tentang tulisan saya?

Minggu, 13 November 2011

"BEN KAPOK"

Satu konsep tembang religi memuat tiga kebudayaan berbeda baru saja saya nikmati. Aroma timur tengah yang begitu kental pada irama musiknya. Dipadu dua kekuatan bahasa yang berbeda. Bahasa Indonesia yang begitu memikat. Lalu tutur kata dalam bahasa Inggris terlantun khas. Berlogat timur tengah. Membuka mata, hati, dan pikiran saya.

Kicau burung. Sinar mentari pagi. Kilau embun di ujung daun. Sebuah cerita di awal hari. Satu persatu kegiatan pagi setelah bangun tidur akhirnya tuntas juga. "Mandi sudah, pakaian juga sudah rapi, manasin mesin motor juga sudah, and sekarang tinggal sarapan pagi". Begitulah kegiatan awal pagi dari seorang pelajar SMK GAMALIEL Madiun ini.

Pagi ini sebenarnya dia agak telat bangun. Kelelahan setelah menghabisi Irfan, Badhrun, dan Yahya. Dalam bertanding bola billyard. Dan kini jelaslah kiranya. Isi dompet tak perlu diragukan lagi ketebalannya. Soal uang jajan dan bensin ada cadangan berlimpah.


Dengan sopan dan penuh rasa hormat abg ini berpamitan sama papa dan mamanya. Lalu tanpa pikir panjang ia tancapkan kuci sepeda motornya. Dia tekan tombol starter, "dren....dren....dren....dren" suara mesin berguncang. Asap menyembur dari lubang knalpot. Menambah perbendaharaan karbondioksida di pagi yang sejuk ini. Dani pun berangkat menuju Stadion Wilis Madiun. Sebab mata pelajaran olahraganya memang di sana. Jadi satu dengan berbagai sekolah yang ada di kota ini. Minimnya lahan dan fasilitas guna menunjang kegiatan pelajaran tersebut mungkin jadi sebabnya. Jadi alternatif pilihannya adalah memanfaatkan fasilitas yang sudah dipersiapkan oleh pemerintah kota. Sekalian kesempatan juga menghilangkan suntuk. Melihat warna-warna baru yang lebih fresh.

Hari ini. Rabu. Dani tampak begitu sumringah. Mata pelajaran olahraga dan kesehatan. "Lho padahalkan badan dia sedikit tambun, kok sumringah sih?" Ya jelas sumringah dan bungah dong. Bagaimana dia tidak senang hati di hari ini?" Jika melihat aktivitas di sepanjang waktu saat berada di lingkup sekolahnya. Kejenuhan itu mungkin kerapkali menderanya. Menengok ke kiri ada solder. Coba alihkan pandangan ke kanan seperangkat alat elektro lainnya untuk bahan praktek jadi objeknya. Giliran ada sedikit kesegaran saat diajar oleh guru yang cantik, manis, tak urung juga cuma sekejap. Si guru yang cantik, manis, dan lumayan memesona untuk dipandang itu tak jarang ngambek. Ogah lagi ngajar akibat ulah siswa-siswanya yang mayoritas. Hampir 100% diisi oleh cowo'.

...............................

Sembulan mentari hangat. Ramah menyambut pagi. Menerobos diantara celah-celah daun. Awan putih di atas langit sana. Canda riang anak-anak SMP di atas laju roda sepeda yang mengantarkan mereka ke sekolah. Betapa indahnya pagi yang cerah ini. Derap kaki para pejalan di trotoar yang pulang menuju rumah. Setelah sejenak meluangkan waktu untuk menikmati udara pagi yang relatif masih segar dan bersih. Lalu lalang para pengendara sepeda motor, mobil, becak. Terus saja melaju. Mengisi waktu di hari ini. Dengan masing-masing urusan yang berbeda.

"Damai" begitulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan pagi harinya Dani saat ini. "Ooo.... damainya hatiku kala mentari bersinar lagi". Melaju di atas roda sepeda motornya. Dani penuh keceriaan menyenandungkan tembang pop lumayan lawas. Dari grup band Wayang. Tak peduli sedang melintasi pertigaan yang menghubungkan jalan Sarean dan jalan Kapuas. Dengan tetap menjaga kestabilan nada dan tempo lagu tersebut. Namun konsentrasi serta kontrolnya pada situasi jalanan sama sekali tak terganggu.

Ada suatu kebiasaan dari tokoh yang satu ini saat berkendara sepeda motor. Jarang mengenakan helm. Bukan dia lupa, melainkan memang disengaja. "Toh tujuan juga ga' jauh-jauh amat ini, cuma ke stadion". Begitu pikirnya mungkin.

Seperti kata pepatah-pepatah kuno bilang. "Dalam sebuah perjalanan hidup ini. Bila tak pernah menemui aral, hambatan, rintangan, kesulitan, dan cobaan. Perjalanan hidup itu akan terasa hambar. Tanpa kesan yang membekas". Lalu bisa disimpulkan pada akhirnya mengalami itu semua?" Atau lebih tepatnya mengalami gangguan dalam perjalanan hidup di hari ini?"

Sudah pada kodratnya bila seorang anak manusia dalam mengarungi kehidupan ini terganjal sesuatu hal. Karena dengan begitu kita akan menyadari. Betapa hidup itu selalu punya alasan untuk menguji para pelakunya. Agar menyadari bahwa, di dunia ini ada dua sisi berlawanan yang mewarnai hidup. Tanpa mengalami salah satunya, niscaya kita tak akan tahu bagaimana satu sisi lainnya. Dalam artian manusia tak akan tahu dan merasakan  tentang arti kebahagiaan. Tanpa pernah mencicipi kesedihan. Lalu apa rintangan Dani di hari ini?" Atau jangan-jangan ada segerombolan penyamun menculiknya?" Sebelum dia tiba di stadion untuk berolahraga bareng teman-temannya.

Sabar!" Kita ikuti saja kisah ini layaknya air sungai yang mengalir. Jangan dipaksakan. Biarkan menuju muara dulu sebelum pada akhirnya menjadi gelegak besar di samudra.

..........................

Matahari pagi pancarkan cahaya menerpa sisi kanan pipi Dani yang agak tembam. Maklum badannya sedikit tambun. Hangat bercampur menjadi satu dengan desiran angin pagi pula. Tekanan angin juga sedikit ada tingkatan. Karena sekarang dia berada di atas benda yang bergerak. Laju roda sepeda motornya menjadi pemicunya. Sudah merupakan hukum alam. Bahwa suatu benda yang bergerak maju pastinya melakukan tekanan pada udara di depannya. Tak urung juga membuat jambul rambutnya bergoyang-goyang.

Dari jalan Kapuas dia terus ke arah timur. Lalu belok kiri saat di pertigaan. Terus saja ke utara titik penghabisan jalan Asahan. Arah setir lalu dia rubah ke kanan, jalan Wuni. Jarak beberapa puluh meter saja, kembali setir berubah haluan ke arah kiri lagi. Jalan Kenari. Jalan kecil yang akan membawanya menuju jalan Jenderal Soedirman Madiun. Hingga lampu merah berganti hijau tak ada firasat atau pertanda buruk terbaca olehnya. Dan akhirnya.

Sebelum lebih jauh melangkah ke cerita ini. Ada baiknya kita mundur ke belakang. Pada persiapan Dani saat di rumah. Beberapa waktu lalu. Ternyata ada sesuatu yang kurang. Dia lupa menambah bensin dalam tangki motornya. Yang pada akhirnya nanti jadi hal yang menggagalkan harinya kali ini.

Jalan Jenderal Soedirman. Adalah satu tanda dari kota Madiun untuk mengenang kehebatan sang pahlawan ini. Kita tentunya ingat ada satu kemenangan gemilang yang diraih beliau. Pertempuran Ambarawa. Telah mampu memberi cukup bukti pada kita semua. Bahwa sebenarnya kita adalah bangsa yang didirikan oleh orang-orang hebat. Dengan kehebatan, kejeniusannya, dan keberaniannya sang jenderal beserta pasukannya, akhirnya mampu mengusir Inggris dari ibu pertiwi. Sebuah sejarah masa lalu yang patut kita banggakan. Oleh karena itulah tanda penghormatan dengan mengabadikan nama sang pemimpin perang tersebut bukanlah hal yang berlebih-lebihan.

Ruas badan jalannya adalah jalur yang digunakan para pelajar, guru, staf-staf kantor, pekerja toko, sales, angkutan umum dalam kota. Maka dari itulah di sini. tak jarang digunakan sebagai tempat operasi kendaraan bermotor. Strategis mungkin alasannya. Atau dengan kata lain untuk mendapatkan ikan dengan gampang, mudah, dan cepat. Maka carilah di tempat yang banyak ikannya. Untuk menjaring para pelanggar lalu lintas. Maka pilihlah jalur yang ramai akan kendaraan bermotor. Dengan begitu tinggal menyesuaikan waktu. Kapan saat yang tepat, sebuah jalur akan ramai dan padat penggunanya. Dan hasilnya, tanpa dicaripun para pelanggar masuk dalam jebakan. Terperangkap undang-undang. Cerdas. Benar-benar pemikiran cara yang jitu.

Di sepanjang jalan ini berderet toko-toko berjajar di kanan dan kiri jalan. Sekolah COKROAMINOTO ada di selatan jalan. "Eh.... hampir saja saya lupa. Termasuk alumni SMA COKRO. Lulus tahun 2002. Pas di tahun itu juga tepat diselenggarakan pesta sepakbola Piala Dunia. Di Jepang dan Korea, sebagai tuan rumah. Brazil menjadi jawaranya, setelah menaklukkan tim Jerman. Dengan 2 gol tanpa balas. Saya jadi membayangkan betapa sedihnya para fan's tim Panzer (julukan bagi tim nasional Jerman).   Walaupun pada dasarnya saya bukan pendukung dari dua tim tersebut di atas.

Bicara soal sekolah. Sebenarnya saya pernah mengalami kegagalan. Sebelum diri ini (baca saya) menghabiskan masa puber di COKROAMINOTO Madiun. Saya membuang waktu. memboroskan dan menyiakan kesempatan selama setahun. Hingga berakibat fatal. Saya gadel (istilah dalam bermain kelereng. Yaitu saat buah gundu yang kita tembakkan ke arah sekumpulan gundu untuk diperebutkan dalam kotak. Namun gundu kita terjebak dalam kotak tersebut. Dan terjadilah kekalahan). Secara singkatnya saya pernah tidak naik kelas. Di salah satu SMA negeri kota Madiun ini.

Ya, sekarang adalah waktu yang tepat untuk membuka sejarah yang menyakitkan itu. Dan sumpah demi apapun yang ada di dumia ini. Sakitnya lebih pedih dari yang namanya patah hati. Jika patah hatipun saya bisa melupakan walau kadang teringat lagi. Tetapi untuk yang satu ini saya tidak mungkin dan tidak bisa untuk melupakannya. Setiap detik, menit, jam, setiap haripun selalu saja terlintas penyesalan. Mengisi pikiran di sepanjang tahun. Bahkan seumur hidup gue (baca saya biar kelihatan formalnya).

Jika saya teringat masa-masa itu lagi. Jadi terkenang kesalahan-kesalahan saya. Pada kedua orangtua, pak Priyo walikelas saya saat itu. Pernah suatu ketika dia marah dan malu akibat ulah saya. Serta pada beberapa teman saya "yang tak perlu disebutkan namanya". Kembali saya harus memutar mesin waktu untuk mundur ke belakang. Pada masa lampau.

Waktu itu siang yang panas. Suasana gerah. Pelajaran fisika. Menambah suasana semakin bertemperatur tinggi. Untuk mendinginkan keadaan, "tuing" ide dalam otak saya muncul. Akhirnya!" Untuk menyingkat waktu. Saya mengajak Agus, Sandi (kuncung), Arif, Nanang, dan saya sendiri pelopornya (lho tadi kan ga' boleh disebutkan satu persatu namanya). Bermain judi lotere. Jenis judi bertaruh angka-angka yang saya tulis di atas permukaan mejanya Nanang. Lalu menaruhkan uang sebagi taruhan. Mengocok lintingan kertas mirip arisan. Siapa yang angkanya keluar berhak membawa semua uang yang dipertaruhkan di atas meja itu.

Tapi sungguh sial dan naas menimpa nasib kami. Awal yang damai menjadi malapetaka. Permainan judi lotere mirip arisan itu berakhir dengan kesan buruk. Teriakan Sandi Kuncung mengacaukan semuanya. "Hayo saiki serahno kabeh duitmu neng aku ya. Aku udu angka 5". (Hayo sekarang serahin semua uang sama aku. Aku yang menaruhkan duit di angka 5). Kontan bu Susi mendengar kegaduhan dan segera melapor pada pak Priyo. "Ahhhh..... cerita berbuntut panjang, hingga tak puas hanya menghukum kami lari keliling tanpa alas kaki, keliling lapangan tenis sepuluh kali". Masih saja pelanggaran itu jadi indikator paling kuat untuk tidak menaikkan saya ke kelas 2.

Dan akhirnya saya hanya bisa berkata, "selamat tinggal SMA negeri 5 Madiun". Dengan penuh keikhlasan walau kadang terasa berat terpikul di pundak. Saya melangkah gontai ke gerbang baru. Dan bergumam lirih, "COKROAMINOTO adalah lembaran baru".

..........................

Sejenak saya memutar kenangan hidup di masa lalu. Kini saatnya kembali pada situasi di jalanan. "Trittt...tritttt...trittttt", bunyi peluit begema. Pagi yang semakin ramai jadi tambah hidup. Sekelompok polisi menjalankan tugas. Di depan galeri Indosat. Ada mencegat para pengendara motor, memeriksa surat kelengkapan. Ada pula yang meminggirkan para pelanggar ke trotoar. Duduk di belakang meja kecil, polisi agak senior. Lengkap dengan setumpuk surat sakti, untuk bukti dan menjerat para pelnggar. Nyaman sepertinya dia duduk di situ. Di bawah pohon, tak perlu berpanas-panasan. Seperti para junior-juniornya yang lebih muda.

Situasinya mungkin tidaklah mengganggu. Bagi mereka yang pakai helm, motornya juga komplit, serta surat-suratnya lengkap. Tapi bagi Dani, yang tak pakai helm?"

"Jancok*, apes wes dino iki". (Apes deh hari ini). Hanya itu reaksinya melihat pemandangan yang merusak paginya ini. Sementara dia terus melaju ke depan. Mendekati gerombolan polisi itu. Tanpa ada perintah sekitar jarak 5 meter dari lokasi tersebut seorang petugas memintanya minggir. "Kiri..kiri...kiri...kiri...". Intonasinya sedang-sedang saja. Tanpa ada maksud membentak dan meneriaki si Dani. Petugas sepertinya begitu yakin ketika melihat gelagat Dani yang terkesan "nyerah" di pagi ini. Terkesan "nrimo" dari raut mukanya. Terkesan "mau" menerima sanksi atas segala pelanggarannya hari ini. Tapi kenyataan tak selalu seindah dengan bayangan, imajinasi, bayangan, terawangan sebelumnya. Namun semua itu terjadi pasti ada sebabnya. Hingga terjadilah akibat atas sebab itu.

(*) Sebuah umpatan, yang umumnya dipakai oleh masyarakat Jawa. Kata ini lazim diucapkan bila seseorang sedang dalam keadaan jengkel dan marah. Juga saat dalam kesialan.

Petugas lalai tak mengawasi lebih jeli. Fokusnya tak sepenuhnya pada Dani. Sebab ada mahasiswi cantik dari belakang Dani yang muncul. Dengan motor matic warna pink yang flamboyan. Rambutnya yang menerobos sela-sela helm dan leher. Menjuntai indah hingga bahunya. Kulitnya yang bersih. Wajahnya yang berlapis bedak tipis. Auranya semakin elok tertimpa mentari pagi. Akhirnya membuyarkan fokus polisi muda itu. Sebenarnya juga tak bisa kita menyalahkan dia. Manusiawi dan senormal-normalnya. Seorang pria tertarik pada lawan jenis, yang bentuk dan rupa aduhai seperti itu. Siapa tahu saja iseng-iseng berhadiah. Periksa SIM nya. Lihat alamatnya. Ingat-ingat dalam otak. Kalau perlu dicatat. Lain kesempatan saat waktu longgar datang ke rumahnya.

Melihat kelengahan itu, Dani tak mau buang waktu. Menyiakan begitu saja. Naluri. Insting. Pikiran. Hatinya. Tekadnya sudah bulat. Tanpa pikir panjang dan lebar. Sepersekian detik terlambat ambil keputusan malah kacau jadinya. "Kabur", tiada kata lain.

Pacu sekencang mungkin. Melarikan diri di situasi seperti ini adalah pilihannya. Jangan terlambat. Akhirnya Dani kabur. Memacu kecepatan untuk menghindari sanksi. Tak peduli keadaan saat itu ramai.

Seorang rekan dari polisi yang terkelabuhi oleh Dani. Beberapa saat lalu hanya duduk santai di atas motor patrolinya. Guna mengantisipasi dan melakukan pengejaran bagi para pelnggar yang melarikan diri. Kali ini sepertinya ada mengganggu rileks-nya. Kali ini dia harus membuktikan kehebatannya pada dunia kalau dia memang layak diberi mandat atas tugas itu. Hitung-hitung tes uji kelayakan atas skill dan kemampuannya. Seketika itu juga langsung melakukan pengejaran pada Dani yang lebih dulu berada lumayan jauh di depannya. Sebab ibarat sebuah perlombaan dia telah mencuri start, sebelum ada signal balapan akan dimulai.

Kejar mengejar berlangsung seru. Mirip singa yang bernafsu memangsa rusa. Cuma yang tercepatlah yang akan memenanginya. Sebaliknya jika kalah sang singa akan kelaparan. Jikalau sang rusa yang terlambat atau dengan kata lain tak bisa mengungguli kecepatan singa. Maka nyawa akan terancam. Separah itukah akibatnya?" Kok malah mirip dengan film dokumentasi tentang dunia binatang. Tentang pemangsa dan yang akan dimangsa.

Dani terus memacu kecepatan tertinggi. Kontrol pada situasi jalan yang mulai ramai harus ia tingkatkan. Sedikit saja lengah. Sedikit saja tak memerhatikan apa yang ada di depannya. Nasib dan harga diri akan begitu saja menguap. Kebanggaan akan sirna begitu saja. Dan itupun juga berlaku pada si pemburunya. Jika pagi hari ini dia gagal menangkap Dani. Maka reputasinya sebagai pemburu, pengejar, akan hilang terbawa angin. Dan akan lebih memalukan lagi. Bila semua orang tahu bahwa yang berhasil membuatnya kalang kabut tak lebih dari sesosok anak baru gede. Seorang remaja yang lagi sibuk mencari tentang arti sebuah jatidiri sebagai manusia seutuhnya. Seorang pelajar sekolah lanjutan tingkat atas mengambil jurusan elektronika.

"Gila bener tuh anak, kok beraninya kabur ya". Seorang siswi sekolah jurusan masak-memasak. Sembari mnyeberang jalan. Kaget terbengong bukan kepalang menyaksikan Dani ngebut. Sementara ada seorang polisi menguntitnya dari belakang. Lain lagi dengan sekumpulan tukang becak yang mangkal di sebelah barat SMA negeri 1. Melihat pemandangan seperti itu. "Lho kok isuk-isuk wes nguber-nguber bocah kae nyapo ya?" (Lho kok pagi-pagi udah ngejar bocah). "Halah biasa kuwi, ojo nggumun, paling yo golek ceperan gae sarapan". (Halah gak usah heran paling juga cari sampingan buat sarapan). Jawab seorang rekan di sampingnya. Kemudian dia berkomentar lagi. Setelah puas mendengar penjelasan temannya, "ooooo..... yo wes nek ngono, berarti aman awakdewe ngene iki, gak perlu gawe helm, tuku SIM, opo maneh STNK" (oooooo....... ya udah kalo gitu, berarti yo aman kita-kita ini ya, gak perlu pake helm, beli SIM, apalagi STNK). Sambil menyedot rokok walangkekeknya, santai seperti tak ada beban. Kalimat itu meluncur dari mulutnya.

Pengejaran masih terus berlanjut. Si pemburu belum juga dapat menaklukkan yang diburunya. Sudah lewat jalan Thamrin. Kini malah terus berlanjut ke arah utara. Dani semakin menggila. Diterobosnya lampu rambu lalu lintas. Tak peduli warna merah. Terus saja tanpa kenal ragu tancap gas. Guna meloloskan diri. Membebaskan diri dari segala sanksi yang ada. Berusaha agar selamat dari jeratan denda. Kan juga sayang hasil kemenanga billyard lawan Badhrun, Irfan, dan Yahya semalam harus raib dengan percuma. Perjuangan yang mengorbankan waktu dan energi harus sia-sia begitu saja. "Sebisa mungkin harus tetap dipertahankan, jangan sampai jatuh ke tangan pendekar berwatak jahat". Eh itu cerita sandiwara radio "Mahkota Mayangkara" dengan lakon utama Arya Kamandanu.

Tapi memang harus diakui oleh siapapun juga bahwa Dani bukan tipe manusia yang gampang nyerah gitu saja. Terbukti hingga sampai terminal, petugas yang mengejarnya belum juga mampu menangkapnya. Sanksi itu sepertinya bukan jodohnya. Tapi kita juga harus memberi acungan jempol pada si pemburu. Sampai sejauh ini tak ada pertanda dia akan mengakhiri perjuangannya. Kata lainnya menyerah. Dengan wajah yang masih menampakkan segala ambisinya. Si pemburu bertekad akan tetap memburu Dani. Apa dan bagaimanapun caranya harus bisa.

Memasuki area Nglames. Kawasan terakhir yang termasuk dalam wilayah kota Madiun. Selebihnya. Ke arah utara terus masuk wilayah kabupaten Madiun. Dani semakin memacu kecepatan. Motornya meliuk-liuk. Terobos kiri dan kanan. Menyalip satu persatu kendaraan yang ada di depannya. Sementara si pemburunya tak henti-hentinya membunyikan klakson. Sebagai sirine kalau dia sedang menjalankan tugas dan misi pengejaran. Terhadap seorang pelanggar. Sama-sama berdarah muda. Antara pemburu dan yang diburu. Akhirnya terjadilah keseruan ini. Ada ketegangan pada Dani. Ada kedongkolan pada pak Polisi itu.

Inilah cerita dan sebuah penggambaran tentang pejuangan hidup. Tak peduli siapapun kita. Tanpa harus memandang berada di pihak mana. Apakah seseorang ada di sisi kiri ataupun kanan. Tetap sama saja dalam hidup ini. Yaitu semua manusia dalam hidup ini butuh "perjuangan" atas kehidupannya masing. Begitupun Dani. Juga begitupun pak Polisi yang mengejarnya. Dani berjuang agar lolos dari jeratan sanksi atas pelanggarannya. Sementara pak Polosi itu, berjuang atas nama tugas dan kewajibannya sebagai seorang penegak hukum. Dan pastinya semua itu akan ada akhirnya.

Perjuangan Dani pada akhirnya harus terhenti. Ada sesuatu hal yang membuatnya harus mengakhiri ini semua. Buka dia menyerah, namun lebih disebabkan tak adanya faktor pendukung. Hampir di perbatasan Kota dan Kabupaten Madiun dia harus mengakui kekalahannya hari ini. Apa yang dia sulut ternyata harus dia padamkan saat ini.

"Geg......geg......geg.....geg.....!" Tiba-tiba mesin motornya berhenti. Tak ada suara lagi dari motornya. Bahkan untuk berguncang saja, enggan. "Damput*, bensinku entek (abis)!" Sambil geleng-geleng kepala si Dani mengumpat. Menyesali kecerobohannya tadi waktu masih di rumah. "Kenapa tadi gak isi bensin dulu, kenapa juga tadi buru-buru?" Tapi apa mau dikata. Semua sudah terlambat. Mau sampai komputer beranak pun gak bakalan tangki motornya akan terisi bensin. Dan sekarang hanya satu kata, "menunggu nasib" berikutnya. Dia pinggirkan motornya. Menunggu pak Polisi yang nantinya bakal memberinya sebuah sanksi.

(*) Sebuah umpatan, yang umumnya dipakai oleh masyarakat Jawa. Kata ini lazim diucapkan bila seseorang sedang dalam keadaan jengkel dan marah. Juga saat dalam kesialan.

"Setttttttttttttttttttttttt". Pak Polisi datang mendekat pada Dani. Sesaat setelah ABG yang sedikit tambun itu meminggirkan motornya. Dengan ekspresi penuh dendam dia perintah Dani untuk keluarkan STNK dan SIM nya. Tapi sebenarnya tanpa harus dimintapun surat-surat itu sudah dia siapkan sebelum polisi datang. Dia tampaknya sudah menyiapkan diri akan segala resikonya. Sementara polisi itu sibuk memeriksa dua surat itu. Tak menghabiskan waktu lima menit. Polisi itu bertanya pada Dani, "kenapa tadi kamu lari?" "Ma'af pak, saya salah". Cuma itu suara yang keluar dai mulut Dani. "Gak pake helm, malah kabur lagi". Kembali polisi itu menyemprot. "Ya pak saya salah, dan saya minta ma'af". "Kesalahan kamu termasuk berat, gak pake helm dan kabur waktu akan diperiksa. Jadi kamu harus bayar denda". "Ya udah lah pak kalo emang harus gitu peraturannya, saya nurut aja. Sekarang tolong surat tilangnya ya pak!" Dengan nada memelas penuh dengan permohonan Dani mengutarakan pintanya. Selang beberapa menit kemudian pak Polisi itu menyerahkan surat tilang pada Dani. Berikut juga SIM nya. Sementara untuk STNK tetap berada di tangan polisi muda itu. Sebagai jaminan dan akan dia tebus saat sidang nantinya. Sementara kunci masih menancap di motornya. Tiba-tiba dari arah berlawanan. Dari seberang jalan.

"Jeeeezzzzzzzzzzzzzzzzzz!" Sebuah bis jurusan Surabaya-Ponorogo dari seberang berhenti. Suara angin hasil kerja dari kampas rem-nya terdengar oleh Dani. Kebetulan bis lagi menurunkan serombongan penumpang Dari situlah lalu timbul ide lagi dari dalam benaknya. Dia segera berlari menyeberang. Menghampiri bis itu. Lalu masuk menghamburkan dirinya bersama penumpang lainnya. Singkat kata dia "melarikan diri" lagi. Meninggalkan pak Polisi, sepeda motornya yang kehabisan bensin. Dan sekarang dia berada dalam ruangan yang aman. Tak mungkin lagi polisi itu akan mengejarnya. Sebab ada tanggung jawab yang harus dia emban. Yaitu keselamatan dan keamanan sepeda motor miliknya. Sekarang ada di tangan polisi muda itu. Jika dia nekad mengejar, dan terjadi hal yang tak diinginkan. Semisal motornya di bawa kabur orang. Pasti akan panjang urusannya. Dan pak Polisi itu juga tak ingin nama dan kredibiliasnya akan hancur dalam waktu sekejap.

Ini akan jadi perjalanan yang aman tentunya. Di samping pak Polisi itu tidak akan mengejarnya. Tentunya Dani punya cukup banyak waktu untuk bersantai. Polisi itu pastinya akan menunggu rekannya untuk menjemput dan membawa motor Dani. Belum harus terpotong waktu lagi, buat mengisi bensin motornya Dani. Benar-benar hari yang tak disangka-sangka. Penuh kejutan. Setelah main kejar-kejaran dengan pak Polisi. Dengan penuh ketegangan. Tensi yang meninggi. Namun semua pasti ada ganjarannya. Seusai melalui detik-detik menegangka itu. Tuhan pada akhirnya memberi ganjaran setimpal. Secara kebetulan Dani duduk bersebelahan dengan seorang wanita. Walau tidak terlalu putih bisa dibilang menarik. Hidungnya ragak menjulang. Bibirnya tipis tampak selalu basah. Matanya sesekali berkedip. Hingga tak kuasa Dani untuk menolak pemandangan itu.

Dani menghela nafas panjang. Berpikir. Tentang keadaan dirinya. Apakah ini suatu keberuntungan atau kebetulan semata?" Yang jelas walau tak sempat untuk saling bertegur sapa. Setidaknya dia menikmati itu semua hingga di akhir perjalanannya. Sebab wanita yang kira-kira lebih tua dua tahun darinya itu adalah seorang yang kursus komputer. Di lembaga pendidikan MADCOM. Maka dari itu perempuan itu selalu naik bis jurusan Ponorogo. Biar tak terlalu banyak oper kendaraan. Mengirit ongkos.

Ada satu pelajaran dari cerita si Dani hari ini. Dia memang melakukan pelanggaran. Lalu kabur. Tapi coba kita renungkan. Apa yang dia lakukan, setelah pada akhirnya tertangkap. Terlepas dari kesalahannya sebagai manusia biasa. Dia tetap menjujung tinggi sebuah aturan negara yang berlaku. Dia tidak serta merta langsung membayar denda itu di tempat. Walaupun saat itu dia ada uang di dompetnya. Dia tidak melakukan sebuah penyelewengan tentang pembayaran denda atas pelanggaran lalu lintas. Yang biasa orang-orang lakukan pada umumnya. Membayar, menyogok petugas di tempat. Agar urusan cepat selesai. Tanpa menyadari tentang jeluntrungan ke mana arah uang suap itu. Dani tetap memilih sidang. Membayarkan dendanya pada negara. untuk kas negara. Dia menyadari bahwa dia adalah bagian dari negara. Padahal dia masih STM. Tapi sudah punya pemikiran semacam itu.

Dan akhirnya dengan penuh rasa kemenangan dia hanya berkata. "BEN KAPOK"

1 komentar:

  1. cara daftar sabung ayam di agen s128 terpercaya
    Yuk Gabung Bersama Bolavita Di Website bolavita1.com
    Untuk Info, Bisa Hubungi Customer Service Kami ( SIAP MELAYANI 24 JAM ) :
    Telegram : +62812-2222-995 / https://t.me/bolavita
    Wechat : Bolavita
    WA : +62812-2222-995
    Line : cs_bolavita

    BalasHapus