tergoda??"
Namun di balik itu semua, ternyata tak semua individu bukan dalam
golongan kaum yang memandang dunia ini indah. Malah kadang memandang
para Hareem itu, tak ubahnya sampah. Tak mengertikah mereka
akan peradaban yang maju, segala kenikmatan harus selaras dengan
kejernihan berpikir.
Bila mana si Hareem penghibur ada yang menolak suatu permintaan
pastinya ada alasan. Kelelahan, kecapaian, atau dalam kondisi pikiran
bad mood. Tapi selalu saja banyak yang tak
mengerti tentang itu semua.
"Ah... Ternyata korban adalah Fransisca".
"Mantan penari ular, kembang di 'Antonioli'
sebelum pada akhirnya tergantikan Cindy".
"Aku sempat dekat juga dengan Fransisca".
"Dia baik, sopan, juga hebat, piawai dalam me-
nyenangkan teman".
"Tak habis pikir, kenapa harus dia yang terbunuh,
dan jadi korban?"
"Aku tak tahu, yang aku mengerti saat ini, pagi ini
cuma satu, aku kehilangan teman terbaikku".
Fransisca, telah mati pagi ini. Mantan simpanan Dokter Ismail, Specialis
penyakit kulit. Dan sekarang si Dokter, coba mendekati Cindy.
Mahesa coba flashback pada kejadian-kejadian masa lalunya. Memori kenangan
bersama Fransisca, saat bertemu di tempat praktek Dokter Ismail.
Kala itu Mahesa, menderita penyakit cacar air. Tanpa sengaja mendapati mendiang
Fransisca, menjadi asisten Ismail (dalam tanda kutip).
Dokter Ismail kaya, ganteng, lebih elegant daripada dirinya. Tak pelak lagi
Fransisca terkulai tak berdaya menyerahkan nasib dirinya
pada si Dokter. Walaupun hanya sebatas
simpanan.
'Avokado' pastinya dalam beberapa hari ini akan tutup. Akan ada tulisan melintasi
sepanjang tempat itu. 'Do not cross' dan 'Police line' entah benar
atau tidak terka Mahesa tentang tulisan-tulisan itu. Bahasa Inggrisnya, kacau
tak tahu-menahu tentang kosakata, gramer, apalagi tenses.
"Sekali lagi, kehidupan malam yang gempar".
"Sekali ini lagi, bagian kehidupan malam jadi
korban".
"Dan berapa kali lagi, kehidupan malam akan
meregang nyawa".
Segelas kepahitan.
Secangkir kerisauan.
Sebatang kegalauan...
...........................................................................................Malam telah melejit selimuti kota ini, waktunya melepaskan setiap beban dan penat.
Menikmati weekend di kota ini, meleburkan diri dalam alunan
beat-beat yang menghentak. Berbias cahaya lampu dalam sebuah
ruangan dingin. Penuh sesak oleh berjuta aroma nafas dan keringat.
Bau parfum, bercampur dengan segala polusi-polusi pernafasanlainnya. Keringat,
asap rokok, minuman alkohol, lalu di sudut itu terjepit dalam gelap. Entah apa
yang mereka lakukan. Sepertinya memang sengaja berada pada sisi gelap.
Tiga orang pria, dua orang wanita. Tak berhasrat menuju hole yang penuh
sesak manusia. Menikmati 'Smirnoff Whiskey' yang baru saja dikirim oleh
seorang Waiters pada meja mereka, oval bentuknya.
Tergeletak pula beberapa pack bertrademark elegant.
Lucky Strike', 'Marlboro', 'e-mild'. Kemilau kerdip-kerdip bola lampu,
sorot sinar laser berbagai warna, beriring dengan ketukan
musik.
"Deb..dedeb..deb de dep.. deadep... tiun.. deep"
"Cit... cit... cit....".
Seorang DJ mulai memamerkan kelihaiannya, membawa para penggemar
'Nite life' terbang dalam irama musik ajep ajep ajep nya. Dia masih
muda cantik, atraktif, langsing tubuhnya itu.
Transparan dalam remang.
"Everybody... Brotha and Sista....
Join with me on the party... Weekend is nice".
Melalui mixrophone kecil itu dia berteriak, spirit untuk lebih dari seratus
pengunjung 'Antonioli' yang mulai semakin panas. Hanyut dalam irama
yang semakin menggila.
..........
Seorang Bartender, tak asing lagi namanya. Ditengah padatnya pesanan
minuman, ternyata tak membuat kesempatan dirinya melakukan
atraksi hilang. Sesekali dia lempar botol di genggamnya,
kemudian menangkapnya lagi. Atraksi menghibur para pemesan
minuman, sebelum dia tuangkan dalam gelas cantik nan indah.
Tanpa ada sedikitpun kecelakaan, Mahesa pamerkan keahlian menghibur
para 'Cluber' di setiap weekend nya. Skill Juggling Mahesa,
sedikit banyak mampu juga menambah pundi-pundi penghasilan sampingan,
dalam kantong saku Mahesa. Saat pengunjung 'Antonioli'
minta dipertontonkan atraksi-atraksi menarik. Seorang, dua orang atau
tiga orang bahkan juga sering kali melebihi jumlah itu.
Memberikan saweran. Dan pujian pada Mahesa.
"Vodka, Whiskey, Bloody Mary, Smirnoff Whisky,
Bacardi, tak ketinggalan Picaso".
Secara bergantian teriakan minuman-minuman itu mampir di telinga
Mahesa. Dengan ketangkasan yang sudah teruji, aksi Juggling atau sering juga
orang menyebut 'Bar Flair' begitu brillian Mahesa praktekkan.
Lalu ia tuangkan jenis-jenis minuman yang diinginkan pemesan dalam
gelas bening cantik, lekukannya yang seksi pula.
Di tengah-tengah kesibukannya, Mahesa seperti lupa akan setiap
konflik yang melanda.
"Aku lupa akan mantan istriku, juga lupa akan
permintaan Dio, anak semata wayangku".
"Lupa pada semua kehidupan pagiku yang
begitu dilematisnya".
"Satu sisi uang sisi lainnya pedang".
"Pagi yang harusnya aku bangun dan beraktivitas,
malah pulas tidur hingga matahari garang bersinar".
"Aku ganti aktivitas mencari nafkahku ke wujud
dan bentuk malam".
"Malam yang sering kelam".
"Melihat Cindy, mengingat Fransisca, bayangan
mantan istri, lalu di mana letak kegembiraan
hatiku??"
Pikir Mahesa jika dalam kondisi merenung.
..................
Kegembiraan hatinya terletak saat dia pamerkan Skill Juggling pada botol-botol itu.
Sepanjang malam hingga menjelang SUBUH. Saat beberapa saweran
menghuni kantong sakunya. Itulah harga kegembiraan hatinya,
sebatas pujian, sebatas uang tips. Namun masih ada satu keahlian di bidang lain
dalam diri Mahesa.
Pria yang tercatat sebagai anggota urban di kota kecil ini , mampu menjaga
sebuah rahasia. Integritas dan nama besar seseorang tak akan
pernah tercoreng dari mulutnya. Privacy rahasia akan tetap terjaga sampai
kapanpun juga. Banyak kepercayaan itu datang pada Mahesa,
curhat para pengunjung 'Antonioli' seksama ia dengarkan.
Sebab dengan demikian ada semacam pelayanan khusus darinya.
Pengunjung, para Cluber pasti menambah konsumsi minuman.
Otomatis juga akan ada sedikit uang tips dari jasa mendengar keluh kesah,
curhat dari para tamu. Hingga bisa jadi cerita dalam hidup Mahesa.
"Eksekutif muda yang bosan dengan istri".
"Seorang Pejabat eselon terlibat cinta segitiga
dengan seorang mahasiswi".
"Bagaimana seorang dokter menghamili anak
pasiennya".
"Dosen yang punya simpanan Hareem-hareem
penghibur tempat ini".
"Anak SMA yang frustrasi akibat Broken Home
atau juga frustrasi masalah cinta".
"Lika-liku jalan seorang pelacur".
"Alasan apa mereka menjual diri, hanya karena
usaha ini tak perlu butuh modal yang besar
mungkin??"
"Itulah jawaban paling jujur yang pernah aku
dengar".
Anggapan Mahesa tak sepenuhnya salah namun,
juga berarti mutlak, kebenarannya...
.............................
Segelintir demi segelintir
para manusia pagi mulai berdatangan. Mengisi pagi, berolah raga, mencari nafkah,
menjual berbagai penganan dan kue. Suasana yang bertambah semarak.
Mahesa dan Cindy duduk di taman Alun-alun kota ini.
Berdampingan mengobrol aneka macam kehidupan, yang syarat dengan bumbu-bumbu di dalamnya.
Pagi itu kamis, saat udara masih bercumbu dengan gelap yang menuju terang.
Mahesa dan Cindy telah berada di situ. Dipayungi atap fiber hasil dari
kemajuan ilmu manusia modern. Tampak anggun sekarang,
di tahun ini Alun-alun kota. Gaya Arsitektur yang sederhana,
namun estetika keanggunan terkesan lugas. Gambaran dari sebuah
pola pikir yang maju, hasil ilmu pengetahuan terserap sempurna.
Cindy tampak ayu sekali, walaupun sisa kelelahan dari kerja menari
semalam tadi tak mutlak tertutupi. Sedikit pucat namun ayu wajahnya
tak bisa bersembunyi dari terkam mata Mahesa.
T-shirt Cindy hijau ala Irlandia. Khas gadis-gadis Dublin kala bersepeda menghiasi kota itu.
Warna hijau yang identik dengan keanggunan alam. Cindy terkesan bukan gadis penari ular kali ini.
Jean's itu ketat melapis kakinya yang indah. Hitam warnanya, hijau kaosnya. Syal melingkari leher jenjang Cindy. Warnanya hitam bernuansa beludru, jadi pas dengan hawa yang kebetulan dingin.
"Aku kok ngerasain kita berada di Dublin ibukota Irlandia ya,
trus juga terkesan lagi jadi pengawal seorang Mahasiswi 'Trinity College' yang megah".
"Mas bisa saja, kalau bicara memang pernah Mas ke Irlandia?"
Sahut Cindy sambil menyunggingkan senyum, lalu balik bertanya.
"Duit dari mana buat ke sana? Aku cuma Bartender Klab Malam yang kecil,
terletak di kota kecil, juga dengan gaji yang mungkin cuma habis untuk urusan kakus".
"Siapa tahu TUHAN kasih kita kesempatan Mas,
kesempatan dari TUHAN itu sering di luar logika lho Mas".
"Iya sich aku juga tahu itu dan kata Einstein
'TUHAN kan tidak sedang bermain dadu dengan alam semesta ini'
dan aku percaya banget dengan Statement itu".
"Maksudnya gimana Mas?"
Tanya Cindy yang kebingungan dengan perkataan Mahesa.
"Kalau menurut aku bahwa TUHAN tidak mempermainkan nasib manusia,
sebab DIA telah menciptakan manusia dengan dibekali otak yang sempurna,
jadi tinggal kita bagaimana mengolah otak yang ibaratnya adalah bara api.
Apakah api itu akan kita gunakan memasak atau membakar dunia?"
"Mas Mahesa bisa aja, eh Mas kita sedikit aja berkhayal,
kalau seandainya Mas bisa ke Irlandia apa yang ingin Mas lakuin di sana?"
Atmosfer pembicaraan yang beralih pada kesan santai.
"Apa.. Ya kamu kok aneh yang ditanyain?"
"Hehehe... Ya nggak aneh lah, yang aneh tuh kalau aku tanyain
'Apa Mas bakal ngelamar Andrea The Corr's kalau udah di Dublin?' ".
"Kamu bisa aja".
Tukas Mahesa dengan sedikit cemberut.
"Kan yang punya cita-cita Mas, giliran aku tanyain
malah cemberut terus jawaban pake nada kecut lagi".
Betina sepuluh tahun di bawah usia Mahesa mulai tunjukkan sifat bawaan Hawa.
Ngambek, protes dengan aksi dingin sang Pejantan.
"Oughh... Udah mulai jadi jaksa yang memburu dan menikam
terdakwa dengan pertanyaan menyerang".
"Abis yang ditanya nggak ada minat untuk jawab sich".
"kalau disuruh berkhayal, membayangkan, berimajinasi apalagi
soal cita-cita seorang pria punya kegemaran di bidang ini".
Kembali Mahesa bicara serius.
"Pertama kali yang bakal aku kunjungi bila di Irlandia
adalah Trinity of College, sebuah Universitas tertua di negara itu,
bayangin kalau di tahun 1592 Universitas itu udah ada".
"Ya pastinya orang-orang sana lebih terdidik".
"Yang ke dua dan yang paling penting dalam menunjang karier aku.
Melakukan kunjungan di tempat pendestilasian
Irish whiskey Old Jameson dan Bir Guinness Store House".
"Kok bisa begitu Mas?"
"Ya bisa aja dong Cindy, di sana aku bisa belajar
ilmu meracik minuman, hingga aku jadi orang yang tau tentang ilmu
'Mixiologist' tentang cara mencampur minuman".
Semakin tambah usia gunakan otak dalam bekerja,
Bartender kerjaan yang berat tampil di depan. Tenaga terkuras pikiran juga fokus.
Jadi dua pekerjaan, menuntut kesehatan ekstra. Tapi coba kalau menguasai 'Mixiologist".
Mahesa cuma di balik layar, cuma meracik lalu memberikan pelajaran pada Bartender.
Tak perlu harus ke Klab di tiap malamnya.
Itulah cita-cita Mahesa, yang sampai saat ini berbatas di tingkat khayalan.
Terbentur dana, biaya sekolah bidang itu tak terjangkau oleh penghasilannya.
Yang sungguh tipis sisanya bila menilik seabrek kebutuhannya,
biaya sekolah Dio, santunan untuk hidup Dio, orang tuanya, juga hidupnya sendiri.
Hati berkeinginan. Namun sarana penunjang yang bernama uang sangatlah enggan.
..................
Kamar yang sumpek. Sirkulasi nasib yang raib. Kembali Mahesa tercenung, cekam dalam hatinya lagi-lagi tak bisa terhindari. Setelah sejenak saja bergumul dalam keceriaan. Berbagi mimpi dengan Cindy. Melepaskan angan yang tiada kunjung terealisasi. Juga menceploskan semua unek-unek. Rasa muak pada mantan istrinya. Sekejap saja mereda emosinya. Tatkala garis-garis wajah Cindy, terpampang dekat dengannya.
"Kenapa tak aku katakan saja tadi rasa yang kian membisul?"
"Aku cuma lelaki bodoh, membiarkan diriku dalam kevakuman".
"Cindy kenapa harus dia yang berlakon Penari ular?"
"Aghhhgh... Semua takdir, dari-NYA".
"Matanya, senyumnya, tawanya, juga tatapannya kenapa masih saja ada".
"Damn".
Lalu ia kembali lagi dalam pikiran yang kontemplatif (penuh dengan perenungan). Diam, menatap nasib depan. Niatnya untuk segera menghempaskan sadar tak jua hampiri mimpi.
Matanya yang pedas dari sisa melek semalaman. Badannya rapuh, lemah tak bertenaga. Udara segar pagi, hijau alun-alun kota, indahnya wajah Cindy, mungkin cuma sebatas intermezzo belaka.
"Tapi kenapa aku tak bisa tidur juga?"
"Life is bullshit".
"I can't trust them all".
"I wanna kill my past".
"But I don't have the future's".
"Fransisca".
Dalam hatinya tercetus nama itu. Seorang wanita lagi, pernah dekat dengannya juga. Beberapa waktu lalu, sebelum Dokter Ismail jadikan Fransisca selir. Fransisca lebih modis daripada Cindy. Hair straight and blonde hair. Warna rambutnya sering gonta-ganti. Sepatu hak tinggi. Celana hitam mengkilap ala rocker Amerika. Britney Spears atau Avrile Lavigne nya 'Antonioli' waktu itu.
"Tapi sekarang,,,?"
"Her is death".
"Apa penyebab Fransisca mati?"
"Heroin, Kokain, Putaw, Sabu-sabu pastinya dari barang-barang itulah ada hubungannya".
"Sebab Fransisca adalah selir Ismail, Dokter specialis kulit berkacamata tebal, frame tebal, kutu buku, ganteng, juga kaya".
Dokter Ismail juga punya konsumerisme tinggi terhadap narkotik. Jenis Heroin tapi kadang Sabu-sabu. Maklum seorang Medis, saat kerja menyelesaikan hasil Diagnosa sering waktu larut. Jadi dengan narkotik lah dia segar. Mahesa tahu banyak tentang life style Ismail. Dan Ismail tak pula segan pamerkan kebejatannya pada Bartender ini. Suatu cerita saja cukup untuk meyakinkan semua orang tentang hubungan keduanya.
Mahesa yang penggemar berat ganja pernah kepergok langsung oleh Ismail. Saat keluar dari toilet keduanya berpapasan. Ismail begitu yakin dengan mata merah Mahesa. Katup mata itu sayup, berat untuk melek. Penasaran Ismail bertanya.
"Hey Boy, lagi tinggi ya?"
"Dokter sok tahu". Jawab Mahesa ketus sambil tertawa aneh.
"Ahh... Lagi gitting ganja aku tahu".
"Dokter mau? Nich ada selinting barangnya super dari Aceh, hebat back to nature Dok".
Waktu itu Mahesa baru saja pulang dari kampungnya. Sebuah daerah pesisir utara, pantainya indah sekali. Dia bertemu temannya seorang Angkatan bersenjata negara ini. Baru saja pulang dari tugasnya di Serambi Mekah. Gesekan dengan GAM (Gerakan Aceh Merdeka), dari sanalah temannya membawa ganja. Dan bercerita pada Mahesa, tentang bagaimana kinerja mereka di negeri Cut Nyak Dien di sana.
Mereka ditengah-tengah ketegangan konflik, adu senjata. Ternyata beberapa oknum dari masing-masing kesatuan ada yang memanfaatkan kesempatan. Berburu ganja dari Aceh yang terkenal di seluruh dunia. Bahkan dengan ganja mampu melengkapi senjata GAM. Barter ganja dengan senjata.
Kembali pada Ismail dan Mahesa. Setelah merasakan nikmat ganja Aceh, Ismail memberinya Heroin dan Mahesa terima. Sebagai gantinya lagi Mahesa memberikan tambahan beberapa linting ganja Aceh pada Ismail lagi. Ismail senang, langsung berlalu hampiri Fransisca setelah menari ular. Lalu membawa perempuan itu entah kemana??"
kedekatan Fransisca dan Ismail membuat perempuan itu tambah glamor. Sering keluar masuk hotel berdua dengan Ismail. Dokter bejat bukan rahasia lagi narkotik adalah temannya. Dia punya kuasa lebih untuk mendapatkan barang tersebut.
"Alasan obat bius pengurang rasa nyerilah".
"Untuk menghilangkan kesadaran saat operasi".
"Bahan penelitian, riset atau apalah kedokteran itu ajaib, pemutar balikkan fakta".
"Aku benci Dokter itu".
"Dia penyebab kematian Fransisca".
"Mencekoki dengan heroin, sabu-sabu, kokain, putaw, mungkin juga ganja dan ekstasi".
"Fransisca mati karena over dosis??"
Bila dalam waktu dekat penyidikan di 'Avokado' terhenti. Rumah karaoke itu kembali beroperasi. Pasti ada yang tak beres. Pasti akan ada berita di koran entah esok pagi, lusa, lusanya lagi.
"Fransisca mati karena masuk angin duduk".
Pemilik Avokado juga tak ingin berlama-lama tutup. Rugi besar, aset terlalu berharga.
Bagaimana dengan manusia-manusia penegak hukum??"
Cukup dengan segepok uang, mereka tutup mulut tak mengekspose berita itu lagi. Para wartawan, jurnalis, penulis berita lagi-lagi dikelabuhi. Kebebasan menulis mereka terampas. Tak ada berita yang akurat seperti duga mereka.
"Seorang Pelacur mati karena over dosis".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar