tentang tulisan saya?

Selasa, 22 Maret 2011

"Paman Gong dan Sepeda Kumbang Terbang"





"Awas Paman Gong mengejar, dia polkam yang sadis bro". Seru Kemvo pada Pepeng
"Ayo...ayo...ayo lari, jangan sampai kita tertangkap oleh Paman Gong".
"Dia polkam yang nggak punya otak". Pepeng serasa ketakutan. Memang paman Gong seorang polisi kampung yang tidak punya belas kasihan dengan siapapun. Seringkali main kekerasan, padahal sebenarnya Paman Gong itu polkam yang bodoh. Patroli dengan sepeda keliling kampung, tanpa ada hasil memuaskan.

Kemvo, Pepeng, dan Joni adalah bocah-bocah tengil yang suka iseng ngerjain dia. Mereka para bocah itu, menjuluki Paman Gong si polkam yang dungu. Paman Gong selalu marah bila dikatakan polkam yang dungu. Bagaimana tidak dungu coba?? Lha dia itu selama jadi polkam tak pernah mampu menuntaskan 1 kasus. Malah ujung-ujungnya bikin repot orang saja. Paman Gong polkam dungu...

Lalu bagaimana awal mula muncul nama paman Gong dan di mana letak sifat dungu Paman Gong??

Dan bagaimana pula hubungan Paman Gong dengan trio tengil kampung tersebut??

Inilah sekilas cerita dari kampung yang bernama 'DIARHEA'. Adalah salah satu kampung di bawah kekuasaan pemerintahan kota 'ANOREKSIA' yang luas ini.
.............

Sore yang sungguh na'as bagi Paman Gong. Waktu itu dia bersepeda untuk misi patroli menyelidiki kasus raibnya kambing Pak Lahar. Padahal rencana kambing itu untuk keperluan perayaan sunatan putra bungsu Pak Lahar, namanya Kepek. Di usia 10 tahun, Kepek merasa malu belum sunat. Karena melihat teman sebayanya telah melaksanakan kewajiban itu. Mulai dari Kemvo, Pepeng, juga Joni ketiganya malah mendahului Kepek. Tepatnya tahun lalu waktu ada 'SUNATAN MASAL' di kampung 'EBONY' mereka nekad mendaftarkan diri. Sehingga mereka bertiga sudah bertitel perjaka. Kembali pada kasus Pak Lahar.

Hajatan besar-besaran konon ide dari Pak Lahar, tapi alangkah malangnya nasib keluarga itu. Saat kambing yang baru tiga hari lalu ia beli dari kampung 'DIFENSORE'. Yang juga masih satu wilayah dengan kota 'ANOREKSIA' ternyata hilang. Dan muncul anggapan dari sebagian penduduk 'DIARHEA' bahwa kambing itu dicuri.

Sebagai polkam Paman Gong bersedia mencari sindikat pencurinya, karena memang sudah tugas dia.

Lalu apakah misinya berhasil, tuntas dengan kesuksesan besar??
Sabar dulu, kita amati kejadian di bawah ini dulu. Selingan kisah di balik sepak dan terjang Paman Gong.

Di tengah perjalanan tiba-tiba saja Paman Gong kebelet pup. Tak ada pilihan lain untuk pria itu, selain sejenak lepaskan beban. Tak ada pilihan lain kecuali menunda pekerjaan serunya.

Akhirnya Paman Gong terpaksa menumpang di WC nya Klowor. Sebab kebetulan yang terdekat adalah rumahnya Klowor, bocah sepantaran trio tengil namun tak masuk hitungan.
"Wor... Klowor aku nunut neng WC mu yo!!"
(Wor... Klowor aku numpang ke WC mu ya).

Wajah Paman Gong yang jelek malah berubah warnanya. Ungu gelap tak bisa dibayangkan. Muka yang kacau balau tambah tak keruan bentuknya. Tapi Klowor yang paham tabiat Paman Gong tak berani tertawa. Dia takut kalau-kalau bisa jadi korban kemurkaan Paman Gong. Dalam keadaan kebelet pup seperti ini setiap orang bisa berubah jadi segarang beruang. Mungkin sebab itu yang membuat Klowor tak bernyali.

Dengan sikap hormat Klowor mempersilahkan masuk.
"Monggo Paman Gong, menawi bade ngengek".
(silahkan Paman Gong, kalau mau buang air besar). Tanpa menjawab atau ucapkan terimakasih pada Klowor, walau sekedar basa basi saja.
Paman Gong masuk dengan tergesa-gesa, sebab rasanya seperti di ambang neraka, mungkin.

Lalu apa yang terjadi??

Joni, Pepeng serta Kemvo yang sedang bermain layangan di belakang rumah Klowor mengetahui, musuh besar datang. Suara Paman Gong yang khas bisa tertangkap oleh mereka, 3 bocah yang tengil. Muncullah ide konyol dari kemvo, si provokator.
"Peng, merconmu isek enek turahan?"
(Peng, petasan kamu masih ada sisa nggak).
"Enek okeh bro".
(Banyak bro).
"Jupuk'en bro, ben Joni karo aku nunggu neng kene".
(Ambil bro, biar aku sama Joni nunggu di sini).
"Iyo bro cepet jupuk'en".
(Iya bro cepat ambil).
Joni berkata, sebab ingin membalas dendam atas kejadian lusa kemarin. Lalu apakah kejadian, yang membuat Joni bernafsu membalas dendam??
Pepengpun tiba dengan nafas memburu oksigen, membawa mercon sesuai pesanan. Lalu diberikan barang tersebut pada Kemvo.
"Bro, ini merconnya, tapi gw lupa nggak bawa korek".
"Ini bukan tugas gw bro, masalah mercon adalah mutlak haknya Joni" "Dia kan yang punya dendam". Lanjut Kemvo
"Mana bro merconnya, sini kasih ke gw, empet gw lihat tuh orang, inget nggak waktu lusa kemarin, dia apaan mainan gw!!". Geram Joni yang sekarang menggenggam korek api. Juga mengingat kejadian, waktu Paman Gong memakan rakus kuda-kudaan miliknya, lusa lalu.

Dengan menyahut mercon dari tangan Pepeng, Joni penuh dendam. Dengan langkah berjingkat-jingkat Joni mendekati lubang angin ventilasi mini, pada WC nya Klowor. Hatinya sedikit berdegup nafasnya agak terengos-engos, namun Joni tetap mencoba tenang. Sebab dengan ketenangan akan meraih kemenangan.
 ..................................................................................................................
"Soldier  Fortune"
I have often told you stories
About the way
I lived the life of a drifter
Waiting for the day
When I’d take your hand
And sing you songs
Then maybe you would say
Come lay with me love me
And I would surely stay

But I feel I’m growing older
And the songs that I have sung
Echo in the distance
Like the sound
Of a windmill goin’ ’round
I guess I’ll always be
A soldier of fortune

Many times I’ve been a traveller
I looked for something new
In days of old
When nights were cold
I wandered without you
But those days I thougt my eyes
Had seen you standing near
Though blindness is confusing
It shows that you’re not here

Now I feel I’m growing older
And the songs that I have sung
Echo in the distance
Like the sound
Of a windmill goin’ ’round
I guess I’ll always be
A soldier of fortune
Yes, I can hear the sound
Of a windmill goin’ ’round
I guess I’ll always be
A soldier of fortune

Sementara di keasyikkan Paman Gong menikmati pup dalam WC nya Klowor. Paman Gong mencoba bernyanyi 'Soldier of fortune' tembang lawas kegemarannya. Tak peduli bahwa sebenarnya dia bernyanyi juga butuh nafas. Dan dia tak begitu menyadari akan tempat dan proporsi udara yang baik, benar, dan tepat untuk bernyanyi. Paman tak peduli apakah tempatnya kali ini termasuk dalam ruangan yang rotasi oksigennya stabil. Lalu dia mungkin juga tak paham tentang itu semua. Dasar polkam dungu, pas dengan julukannya.

Polkam tidak sadar bahaya mengancam, terlanjur nikmat banget. Tenaga dalam mulai Paman Gong kerahkan, perlahan demi perlahan untuk keluarkan beban dalam hidup. Alangkah sial bin na'as di tengah-tengah nikmat malapetaka datang. Dari lubang angin WC nya Klowor. Mercon sebesar dan sepanjang jari tangan sebelah telunjuk, menyelinap melalui celah angin itu. Kemudian "BOOOMMMM".

Paman Gong seketika kaget bukan kepalang dan sampai dia berjingkrak, lakukan lompatan katak. Sebagai reaksi atas serangan dadakan.

Paman Gong tercabik harga dirinya, teraniaya oleh penyerang misterius. Teror yang tiba-tiba datang dan menyerang dalam keadaan berbanding terbalik. Kenikmatan yang terampas, tercabik, terkotori oleh oknum tak berperi kemanusiaan. Tak memandang Paman Gong sebagai pengemban amanat rakyat 'DIARHEA' yang setia. Pengabdian terbayar penganiayaan. Stabilisasi keamanan hasil perjuangan Paman Gong membuahkan bingkisan, berupa bunyi dentuman memekak telinganya. Kontan berbagai kata makian, jenis satwa ungkapan untuk mengumpat diteriakkan olehnya. Jadilah terkesan pelajaran mengumpat dalam berbagai bahasa. Sekumpulan jenis satwa pun tak ketinggalan terlontar dari mulut Paman Gong. Benar-benar hari yang na'as bin, binti, sekalian apesnya juga terbawa.

Joni terpingkal-pingkal puas dendamnya pada kejadian lusa kemarin tuntas sudah.
............................................................................................................................
Polkam naik pangkat jadi Poldes, prestasi membanggakan pasti. Tapi malah terperdaya oleh Pepeng. Saat berlangsung upacara bendera di halaman kantor Kelurahan. Dengan cerdiknya, Pepeng berkata. "Paman Gong anda diharap ke ruangan Bapak Kades, segera".
Sesaat upacara telah selesai. Padahal Bapak Kades tidak ada keperluan dengan Paman Gong. Sebab taulah kinerja paman Gong.

Kasus tentang raibnya kambing Pak Lahar juga belum tuntas. Sekalipun hajatan untuk sunatan Kepek sudah lewat. Namun apa hasil kerja si dungu?? Cuma angin kentut yang bikin semua orang semaput.
Apalagi bila sedang buka mulut polusi yang dihasilkan separah radiasi bom atom. Dampak dan akibatnya sedikit banyak sama persis atau paling tidak mirip dengan Hiroshima dan Nagasaki, pasca serangan sekutu.
Kok malah bicara sejarah sih??

Itu terbukti pas setahun yang lalu, tepatnya tanggal 29 Februari. Sejenak flash back di tragedi kota 'Anoreksia' tepatnya kampung 'Diarhea'. Semua orang, pastinya tidak percaya dengan cerita ini.

Saat itu di pagi hari yang cerah, sang surya menyelinap diantara berisik dahan dan gesekan ranting-ranting pohon. Cicitcuit... Suara kicau burung (upzz jangan salah presepsi lho) menghibur mereka yang ingin mengais mimpi dan rejeki, tak terkecuali Paman Gong. Polkam ini selalu bangun di pagi hari melakukan senam-senam pelemasan tubuh. Olah raga bahasa singkatnya. Walaupun dia itu dungu namun soal kebugaran jangan ditanya.

Dengan telanjang dada menampakkan wujud pada pagi. Dadanya yang bidang, serta perutnya terkesan keras, sekeras batu mungkin. Tubuhnya mulai berkeringat terasa pembakarannya sempurna. Melihat tubuh mulai mengkilap dengan keringat Paman Gong malah tambah semangatnya berkobar. Berkobar sebesar kobaran api kebakaran pasar. Kian meninggi pula semangatnya tanpa kenal lelah dia lakukan.

Olah raga seperti ini rutin Paman Gong laksanakan. Setiap pagi di depan rumah, di pelataran rumah dia menghadap ke ufuk timur. Kata dia dengan arah pandangan ke matahari, akan secara otomatis ada transfer mahadahsyat dari matahari untuk manusia yang menghadapnya. "Otak akan jernih dalam berpikir, bila kepala tersinari matahari di saat pagi". Riset konyol mungkin, atau hasil rekayasa dari pikiran kalut Paman Gong, mungkin saja begitu. Sebab dari teorinya itu dia sendiri tak menemui hasil untuk perubahan yang signifikan dalam kariernya. Masih saja dia dungu dan belum ada prestasi memuaskan serta membanggakan. Selain julukan Polkam dungu. Hasil penemuan dari trio tengil yang tak ada hentinya membuatnya kalang kabut.

Paman Gong akhirnya kelelahan juga. Klimaks sudah olah raga pagi itu tanggal 29 Februari tahun lalu. Tahun lalu tuh kapan?? Ya tahun lalu nggak perlu dijelasin harusnya tahu. Biar tulisan cerita ini lifetime sifatnya. Seperti lagu firehouse yang judulnya 'love of lifetime' itu maksudnya. Yuk kembali pada aktivitas Paman Gong di 29 Februari tahun lalu, tepatnya saat kucing dia mati gara-gara menghirup nafas dan keringat Paman Gong. Bagaimana ceritanya??

29 Februari tahun lalu pokoknya tahun lalu. Paman Gong di pagi hari, setelah melaksanakan olah raga rutin. Dia merebahkan diri dalam posisi terlentang. Kepala menengadah ke atas, mata terpejam penuh dengan penghayatan akan adanya 'sabda alam'. Merasakan nikmatnya ber cooling down di bawah terpaan hangat mentari dini. Sisa lelah telah ia lepaskan seiring bulir-bulir keringat yang membasahi tubuhnya. Melepaskan setiap kelelahan bersama nafas tersembur melalui mulutnya. Keadaan semacam itu jelaslah nyaman terasa buat Paman Gong. Tapi apakah mungkin juga terasa nyaman buat mahkluk penghuni bumi lainnya. Maksudnya??

Apakah mahkluk lain seperti burung-burung piaraan tetangga tidak terkontaminasi saat bernafas? Akibat bau karbon menyengat dari ketiaknya. Belum dari mulutnya, apakah tidak menimbulkan efek pada ekosistem sekitar?? Kalau jengkol dan bangkai keco'a adalah makanan favorit Paman Gong.

Dan dari jenis makanan itulah kemudian mengorbit nama Gong, berarti 'jiGong' yang kemudian meroket di kampung 'Diarhea' bahkan telah meluas hingga 'Anoreksia' raya. Malah pada akhirnya nama aslinya tak ada yang tahu. Manusia tak sedikit yang mengabaikan arti sebuah nama. Semua tergantung individu masing-masing. Meski nama adalah warisan berharga dari sang pemberi, biasanya kedua orang tualah yang paling berperan dalam urusan ini. Namun nilai-nilai luhur semacam ini sudah tak peka jaman. Luntur karena cara pemikiran ngawur

Kembali pada nasib burung-burung piaraan para tetangga Paman Gong.

Seperti yang telah diduga dan diperkirakan bahwa keringat Paman Gong punya sengat dari keringatnya. Radiasi cairan asam cuka alami dari tubuhnya adalah maut. Hingga pada akhirnya muncul pampangan headline news di koran esok hari. 'Ratusan burung piaraan dari kampung Diarhea mati secara massal'.

Holocaust itu cuma dilakukan seorang diri tanpa bantuan pihak lain. Juga dengan tangan kosong, tak menggunakan senjata pembunuh massal seperti peperangan di TV. Pembantaian massal menggunakan gas berpotensi tinggi untuk bisa menguasai dunia, lalu menjadikan satu bangsa jadi ras terunggul dalam hal peperangan. Sayang SDG (Sumber Daya Gratisan) dari raga Paman Gong cuma bertahan di situ saja tingkat eksistensinya bagi kehidupan. Tak ada kontribusi lebih dari sekedar polusi. Lebih berguna bila dimanfaatkan untuk pembuatan tape. Otomatis tak perlu membeli bahan pengecutnya. Kan sudah disediakan oleh Paman Gong.

Sebenarnya dulu pernah seorang kebangsaan 'Centrocampista' menawar bau kettinya. Namun apalah arti uang jika setelah mendapatkannya akan membuat kesengsaraan masyarakat luas. Maka dari itulah terjadi penolakan oleh Paman Gong pada penawaran negeri tetangga.

Kembali menuju kantor desa tempat di mana sekarang Paman Gong serius berbincang dengan Pak Kades.

Lalu pembahasan masalah apa super hebat dan berat itu??

"Pak Kades panggil saya? Ada kasus apa ya pak?" tanya Paman Gong dengan percaya diri.
"Nggak..., saya nggak panggil kamu Gong!"
"Lho tapi pak, kata Pepeng Bapak panggil saya??"
"he Gong jangan ngeyel saya kades di sini". Pak Kades mulai kesal
"Eh tapi ada bagusnya juga kamu ke mari, ada tugas untuk kamu" kata Pak Kades berubah pikiran tampaknya, kok tiba-tiba dalam waktu sekejap mengubah keputusan. Ada angin aneh sepertinya, yang membuat Pak Kades seperti kesambet.
"Ada kasus pasti pak ya kan?" Gong pede banget
"Ya kasusnya serius Gong"
"Apa pak?"
"WC di belakang mampet bisa kan kamu nyedot pake tenaga dalam dari mulutmu"
"Ooo... tentu bisa dan senang hati pak, itu hobi saya nyedot wc pake mulut"
Pak Kades cuma dlongop thok. .................................................................................................................................

Paman Gong beberapa ini hari nggak patroli. Dia lagi ambil cuti tahunan, yang waktunya sudah tiba. Kesempatan semacam ini tak dia lewatkan dan sia-siakan. Liburan bukan berarti harus malas-malasan atau memboroskan waktu. Paman Gong bukan tipe orang seperti itu. Dia orang yang paling mahir, telaten, juga ulet serta lihai memanfaatkan waktu. Kata Paman Gong yang selalu peduli dengan waktu. "Waktu adalah momentum merupakan satu pelontar hebat. Bisa mengantarkan kita pada gerbang sukses ataupun gerbang kehancuran. Tergantung bagaimana kita menyikapi waktu itu".

Walau di negara barat berkata 'Time is money' dan ada lagi bangsa arab berkata. 'Waktu adalah pedang'. Namun pada intinya sama, penjabaran waktu oleh Paman Gong cukup luas. 'Seluas jagad raya dan setinggi langit di angkasa'. Heh... Jangan ngacau donkz! Itukan kata 'Ahmad Dhani' ntar dikira 'PLAGIATOR' lho. Apaan sih 'PLAGIATOR'?? Makanan baru ya...

Maksudnya ntar kita dikirain 'PENJIPLAK' atau nebeng ketenaran orang lain yang sudah lebih dulu nongol jadi orang terkenal, tenar, juga harum namanya. Kembali pada acara pengisi cuti Paman Gong. Apa yang 'beliau' lakukan?? Semenjak jadi Poldes yang merupakan akronim dari Polisi desa.

Kata ganti untuk Paman Gong telah berubah. Kemvo, Pepeng, dan Joni mengganti kata 'dia' untuk Paman Gong, menjadi 'beliau'. Supaya terkesan agak sedikit menghormati si punya jabatan. Polkam dan Poldes sendiri adalah jabatan yang sebenarnya tidak pernah ada, cuma sedikit julukan agar lebih keren sedikit. Mereka trio tengil masih tak punya hati untuk memanggil dengan kata 'KERA' (keamanan rakyat). Tapi memang sesungguhnya jabatan Paman Gong adalah itu. Keamanan rakyat yang kalau disingkat dan diperpendek jadi 'KERA'. Mungkin terlalu sadis untuk diucapkan. Namun akan lebih keren bila disebut polkam ataupun poldes.

Inovasi baru teknologi lebih mutakhir, cocok di jaman yang menuntut segalanya serba cepat. Segala jenis persoalan harus dapat teratasi, apalagi soal keamanan. Antisipasi juga persiapan bila suatu saat kelak, tingkat crime di kota 'Anoreksia' menjadi tinggi. Maka untuk mengatasi itu semua dibutuhkan sarana, semacam alat transportasi yang hebat.

Pemerintah setempat memahami akan kebutuhan tersebut. Hingga tak heran bila beberapa waktu lalu berdatangan ahli teknologi dari berbagai negara.

Ada dari negara Asterix, Obelix, transformer, Peterpan, he-man, dan yang terakhir kali tiba di kota 'Anoreksia' adalah ahli teknologi dari negara satria baja hitam. Mereka para ahli meleburkan segenap daya pikiran, tenaga juga fokus pada satu tujuan. Menciptakan alat transportasi hebat guna menunjang stabilisasi keamanan kota 'Anoreksia'.

'SEPEDA KUMBANG TERBANG' hasil inovasi hebat dari para pemikir yang ahli di bidangnya. Mampu berakselerasi melebihi kecepatan kilat.

Paman Gong sungguh beruntung dan bernasib baik lagi mujur nian. Sebelum sepeda kumbang terbang terealisi bentuk dan wujudnya. Jabatannya telah menapaki tangga yang lebih tinggi. Menjadi poldes, sebab alat transportasi bersistem canggih itu diperuntukkan bagi yang mengemban pangkat poldes. Hati Paman Gong gembira bukan kepalang hebatnya. Kebetulan proyek penggarapan telah selesai. Proses finishing juga telah usai. Tinggal launching perkenalan pada penggunanya. Serta juga pengenalan untuk khalayak umum. Guna memamerkan keunggulan kota 'Anoreksia' sebagai daerah tanggap teknologi. Sadar dengan kemajuan. Ilmu pengetahuan yang tiada batas berkembang pesat.

Lebih beruntung lagi Paman Gong, momen tersebut tepat datang bersamaan dengan masa cutinya. Jadi Paman Gong punya kesempatan yang luas untuk mempelajari kinerja mesin baru itu. Pastinya akan tambah gagah, dengan kacamata hitam mengendalikan kendaraan itu.

Paman Gong beraksi menjajal kehebatan 'sepeda kumbang terbang' untuk pertama kalinya. Hari yang sungguh mendukung, masih dalam masa cuti tahunan. Paman Gong mengambil jatah kendaraannya. Dengan begitu sudah tiba saatnya menanggalkan sepeda tua berkaratnya selama ini. Berganti dengan 'sepeda kumbang terbang' teknologi handal. Pastinya semua orang akan segan, tunduk, dan patuh bila bertemu dengannya. Poldes yang hebat akankah julukan itu menggantikan julukan lamanya???
"Sepedanya keren banget Paman, boleh dong kalo kapan-kapan aku pinjem". Kemvo sangat tercengang dengan perubahan musuh besar.
"Asik.. Nich kayanya kalo gw bisa nyoba bro". Pepeng menimpali dengan kata yang tak sopan.
"Bro loe nggak pengen apa nyoba ini barang baru??" Tanya Kemvo pada Joni.
"Asik bener top nih barang gw pengen banget naikin sepeda ini bro, pastinya gw tambah keren donk". Jawab si Joni.
"Minggir...minggir...minggir kalian semua, nggak lihat orang terburu-buru apa? Malah usil halang-halangin jalan". Ketus dan sombong, masih saja tidak berubah sifat arogan plus diktator itu.

Paman Gong tak pernah bisa merubah sifatnya. Malah tambah berlagak sok 'saviour' bagi masyarakat sekitar. Sang penyelamat gambaran seorang pahlawan, tapi jauh sekali dengan kesan seorang yang bijak.

Cara yang simple untuk menerbangkan sepeda itu. Membuat Paman Gong senang, sebabnya dengan begitu tak butuh belajar berhari-hari.

Setelah mengayuh 'sepeda kumbang terbang' kira-kira 500 meter. Paman Gong menekan tombol warna hijau di sebelah setir sebelah kiri. Cukup sekali tekan, Paman Gong sudah melayang, terbang kian meninggi di awang-awang. Melintasi udara melihat, mengamati kehidupan di bawah sana.

'Sepeda kumbang terbang' adalah sejenis alat transportasi yang fleksibel. Tergantung kebutuhan, bila ingin bersantai ada tombol biru warnanya untuk memperlambat kecepatan. Namun bila sedang dalam misi pengejaran terhadap pelaku kriminal. Manuvernya juga hebat, mampu melesat setara kecepatan cahaya. Dengan cara sekali klik pada tombol merah maka mesin akan turut perintah pengemudinya. Nanti kecepatan yang tak ada tandingannya terbukti. Paman Gong akan memamerkan kecepatan tiada tanding itu.
Sementara dengan kecepatan yang santai. Paman Gong sangat menikmati mulutnya komat-kamit. Menyanyikan 'I believe I can fly', lagu yang cocok untuk situasi di udara. Mungkin itulah yang terpikirkan oleh Paman Gong. Sepoi asoi geboi desir angin di ketinggian. Makanya dia kumandangkan lagu dari R.Kelly yang tersohor itu. Paman Gong sangat jeli dalam pilihan.

"Bro... Coba lihat di atas sana ada pemandangan aneh".
"Itu kan Papapa...man Gogogo... Gong terrrrbang". Berat sekali Kemvo mengucapkan jawaban pada Joni.
"Lagaknya kaya pilot aja tuh orang, gw sebel banget kalo dia lagi belagu, gak maching ma otaknya". Joni selalu saja geram pada Paman Gong. Dendam pada kejadian saat kuda-kudaan termakan rakus oleh Paman Gong, tak cukup habis dengan mercon.
"Gw ada ide bro!" Seru Pepeng.
"Apaan? Cemerlang nggak ide loe?"
"Kita sangkutin layangan ini ke arah dia". Sambil menunjuk ke atas, tepat di mana Paman Gong mengudara.
"Betul bro Pepeng ide loe hari ini bagus top dan hot". Kemvo coba yakinkan.
"Okey... Ayo kita jalankan misi hari ini, waktu yang tepat untuk menaklukkan kediktatoran Paman Gong". Masih dengan emosi yang meledak-ledak si Joni berbicara.
"Tapi sebelumnya gw mau kasih tulisan pada nih layangan 'PAMAN GONG YANG DUNGU' biar tambah hebat pertempuran sore ini". Kata Pepeng panjang lebar.

Kemvo masih berkonsentrasi, mengamati gerak musuhnya. Usaha demi usaha belum membuahkan hasil. Kinerja mesin itu terlalu hebat untuk ditaklukkan.
"Hahahahaha... Anak-anak tengil kalian nggak akan mampu ngalahin aku, kalian cuma kurcaci bego tau nggak". Paman Gong yang sombong. Merasa di atas ketinggian, seenaknya saja memaki bocah-bocah itu.

Anak-anak di bawah sana tetap pada kegigihan. Pada maksud kuat untuk membuat Paman Gong terperosok. Namun masih saja menemui kegagalan, titik terang juga belum benderang. Sementara di atas sana tambah menggila. Tak mau mengalah, tak mengontrol kecepatan, tak bisa pula memanejemen bahan bakar hingga akhirnya. Apa yang terjadi???

Semua alat, barang, atau apapun karya manusia tak ada kesempurnaan. Pastinya ada kelemahan terlebih lagi yang butuh bahan bakar. Bahan bakar berupa apapun bisa habis. Paman Gong tak menyadari itu semua. Lengah dengan kepongahan dan menganggap bahwa dirinya hebat serta perkasa.

Bahan bakar hampir menemui ajalnya. Pertanda sinyal buruk bakal menimpa 'sepeda kumbang terbang' milik Paman Gong. Namun apakah yang terjadi. Bukan mengurangi atraksi akrobatik di udara. Atau bergegas turun, dengan melipatkan sayapnya yang terletak pada kerangka atas sepeda belakang setir itu. Atau dengan menghentikan laju putar baling-baling di belakang sadelnya. Paman Gong malah lebih menggila. Mirip aero modeling dalam pesta olah raga sea games. Memutar, menukik dan membelah udara.

Asap putih dari cerobong knalpot kendaraan hasil inovasi teknologi itu menunjukkan tanda, bahan bakar habis. Pada alat pengukur tepat di bagian setir pun juga begitu. 'Fuel is over' pesan tulisan kelap-kelip merah warnanya. Paman Gong melirik alat tersebut.

Wajahnya pucat pasi dalam kondisi tak terkendali. Di ketinggian kehabisan bahan bakar dan apa jadinya bila dia jatuh. Bagaimana pula nasib tunangan yang bekerja jadi TKI di negara 'PERA GILGU PARA' bila dia mati.
Sepeda kumbang terbang mulai oling dan hilang keseimbangan. Bermacam-macam pikiran menjadi kecamuk yang luar biasa dalam pikiran Paman Gong. Mulai dari hutang pada toko klontongan yang menumpuk, jemuran di rumah, calon istri, ayam-ayamnya siapa yang nanti bakal ngurusin. Terus belum lagi 'sepatu bola butut' yang belum dia semir. Sebab minggu besok bakal ada pertandingan. Paman Gong terpejam, ketakutan dan lalu, hingga pada akhirnya terjadilah apa yang dia takutkan.

Sepeda kumbang terbang jatuh menukik tanpa keseimbangan. Paman Gong terpental meninggalkan kendaraan tersebut. Benar-benar situasi yang tragis, na'as, sial dan apes dikalikan 1 juta dolar amerika. Mungkin cuma ungkapan itu yang bisa mewakili keadaan Paman Gong. Nyawanya pasti melayang, pikirnya saat itu. Dalam situasi tak terbayangkan ngerinya, Paman Gong berdo'a meminta tempat yang terbaik. Lalu di mana ada tempat terbaik untuk orang macam dia???

Ternyata Sang Maha Kuasa masih memberikan ampun padanya. Kesempatan untuk lebih lama bisa makan jengkol dan bangkai keco'a. Atau mungkin neraka tidak sudi menerimanya?? Ah jangan apatis gitu donkz!!!

Permasalahannya sekarang di mana dia?
Dia masih hidup, dia jatuh di tempat yang layak dan pas untuk dia. Untuk pemberitahuan juga peringatan agar berhenti meneruskan kepongahan. Paman Gong ternyata nyungsep di tempat pemandian kebo dan babi. Di sebuah lubang berlumpur yang tak terpikirkan sebelumnya. Bila kita lihat hewan-hewan itu berendam, kencing, ada juga yang pup. Bagaimana baunya?? Pastinya gado-gado alias campur-campur. Dan jika anak-anak tengil itu sudah mengetahui keadaan Paman Gong yang seperti itu apakah umpatan dari mereka??
Untuk Paman Gong...

"PAMAN GONG POLKAM YANG DUNGU"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar