tentang tulisan saya?

Senin, 20 Desember 2010

Mimpi Kecil Dari Timur




Oto dan Oyo masih saja menahan kelaparan hebat.. Sesaat setelah berlarian dalam gerimis. Sambil bergumam, Oto melangkah mendekati pintu kamar. "Kenapa nasib belum juga mujur?" Sigap sang adik bernama Oyo, tangkas membaca problem dari si kakak. Dalam hatinya pun berkata, "kasian Abang...... kenapa nasib belum juga berpihak padanya??"

Malam itu sekitar pukul 22 lewat 22 menit 22 detik. Hampir 9 jam mereka habiskan berpeluh resah dalam hiruk pikuk kota yang kata banyak orang selalu bengis. Langka memang gejala yang mereka namun bagi Oto dan Oyo ini termasuk dalam gejala kawakan. Hanya tenggakkan air putih bermenu hela nafas adalah menu santap malam yang terasa berat untuk mereka pikul. Tak ada secuil makananpun juga secarik uang kertas ataupun seglintir logam bernominal. Antara lapar dan dingin berikut lelah yang  menggerutu dalam badan.

Rasa kantuk  belum  juga  datang.  Lebih  disebabkan  oleh  keratan  lapar  yang  begitu  sarat  dengan  siksa.
"Oh  dunia kenapa tak adil pada 2 mahkluk kecil ini?" Terlahir sebagai 2 bocah kembar Oto dan Oyo selalu saja berbagi rasa dalam berbagai situasi. Arungi hidup di belantara kota tanpa pembimbing. Angin, air sungai, awan, serta terik matahari juga berikut hujan adalah guru ke 2 bocah kembar itu. Malam masih dan terus seraya enggan menina bobokan mereka. Dongeng apapun tak kan sanggup lena mereka  dalam  kantuk. Hanya secuil harapan dan mimpi dalam benak mereka. "Kapankah terwujud wahai kerinduan?" Ohhh tak begitu kentara di berbagai indera manusia. Mimpi kecil, sekecil dan semungil harapan mereka selaras dengan kecil tubuh mereka.................

"Apakah mimpi mereka?"
....................................................................................................................................................................
  
Sore yang tak begitu padat hilir lalu lintas adalah lintas berita hari itu. Iskandar segera berlalu melangkah tinggalkan habitat kerja yang begitu sarat dengan kepenatan. Berkemas dan bergegas  pergi melantunkan langkah kaki. Halte yang begitu manja setia menunggu dirinya ."Oh sore yang cerah tiada gerah dalam hati"
Gumam lirih iskandar yang tentunya cuma dalam hati. Di letakkan badan semanja mungkin pada halte seberang tempat dia bekerja. Seperti biasa iskandar menyulut teman pada selip bibirnya. Di kepulkannya asap hingga terberai menuju ubun-ubun langit. Seakan letih juga penat berhamburan lewat asap asap itu.

Sambil menunggu bus datang baiklah kita kupas siapa iskandar?"

Seorang asisten mekanik listrik dan AC untuk intalasi pada proyek sebuah gedung bertingkat. Bulan ini, tepatnya maret hampir habis pekerjaan itu. Tetapi bukan itu yang akan menjadi pokok bahasan pada edisi yang membosankan ini. Dua puluh lima ribu Rupiah sehari upah dia bekerja dalam waktu normal tanpa extra time ataupun over time. Bila sampai extra ataupun over time lain lagi jumlah pundi rupiah yang masuk di kantong. Entah berapa??? Tak begitu penting buat  penulis  menjabarkan. Juga bukan rahasia umum kalau income seorang buruh proyek, tak setinggi impian  Menteri ataupun pejabat pemerintahan. Maka jangan disalahkan bila Iskandar pada saat mudik, tak mampu membawakan banyak mimpi untuk keluarga di kampung.

Bus kota datang dan tiba saat batang berasap iskandar menyisakan setengah batang. Dibuangnya  racun  itu.
"Biar angin yang bertugas melanjutkan dan menamatkan riwayat racun itu". Tampak sekali kata hati pria 21 tahun itu dari cara dia membuang racun paru paru itu. Biarpun cuma sekelas buruh proyek, namun Iskandar sangat bisa menempatkan diri. Kapan harus bersikap dan menghentikan sikap. Ketika berada dalam sebuah kendaraan, apalagi berpenumpang banyak orang. Pastinya dia tidak akan merokok, selain menganggu kenyamanan penumpang yang bukan perokok. Ini bisa menyebabkan suasana stress, apalagi disaat situasi dalam bus kota penuh. Oksigen mungkin, akan jadi barang yang langka, terlalu banyak asupan karbon dioksida ke paru-paru. Menyebabkan juga sirkulasi darah ke otak terganggu. Dan muncullah, gejala tidak nyaman atau stress. Oleh karena itulah Iskandar selalu mematikan atau membuang rokoknya saat dalam bus kota.

....................................................................................................................................................................

Jajanan gorengan di genggaman sudah terbungkus kertas putih yang pastinya lengkap dengan cabe pedas. Sebagai menu setelah mandi sore untuk sekedar menikmati suasana. Tiba-tiba "Gubrakkkkkkkkkkkkkkkkkk................"
 Apa yang terjadi?" Tubuhnya tertabrak oleh seklebat bocah berlarian dan berserakan pula apa yang tergenggam. Lalu dikejarnya seklebat bocah yang menabraknya tadi.

"Oh sore yang tak bersahabat".
"Sore yang mengejutkan".
"Sore yang tiada keramahan".
"Sore yang sore yang............
"Sore yang  ampun".

...................................................................................................................................................................
 
Iskandar berjalan mengendap di lorong kolong jembatan ingin mendapati seklebat bocah yang menabraknya tadi. Seberapa pentingkah kegiatan itu untuk dia? Tak tahukah bahwa tempat ini bukan suasana yang akrab buat pernafasannya. Tapi peduli apa tentang pernafasan harga sebuah keingintahuan ternyata lebih mahal dari anjuran para Dokter. Satu demi satu gubug berderet di kolong jembatan. Dia sejenak intip...........

Tersendat nafas iskandar aroma tak biasa memaksa dia menutup lubang sirkulasi nafas yang kata banyak orang bernama hidung. Kemudian tanpa  sengaja  pucuk  kerinduan  mampir  juga  di  hadapan hidungnya.
"Abang mencari saya?" Tanya seorang bocah yang tadi menabrak pria ini....
"Kamu tadi yang......."tak kuasa Iskandar melanjutkan kata-kata sebab tak tahan aroma kolong jembatan Oto dan oyo segera mendekati pria di depannya itu.
"Maafkan kami Bang" Spontan sang kakak mengucapkan apologi pada Iskandar. sambil  menggeleng  yang tentunya kepala Iskandar menyergah
"Tak masalah abang tahu kok.......". Lagi-lagi Iskandar tak tahan aroma itu lagi......

Mengetahui hal tersebut Oto dan Oyo langsung mengajak pria yang baru mereka kenal itu naik ke atas menuju kehidupan normal iskandar. Proses perkenalan pun berlangsung menarik serta syarat dengan argumen argumen keakraban. Tak tega iskandar melihat wajah polos mereka. Saat tak menjawab. "Di mana orang tua kalian????". Oto dan Oyo cuma memberikan keterangan bahwa mereka menggantungkan hidup pada sampah di kali. Mengais rejeki dari sisa yang terbuang hidup dan paksaan terhadap nasib adalah pertaruhan, gumam dalam hati iskandar. Pukul 17 lebih entah berapa detik tertera pada jarum penunjuk waktu....
penulis tak begitu mengamati dengan cermat.................

Perbincangan kini mulai mengarah pada wacana yang serius. Tentang mimpi. Ternyata Oto dan Oyo punya mimpi. Sebuah mimpi layaknya anak kecil pada umumnya.
"Apa mimpi kalian??" Tanya Iskandar lirih. Oto yang cenderung pendiam langsung mendekati telinga iskandar dan berbisik. Mungkin sifatnya sangat rahasia. Biarkan saja itu adalah hak seseorang. Kalau negara punya Dokumen rahasia, anak kecil punya mimpi yang  juga rahasia. Tiada yang tahu kecuali mereka ber 3 dan TUHAN di atas sana..............

Penulispun tak berhak tahu apa mimpi mereka. Karena kadang si penulis ini tak bisa jaga rahasia. Yang paling parah penulis ini sering kali   bersikap sok tahu. "Ahhhhh dasar penulis amatir dari golongan yang paling Amatir".

Di dekapnya 2 kepala bocah itu disandarkannya pada dada Iskandar.
"Seraya alam berdoalah kepada TUHAN untuk mimpi mereka". Bujuk iskandar kepada alam di sekitarnya. Matanya tak keluar tangis tapi dalam hatinya tersulut. Bahkan sungguh tersulut rasa salut dalam ketegaran sikap yang jauh dari kata manja.

Oto dan Oyo kini menjadi bagian cerita hidup Iskandar. Dua botol air kemasan setengah lusin mie instan salam perpisahan di pertemuan pertama. Sekedar persiapan ketika lapar dan haus menyerang mendadak pada 2 punggawa kecil itu.  Sampai jumpa sahabat kecilku cukuplah perkenalan ini akan jadi motivasi untuk kita membungkus mimpi agar tetap rapi dan terjaga. Kita raih mimpi itu di episode selanjutnya. Hari sore petang yang indah. Hidup yang penuh keunikan. Syukur nikmat dalam keadaan yang tiada menyerah adalah terarah

.................................................................................................................................................................

Hari sabtu sore. Tertera pada sebuah slip gaji mingguan dengan gaji pokok 150rb hasil dari 25 rb dikalikan 6 hari kerja.. Total jenderal 356 rb keseluruhan termasuk lembur uang makan juga tetek bengeknya. Lumayan juga minggu ini tak ada kas bon juga tak punya hutang pada warteg langganan untuk berhutang. Bergegas dia beranjak pulang. Setelah berhasil gagalkan dan batalkan janji dengan si Ratih. Adik perempuan pemilik warteg yang biasa dia hutang makanan dan secangkir kopi yang tidak terlalu manis. Ratih memang sebetulnya hari sabtu, malam minggu itu punya janji dengan Iskandar. Namun entah ada apa, hingga sepasang kekasih yang usia hubungannya belum genap sebulan itu harus batal berkencan. Biasa weekend seperti kebanyakan pasangan muda mudi lainnya. Biarpun buruh proyek tentu Iskandar punya hak untuk sebuah romansa bukan???? Tetapi weekend kali ini romansa sementara di tunda. Ada acara kumpul keluarga adalah dalih Iskandar menyetir agar batal rencana itu. Padahal si Ratih ingin sekali hempaskan rasa cintanya pada Iskandar di sabtu sore itu. Namun apa mau dikata, pejantan sepertinya punya urusan lebih penting dari sekedar memagut kasih.

Tanpa mau memedulikan keinginan sang betina. Iskandar ngeloyor saja. Menuntaskan urusannya sendiri.

Rencana berhasil dan pria dua  puluh satu tahun  kurang beberapa bulan itu meluncur untuk pulang. Maklum tiga. hari berselang tanpa menghirup udara kamar kesayangan. Akibat dari kerja sampai lembur alias banting tulang sampai remuk dan redam. Tak ada peluang untuk pulang ke kontrakan

Langkah kaki di pacu. Waktupun seakan terburu.   Hari  keberuntungan  tampaknya.
"Bus datang lebih awal dari yang aku sangka". Sungguh dalam rasa senangnya pertanda hati iskandar. Hari sabtu yang melegakan tiada kata macet. Tak perlu terlalu lama lantunkan lamunan di tengah tengah perjalanan Bahaya mengancam tentunya cuma kebablasan adalah resiko tentu tak di inginkan oleh Iskandar  Sampailah sudah ia pada tujuan. Bergegas tanjaki jembatan penyaneberang. Langkah pasti susuri tujuan yang terpendam dalam otak......

..................................................................................................................................................................

Lorong gorong kolong jembatan dia menyelinap. Siapa yang iskandar cari? Oto dan Oyo adalah tujuannya. Perlahan tapi pasti dia kunjungi gubug dua bocah kembar itu. Ketukan demi ketukan tak ada jawaban. Kemana penghuninya????

"Oto,, dimana kamu?". Iskandar memanggil dengan nada sedang saja.
"Oyo,, kamu dimana?" Teriak iskandar lebih keras sembari mengetuk pintu di depannya terbuat dari bahan seng yang setengah badan pintu itu telah tua dan berkarat kerat.
"Dua hari oto dan oyo tiada kabar mas" Teriak lirih bernada sengau perempuan sekitar 54 tahun usianya kira kira usiannya. Semoga analisa penulis tentang usia tidaklah meleset.
"Mereka tidak meninggalkan pesan bu??" Nada tak percaya masih menghiasi intonasi suara Iskandar. Hanya geleng kepala tanpa suara jawab isyarat ibu tua itu. Belum puas satu jawaban iskandar beranjak naik menuju tempat pengepul barang rongsokan yang biasa Oto dan Oyo setorkan hasil panen dari sungai itu.

Lagi sekali lagi jawab mang Su`aib adalah bukan pemuas rasa ingin tahunya. Bukan jawaban penerang untuk kalutnya dirinya. "Saya tidak tahu mas di mana mereka". Tentu dengan logat sunda yang kental. Iskandar hanya terdiam tanpa bertutur apapun meninggalkan si setengah baya itu. Lemas gontai kini langkah Iskandar.

Mimpi kecil yang ingin dia wujudkan ternyata hanyalah, mimpi yang tak terkemas rapi. Mimpi yang hanya mimpi. sepatu bola untuk Oto dan Oyo. Tak pernah terwujud dari tangannya. Walau Iskandar tak pernah menjanjikannya. Tapi apalah itu artinya, yang jelas kini Iskandar di ambang sadar. Dinaikinya lagi jembatan penyebrangan, dia menatap ke arah bawah kota yang begitu hingar.

Dalam hatinya bergumam.
"Tak sudikah engkau sedikit memberi celah untuk Oto dan Oyo menyelipkan mimpi?" Protes iskandar pada kota ini.
"Hanya sepatu bola mimpi mereka"
"Tapi kenapa itu adalah mimpi yang terlalu sulit untuk mereka beli?"

Ia batalkannya janji dengan Ratih perempuan adik pemilik warteg. Hanya untuk memberi sedikit dari apa yang diimpikan oleh 2 bocah kecil. Iskandar berbalik badan ke arah timur.arah di mana dirinya berasal. Seorang pemuda dari timur pulau jawa yang bermaksud mewujudkan satu mimpi mahkluk lain yang pada akhirnya menjadi mimpinya juga.

Oto dan Oyo bocah petualang yang tak berhenti belajar hidup dari angin, air sungai, gubug tempat mereka berteduh, juga para pecinta dan pembenci dunia mereka. Tegar oleh keadaan tak pernah mengeluh..........

Oto dan Oyo adalah fajar...........
Tiada pernah gentar...........
Selalu saja berjiwa tegar...........
Walau hidup begitu sangar............
Tapi mereka tetap hadir di setiap hingar.................


"Apapun dan bagaimanapun keadaan kalian semoga alam senantiasa berdoa untuk kalian". Masih di jembatan seberang itu Iskandar berdoa untuk malaikat malaikat kecilnya itu..............
"Kutunggu kalian dengan seragam layaknya de bour bersaudara" Harapan itu masih mengembang dalam hati iskandar yang bergumam tentang masa depan. Masih tetap tak beranjak walau senja telah di persilahkan masuk menggantikan tugas oleh sang sore. Begitu lekat dekat merekat bayangan oto dan oyo dalam keruh hatinya...........
iskandar

.................................................................................................................................................................

Delapan tahun berselang. Iskandar telah pergi tinggalkan habitat yang telalu ketat. Kini dia hanya menunggu kapankah datang wahai 2 mahkluk kerinduan itu. Berseragam lengkap dengan sepatu bola. Mimpi kecil dari timur. Lalu menjadi tontonan menarik di layar gambar TV................

Oto dan Oyo kutak kutik mnggiring bola mencetak mimpi. Harapan Iskandar tentang masa depan. Seragam merah putih burung Garuda yang tersemat di dada kiri.

Hingga iskandar berteriak..................

"MIMPI KECIL DARI TIMUR MIMPI KECIL DARI TIMUR"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar