tentang tulisan saya?

Sabtu, 05 November 2011

"Cerita Hari Ini"

"Eksekusi"

Eksekusi hari ini oleh Pak Dimek alias Mr. Doomex's. Seekor kambing kiriman dari hamba ALLAH asal kota Jakarta untuk kampung saya. Seorang tetangga saya yang merupakan pegawai dari si dermawan. Memperoleh mandat untuk mengemban amanat. Karena dirasa lingkungan tempat di sana mereka tinggal merupakan kawasan para golongan mampu. Maka terbesit ide untuk berkurban di kampung saya. Demikian sedikit cerita mengawali perjalanan hari ini. Semoga menjadi amal yang akan senantiasa menemani hamba ALLAH tersebut. 




"Dengan dibantu beberapa orang lainnya. Sang jagal mulai melaksanakan aksinya".


 "Konsentrasi pada satu bagian".

Mungkin dari sekian orang yang ada di sini cuma saya sendiri yang tak tahu malu. Ditengah-tengah mereka sibuk mengurusi kambing yang sudah terpotong kepalanya. Saya malah tak ikut membantu. Saya hanya sibuk mencari momen. Dengan kamera saku sederhana milik saya. Menjepret. Mencari sudut untuk memotret mereka.

"Hitam dan Putih".


"Mematahkan tulang"


"Beristirahat selepas acara pembagian"

Dan sekarang adalah giliran saya untuk melakukan aksi. setelah semua orang pada beristirahat. Daging-daging dalam bungkusan telah terbagi semua pada warga sekitar. Saya beranjak dari tempat duduk. Menjalankan sebuah misi yang ringan. Bahkan sangat ringan. Seringan kapas. Untuk menjual kulit kambing pada seorang pengepul.

Cuaca hari ini minggu 6 November 2011 dari tadi pagi, sebelum digelarnya shalat Ied. Langit memang tak menampakkan sembulan matahari. Boleh saya katakan agak mendung. Sebuah kondisi cuaca yang saya dambakan. Tidak panas namun juga tak turun hujan. Maklum sedang dalam perjalanan menuju rumah pengepul kulit kambing, lembu, dan kerbau, serta kulit herbivora lainnya. Jalan Indragiri Madiun. "Ah lagi-lagi saya harus teringat si Gembrot. Cewe kecengan saya dulu".  Pernah tinggal juga di jalan ini. Ikut Pak De nya .
Dan sekarang menurut kabar yang saya peroleh dari dia. Bahwa sekarang dia telah bersuami. Pada akhirnya membuat saya sadar pula bahwa apapun usaha saya untuk mempertahankan hubungan kita juga percuma. TUHAN punya kehendak yang lebih baik daripada keinginan saya. Dia (TUHAN) lebih maha tahu daripada sekedar pemikiran dangkal saya. Dan sekarang apapun yang terjadi dalam kisah romansa hidup saya. Adalah menunggu disaat yang tepat adalah pilihan bijak. "Sebab seorang yang bijak kan memahami cinta bukan dicari, diraih. Cintapun hadir sendiri". Restu Bumi. Taken from Dewa 19 "album terbaik-terbaik".

Sambil menggendong cucunya yang masih bayi. Nyonya tua ini memandangi kulit kambing dalam bungkusan yang saya bawa. Kulit kambingpun saya gelar dihadapannya. Dengan teliti dia mengamati kondisi barang dagangan saya. Mungkin sudah saking biasanya dalam bidang perkulitan. Makanya begitu dia lihat barang itu. Belum sempat saya menggelar penuh. Matanya begitu awas. Bak seekor elang yang langsung menerkam mangsanya. Lalu mencapit mangsanya itu dengan cengkramannya. "Kulitnya bolong mas". Ketus dia bilang pada saya. "Limabelas ribu, saya beraninya". Lanjutnya tanpa tedeng aling-aling. Tak begitu memerhatikan saya. Konsentrasi mengayun-ayun si jabang bayi. "Tambahin sedikit dong Bu!" Pinta saya dengan sedikit memasang raut muka yang semelas-melasnya. Berharap cemas dapat suatu tambahan dari dermawan yang perhitungan ini.

Para pengrajin yang mengambil kulit darinya konon cerita dari si Nyonya tua ini. Kalau kondisi barang yang bolong seperti punya saya ini hanya berharga tak lebih dari limabelas ribu Rupiah. Dia terus saja mengomel tentang keluhan para pelanggan-pelanggannya. Pengrajin bedug, gendang, ketipung, tambur, beginilah permintaannya. Untuk para pengrajin sabuk, dompet kulit juga beginilah. Lalu pembuat wayang-wayang kulit begitu. Yang initinya tetaplah sama. Minta barang yang bagus tanpa cacat, Tanpa ada bolong satupun. Yang padahal menurut penilaian saya bahwa kulit yang saya bawa toh cuma bolong di bagian pinggir. Bukan di tengah. Jadi kalu saya minta sedikit tambahan maklum lah.

Dari arah pintu rumah keluar seorang wanita. Ibu muda mungkin. Sebab dari perawakannya saya coba untuk menerka. Jilbabnya warna pink. Menghiasi raut mukanya yang hitam manis. Adalah anak dari si Nyonya tua ketus itu. Berbeda dengan tipikal ibunya yang keras dan susah diajak berkompromi. Bagi Nyonya tua itu bisnis adalah meraup keuntungan sebesar-besarnya. Mungkin itulah motifnya. Mbak yang berjilbab itu tanpa banyak kata menawar, "duapuluh ribu mas". Tapi si Nyonya tua langsung menyambar, "barang kaya gitu aja kok duapuluh ribu". Masih dengan nada ketus seperti beberapa menit lalu.

Tanpa banyak berdiskusi dengan sang ibunda. Mbak berjilbab ini langsung ngibrit ke belakang. Meminta pendapat bapaknya. Tentang harga yang pas untuk kulit kambing yang saya bawa. Harap cemas saya menunggu lumayan lama. Harga diri saya untuk sementara hanya senilai kisaran limabelas hingga duapuluh ribu Rupiah. Itupun masih ditentukan oleh tiga orang. Nyonya, Mbak berjilbab, dan si Big Bos.

Sementara dalam keadaan menunggu. Muncul satu lagi anak si Nyonya tua itu. "Beuhhhhhhh". Di tengah dahaga, di tengah penentuan nasib berapa harga diri saya. Muncullah seorang ibu muda yang masih segar. Memakai kaos warna hitam. Celana 3/4 ketat berbahan kain halus. Membalut sepanjang paha hingga lutut kaki. Wajahnya segar. Kulitnya yang kuning langsat. Bibirnya basah tampak sekali dia seusai gosok gigi. Rambutnya tergerai. Hitam lebat. Bak rimba belantara. Tak terlalu lurus, sedikit bergelombang. Masih sedikit basah, aroma shampoo nya terberai. Kala dia berjalan rambutnya yang hitam pekat itu bergoyang.

Dari balik pilar berbahan beton ini saya mengamati. Menikmati secuil sensasi ini. Sambil bersandar saya mencuri kesempatan. Saya tak begitu punya cukup nyali untuk menatapnya dalam-dalam. Ada sekat antara kami. Tak boleh saya menjebolnya. Bayi perempuan ini sekarang lagi digendong oleh si nenek Nyonya ketus itu. Yang kini cuma duduk pada kursi plastik. Merah warnanya. Dalam hati kecil saya cuma bisa berucap, "kalo harus nunggu dua jam dengan pemandangan seperti siapa yang menolak?" Di atas bibirnya yang merekah itu. Terpasang karya TUHAN yang sungguh indah. Hidungnya mungil, khas wanita Jawa. Namun  tak terkesan pesek 

"Mas duapuluh ribu, kata bapak saya". Tiba-tiba suara muncul dari arah utara. Beriring derap kaki mbak berjilbab itu. Dalam perasaan penuh kemenangan saya pun menjawanya, "ya udah mbak saya mau". Tapi begitu akan membayar pada saya. Entah ini suatu kemujuran dadakan bagi saya atau apalah. Yang jelas ketika mbak itu bertanya, "ada kembalian ga' mas, uang saya seratusan soalnya". "Ga' ada mbak", jawab saya singkat. Sebab memang dalam dompet saya cuma tinggal tersisa selembar sepuluh ribuan.  Jadi pada akhirnya si mbak berjilbab itu menukar uangnya. Kesimpulannya saya punya kesempatan sedikit lebih lama lagi untuk memandang ibu muda di samping saya itu. Yang sekarang lagi ngobrol dengan seorang tetangga. Tentang hajatan tetangga lainnya. "Ahh kaum betina dari dulu sampai sekarang hobinya masih saja sama, ngerumpi". Gumam saya dalam hati. Tapi tak apalah. Malah ada baiknya bagi saya. Ada kesempatan untuk lebih lama menikmati dia (maksudnya memandangnya). 


"Pemuda ini, Kempleng,  julukannya.
 Sedang mereguk nikmatnya kopi".

Setelah pada akhirnya terlepas dari cengkraman si Nyonya ketus itu. Hingga menikmati wajah ibu muda yang membuat saya sejenak gila. Kini giliran untuk berkeliling menggunakan sepeda onthel BMX warisan mantan bos saya. Meluncur ke Masjid Kuno Taman Madiun. Daripada tak ada kerjaan di rumah. Siapa tahu ada momen-momen yang lumayan pantas untuk diabadikan. Sebagai dokumentasi. "Tii titt... tittttttt..............". Ponsel saya berbunyi. Pasti jawaban sms dari si Kempleng. "Aku yo neng nggon belehan tho le" (Aku ya di tempat penyembelihan tho). Kata dia dalam pesan singkat itu. Saya pun langsung saja tak buang waktu menuju ke tempat itu. Sebelah barat masjid. Pas di sekolah Madrasah yang tahun ini baru saja aktif melakukan kegiatan belajar mengajar.


"Si Gendut ini jadi seksi dokumentasi untuk Peringatan Hari Besar Islam"


"Tarto yang sehari-hari menjadi petugas keamanan Madrasah ini 
sekarang jadi penilik acara PHBI".


"Bagi mereka, momen seperti adalah langka".

Hari semakin tinggi. Hampir menjelang waktu shalat Duhur. Namun matahari nampaknya enggan untuk mengepakkan sayap keperkasaannya di saat ini. Ketika dari sebagian ibu rumah tangga menjerang air, mencuci daging yang mereka terima. Kemudian memasak. Di tempat ini saya mulai kembali mengingat masa kecil saya. Ketika saya melihat sekumpulan bocah-bocah. Berkumpul barisan, menghadap satu arah. pikiran saya pergi ke masa di mana saya seusia dengan mereka.

Berduyun dengan teman-teman yang masih sekampung. Cuma ingin melihat prosesi penyembelihan hewan kurban. Lebih-lebih bila yang dipotong adalah hewan berjenis sapi. Betapa itu jadi rasa sebuah keinginan yang hebat. Tapi di jaman sekarang saat arus globalisasi dan modernisasi merajarela. Pemandangan  seperti penyembelihan sapi dan kambing mulai jadi hal yang kurang menarik. Hanya sebagian dari anak-anak usia dini sekarang berhasrat melongok pada ritual tahunan ini. Tontonan dan hiburan mereka pun sudah lain. Tak sama dengan ketika saya dulu masih kecil. Jaman. Waktu. Ternyata juga mengalami pergeseran. Relatif juga berlaku pula pada jaman. Apa yang digemari jaman dulu belum tentu akan menjadi kegemaran di waktu sekarang. Gameonline, situs-situs jejaring sosial, juga game Playstation telah merubah semuanya. Kesenangan, hobi, kegemaran, selalu ada jamannya.


 "Gotong royong adalah budaya kita".


"Menggelar kulit, berharap kering walau tak bermentari".


"Sekelompok kaum hawa dan kesibukannya".


"Inilah dua persembahan wujud keta`atan pada TUHAN"


"Selalu saja kelihatan siapa pemalas dan siapa saja yang giat".


"Saat rasa haus ini mendera, saat kerongkongan mengering
dan butuh aliran air".


"Semoga TUHAN meridhoi kebersamaan kami semua di sini.
AMIN YA ROBBAL ALAMIN"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar