tentang tulisan saya?

Kamis, 19 Januari 2012

"Mencari Keademan"



"Saujana"

Madiun, Kamis 27 Desember 2011...

Landscap ini sengaja saya kasih judul “Saujana”, meminjam sebuah judul lagu dari Kla Project. Karena memang pas perjalanan menuju ke tempat ini saya menikmati tembang koleksi Kla project. Melalui HP sederhana saya. Nokia 5130 saya. Saujana, ya sejauh mata memandang inilah yang saya nikmati. Barisan hutan yang ada di gunung Wilis. Ini adalah desa Kandangan. Penduduk sini sangat dianugrahi tanah yang begitu subur.

Durian, rambutan, manggis, pisang, dan kopi adalah hasil bumi di desa ini. Hampir setiap rumah yang terlihat oleh saya. Pekarangan di bagian belakang selalu ada pohon durian. Sayang sekali saya tak suka dengan buah ini. Jangankan memakan. Begitu tercium aroma baunya saja saya terbirit-birit lari. Terasa mual di perut. Kata orang Jawa, “uneg-uneg’en”. Ternak juga berkembang di desa ini. Ayam potong, sapi perah, tempat pembudidayaannya juga banyak terdapat di desa ini. Seberang bukit itu terdapat kandang sapi berukuran besar.

Ada juga kebun kopi di desa Kandangan ini. Cuma sayangnya tadi oleh bapak Satpam saya tidak diperbolehkan masuk ke area itu. “Kemarin ada salah seorang anggota LSM dari kota Madiun, masuk ke kebun kopi. Dengan berakting sebagai pekerja kebun. Plus pakaian ala petani desa lengkap. Konon kebun kopi itu akan dijadikan tempat wisata sih, cuma karena masih dalam tahap pembangunan jadi masih ditutup untuk umum”. Begitulah bapak keamanan setempat menjelaskan pada saya. Sambil dengan nikmatnya menghisap rokok. Dalam hati saya cuma bergumam, “apakah itu hanya alasan mereka untuk mengusir kami, secara halus”, saya tak tahu. “Atau sebagian dari tempat ini merupakan hak milik dari beberapa oknum pejabat. Agar tidak tercium dari mana mereka mendapatkan dana untuk membeli lahan di sini?” Terus saja saya bergumam, sambil menerka beberapa kemungkinan. Mungkin saja terka saya benar adanya. Oh negeri ini masih saja penuh coreng moreng dengan segala kecurangan dan keculasan.

Bersebelahan agak beberapa meter tak jauh dari pos satpam, ada area perkemahan. Cuma saya tak begitu tertarik untuk ke situ.
Ya, dengan terpaksa akhirnya kami meninggalkan tempat itu. Sayang kali ini saya kurang beruntung. Maksud hati ingin melihat vila-vila peninggalan jaman kolonialisme Belanda. Kini semua itu cuma jadi barang khayalan.

"Mencari Kehidupan"

Jika kita masih saja merasa bahwa, hidup kita kurang beruntung. Berarti kita salah besar. Berarti kita kurang atau bahkan tidak mensyukuri hidup ini sama sekali. Inilah potret kehidupan yang sebenarnya. Tak ada kesedihan, kesengsaraan yang abadi. Sementara kita asik berselancara di dunia maya. Akses internet nyaris seketika, realtime. Mas ini. Lihatlah, perhatikan. Untuk makan saja dia harus rela berjalan jauh menuju tempat wisata air terjun, Kedung Malem. Itupun dengan jarak yang lumayan jauh. Itu juga masih dengan kaki sebelah kiri ia seret.

Dia masih tetap bertahan, survive dengan keadaan nya. Memperjuangkan hidupnya. Walau dengan kondisi fisik yang tak sempurna. Dia akhirnya berjumpa kami lagi saat kami naik hendak menuju area parkiran.
Tempat ini sepi, kawasan wisata ini sebenarnya tak banyak menjanjikan buat dia. Namun itulah hidup akan terasa nikmat dengan selalu menerima atas apa yang telah kita usahakan.

Apakah nantinya tempat ini akan jadi tempat wisata golongan unggulan. Ramai dikunjungi orang. Jadi andalan bagi warga sekitar?” Entahlah. Butuh peran berbagai pihak agar semuanya bisa terwujud…….
 .

"Exotic Place, 'Kedung Malem' Waterfall"

 “Hikayat tentang cerita air terjun ini, sudah turun-temurun sejak 100 tahun yang lalu. Syahdan. Seorang yang bernama Mbah “Malem” teraniaya dan dibuang di wilayah tersebut. Warga tidak menyangka bahwa di wilayah tersebut terdapat air terjun yang eksotis. Dari nama itulah maka lokasi tersebut dinamakan air terjun “Kedung Malem”, letaknya tertutupi keanggunan belantara hutan gunung Wilis. Justru itulah yang menambah eksotis nya lokasi ini”


Tempat ini lumayan tersembunyi di tengah-tengah belantara hutan pinus. Gunung Wilis. Masih alami. Belum banyak terkontaminasi oleh tangan-tangan manusia. Objek wisata yang kurang terawat. Hingga jadi tempat yang terlupakan. Kemarin hari rabu, 28 Desember 2012. Di siang hari Bupati Madiun mengunjungi tempat ini. Namun apakah itu akan segera mampu mewujudkan kawasan wisata ini jadi tempat wisata unggulan?” Jika mengingat kata-kata ibu pemilik warung dekat gerbang masuknya. “Gapura ini, dibangun atas biaya kami sendiri. Dengan mengumpulkan hasil uang parkir kendaraan”. Begitu kata ibu pemilik warung dekat gerbang masuk pada saya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar