tentang tulisan saya?

Rabu, 28 September 2011

"TRIO LABIL"


 [*]

Terik. Panas. Kemarau memasuki puncaknya. Angin berdesir menyapu tak henti-hentinya. Melewatkan sejenak waktu untuk berelaksasi. Sebuah warung di pinggiran jalan desa Grape kabupaten Madiun.Mereguk segarnya es teh. Gurihnya tempe, tahu goreng. Hari minggu, hari yang tak mau diganggu.

Saya, Danny, juga Stevy saling berbincang. Pinggir kolam tempat untuk berterapi kesehatan. Dengan cara menggigitkan telapak kaki pada ikan dalam kolam tersebut. "Terapi Ikan 30 menit Rp 10.000. Terpampang tulisan tarif. Warna tulisannya biru. Menindih bidang kayu tipis berwarna putih. Menempel pada bambu penyangga teduhan dari jerami. Kami duduk di bawahnya dan saling mengoceh. Ada kalanya tentang keseriusan dalam hidup, alam semesta, kemanusiaan, pekerjaan, hingga hal-hal yang konyol. Namun berhubung kami bertiga masih merasa sehat. Jadi tak perlulah kiranya berterapi semacam ini.

Tentang kedongkolan Danny pada mantan rekan kerjanya beberapa waktu lalu. Sehingga membuatnya undur diri dan angkat kaki dari perusahaan tersebut. Cara dan mekanisme kerja yang tidak ada kecocokan antara dirinya dan mantan rekan kerjanya itu adalah sebabnya. Tentang harga ponselnya yang kini turun drastis. Maka engganlah dia untuk menjualnya. "Salah sendiri beli HP merk begituan". Gumam saya dalam hati, tak enak jika dia mendengar. Sebab menurut yang dia katakan. Bahwa semua bukti otentik mengenai ponselnya itu masih tersimpan rapi. Mulai dari nota harga, dosbook, dan piranti tetek bengek perangkat HP nya yang kini layaknya harga lombok di pasaran. "Sori brat, bukan maksud gw jelek-jelekin HP loe".

Stevy juga tak kalah serunya. Dengan tema bersyukur dia mencoba memberikan gambaran. Bahwa hidup itu akan nikmat kalau kita sudah mampu bersyukur. "Ah,, lama-lama bisa jadi tukang dakwah aja tuh orang".

 [*]

Sejauh mata memandang. Belakang warung pemandangan begitu memesona. Deretan sawah. Hijaunya padi bergoyang tertiup angin. Gubug kecil di tengah padang nan hijau menjadi pusat panorama. Sayang bila semua ini terlewatkan begitu saja. Hati siapa yang rela mengabaikan pemandangan itu semua. Mata siapa pula yang dengan begitu mudahnya melewatkan ini semua. Kontras dengan keadaan wajah dan tubuh kami yang semrawut. Belum terguyur air semenjak pagi. Benar-benar tak selaras. "Tapi bukankah pemandangn seperti ini hak semua orang, setiap mata, hati dan pikiran, lalu menerjemahkan dalam kata, cerita, lagu, puisi, dan menjiplak pemandangan itu. Melalui gambar lukisan, ataupun dengan cara memotret".

Bodo amat dengan keadaan kami. Sekarang coba bayangin aja. Ayam yang ga' pernah mandi aja dagingnya enak. Kalau udah disulap jadi ayam panggang, sate ayam, ayam goreng, kari ayam, soto ayam tetep aja enak. Begitupun juga kami bertiga. Biarpun belum mandi. Tetap saja boleh menikmati keindahan alam semesta yang begitu mengagumkan dan luar biasa ini. Plagiat lagunya Alm. Chrisye feat Trio Libel's dan Rafika Duri. Gita ini  sempat meramaikan blantika musik persada di era 90an. Nyambung ga' ya?" Nyambung ga' nyambung ya disambung-sambungin aja. Kaya Jaka Sembung kali ye!!!"


"Capung merah ini adalah salah satu species di wilayah Grape". [*]



"Dan ini adalah Stevy"[*]


"Saking sibuknya berburu panorama". [**]


Perlahan matahari bergerak condong agak ke barat. Anginpun juga masih tetap sama berdesir dari utara menuju selatan. Sejurus dengan pergerakkan itu kami bergerak menuju sungai. Turun menyusuri batu-batu kali. Airnya yang hanya seukuran mata kaki tak menyulitkan langkah-langkah kaki. Maklum ini musim kemarau. Jadi tingkat volume dan kederasan arus air juga tidaklah terlalu dalam dan deras.

"Santai". [*]

Berbalut jaket yang coraknya garis melintang samping, saya duduk di atas batu besar. Hanya berjarak kurang dari semeter, Stevy dengan jaket warna coklat tua. Bahan anti air, juga dengan santainya duduk mengobrol dengan saya. Sementara Danny?"

Sekarang waktunya untuk mengenal lebih dekat sekelompok serangga pemangsa ini. Orang biasa menyebutnya dengan nama anggang-anggang. Hewan yang termasuk dalam suku Gerriade ini ternyata memiliki sekitar 340 jenis dalam anggotanya. Sehingga dengan jumlah sebanyak akhirnya sulit untuk dibedakan. Banyak juga yang salah kaprah menyebutnya dengan nama laba-laba air. Walaupun ia sama sekali bukan laba-laba. Nama anggang-anggang sendiri konon katanya berasal dari gerakannya yang maju mundur sambil mengapung. Gerris Remigis nama ilmiahnya. Tapi buat lidah saya enak menyebutnya dengan nama "ANGGANG-ANGGANG", lebih pas dan cocok aja. Ibaratnya begini. Masa' terbiasa makan jemblem, tiba-tiba dalam waktu sehari saya dipaksa  mengganti makanan favorit itu dengan burger. Dan itupun harus menjadi makanan atau cemilan wajib. Ga' mungkin kan budaya yang sudah mengakar akan terpangkas dengan budaya luar dalam waktu sekejap. Berarti saya telah berusaha merusak dan memusnahkan budaya yang ada. Menjual sebuah identitas yang dalam penciptaannya membutuhkan pemikiran. Menguras energi. Mempertaruhkan segenap upaya. Hanya untuk menciptakan sebuah budaya. Begitupun juga bahasa dan nama.



Kembali pada anggang-anggang. Ternyata hewan ini memiliki magnet yang kuat. Menarik sesosok mahkluk lain bernama manusia untuk hanyut dalam keunikan hidupnya.

Anggang-anggang bergerak dengan cara menekan permukaan air dengan sepasang  tungkai tengahnya. Tanpa menembus permukaan. Menembus permukaan air dan menimbulkan cekungan. Dengan memerhatikan itulah. Layaknya seorang jurnalis dari National Geographic, Danny tenggelam pada dunia anggang-anggang. Setiap gerakan pada kelompok hewan ini tak lepas dari pengamatannya. Diarahkannya ujung kamera. Membidik arah permukaan air. Memerhatikan setiap gerakan. Menjepret momen-momennya.

[*]

Air sungai yang coklat. Tidak dalam. Arusnya yang tak menggelegak. Pohon-pohon mengitari sekelilingnya. Daun-daun kering yang berguguran. Di depan kami, tampak hijau masih terhampar. Di pandangan agak kedepan lagi pohon-pohon tinggi menjulang. Menyisakan ranting-ranting kering. Tanpa dipayungi lebatnya daun. Rumput-rumput mengering terhujani oleh sinar matahari sore.

Di belakang saya dan Stevy adalah tiga orang pemuda. Asik mereka menikmati hari minggu ini. Secara bergantian menenggak seduhan minuman berakohol khas daerah setempat. Gigi-gigi sibuk mengunyah camilan. Setelah mengahabiskan segelas kecil minuman itu. Asik pula mereka bercanda. Di depan sama ada dua pasang abg berlainan jenis. Berfoto-foto ria. Batu besar jadi latar belakang pemandangan. Memagut romansa di sungai. 

Ahh... saya dan Stevy masih saja duduk. Membincangkan apapun. Sementara sang potographer yang tahan laper masih tenggelam dalam dunianya sendiri. Semakin menggila. Akar sebuah pohon jadi objeknya. Riuh aliran air tak urung juga dia eksekusi. Dalam hati kecil saya bertanya, "apakah Agustinus Wibowo[***] dulu juga melakukan hal yang sama dengan si Danny. Saat melintasi sungai Amudarya?" Sungai yang memisahkan Afghanistan dengan Tajikistan.
Walaupun sebenarnya wajah Stevy lah yang mirip dengan Agustinus Wibowo. Lihat saja postur tubuh, gayanya, tipe wajahnya. Benar-benar ciri khas mongoloid. Saya baru menyadari setelah seorang Adi Ankafia mengkomentari fotonya di facebook. Hasil unggahan dari si Danny. Setelah saya perhatikan, ternyata memang tidak beda jauh. Kembali kita dihadapkan pada kenyataan tentang adanya bentuk lain, wujud lain yang mirip dengan manusia lainnya. Mungkin semua manusia pastinya mempunyai kembaran atau wajah yang mirip di tempat lain. Lagi-lagi kita harus mengakui kehebatan TUHAN yang Maha Kuasa.

Perjalanan waktu ibarat sebaris cerita. Akan ada mula dan akhir. Di awal cerita ada suatu energi pemicu sebuah perjalanan cerita. Di tengah-tengahnya kita akan dihadapkan pada berbagai macam efek atas cerita tersebut. Antara antusiasme dan kebosanan. Antara menggali isi cerita ataupun dengan santai mengikuti alur. Lalu sebuah perjalanan waktu pastinya akan berakhir juga. Berganti dengan sekumpulan antrian di belakangnya. Pagi berlalu, siang berlari dan melaju. Bergantilah sore. Senja berlabuh. Malam akhirnya menjadi warna.

Inilah sepenggal perjalanan waktu. Bila ada awal tentunya cerita ini harus ada akhirnya. Bila di awal kedatangan membawa pikiran lelah dan penat. Kini berganti dengan segarnya pikiran.

"Udara, aliran air sungai, hijaunya sawah, gubug kecil, warung, segelas es teh, gelegak suara canda dan tawa. Adalah ide untuk memecah kebuntuan ide. Kawan dan hati adalah bagian isi cerita. Sementara tulisan adalah sarana untuk menghibur diri".

Credit :
[*] Adalah koleksi foto Danny D'bone.
[**] Adalah koleksi foto Stevy.
[***] Penuilis buku "Selimut Debu" dan "Garis Batas".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar