Malam ketiga, saat puasa baru berjalan dua hari. Seperti telah saya ketahui dari tahun-tahun sebelumnya. Mushola kecil, di desa Kejuron kecamatan Taman kota Madiun ini. An-nur nama yang indah. Berada agak ke timur dari masjid yang saya kunjungi di malam pertama. Jarak kedua tempat ini juga relatif dekat. Saya di sini berangkat bersama Galih Budi Santoso, seorang teman yang bekerja di Jakarta. Namun sebab ada hajatan tujuh bulan kehamilan istrinya maka dia pulang bersama sang istri. Walau untuk beberapa hari. Galih ini punya kakak bernama Adi Ankafia, yang tergila-gila oleh dunia astronomi.
Dengan tetap memegang tradisi dua rakaat salam. Jumalah keseluruhan rakaat dalam tarawih adalah 20 rakaat. Lalu ditambah witir yang terbagi dalam dua fase. Dua rakaat salam dan disambung satu rakaat salam. Tak ada ceramah. Namun di mushola yang tepat berada di tikungan jalan itu. Saya menjadi saksi betapa masih bertenaganya seorang Mbah Haji Samsu. Orang tua delapan puluh tahunan yang masih nyaring melafalkan do'a-do'a.
Di mushola Nurul Mutaqiem, saya mendapatkan pelajaran ilmu sejarah tentang puasa dari khotib. Puasa telah menjadi kewajiban umat manusia sejak jaman nabi Nuh. Tanggal 10 Muharam, umat nabi nuh selalu melaksanakan puasa. Sebab pada tanggal itulah kapal mereka selamat dan terdampar di daerah yang sekarang bernama Armenia. Maka sebagai ucapan syukur setiap tanggal 10 Muharam umat nabi Nuh berpuasa.
Lalu tradisi puasa juga dilanjutkan oleh nabi Musa yang selamat setelah dengan ijin Allah SWT mampu membelah laut merah. Dan kejadian itu juga pada tanggal 10 Muharam. Umat nasrani pun juga telah melaksanakan puasa berabad sebelum Islam lahir.
Baru setelah limabelas tahun berkembang turunlah perintah untuk berpuasa.
....................................
"Perjalanan berikutnya"
4 Agustus 2011. Malam ini sepeda yang saya gowes meluncur dengan pasti. Ditengah perjalanan saya berpikir, bahwa malam ini akan ada teman bertarawih bersama. Di masjid Al-Jamil jalan Serayu Madiun. Sepeda saya titipkan di rumah Budi Kempo jalan Ciliwung yang bertetangga dengan jalan Serayu. Pastinya dia akan turut serta dengan saya. Namun nasib dasar belum mau berpihak.
Alih-alih dapat teman, malah disambut dengan bau badannya yang belum mandi. "Aku baru pulang kerja, sholat Maghrib aja tadi di tempat kerja, abis itu langsung muat barang buat kiriman besok pagi, jadi belum sempat mandi dan bla, bla, bla". Beserta bau yang menyergap pernafasan, saya langsung disodori setumpuk laporan tentang keadaan dirinya. Tanpa pikir panjang saya ngeloyor saja dan meninggalkan pesan untuk dia. "Po kempo aku titip sepeda ini dan jaket saya ya".
"Malam jum'at menikmati sang imam yang kusyu' merdu
lantunkan ayat-ayat dari langit"
......................................
Masjid asrama tentara. Saya menyebutnya begitu. Jalan Asahan, dari arah selatan sebelah kiri. Sebelum pertigaan yang andai kata belok kanan arah lapangan Gulun. Pilihan saya di malam sabtu. Seorang pensiunan tentara Angkatan Darat berbisik pada saya, "sudah mulai berkurang jama'ahnya mas". "Nggih Pak". Jawab saya singkat. Sambil menoleh kearah belakang, yang ternyata masih penuh. Dalam hati cuma iseng berkata, "Maklum udah........"
Bermalam minggu di Al-ikhlas, dari SMP 14 Madiun ke timur. Kalau dari SMK Farmasi arah baliknya. Menaranya menjulang, lantainya terbungkus karpet motif sajadah. Tiap lima menit sekali, secara otomatis akan tercium aroma wangi. Dari alat penyemprot bau harum bertenaga elektrik. Tepat berada di bawah kipas angin yang silir-silir berputar. Menghamburkan angin kepada para jama'ah.
"Uhh..... Nyamannya berada dalam ruangan ini"
.........................................
Di utara lapangan bola Mojorejo ada sebuah masjid. Entah apa namanya. Saya tidak tahu. Yang saya tahu ini berada di jalan Margobawero Mojorejo kota Madiun.
Lantai dindingnya mengilap, dua unit AC tertempel pada dindingnya. Namun juga tak akan difungsikan pada saat malam hari, di bulan ini Agustus. Agustus bulan yang membawa angin dingin di Madiun. Apalagi di malam hari.
"Apakah penyesalan ini terlambat?"
Saya pernah merasa bodoh mungkin, seusai bertarawih di masjid Mujahidin jalan Setiabudi. Penolakan saat seorang bapak-bapak menawarkan untuk mampir kerumahnya. Kebetulan kita sama-sama memarkir sepeda di tempat yang sama. "Kenapa nggak saya terima tawaran itu kerumahnya tadi, siapa tahu punya anak gadis yang single dan cakep serta mau sama saya". Dalam perjalanan menggowes sepeda perasaan tak henti-hentinya, memprotes keputusan hati.
"Saya masih normal, masih bisa 'menyesal'......"
.....................................
"Imam Al-Ghozali berkata.....
'Hal terberat untuk ditahan oleh manusia adalah hawa nafsu.
'Hal terbesar yang sulit dipegang oleh manusia adalah amanah.
'Hal yang paling ringan dan seringkali ditinggalkan manusia adalah shalat wajib.
9 Agustus 2011. Diantara jajaran rumah-rumah kokoh yang berdiri ini adalah bangunan yang menyinari daerah sini. Masjid An-nur, ditengah-tengah padatnya urusan membebani penghuni kawasan komples perumahan Salak ini. Gedung dua lantai yang berfungsi sebagai sekolah TK di lantai satu dan tempat sholat atau masjid di lantai dua. Juga merupakan sarana penghubung. Tempat berinteraksi penduduk sekitar. Suasana angkuh yang selalu menjadi ciri khas kawasan perumahan mencair di tempat ini. Begitulah kesan yang saya tangkap di malam ini. Persis di seberang jalan sebelah timurnya. Berhadapan dengan lapangan tenis yang melintang dari utara ke selatan.
................................
"Celakah seorang hamba jika mendengar
nama Muhamad SAW disebut tak mengucap shalawat"
Kata Jibril.....
Al-Muhajirin, sebuah nama yang pas dengan daerahnya. Masih di daerah perumahan Salak saya melewatkan malam tarawih. Di malam ini tanggal 10 Agustus 2011. Nama Al-Muhajirin, dalan hati kecil saya yang terlalu sering dan iseng menebak. Bahwa asal nama tersebut kemungkinan besar disebabkan karena rata-rata penghuninya dalah orang-orang pindahan. Maka dari itulah asal kata nam Al-Muhajirin.
Di masjid ini saya betemu dengan salah seorang teman SD kakak saya. Entah siapa namanya saya terbiasa memanggilnya dengan kat "Mbah Noer" karena tampilan wajahnya yang terkesan ngantuk. Dia cuma heran melihat saya di tempat ini dan berkata singkat. "Tibak'e kowe tho?". "Yo Mbah". Ternyata dia masih ingat dengan saya.
.......................
"Neng akhirat ora ono montor liwat
"Neng akhirat ora ono sego berkat
"Neng akhirat ora ono mejo biliard
"Onone godo ne malaikat [1]
Tarawih kali ini saya ditemani oleh Budi Kempo. Pemuda yang mungkin dalam beberapa bulan lagi jadi menantu Bapak Supriadi atau lebih akrabnya dipanggil Pak Adi Gundul. Dengan kaosnya merah, bertuliskan "BULL'S". Mungkin penggemar berat klub sepakbola (eh) bola basket (hampir saja keceplosan.). "CHICAGO BULL'S". Yang dulu adalah klub dari legendaris Michael Jordan.
Sementara saya berbaju koko, entah sudah berapa bulan tidak saya kembalikan pada Mas Edi, pemain sepakbola dari klub amatir Tanjung Anom. Iya memang begitulah ceritanya tentang baju koko itu. Beberapa bulan lalu pas ada acara tahlillan di rumah Bapak Kusnan, ayahnya Dodik. Saya dipinjammi baju itu oleh Mas Edi.
Masjid As-salam jalan Ciliwung. Lokasinya berada diantara pemukiman yang lumayan padat. Gang belakang rumahnya Budi Kempo.
"Dina iki kerjaku gak terlalu berat, gak terlalu akeh, dadi isa muleh jam 4 sore". Kata Budi Kempo pada saya.
Tak seperti malam jum'at pekan kemarin. Menyambut saya dengan bau badan yang belum mandi plus kaos singlet warna putih. Kali ini saya ada teman.
Saya di barisan kedua, dan kebetulan di barisan depan saya ada Bapak Agus. Anaknya juga teman saya. Galih Kumorojati sekarang kerja di Surabaya. Seorang teman yang suka iseng kadang juga tak jarang bikin emosi teman. Tapi secara kemanusiaan termasuk golongan baik dan peduli.
Nikmat syukur atas tiap-tiap oragn tubuh yang ada di diri kita. Sang khotib menyampaikannya dalam bahasa Jawa campur bahasa Indonesia. Ada selingan dendang lagu koplo yang sekilas dinyanyikan sebagian liriknya oleh khotib. Juga mengajak para jama'ah untuk shalawat bersama.
*[1]
Penggalan lirik lagu dangdut koplo yang saat ini lagi ngetrend di Madiun dan sekitarnya.
.....................................
"Masjid Siti Mariyam"
Dari jalan Srigunting kelurahan Nambangan Lor. Jum'at atau malam sabtu tanggal 12 Agustus 2011. Saya membelokkan setir sepeda ke arah kiri., jalan Cendrawasih. Berdiri kokoh di kanan jalan dari arah saya datang. Sebuah bangunan yang 70 persen dalam pembangunan.
Berhiaskan kubah besar pada bagian atasnya. Kombinasinya adalah terapit empat buah kubah. Yang ukuran dan bentuknya lebih kecil dibandingkan kubah besar. Posisinya tepat di tengah-tengah empat kubah pengapit itu. Warnanya masih cat dasar, putih tulang. Menurut rencana ketiga kubah itu akan berwarna kuning gading agak terang di tahap finishing. Saya jadi membayangkan bila warna kubah itu telah berubah menjadi warna yang sesuai rencana awal. Karena menghadap ke timur, saat pagi hari yang cerah betapa indahnya tertimpa sinar mentari terbit. Dan alangkah anggunnya di kala sore hari. Saat matahari menyisakan slorot-slorot ringan. Seolah berucap sampai jumpa di esok hari.
Siti Mariyam. Secantik namanya masjid itu mempunyai bentuk. Ada dua versi yang saya dapatkan, tentang berapa lama proses masjid ini dibangun. Dari salahsatu pekerja yang berasal dari Surabaya, katanya. Bahwa masjid ini telah hampir dua tahun dikerjakan. Seorang jama'ah yang sepertinya juga termasuk orang penting dalam pembangunan masjid ini. Berkata, lebih dari satu setengah tahun masjid ini dibangun. Hingga mencapai tahap 70% hasilnya.
Dan sekarang saya berada di lantai dua, karena lantai satu belum bisa dipakai untuk sembahyang. Karpet permadaninya berbulu lembut. Hijau kalem corak warnanya. Mengingatkan pada daun pandan. Kubah masjid melengkung motif gambar ditiap-tiap potongannya. Begitu indah. Jendela yang masih terbuka belum dilengkapi kaca, membiarkan angin menerobos begitu saja. Sejuknya yang alamiah tak butuh lagi pengipas atau pendingin udara buatan manusia. Masjid Siti Mariyam, suatu saat nanti bila sudah rampung. Saya yakin akan jadi bangunan indah.
..................................
"Bismillahirahmannirahim.....
Adalah kunci terbukanya berbagai macam barokah...
Setidaknya saya telah menjumpai tiga nama An-nur di kota Madiun ini. Di jalan Tanjung Kejuron dan perumahan Salak Taman. Sekarang adalah mushola An-nur jalan Sriti Nambangan Lor.Masuk ke gang dari arah timur. Inilah tahap kedua di Nambangan Lor kecamatan Mangunharjo.
Mbah Run, begitu anak-anak kecil pemburu tandatangan sebagai tugas sekolah, memanggilnya. Dengan posisi agak condong ke kiri. Menyandarkan lengan bahu kirinya pada dinding. Yang serasi dengan baju kokonya, hijau kebiruan mirip warna telur bebek. Dipadu sarung biru kotak-kotak. Dengan mata terpejam beradzan ohh... khidmat.
Mushola kecil yang setiap barisnya cuma muat empat orang pria. Dan wanita juga dengan jumlah yang sama. Tampaknya identik dengan warna hijau walaupun motif dan coraknya berbeda. Keramik dindingnya, sajadah bahan karpet yang membalut lantainya. Kain pembatas jama'ah pria dan wanita yang tak henti bergoyang. Akibat semburan udara kipas angin juga berwarna hijau. Kotak amal di sebelah jendela kaca tak urung hijau pula warnanya. Namun juga dari jenis hijau yang beragam. Agak terang, hijau daun muda.
Ruangan mushola ini memang mini. Hingga tak ada mimbar khusus untuk berceramah di ruangan imam. Si penceramah cukup duduk bersila menyampaikan fatwa-fatwanya yang bersumber dari Al-Qur'an dan hadist juga buku-buku Islami lainnya. Namun justru dari posisi itulah terkesan keakraban dan kehangatan. Sungguh layaknya berada dalam sebuah perbincangan santai.
..................................
"Sungguh dia, Muhamad SAW"
Keadaan sepeda aman di rumah Andi, teman saya. Akrab disapa Jemblung, badannya tambun. Kacamata menghiasi wajahnya yang mirip mantan penjaga gawang Persipura, Jendry Pitow. Yang di musim ini bermain untuk Persija. Namun dikarenakan ada keperluan untuk mengecek mesin operator untuk server pulsa elektrik, diapun tak ikut serta bersama saya. Tapi tak perlu khawatir ada Muchlis yang siap sedia menemani tarawih di salahsatu masjid di jalan Merpati barat, Nambangan Lor.
Kaos jersey Real Madrid warna biru donker melekat ditubuhnya. Sarungnya putih. Tak mengenakan peci seperti saya.
Saya tak begitu memerhatikan siapa pengisi kultum disela-sela tarawih dan witir. Namun tentang kemiripan wajah bapak pengisi penceramah dan bapak Gubernur Jawa Timur, Soekarwo ada kesamaan. Hanya beda tipis diketebalan kumis dan frame kacamata.
Ringkasan materi kultumnya :
Seorang pengemis perempuan bersuku Yahudi, dan buta. Tiap harinya selalu menghujat, menghina, menuduh bahwa nabi SAW adalah pembohong besar. Di sudut pasar kota Yastrib, Madinah. Namun dengan sabar sang nabi selalu mendatangi pengemis itu dan menyuapi. Tanpa pernah berkata sepatahpun. Terus menerus hingga pada akhirnya Rasulullah menghembuskan nafas terkhir. Dan tak ada lagi yang menyuapi pengemis itu.
Pada akhirnya Abu Bakar mendatanginya dan melakukan apa yang Rasulullah lakukan pada pengemis buta itu. Betapa terkejutnya Abu Bakar mendengar kata-kata perempuan itu, "ini bukan orang yang biasa menyuapi aku setiap hari". Kata perempuan itu.
Setelah mendapatkan penjelasan dari Khalifah Abu Bakar, tentang siapa yang menyuapi dan mendatanginya. Perempuan itu masuk Islam.
"Karena nilai Islam yang luhur dan keunggulan nabi SAW
dalam hal kesabaran".
............................
"Pernahkah kau mengira kalau dia akan sirna..
"Walau kau tak percaya
dengan sepenuh jiwa.. [2]
Kugowes lagi sepeda menyusuri jalan Trunojoyo. Terbayang spektrum-spektrum saat bersama Gembrot. Menjemputnya sepulang kerja dari toko roti Malabar pasar Sleko Madiun. Mengamati senyum itu, tatapan mata itu, gaya bicaranya. Manis wajahnya, halus tutur yang selalu terucap, mengundang naluri untuk sandarkan letihku (gila Ahmad Dhani banget). Ahh semua begitu cepat berlalu. Setelah malam ini tanggal 15 Agustus 2011. Selepas saya bertarawih di masjid Al-Ikhlas Nambangan Kidul kecamatan Mangunharjo. Kembali lini hidup setahun yang lalu menerobos untuk diingat. Entah sekarang dia masih mengingatnya ataukah tidak?" Aku tak tahu (kok jadi curhat gini sich gw).
"Prang"..
"Prang"...
"Prang"....
"Buyar sudah kerangka kalimat untuk mengeksplorasi perjalanan ini".
Masjid Al-Ikhlas dibangun mulai pada tanggal 7 Maret 1988. Dan pada tanggal 21 Oktober di tahun yang sama pula diresmikan. Oleh bapak Walikota Madiun saat itu. Drs. Moersidi. Sebelum pada akhirnya setahun kemudian digantikan oleh Bapak Masdra M Jasin. Lalu pada tahun 1992, Masdra M Jasin juga meresmikan masjid yang pertama kali saya bertarawih di tahun ini. Baitur Rahmah jalan Tanjung kelurahan Kejuron (sudah ada penjelasan di paragraf pertama). Wilayah kecamatan Taman Madiun.
Al-Ikhlas tercata sebagai masjid terdekat dari kelurahan Nambangan Lor. Dipisahkan oleh sepanjang jalan yang membujur dari timur ke barat, jalan Rajawali namanya. Ciri khas dari jalan-jalan dan gang-gang dikedua kelurahan tersebut memang banyak beridentik pada nama burung, atau hewan berjenis unggas. Nambangan Lor di utara sebaliknya Nambangan Kidul menempati posisi selatan.
Bedug ada diteras masjid sebelah selatan untuk masjid ini. Ukurannya lumayan besar. Sementara di halaman depan ada lapangan bulutangkis berlantai dasar paving. Selain untuk kegiatan sembahyang pihak pengelola masjid juga menyediakan Play Grup. Dengan nama Al-Ikhlas juga.
Hal yang menarik di sini adalah, meskipun telah melewati separuh perjalanan Ramadhan. Jama'ahnya masih antusias. Sehingga penuh sampai barisan belakang. "Semoga akan tetap bertahan sperti ini hingga akhir perjalanan Ramadhan di tahun ini". Amien....
*[2] Penggalan lirik lagu Letto "Memliki Kehilangan", taken from 'Dont Make Me Sad' album.
..........................
"Tak sabar"
Apakah ini disebabkan oleh kelelahan sehari tadi?" Hingga emosi saya membuncah. Kesabaran yang seharusnya tetap terjaga tiba-tiba saja berganti perasaan menggresah. Tak seharusnya memang saya berpikiran terlalu resah. Mestinya saya memahami siapa yang menjadi imam malam ini. Seorang kakek-kakek yang usianya sekitar delapan puluh tahunan. Dalam setiap bacaan dan gerakan tentunya juga lebih cenderung perlahan. Mestinya saya memahami itulah dunia orang tua. Tapi sifat manusiawi saya yang tidak sabar, penat akibat kelelahan, seringkali hadir tak terduga.
Masjid Rodlotul Jannah, jalan Rimba tepatnya di Perhutani Madiun. 16 Agustus 2011 bebarengan dengan malam tasyakuran kemerdekaan republik ini. Gila, benar-benar peristiwa heroik. Juga saya memang beruntung lahir, besar dan tinggal di Madiun (hore-hore Madiun bangkit, Madiun yang kucintai, Madiun is my life). Di bulan Agustus angin yang berhembus pastinya akan sang merah putih bergoyang-goyang. Melambai dan berkibar, upzz 'wavin flag'.
...........................
Saya tiba di sini pas waktu panitia menggelar alas untuk jama'ah yang ada di luar. "Sampai pada malam ke 18 di tanggal 17 Agustus 2011 ini, masih juga penuh jama'ahnya".
Masjid Darusalam jalan Soekarno-Hatta Madiun. Satu area dengan sekolahan Muhamadiyah. Masuk koridor utama masjid hawanya hangat mendekap saya. Maklum di luar angin jadi tadi saya agak kedinginan oleh sapuan angin Agustus.
"Hah....! Pukul 19.30 WIB sudah selesai, tak ada ceramah?"
"Mas, di sini ceramahnya setelah shalat subuh". Jawab seorang bapak yang mendengar pertanyaan saya tadi.
Apa mungkin ini jawaban dari Tuhan untuk saya. Bila mengingat kegelisahan saya semalam kemarin. Karena merasa malam kemarin begitu lama selesainya. Padahal kalau saja bisa menikmati akan terasa ringan. Bukankah sesuatu yang kita rasakan lama adalah ujian untuk kesabaran kita. Ternyata sifat manusiawi saya belum sepenuhnya hilang, "egois".
"Ahh,,,, betapa nikmatnya hidup ini, kalu kita selalu mengikuti waktu.
Dan tak meresahkan hidup kita dengan hal-hal
yang tak perlu dibuat rumit".
..............................
"Berprasangka baiklah kepada Allah SWT"
Tentunya kita pernah menonton film-film yang bercerita tentang kehadiran mahkluk aneh dari planet lain, mungkin lakon saya ini bukan bualan semata. Saya layaknya mahkluk yang berasal dari luar galaksi bimasakti, milky way ini. Anggap saja diri ini (sok berpuitis ria) terdampar di planet bumi, dan menjadi saksi betapa majunya peradaban di sini. Mahkluk yang berasal dari luar sistem tata surya ini, dalam hal ini yakni saya. Dengan penuh kepercayaan diri tinggi melintasi jalan sepeda gowes. Mengayun pedal dengan sumber energi berasal dari nasi pecel (emang ada ya mahkluk planet lain makanannya nasi pecel?).
Makanan khas Madiun yang sudah mendunia. Konon berdasarkan info dari teman saya, Adi Ankafia mahasiswa IPB. Punya obsesi tentang keberadaan planet ekstrasolar. Kenapa gak planet ekstrabensin aja 'brat'?" (sok pakai gaya orang Rusia menyapa, 'brat' samadengan saudara). Kata dia, bahwa pecel itu telah merambah hingga pangsa pasar Eropa. Vienna ibukota Austria, Brussel di Belgia. Lalu juga di Amsterdam Belanda sana. Hebat kan, top Hamid Altintop, bukan Noordin M Top, ataupun bom molotop. Nama Madiun terbawa oleh makanan khasnya. Pecel yang melanglang buana.
Kembali ke cerita. Hampir saja, nyaris saja tak ada yang bersepeda onthel seperti saya. Kecuali beberapa gelintir orang saja, termasuk saya. Apakah mereka juga mahkluk dari planet lain, galaksi yang berbeda?"
Namun pertanyaan-pertanyaan itu akhirnya memudar. Terbawa deru-deru mesin kendaraan bermotor mereka. Berubahlah rasa kebanggan dalam hati saya. Diantara jajaran toko-toko, warung, depot makanan, pos polisi, pos satpam bank, rumah sakit, para SPG, pagawai rumah sakit, karyawan mall, lalu orang-orang yang sibuk rapat pertemuan, dan lain-lain. Mungkin dalam hati mereka inginkan juga kemerdekaan hati dan waktu seperti saya.
Ditengah kesibukan mereka. Saya mahkluk dari galaksi Andromeda[a] mungkin. Malah berlenggang menyusuri jalan. Memerhatikan kesibukan mereka di balik kaca-kaca itu. Dan saya yakin salahsatu dari mereka inginkan seperti saya. Memliki kelonggaran waktu di malam bulan Ramadhan. Mengarahkan haluan pada Tuhan Yang Maha Esa.
Mungkin itulah sedikit banyak, ada pelajaran yang mampu saya jumput. Dari malam ke sembilanbelas Ramadhan tahun ini. Yang saya nikmati di masjid Baitur Rohmah jalan Jenderal Sudirman Madiun. Masjid ini adalah hasil dari pengelolaan yayasan Islam Pesantren Sabilil Mutaqien. Dengan dilengkapi gedung sekolah dengan nama yang sama pula. PSM begitulah masyarakat Madiun menyebut singkatan sekolah tersebut. Masjid ini diresmikan oleh Bapak Bambang Pamoedja di tahun 1998. Walikota Madiun saat itu.
*[a] Andromeda adalah galaksi yang terdekat dari galaksi kita, bimasakti, milky way. Jaraknya 2,5 juta tahun cahaya.
............................
"Kruuukkk.... Kruuukkk...... Kruuukkk". Panggilan alamiah dari usus dalam perut. Lagipula kaki saya lumayan pegal. Di selatan Kelenteng Tri Dharma Madiun. Pas perempatan jalan Cokroaminoto, terapit jalan Sawo dan jalan Citandui. "Berhenti sejenak dan menikmati soto ayam sepertinya adalah pilihan tepat". Sambil meminggirkan sepeda BMX dari si bos.
Semangkuk soto dua plastik kecil krupuk gurih telah saya transfer dalam pencernaan. Tinggal segelas es teh. Sruput demi sruput membasahi tenggorokan. Ngobrol ngalor ngidul dengan Rosyid si penjual. Asli Madura.
Rosyid ini adalah anak dari Cak Romli. Tinggal satu gang dengan saya Memang Cak Romli merupakan salahsatu perantau sukses di kampung saya. Berasal dari pulau garam, hanya dalam kurun waktu kurang dari sepuluh tahun telah mampu membeli tanah dan merenovasi rumah. Hasil dari berjualan soto.
Ini adalah cerita selepas malam sabtu, tanggal 19 Agustus setelah mengunjungi masjid Ar-Rahmah jalan Sumatra Madiun. Di situ juga merupakan tempat kegiatan Islamic Centre. Tempat berkumpulnya orang-orang untuk belajar tentang ilmu agama Islam. Konon dari tulisan warna emas yang saya baca. Terukir pada marmer wakafnya berwarna hitam. Masjid ini didanai oleh dermawan asal Kuwait. Tak dijelaskan siapa namanya. Tapi saya yakin di tempat ini banyak terdapat cendekiawan muslimnya.
............................
Suasana jalan Dr. Soetomo Madiun, di kiri jalan selain toko-toko berderet. Di bulan siang hingga malam Ramadhan ini juga dihiasi oleh jajaran penjual minuman berkarbonasi. Produksi perusahaan besar asal negeri Paman Sam. Saat teringat di tahun 1996 saat Olimpiade Atlanta digelar. Perusahaan ini jadi salahsatu official partner terbesar.
Dengan merogoh kocek dua puluh ribu Rupiah kita akan membawa pulang tiga botol bertakaran 1 Liter. Namun jika kita membawa tiga botol kosong dengan ukuran yang sama. Cukup dengan tujuh belas ribu Rupiah, minuman silahkan bawa pulang.
Jalan Dr. Soetomo Madiun. Di siang hari juga ada pemandangan menariknya. Ada orang-orang memamerkan uang pecahan seribuan, dua ribuan, lima ribuan, ada pula yang sepuluh ribuan yang masih gres. Terbungkus plastik bening. Ini adalah kumpulan para penjual jasa 'money changer', uang lokal ditukar uang lokal pula.
Kebutuhan masyarakat akan uang pecahan di lebaran Idul Fitri adalah indikasinya. Lalu muncullah jenis penjualan jasa seperti ini. Daripada orang malas antre di bank. Ternyata cara ini cukup efektif. Tentu dengan memberi tambahan pada si penjual jasa. Ukurannya adalah sepeuluh persen dari seratus ribu Rupiah. Dari info yang saya dapat.
Pemandangan yang mengiringi malam kedua puluh satu. Menuju Al-Muslikhin. Sebuah masjid yang terletak di sebelah selatan kantor Kejaksaan negeri Madiun. Urutan dari utara, Kantor Pos pusat, Kejaksaan negeri lalu masjid ini. Pas di seberang sana ada kantor Polresta Madiun.
..........................
Masjid AL-Ikhlas jalan Sulawesi Madiun. Malam ke 22 ini telah berangsur sepi. Mungkin para jama'ah tarawihnya lagi sibuk mempersiapkan keperluan buat lebaran. Bisa jadi itu penyebabnya. Itulah sedikit yang saya dapatkan di sini. Eh hampir lupa saya pas di tanggal ini ultah lho sob. 21 Agustus hari yang paling bersejarah dalam hidup saya. Amin. Semoga tiap-tiap urusan saya dilancarkan untuk hari-hari kedepan.
.........................
Lelaki ini namanya Wawan. Rumahnya jalan Citarum. Saya berkenalan dengan dia di sini. Masjid yang merupakan fasilitas sekolahan MAN 2 Madiun. Malam selasa, 22 Agustus 2011.
"Gila ini niat apa niat sich?" Masa dari tahun 2000 si Wawan ini telah bertarawih keliling seputaran Madiun kota dan sebagian kabupaten. Terhitung sebelas tahun sudah ritual ini dijalankan olehnya. Kata dia, "setiap malam di bulan Ramadhan ya ganti masjid mas". "Mumpung masih kuat, masih muda, masih dikasih umur dan kesehatan". Alasan panjang yang harusnya cukup dia singkat saja, "Mumpung dikasih kesempatan yang longgar dan keleluasaan waktu oleh Tuhan Yang Maha Esa". Ini malah ribet lagi dan tambah 'gaje'. Malah bikin orang pusing dan bingung bacanya. "Bodo amat".
...............................
"23 Agustus 2011"
"Tok.... tok...... tok...... tok...... tok".
"Dung... dung.... dung.... dung... dung".
"Aslinya mana mas?" Pertanyaan lelaki tua untuk saya disela suara bedug bergemuruh.
"Jalan Sarean gang Manggar Mbah". Jawab saya.
"Kenal Margono dekat rumahnya Pak Lik warung kopi?"
"Kenal Mbah". Sambil bersalaman dan menyebutkan nama kita masing-masing.
Lelaki tua ini. Misran, dengan sekilas melihat saya langsung tahu kalau saya baru pertama kali ke sini. Masjid paling ujung timur di jalan Salak. Margono itu kata dia adalah teman anaknya. Kebetulan saya juga tahu siapa Margono itu. Tapi dengan anaknya saya cuma bilang. "Mungkin tahu orangnya tapi gak kenal namanya". Biarin orang tua ini asal gw jawab pastinya puas.
......................................
Memerhatikan cara berpakaian orang-orang di sini sepertinya mereka adalah muslim. Beda dengan saya yang cuma pakai kaos merah dengan kerah warna yang sama pula. Itupun pada bagian-bagian tertentu kaos tersebut ada bercak-bercak putih kecil karena pudar, luntur. Beleum celana jean's warna hitam pudar, belel, 'mbladhus' bahasa Jabelnya. Apa sih Jabel. Singkatan dari Jawa dan Belanda (maksa banget). Simbol keIslaman saya cuma terletak pada peci putih. Ada jenggot sih bulu jenggot. Tapi sebenarnya bukan karena perintah sunah agama. Namun lebih pada sikap malas saya untuk memotong, mencukur bulu jenggot saya.
"Ini ceramah apa dongeng?" Kata orang di belakang saya. Sebenarnya juga kita gak perlulah berkata demikian. Sebab sedikit banyaknya kan ada manfaatnya. Tapi mungkin ini juga normal sich, kalau pemuda tadi berkata demikian. Sudah dari limabelas menit belum juga selesai ceramahnya.
"Demikian yang dapat kami sampaikan, tapi tak apalah jika saya menambahkan sedikit saja". Lima menit berlalu tanpa ada memedulikan ceramah ini. Sebenarnya saya masih saja tahan. Namun "Deng... deng.... deng...". Perut saya sudah berontak. Gurami bakar yang tadi sore pas ngabuburit di Monumen kresek terbayang. Saya khawatir, kucing menyelinap dalam rumah. Menu makan malam saya bisa tinggal impian. Kucing kan tidak mengenal penghayatan Pancasila dan UUD 1945. Juga tak pernah sekolah tatakrama, halah gak nyambung tau. Jadinya kalau gurami bakar itu disikat siapa yang salah?"
"Ohhhh... Selesai juga dan apa yang saya khawatirkan tidaklah terjadi". "Amin". Syukur diri ini setelah pulang dari masjid utara Stasiun pemancar radio Gabriel namanya. Jalan Pesanggrahan Taman Madiun. Entah apa nama masjid itu, saya lupa.
..............................
Bapak Juliyanto, khotib di masjid Baitul Mutaqien ini. Dari lapangan bola gulun sebelah utara ke timur saja. Pas pojokan sebelah kiri dari arah barat. Malam ini 25 Agustus. Sang khotib yang mirip dengan jenakawan atau pelawak Narji. Cuma beda pada kumisnya. Bapak Juliyanto ini berkumis jarang-jarang. Namun postur tubuh gak beda jauh dengan si Narji. "Sumpah gw gak bohong". Ternyata setiap mahkluk ada kembarannya. Walau tidak sama persis tapi setidak-tidaknya ini mirip.
Si Narji, eh bapak Juliyanto ini berkata bahwa sebelah barat dan timur khatulistiwa itu ada perbedaan dalam hal penampakan bulan dan bintang. Hal itulah yang menyebabkan adanya perbedaan dalam hal penentuan hari raya Idul Fitri. Kata dia, "itu wajar saja". Masing-masing pihak punya acuan dan komitmen yang kuat. Tidak perlu diperdebatkan. Yakini saja bahwa pilihan kita tidak salah. Toh beda pendapat itu pasti selalu ada. Tinggal kita menyikapinya.
........................................
Musibah. Suatu kejadian yang tak kenal waktu, kapan datangnya. Ditengah-tengah masyarakat kta Madiun akan melangsungkan pesta demokrasi. Pemilihan Walikota lewat suara langsung dari rakyat.Untuk pertama kalinya di kota ini. Momen itu. Peristiwa bersejarah itu. Terselip luka. Pasar Besar Madiun kebakaran. Memang bukan pertama kalinya. Sebelumnya di tahun 2004 juga terjadi peristiwa yang sama. Tragedi yang melanda juga menjelang pilihan Walikota. Saat itu memang bukan langsung dari rakyat. Melainkan lewat wakil-wakil rakyat yang duduk di bangku DPRD tingkat II Madiun.
Lima tahun berselang, 2004 berlalu. Tahun 2009 pun datang, namun pada akhirnya menyisakan sembilu. Penerapan Demokrasi, dari, oleh dan untuk rakyat. Kota dihadapkan pada sebuah kepelikan. Tempat atau pusat laju ekonomi dan perdagangan tterbesar di kota ini. Dilalap api.
Semua terbakar, habis, nyaris keseluruhan kios, lapak-lapak, warung berderet, toko grosir, dan toko-toko pakaian. Sebab kebakaran, masih simpang siur. Hingga sekarang. Tak ada bukti. Saksi kuat, "terbakar" ataukah "dibakar". "Ah itu itu tak penting, konspirasi politikkah, kebakaran murnikah, atau apalah. Aku "gak" terlalu peduli.
Saya cuma panik, berpikir cemas, mungkin juga kekhawatiran yang ekstrim. Suasana masih dalam keadaan gelap. Dinihari asik menonton dan menikmati sepakbola liga Champion. "Pasar Gede Kobongan" (Pasar Besar kebakaran). Berita dari Alm. Hanut, salahsatu tukang becak tetangga saya. Menghilangkan hasrat nonton bola itu.
Namun saya harus tetap bersyukur. Ibu saya yang berjualan jajanan. Onde-onde, kue cucur, bikang, dan mendut masih dalam lindungan Tuhan. Al-Hamdulillah..
Itulah seklumit peristiwa yang tiba-tiba masuk dalam pikiran saya. Saat malam sabtu, 26 Agustus 2011 di masjid At-Taqwa jalan Puntuk Madiun. Sebuah jalan kecil memanjang timur ke barat. Ajang transaksi penjual dan pembeli yang mayoritas memperjual belikan aneka barang-barang bekas. Mulai dari sandang, kaset pita bekas, sepatu, koran bekas untuk pemburu artikel-artikel sebagai kliping. Majalah, dan buku-buku bekas lainnya. Datang saja si waktu pagi hingga siang hari menjelang Ashar. Riuh pasar loak ini bukan isapan jempol belaka.
Sebelah kiri saya, Feri. Adik kelas di SMP negeri 5 Madiun. Badannya tambah bantat saja itu anak. Tidak seperti saya, kerempeng. Namun juga tak perlu saya menyesali. "Toh juga sehat 'lahir dan bathin' itu saja cukup". Terhitung sejak kelas dua SMA, si Feri ini pakai kacamata minus. Kata dia, akibat tertabrak sepeda motor seorang mahasiswa UNMER Madiun. Di depan sekolahnya, SMA negeri 4 Madiun saat dia menyebrang jalan. Dan akibatnya dia terjatuh, mungkin terbentur pas dibagian sekitar saraf mata. Memaksa dirinya berhenti meneruskan hobi bermain bolanya. Di lapangan Gulun.
..........................................
Mungkin ini adalah kawasan potensial untuk dikembangkan. Di desa Kuncen ini, terdapat peninggalan sejarah Madiun. Namanya masjid Kuncen, atau sekarang diberi nama masjid Nur Hidayatullah. Didirikan oleh para sesepuh kadipaten Madiun saat itu. Peninggalan sejarah ini merupakan rintisan dari Panembahan Rongo Jumeno, Bupati Madiun pertama kali.
Karena ada juga yang meyakini bahwa di daerah ini adalah cikal bakal berdirinya Madiun. Maka untuk kegiatan Grebeg Maulid Nabi dimulai dari masjid ini. Dua buah gunungan jaler (pria) dan estri (wanita) dikirab menuju masji kuno Taman. Gunungan jaler berisikan hasil bumi berupa cabe merah, terong, buah-buahan dan lain sebagainya. Sedangkan untuk gunungan estri berisikan jajanan pasar.
Acara kiraban tersebut juga diikuti oleh para pelajar dengan berjalan kaki. Sementara "barisan berkuda" adalah para pejabat dinas P dan K serta 3 camat dan 27 lurah.
"Gunungan Jaler"
"Gunungan Estri"
.........................
Gambar Masjid Agung Madiun tampak dari depan.
Hasil jepretan kamera foto teman saya
Danny D'Bone
Majid Agung kian bertambah anggun bangunannya. Setelah dalam beberapa waktu lalu kota ini. Bertindak sebagai tuan rumah MTQ tingkat Jawa Timur. Dengan cepat proyek dikejar. Target waktu sebelum perhelatan akbar dimulai harus kelar. Alhasil jadilah seperti pada gambar. Warna kuning dan biru yang cantik menempel pada mozaik-mozaiknya. Gaya artistik bangunannya aduhai, hati siapa yang tak terpesona?" Hingga seorang kawan saya bernama Danny D'Bone sangat bernafsu untuk menjepret dengan kameranya.
Bila matahari masih di timur slorotnya menerpa dinding depan masjid. Pemandangan yang akan membuat mata enggan mengerjap. Bergaya ala masjid-masjid Turki. Blue Mosque kata Adi Ankafia teman saya (walaupun gw sendiri belum buktiin sih, duit siapa yang mau buat ke Turki?). Dan waktu malam hari ada lampu menembakkan cahaya keemasan ke arah mozaiknya. Benar-benar memesona setiap mata yang memandang.
Air mancur hasil kreasi seni nan indah. Menyambut tepat beberapa meter saja dari gerbang depan. Banyak pasangan muda usia abg (pacaran) menjadikan air mancur ini sebagai background untuk berfoto ria dan mesra. Di lain waktu kemegahan bangunan di pusat kota Madiun ini. Dijadikan lokasi pemotretan acara pre weeding.
Saya melenggang saja ke arah timur. Tarawih terakhir beberapa waktu saja telah usai. Menyusuri alun-alun yang ramai, riuh, gelegak keceriaan datang silih berganti mampir di telinga saya. Ada penjual mainan, makanan, minuman, kereta api mini berputar di atas jalurnya, wajah si bocah yang naik dan berputar.
Derap sepatu kuda menarik kereta. Konsentrasi mengendalikan laju adalah tugas si kusir (kok jadi lagu anak-anak sih?).
Biarin!!!!! Canda tawa anggota keluarga yang menjadi penumpang. Berkeliling mengitari jalan beraspal. Berpayung lampu temaram.
Saya duduk di atas gelaran baliho bekas PILKADA dua tahun lalu. Sudah kalah kini gambarnya dibuat duduk lagi. Kasihan juga sebenarnya. Tapi siapa suruh juga mencalonkan diri. Bukankah kalah menang adalah hal yang biasa saudara-saudara?" Heh!! Hah!! Kok jadi memori PILKADA yang saya bahas?" Hop jangan diteruskan.
Berteman segelas kopi, dua bungkus plastik krupuk pasir lengkap dengan semangkuk sambelnya. Gurih, pedas, dan nikmat. Tiga batang rokok kretek tersisa dalam bungkus berwarna kuning. Rasa pedas dan gurih yang mengecap di lidah saya. Terguyur hangat dan nikmatnya kopi hitam. Benar-benar simpel kuliner yang mantab abis.
Heterogen memang yang saya dengar di sini. Pekerjaan di luar kota jadi perbincangan saat mudik. Teman-teman perantauan. Ada pula yang sibukdengan cerita kuliahnya yang jauh di sana. Saya hanya diam mendengar dengan setia. Bicarapun hanya sekedar pinjam korek api. Buat bakar rokok. Bukan bakar pasar tau. Lagian juga saya tak bawa korek. Kan bukan tukang las karbit. Jadi gak perlu dong bawa korek kemana-mana.
Kilau cahaya menjadi hias langit yang hitam bertabur bintang-bintang. Asap tersembul di angkasa. Bau karbon sisa-sisa pembakaran menerobos hidung. Setelah kembang api mendentumkan suara yang nyaring. Menikmati suasana malam ini sungguhlah indah.
Planet Jupiter di atas sana masih juga menjadi bintang paling terang di malam ini. Pesta kembang api, ritual tanpa peresmian itu perlahan surut juga. Kilau percikan setelah dentuman menggelegar telah memasuki fase berakhir.
Saya bergegas kembali ke parkiran halaman masjid. Menghampiri sepeda gowes yang sudah lama saya abaikan (baca cuekin). Untuk segera kembali pulang. Perut ternyata sudah berontak. Lambung protes minta asupan makanan yang lebih berat dari krupuk pasir dan sambelnya. Dan baru saya tahu sekarang. Bahwa kerupuk pasir, sambel, dan kopi.
"Ternyata bukan cara ampuh untuk membungkam suara lambung".