Cerah sinar pagi di penghujung tahun lalu. Selaksa momen yang telah berlalu dan tampil di sepanjang tahun, mulai sedih, suka, gelak juga tawa. Mulai dari isak dan tangis. Manis juga pahit, hitam, biru, merah, kuning, putih, ungu, abu, coklat, bahkan lembayung senja. Berangsur menitikkan berkas-berkas cerita, tak terkecuali pasangan muda suami-istri ini. Seroja tak kan pernah lupa atas perlakuan terhadap dirinya, oleh Pandu suaminya. Terasa akhir tahun yang menyesakkan, tak mendapat tempat istimewa dari bagian hidup terpenting dirinya. Hanya mementingkan kesenangan pribadi. Tak peduli dengan sang istri yang butuh perlakuan istimewa di akhir tahun. Harapan untuk melepas, menghabiskan waktu semalaman telah pudar. Harapan untuk mencipta suasana pengisi acara di ambang batas hanyalah halusinasi yang basi. Seroja tampak murung malang nian nasibnya. Saat membaca lampiran kertas pada meja hias kamarnya. Dengan jelas terbaca tulisan berita akan gagalnya harapan keinginannya. "sayang aku gak bisa temani malam tahun baru". Begitulah kira-kira rangkaian kata yang membuat seroja jadi patah semangat. Dan yang paling membuatnya tak bisa menahan sedihnya ialah di akhir kalimat, surat itu semakin hebat membuat sesak dada. "ada acara mancing bersama teman-teman ". Lebih penting memancing daripada istrinya. Pandu sudah berlalu, meninggalkan seroja istri satu-satunya. Ditengah lelap tidur itu ternyata pandu telah berlalu. Tinggalkan istri yang pastinya akan melewatkan malam tahun baru sendirian (maklum baru setahun usia pernikahan mereka) (belum punya momongan).
..............................................
Seroja tak ada libur buat dirinya. Seorang wanita total berkarya dalam bidang makanan. Usahanya adalah membuat roti peringatan pesta-pesta. Semisal ultah, pernikahan, kondangan juga apapun yang jelas berkenaan dengan perayaan. Tanggal 31 desember pagi, dengan lemas dia membuka toko miliknya "seroja" begitulah papan nama itu tertulis. Diantara rasa kesal, rasa penuh curiga terhadap suaminya dia coba tetap bekerja seperti biasa. Gladys adalah satu-satunya pegawai yang tersisa. Sebab pegawai lain lebih memilih untuk pulang ke kampung masing-masing. Ada 4 pegawai sebetulnya tapi penulis tak begitu ingin memperkenalkan pada pembaca. Males penulis dari golongan yang masih sangat sungguh terlalu amatir ini adalah kategori pemalas stadium 531. Kembali pada toko "seroja" yang tampaknya dalam keadaan tak seperti biasa. Terlihat ramai pembeli, ramai pengunjung, dengan macam-macam permintaan. Mulai dari roti basah berlapis krim, coklat, keju, kacang (asal jangan kacang panjang), apalagi namanya penulis bukanlah petugas pendataan dan perincian. Dua orang tenaga perempuan itupun lelah, kewalahan sudah mengatasi kelarisan hari ini.
..............................................
"Seroja" telah waktunya tutup, walau belum waktunya. Masih pukul 3 sore, tetapi tak ada yang dijual. Pulang adalah pilihan yang tepat. Maka bersegeralah seroja dan gladys beranjak tinggalkan toko.
..............................................
Dengan rasa kesal masih pada pandu, seroja berdiam sendiri dalam rumah. Tak tahu harus berbuat apa di dalam kesepian ini. Tiba-tiba saja terselip ide menonton bioskop adalah tepat mengisi kekosongan. Berangkat dan sampailah seroja di tempat tujuan.
..............................................
Tapi sayang lagi-lagi dia harus sial. Karcis jam pertama telah habis, harus menunggu jam kedua. Sekitar jam 9 malam film di jam kedua baru mulai. Jadi sekitar pukul 23 dia baru keluar dari gedung bioskop. "tak masalah pikirnya". Walau harus menunggu jam pertama kelar duluan.
..............................................
Turun dari taksi seroja heran dengan keadaan rumahnya yang gelap. Ada yang aneh di pelataran depan ada sebatang lilin menyala. Dia mencoba tidak curiga. Mungkin lampu teras putus. Maka sama tetangga sebelah di pasang lilin pada meja depan rumah. Seroja melangkah mendekati gagang pintu rumah. Coba memasukkan kunci. Tapi alangkah terkejutnya saat mendapati pintu tak terkunci. Pikiran semakin tak karuan. Rumahnya mungkin tersatroni maling. Tapi ditengah rasa penasaran itu. Lampu dalam rumah menyala.........
......................................................................................................................................................................
......................................................................................................................................................................
.......................................................................................................................................................................
Malam tahun baru yang tak terduga. Penuh dengan kejadian tiada terkira, tiada diinginkan menyelipkan kecewa. Dalam hati seroja. Suami satu-satunya tiada di sampingnya. Menggenggam tangannya lalu mengajaknya berlenggang di kemeriahan malam akhir tahun. Seroja watak dan namanya tidak seimbang. Seroja adalah simbol ketenangan serta kedewasaan. Namun wanita ini tak cukup nilai untuk kategori 2 kata tersebut di atas. Menggresah tak bisa tenang menghadapi kenyataan hidup yang ada. Pikirannya tak karuan beraneka macam curiga terdeteksi dari sikapnya. Kesal dan takut pandu suaminya akan berbuat macam-macam. Jengkel tak dipedulikan malah teracuhkan. Ya sebenarnya seroja berhak atas sikap demikian. Bukankah ini wujud rasa cinta yang sangat dalam pada sang penyandar jiwanya. Yang terjadi justru berbanding terbalik, pandu lebih peduli pada kegiatan memancing dengan komunitasnya dengan tajuk "menembus batas". Alasan yang dirasa pandu cukup kuat untuk memperoleh keyakinan sang istri. Tapi apakah cukup dengan itu?? Tidak jawabnya...
Bagaimanapun juga kaum betina khususnya istri punya acuan besar, menjurus pada sikap curiga. Punya sikap sangka dan duga, maklum namanya betina antisipasi adalah terpenting. Ibarat sebuah sarana rumah tangga adalah gawang. Serta istri ataupun suami harus bekerja sama agar kuat mempertahankan gawang dari kebobolan. Menghalangi penyusup lain masuk (PIL/WIL) dapat digambarkan sebagai wujud bola, yang merobek jala gawang. Kembali pada kejadian seroja yang sampai di rumahnya.
...................................................................
Suasana dalam rumah kosong tak ada siapapun. Juga tak ada tanda bekas orang masuk. Hanya isi perkakas rumah yang tampak masih utuh. Tapi anehnya, "kenapa pintu dalam keadaan tak terkunci?" seroja coba ingat kejadian beberapa jam yang lalu. Sesaat sebelum dia meninggalkan rumah. "ah tapi gak mungkin aku lupa" sambil dia memeriksa kembali daya ingat. Memang benar adanya, seroja tidak lupa mengunci pintu. Dia orang teliti, kalaupun dia lupa mengunci pintu, pastinya sarana pembuka pintu yang ada penghias berupa gantungan itu juga lupa terbawa kan. Alat itu ada pada seroja dalam tas kulit kecil berwarna cokelat pekat gelap itu. Yang sekarang tas itu di taruh pada sofa ruang tamu. Pada akhirnya seroja duduk diam disandarkan kepala bertopang leher itu pada sofa yang masih lumayan baru. Sekitaran 3 bulan lalu dia beli (hitungan malam tahun baru setahun yang lalu). Setengah dalam rasa kantuk, dalam keadaan pintu rumah sudah tertutup, seroja menutup mata. Mencoba melepas beban sumpek akhir tahun lalu.
................................................................
"SELAMAT TAHUN BARU"
"HAPPY NEW YEARS"
"UNTUK BELAHAN JIWAKU"
Beruntun 3 kalimat terucap dari belakang. Seroja agak setengah terperanjat, seperti mengenal suara itu. Dengan keadaan setengah baru saja terbangun dari setengah tidurnya. Seroja menoleh ke belakang. Seseorang yang dia kenal bahkan sangat. Ternyata mengagetkan tidurnya. Merusak kantuknya, membinasakan mimpi yang hampir saja hadir. Dengan sedikit rasa kesal, melihat pandu membawa terompet lalu dengan 3 kali tiupkan. Ke arah seroja agar tersadar dari mimpi. Agar menyadari bahwa kejadian sehari ini hanyalah ungkapan kasih pandu pada istrinya. "sengaja aku bikin acara begini" sambil menghampiri istri tercinta. Dikecupnya bibir manis itu, dinikmatinya dengan sedalam kenikmatan. Lalu pandu buka sebuah kotak besar. Berisi roti, "sekarang kamu makan ini sayang".
"bukankah ini roti bikinanku?". Seroja bertanya, dengan nada lirih terharu penuh kepastian. Dengan anggukkan yang ringan lalu pandu berkata. "kau selalu bikin roti, tapi kamu gak pernah menikmati karya yang paling berarti dalam karier hidupmu ini".
"malam ini aku ingin melihat, seseorang yang berarti dalam hidupku menikmati karya yang juga berarti dalam hidupnya.
Pandupun lalu bercerita bahwa semua ini kejadian seharian ini cuma akal-akalan dia. Cuma ungkapan rasa terdalam atas istrinya. Kemudian dia juga bercerita bahwa roti di toko "seroja" telah pandu borong. Semua orang yang datang membeli roti adalah suruhan pandu. Ada misi tersendiri dalam diri pandu di akhir tahun kemarin. Ternyata ingin mengajak istrinya untuk berbagi sebagian milik mereka. Berbagi dengan anak-anak panti asuhan di seberang jalan sana. Yang juga berhak atas kemeriahan malam terakhir di penghujung tahun. Mengajarkan pada seroja ungkapan perayaan yang lebih terarah serta tepat sasaran. Waktu menunjukkan pukul 00.00 kurang beberapa menit. Cukup waktu untuk melaju keseberang jalan menuju panti asuhan "kita" lalu berbagi. Berbagi kebahagiaan, berbagi perayaan menikmati hasil karya seroja. Roti dengan aneka macam aroma dan rasa. Dengan beraneka ragam krim pemanis lalu berselipkan rasa kebersamaan berbagi kebahagiaan dengan mereka yang juga berhak atas kebahagian. Bukankah perayaan ini terasa manis kawan. Semanis krim dan roti bikinan "SEROJA"....
Dan terakhir pesan dari pandu dan seroja
nikmati perayaan apapun secara terarah.....
Bagaimanapun juga kaum betina khususnya istri punya acuan besar, menjurus pada sikap curiga. Punya sikap sangka dan duga, maklum namanya betina antisipasi adalah terpenting. Ibarat sebuah sarana rumah tangga adalah gawang. Serta istri ataupun suami harus bekerja sama agar kuat mempertahankan gawang dari kebobolan. Menghalangi penyusup lain masuk (PIL/WIL) dapat digambarkan sebagai wujud bola, yang merobek jala gawang. Kembali pada kejadian seroja yang sampai di rumahnya.
...................................................................
Suasana dalam rumah kosong tak ada siapapun. Juga tak ada tanda bekas orang masuk. Hanya isi perkakas rumah yang tampak masih utuh. Tapi anehnya, "kenapa pintu dalam keadaan tak terkunci?" seroja coba ingat kejadian beberapa jam yang lalu. Sesaat sebelum dia meninggalkan rumah. "ah tapi gak mungkin aku lupa" sambil dia memeriksa kembali daya ingat. Memang benar adanya, seroja tidak lupa mengunci pintu. Dia orang teliti, kalaupun dia lupa mengunci pintu, pastinya sarana pembuka pintu yang ada penghias berupa gantungan itu juga lupa terbawa kan. Alat itu ada pada seroja dalam tas kulit kecil berwarna cokelat pekat gelap itu. Yang sekarang tas itu di taruh pada sofa ruang tamu. Pada akhirnya seroja duduk diam disandarkan kepala bertopang leher itu pada sofa yang masih lumayan baru. Sekitaran 3 bulan lalu dia beli (hitungan malam tahun baru setahun yang lalu). Setengah dalam rasa kantuk, dalam keadaan pintu rumah sudah tertutup, seroja menutup mata. Mencoba melepas beban sumpek akhir tahun lalu.
................................................................
"SELAMAT TAHUN BARU"
"HAPPY NEW YEARS"
"UNTUK BELAHAN JIWAKU"
Beruntun 3 kalimat terucap dari belakang. Seroja agak setengah terperanjat, seperti mengenal suara itu. Dengan keadaan setengah baru saja terbangun dari setengah tidurnya. Seroja menoleh ke belakang. Seseorang yang dia kenal bahkan sangat. Ternyata mengagetkan tidurnya. Merusak kantuknya, membinasakan mimpi yang hampir saja hadir. Dengan sedikit rasa kesal, melihat pandu membawa terompet lalu dengan 3 kali tiupkan. Ke arah seroja agar tersadar dari mimpi. Agar menyadari bahwa kejadian sehari ini hanyalah ungkapan kasih pandu pada istrinya. "sengaja aku bikin acara begini" sambil menghampiri istri tercinta. Dikecupnya bibir manis itu, dinikmatinya dengan sedalam kenikmatan. Lalu pandu buka sebuah kotak besar. Berisi roti, "sekarang kamu makan ini sayang".
"bukankah ini roti bikinanku?". Seroja bertanya, dengan nada lirih terharu penuh kepastian. Dengan anggukkan yang ringan lalu pandu berkata. "kau selalu bikin roti, tapi kamu gak pernah menikmati karya yang paling berarti dalam karier hidupmu ini".
"malam ini aku ingin melihat, seseorang yang berarti dalam hidupku menikmati karya yang juga berarti dalam hidupnya.
Pandupun lalu bercerita bahwa semua ini kejadian seharian ini cuma akal-akalan dia. Cuma ungkapan rasa terdalam atas istrinya. Kemudian dia juga bercerita bahwa roti di toko "seroja" telah pandu borong. Semua orang yang datang membeli roti adalah suruhan pandu. Ada misi tersendiri dalam diri pandu di akhir tahun kemarin. Ternyata ingin mengajak istrinya untuk berbagi sebagian milik mereka. Berbagi dengan anak-anak panti asuhan di seberang jalan sana. Yang juga berhak atas kemeriahan malam terakhir di penghujung tahun. Mengajarkan pada seroja ungkapan perayaan yang lebih terarah serta tepat sasaran. Waktu menunjukkan pukul 00.00 kurang beberapa menit. Cukup waktu untuk melaju keseberang jalan menuju panti asuhan "kita" lalu berbagi. Berbagi kebahagiaan, berbagi perayaan menikmati hasil karya seroja. Roti dengan aneka macam aroma dan rasa. Dengan beraneka ragam krim pemanis lalu berselipkan rasa kebersamaan berbagi kebahagiaan dengan mereka yang juga berhak atas kebahagian. Bukankah perayaan ini terasa manis kawan. Semanis krim dan roti bikinan "SEROJA"....
Dan terakhir pesan dari pandu dan seroja
nikmati perayaan apapun secara terarah.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar